Imlek di Tahun Politik


Lona Olavia / Bhakti Hariani / DAS Selasa, 5 Februari 2019 | 10:30 WIB

Depok,Beritasatu.com - Perayaan Imlek sudah mendunia. Itu karena warga keturunan Tionghoa sudah menyebar dan tinggal di berbagai penjuru dunia. Warga perantauan ini beranak pinak dan membentuk komunitas. Tak mengherankan di banyak negara muncul kawasan-kawasan pecinan.

Di Indonesia, Imlek dirayakan secara terbuka setelah pemerintah secara resmi menjadikannya hari libur fakultatif sejak 1999 dan menjadi hari libur nasional pada 2003.

Tema Imlek Nasional Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) tahun ini adalah "Penimbunan Kekayaan Akan Menimbulkan Perpecahan di Antara Rakyat. Penyebaran Kekayaan Akan Menyejahterakan Rakyat".

"Hal penting adalah jangan sampai pemimpin hanya mengutamakan kepentingannya sendiri apalagi sampai korupsi," kata Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Depok, Suwito kepada Beritasatu.com, di kediamannya di wilayah Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (4/2).

Ia menuturkan, perayaan tahun 2019 atau 2570 Kongzili bertepatan dengan tahun politik. Umat berharap akan terpilih pemimpin yang adil dan mampu menyejahterakan rakyat.

Suwito juga berharap, Presiden Joko Widodo dapat hadir pada perayaan Imlek Nasional Matakin yang digelar 10 Februari mendatang di TMII, Jakarta. "Sejak menjabat presiden, beliau belum pernah datang. Saya paham mungkin beliau sibuk. Tapi saya berharap beliau bisa datang dan bertemu kami umat Konghucu," katanya.

Sementara itu puncak perayaan Imlek Nasional 2019 akan diselenggarakan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 7 Februari mendatang. Perayaan yang diperkirakan bakal dihadiri sekitar 10.000 orang ini mengusung tema "Merajut Kebinekaan Memperkokoh Persatuan”.

Ketua Panitia Imlek Nasional 2019, Sudhamek AWS mengatakan, tema perayaan Imlek kali ini adalah wujud dari tindakan dan komitmen warga Tionghoa Indonesia untuk tetap bersatu dalam keberagaman. Perayaan akan terasa istimewa karena pilihan desain dan susunan acara yang dirangkai sesuai tema. Warna dasar yang menjadi latar belakang acara ini adalah merah putih yang menggambarkan dimensi kebangsaan. Merah putih dirangkai dengan motif batik mega mendung yang menggambarkan dimensi akulturasi budaya.

Alat musik klasik guzheng digunakan untuk mengiringi lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Sementara kolintang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Indonesia maupun lagu Mandarin. Atraksi khas Tionghoa barongsai juga ditampilkan bersama dengan reog dan ondel-ondel. Aneka kuliner khas Tionghoa dan makanan dari berbagai daerah di Indonesia.

Seluruh rangkaian festival perayaan Imlek terbuka untuk masyarakat umum di JIExpo Kemayoran, pada tanggal 7-10 Februari 2019 mulai pukul 10.00-22.00 WIB.

Imlek 2570 diharapkan menjadi lantunan kebaikan dalam spektrum yang lebih luas, sekaligus menjadi harapan warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Suku Tionghoa Indonesia yang telah bergenerasi hidup di negeri ini menjadikan Indonesia sebagai tanah kelahiran yang akan selalu dicintai dan diperjuangkan bersama.

Perayaan Imlek Nasional 2019 diharapkan bisa menjadi momentum penting bagi warga Indonesia Tionghoa dalam turut membangun bangsa Indonesia yang besar, makmur, dan damai. Juga menjunjung tinggi toleransi dengan cara terus merajut kebinekaan dan memperkokoh persatuan Indonesia. "Sebagai generasi penerus, warga Indonesia Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Suku Indonesia Tionghoa harus ikut aktif memperjuangkan pembangunan Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani, mandiri secara ekonomi, berbudaya luhur dan berkeadilan di segala bidang," katanya.

