Hari Buruh, Berawal dari Tuntutan 8 Jam Kerja Sehari


Heru Andriyanto / HA
Rabu, 1 Mei 2019 | 10:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hari ini, warga dunia memperingati Hari Buruh yang merupakan libur nasional di sebagian besar negara. Bagi masyarakat Indonesia, ini baru tahun keenam Hari Buruh menjadi libur nasional.

Bahkan sebelumnya, selama beberapa dekade peringatan itu dilarang pemerintah Orde Baru karena diasosiasikan dengan gerakan komunisme.

Setiap peringatan 1 Mei ini, yang selalu didengar masyarakat adalah aksi buruh turun ke jalan, berapa puluh atau ratus ribu massa buruh yang akan dikerahkan, upaya aparat mencegah tindakan anarkis, dan acapkali sikap beringas buruh yang menyerbu pabrik-pabrik yang nekat beroperasi dan memaksa rekan-rekan mereka ikut berdemonstrasi.

Itu saja yang dominan, tak lebih.

Di banyak negara lain, aksi massa juga bagian dari perayaan Hari Buruh. Namun, Filipina misalnya, memanfaatkan perayaan itu untuk menawarkan lapangan kerja bagi mereka yang masih menganggur, tidak semata-mata aksi jalanan saja.

Di sela pengamanan demonstrasi hari ini, pemerintah Filipina juga berencana membuka job fair di berbagai kota. Kementerian Ketenagakerjaan Filipina berencana menawarkan sekitar 204.000 lapangan kerja baru bagi warganya, menurut berita di ABS-CBN.

Lowongan kerja itu termasuk rekrutmen tentara, polisi, petugas call center, pekerja pabrik, pekerja bangunan, dan tukang kayu. Sementara tawaran kerja di luar negeri termasuk perawat, teknisi, koki, sopir, konstruksi, dan pekerja tata laksana rumah tangga.

Pada umumnya, May Day hari ini akan diwarnai unjuk rasa buruh di berbagai belahan dunia.

Prancis bersiaga penuh menghadapi aksi buruh ini, karena diperkirakan aktivis “rompi kuning” akan ikut bergabung. Gerakan rompi kuning nyaris menggulingkan Presiden Emmanuel Macron dengan tuntutan kenaikan upah buruh yang berlangsung berbulan-bulan dan kerap diwarnai bentrokan dengan aparat dan sudah mengakibatkan korban jiwa serta aksi penjarahan di berbagai kota.

Polisi Prancis memerintahkan para pemilik toko, restoran, dan café yang ada di sepanjang jalur demonstran untuk libur. Selain itu, polisi juga berencana menggeledah tas para demonstran dan memeriksa identitas mereka.

Di negara komunis Kuba, Hari Buruh merupakan perayaan besar. Presiden Miguel Diaz-Canel menjamin bahwa perayaan hari ini akan “menggetarkan” seluruh Kuba.

Perayaan biasanya dipusatkan di Lapangan Revolusi Jose Marti, Havana. Seperti tahun-tahun sebelumnya, delegasi dari berbagai negara akan bergabung dengan May Day Solidarity Brigade. Hari ini, diperkirakan 350 orang dari 32 negara akan bergabung.

Sejarah
Peringatan Hari Buruh Sedunia berawal dari aksi pekerja di Amerika Serikat akhir abad ke-19. Uniknya, Hari Buruh di Amerika justru bukan 1 Mei.

Dalam sebuah konvensi nasional di Chicago pada 1884, Federasi Serikat Pekerja Amerika Serikat mengeluarkan tuntutan bahwa “delapan jam harus dijadikan sebagai jam kerja yang sah dimulai sejak 1 Mei 1886."

Sebelumnya, para pekerja dipaksa bekerja sampai 12 jam sehari atau bahkan tanpa batasan jam oleh kelompok kapitalis di awal era Revolusi Industri.

Pada 1886, sekitar 200.000 buruh di Amerika menggelar aksi di berbagai wilayah menuntut diberlakukannya pembatasan jam kerja delapan jam sehari.

Tepatnya di Chicago 1 Mei 1886, buruh menggelar aksi di Haymarket Square dan kemudian berlanjut ke hari-hari berikutnya serta berujung bentrokan. Pada 4 Mei, ketika polisi mencoba membubarkan massa, sebuah bom meledak dan menewaskan delapan orang, termasuk tujuh polisi. Setelah itu, delapan aktivis buruh ditangkap dan dikenakan dakwaan.

Peristiwa tragis ini kemudian dikenang sebagai Tragedi Haymarket.