Setelah Reformasi
Perayaan Imlek seperti sekarang mulai terasa setelah reformasi menghampiri demokrasi Indonesia. Sebelum reformasi, perayaan Imlek harus dilakukan di dalam lingkungan keluarga atau tidak menyolok di depan umum. Aturan di kala era Orde Baru itu tertuang dalam Inpres No 14/1967 yang mengatur tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Beleid itu ditandatangani Jenderal TNI Soeharto pada 6 Desember 1967.

Setelah rezim Orde Baru tumbang pada 1998, Inpres itu dicabut dengan terbitnya Keputusan Presiden No 6/2000 pada 17 Januari 2000 di era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kebijakan itu berlanjut pada keluarnya Keputusan Presiden No 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif atau hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya.

Pada 2000 atau Imlek 2551 Kongzili, Matakin mengambil inisiatif merayakan Imlek secara terbuka sebagai puncak Ritual Agama Konghucu secara nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada 2002 atau di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Saat menghadiri perayaan Imlek 2553 Kongzili yang diselenggarakan Matakin, Megawati mengumumkan bahwa Imlek sebagai hari libur nasional dimulai sejak 2003. Pengumuman ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No19/2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek, tertanggal 9 April.

Kini semarak Imlek tak lagi hanya dirasakan oleh warga keturunan Tionghoa melainkan seluruh masyarakat dapat menikmati. Selain di kelenteng, lampion dan berbagai hiasan bernuansa merah dan emas menghiasi pusat-pusat perbelanjaan. Imlek menjadi semakin leluasa dirayakan.

Suwito menuturkan, perayaan Imlek intinya berdoa atau sembahyang di pergantian hari menuju Imlek. “Kami berdoa agar segalanya terlindungi dan menjadi sejahtera," katanya.

Imlek juga identik dengan berbagai hidangan di antaranya adalah jeruk dan pisang serta kue keranjang atau nien kao. Tiga hidangan ini tidak boleh terlupakan dan disajikan di meja persembahan. "Jeruk ini maknanya adalah keberkahan. Kalau pisang berarti pengharapan karena bentuk setandan pisang seperti tangan yang sedang berdoa. Sedangkan kue keranjang hidangan utama yang harus ada sejak dulu. Kue keranjang ini kami sajikan di hadapan altar persembahan di rumah masing-masing," papar ayah dari tiga orang anak ini.

Sedangkan hidangan lain yang disajikan di antaranya masakan dari olahan ikan, olahan daging babi, olahan daging ayam, olahan sayur dan juga ada sajian teh, kopi, arak. "Kami sajikan hidangan yang disukai oleh para leluhur kami. Seperti ini biasanya ikan bandeng tapi karena leluhur kami sejak dulu menggunakan ikan mujair maka kami menggunakan ikan mujair. Disesuaikan saja," katanya

Bandeng dan Akulturasi
Di kawasan Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bandeng masih menjadi primadona saat Imlek. Sepanjang trotoar Jalan Rawa Belong Raya dan Jalan Sulaiman yang mengarah ke Pasar Bunga Rawa Belong menjadi pasar kaget ikan bandeng.

Seorang penjual ikan bandeng, Rojali (35) mengatakan, sudah menjadi rutinitas para pedagang ikan membuka lapak dagangan di kawasan tersebut beberapa hari menjelang Imlek. Tidak hanya etnis Tionghoa yang merayakan Imlek, etnis Betawi di Rawa Belong juga ikut merayakannya dengan menikmati ikan bandeng.

"Ini bandeng tambak dari Muara Karang dan memang ikannya besar-besar, karena khusus dijual buat Imlek," kata dia.

Rojali menyebut, para konsumennya yang mayoritas etnis Betawi membeli ikan bandeng untuk diberikan kepada mertuanya. Menurut kepercayaan orang Betawi, jika tidak memberi bandeng kepada mertua, akan menyebabkan keretakan rumah tangga. "Sudah turun-temurun tiap Imlek itu orang Betawi setahun sekali makan bandeng bareng keluarga besar. Biasanya dibikin pindang dan dikasih petai," katanya.

Yunus Haddinotto, pengasuh Vihara Buddha Sasana menyebutkan, tradisi makan ikan bandeng oleh orang Betawi saat Imlek adalah bagian dari akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun. "Budaya Tionghoa dan Indonesia tidak jauh berbeda, karena keturunannya yang sudah tinggal di sini selama berabad-abad dan tradisi yang telah bercampur dengan sempurna," ujarnya.

Menurutnya, cara menikmati ikan bandeng di kalangan etnis Tionghoa maupun Betawi sangat mirip. Bagi etnis Tionghoa di Indonesia maupun di negara asalnya, ikan itu lambang kehidupan yang makmur sejahtera sepanjang masa. Makannya pun tidak sendiri, tetapi bersama keluarga di malam tahun baru. "Cara masaknya juga sama, dipindang dengan kecap dan kuah," katanya.

Di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakancana, Kota Bogor, ritual memandikan rupang (patung) dewa dilakukan sebelum Imlek.

Menurut Sekretaris dua Yayasan Dhanagun, Sigit Surjadi Rusly, ritual memandikan rupang sebelum perayaan Imlek bertujuan agar patung-patung yang ada di wihara bersih serta adanya semangat kebersamaan antarwarga Tionghoa. “Memandikan patung dewa juga bisa dijadikan sebagai refleksi membersihkan pikiran dan jiwa menjadi lebih baik. Ada dewa Hok Tek Chingsin (Dewa Bumi) sebagai tuan rumah di sini," jelas Sigit, Minggu (3/2).

Titin (50), salah seorang warga yang ikut prosesi memandikan patung, mengatakan, ia sudah dua tahun ini ikut mencuci patung dewa. Titin berharap mendapatkan berkat dari dewa, khususnya Dewi Kwan Im yang memang hanya boleh dimandikan oleh kaum perempuan.

Sebelum membersihkan rupang, warga menjalani ritual Ciak Jay, yakni tidak memakan hidangan daging tiga hari sebelum kegiatan. Juga bagi yang sudah berkeluarga, harus menahan diri untuk tidak berhubungan badan selama satu minggu atau paling sedikit tiga hari.

"Dibersihkannya dengan menggunakan air biasa. Nanti bilasan terakhir menggunakan air bunga tujuh jenis. Setelah selesai, disimpan kembali ke tempatnya," tambah Titin.

Secara terpisah, Jureynolds, mahasiswa S3 jurusan studi Pendidikan Bahasa Mandarin Minzu University of China menjelaskan, Imlek berasal dari dialek hokkian untuk Yinli yang berarti penanggalan lunar (bulan) yang dipakai oleh etnis Tionghoa sejak berabad-abad lalu. Sehingga tahun baru Imlek dapat diartikan sebagai tahun baru dalam kalender penanggalan lunar, sebagai pertanda awal musim semi.

Nenek moyang etnis Tionghoa selain sebagai pedagang, banyak juga yang bermata-pencaharian sebagai petani. Hari raya Imlek ini ditunggu-tunggu sebagai pertanda berakhirnya musim dingin dan datangnya awal yang baru yakni musim semi.

"Pepatah Tiongkok berbunyi rencana tahunan dimulai dari musim semi. Sehingga, menjadikan hari raya Imlek sebagai perayaan terbesar dalam penanggalan lunar yang dirayakan oleh etnis Tionghoa di dunia, termasuk di Indonesia," ujarnya kepada Beritasatu.com, Senin (4/2).

Persiapan tahun baru Imlek, untuk diketahui dimulai pada bulan 12 tanggal 23 penanggalan lunar sampai dengan tanggal 30. Segala persiapan meliputi membersihkan rumah, menyiapkan segala keperluan dan makanan perayaan, sembahyang dewa dan leluhur dan sebagainya. Segala persiapan dilakukan dengan sukacita untuk menyambut tahun baru yang lebih baik.

Ucapan
Akulturasi budaya terus terjadi. Dalam proses itu ada fenmena yang menggelikan karena ketidakmengertian, salah satunya terkait ucapan selamat tahun baru.

Ucapan gong xi fa cai (baca: kung si fa cai) sudah begitu populer di masyarakat sehingga dianggap memiliki arti “selamat tahun baru Imlek”. Padahal ucapan “Selamat tahun baru” dalam Bahasa Mandarin adalah Xin nian kuai le.