Lalu pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional memutuskan 1 Mei sebagai hari libur bagi buruh. Namun, Amerika justru menetapkan Hari Buruh pada hari Senin pertama bulan September.

Alasannya, perayaan itu sudah dilakukan pertama kali di awal dekade 1880an oleh Serikat pekerja Pusat, beberapa tahun sebelum Tragedi Haymarket.

Selain itu, Hari Buruh 1 Mei seperti menyulut sentimen anti-komunisme di awal era Perang Dingin. Pada Juli 1958, Presiden AS Dwight Eisenhower menyatakan tanggal 1 Mei sebagai “Hari Kesetiaan” dalam upaya menghindari solidaritas para pekerja dunia selama perayaan May Day. Keputusan yang dia tanda tangani menyatakan 1 Mei sebagai “hari yang spesial bagi kesetiaan terhadap Amerika Serikat dan pengakuan atas jiwa kebebasan Amerika”.



Sumber: TIME, Independent

Jokowi Berharap May Day Berlangsung Kondusif


Novy Lumanauw / JAS
Selasa, 30 April 2019 | 14:37 WIB

Tangerang, Beritasatu.com -Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap peringatan Hari Buruh Sedunia atau yang biasa disebut May Day dapat berlangsung secara baik, penuh kegembiraan, dan kondusif.

Harapan itu disampaikan Presiden Jokowi usai makan siang bersama ribuan buruh pabrik alas kaki PT KMK Global Sports di Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa (30/4/2019).

“Yang penting besok pada May Day (1 Mei 2019), pada Hari Buruh, kita berharap perayaan Hari Buruh berjalan baik, dengan kegembiraan, dan kondusif,” kata Presiden Jokowi.

Kepala Negara secara khusus mengunjungi pabrik alas kaki itu untuk makan siang bersama menjelang peringatan May Day.

Didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Ketenagakerjaan, Presiden Jokowi terlihat akrab menyapa dan berswafoto bersama para buruh. Ia juga berpesan agar para buruh meningkatkan produktivitas melalui program retraining dan rescaling sehingga dapat bersaing di tingkat global.

“Yang paling penting meningkatkan produktivitas lewat rescaling, upscaling,” katanya.

PT KMK Global Sports adalah salah satu pabrikan alas kaki terkemuka di Indonesia. Perusahaan itu mampu menghasilkan 1,5 juta pasang sepatu setiap bulan, yang terdiri atas 1,2 juta pasang sepatu olah raga merek Nike dan 300.000 pasang sepatu merek Converse.

Saat ini, perusahaan itu memiliki 30 lini produksi dan menyerap tenaga kerja sebanyak 15.655 orang. Secara total, perseroan mempekerjakan sebanyak 150.000 orang atau 18,3 persen dari total tenaga kerja di industri alas kaki serta berkontribusi terhadap ekspor dengan nilai US$1,35 miliar atau 26,42 persen dari ekspor alas kaki nasional.



Sumber: Investor Daily

KSPI Pastikan Prabowo Hadiri Peringatan May Day


/ YUD
Senin, 29 April 2019 | 16:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memastikan bahwa capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bakal hadir dalam peringatan Hari Buruh Sedunia atau May Day di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2019).

"Confirm ke kami sampai saat ini, beliau akan datang," kata Said Iqbal di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kedatangan Prabowo dalam peringatan May Day 2019 yang diselenggarakan KSPI bukan pertama kali karena Prabowo juga hadir dalam peringatan May Day yang digelar KSPI pada tahun 2018.

Sementara untuk kedatangan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno, pihaknya tidak dapat memastikan. "Kami tidak ada komunikasi dengan Pak Sandiaga, hanya (komunikasi) dengan Pak Prabowo," katanya.

Peringatan May Day di Tennis Indoor Senayan akan dimulai pada Rabu (1/5) pukul 10.00 WIB. Sementara capres Prabowo dijadwalkan hadir di lokasi sekitar pukul 12.00 WIB.

Pihaknya pun memperkirakan ada sekitar 50 ribu massa yang bakal hadir di Senayan.

Puluhan ribu massa tersebut berasal dari tiga provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

"Dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Serang Banten dan Cilegon," katanya.

Ada tujuh tuntutan yang bakal disuarakan dalam peringatan May Day 2019 yakni menolak upah murah, penghapusan sistem outsourcing, mendesak manfaat jaminan kesehatan dan jaminan pensiun ditingkatkan, mendesak TDL (Tarif dasar listrik) dan harga sembako turun, mendesak pendapatan guru, tenaga honorer dan pengendara ojek online ditingkatkan serta mendesak pemerintah menegakkan demokrasi yang jujur dalam Pilpres 2019.



Sumber: ANTARA