Sangat mungkin masyarakat latah mengucapkan gong xi fa cai seolah selamat tahun baru, sama seperti ketika mengucap minal aidin wal faidzin seolah berarti "mohon maaf lahir dan batin”.

Mengenai ucapan tahun baru Imlek, menurut Jureynolds, terdapat berbagai macam versi. Yang paling sering digunakan oleh etnis Tionghoa di luar daratan RRT adalah gong xi fa cai, yang berarti “dengan hati yang hormat dan sukacita mengucapkan semoga makmur sejahtera”.

Mengucapkannya biasa dengan soja (cara hormat dengan tangan), yaitu tangan kanan dikepal dan dibungkus tangan kiri, lalu diletakkan di depan dada atau sebatas leher. Cara soja seperti ini yang paling umum dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan, bagi wanita tangan kiri dikepal dan dibungkus tangan kanan.

Jureynolds menambahkan, tradisi pai (hormat) ini dilakukan oleh setiap etnis Tionghoa segala umur, dan ketika seorang muda dan anak-anak yang belum menikah mengucapkan kepada seorang dewasa dan sudah menikah, maka akan diberikan angpao, yaitu amplop merah yang diisi dengan uang. "Uang yang diisi dalam angpao ini bernama bermakna menghilangkan segala yang tidak baik bagi si pemberi, dan mendoakan keselamatan selama setahun bagi si penerima," ucapnya.

Ucapan selamat tahun baru biasanya juga dilanjutkan dengan beberapa kalimat berisi harapan baik, seperti xen ti jian kang (tubuh yang sehat), wan shi ru yi (segala persoalan bisa dilalui dengan lancar), shen yi xing rong (bisnis semakin maju), xin xiang shi zhen (terjadilah apa yang dipikirkan).

Kalimat ikutan yang populer di kalangan jomblo adalah hong bao na lai yang artinya “mana angpao-nya?”

Selamat Tahun Baru Imlek, bagi yang merayakan.

Selamat menikmati hari libur, bagi yang tidak merayakan Imlek. Semoga semua makhluk berbahagia.



Sumber: Suara Pembaruan

Imlek Tahun Babi, Promosi Toko dan Merek di Malaysia Lebih Hati-hati


Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 5 Februari 2019 | 09:38 WIB

Kuala Lumpur,Beritasatu-com- Saat orang-orang Tionghoa di seluruh dunia bersiap untuk merayakan Imlek Tahun Babi, pertokoan dan beragam merek di negara mayoritas Muslim, Malaysia, berhati-hati dalam mempromosikan simbol babi untuk menghindari sensitivitas budaya. Jika biasanya pusat perbelanjaan memasang dekorasi dan menampilkan atraksi-atraksi untuk menarik pengunjung, tapi kali ini “babi” tidak diikutsertakan.

Mal Paradigma di pinggiran kota Petaling Jaya, justru menampilkan ikon kartun Jepang Doraemon sebagai dekorasinya dengan lebih dari 30 patung seukuran manusia dari tokoh kartun kucing itu. Mal-mal lainnya juga sengaja menghindari representasi babi dan memakai citra umum Tahun Baru seperti singa, petasan, dan lentera. Pusat perbelanjaan ternama, 1 Utama hanya memasang celengan babi.

“Kami adalah mal lingkungan masyarakat yang terutama melayani kebutuhan keluarga dan masyarakat sekitar. Itu sebabnya, dekorasi dan aktivitas kami berpusat di sekitar anak-anak dan keluarga, termasuk mendekatkan kepada budaya dan tradisi Tahun Baru Tiongkok. Kami juga memastikan bahwa semua aturan dan peraturan dewan setempat dipatuhi,” kata manajer iklan dan promosi Mal Paradigma, Joanne Lee.

Meskipun pemerintah Malaysia menyatakan tidak ada pembatasan untuk pencitraan babi, banyak mal menekankan pentingnya menerapkan jalan tengah sebagai wujud kepekaan budaya. Kepala eksekutif Sunway Malls & Theme Parks, H.C. Chan, mengatakan penggunaan lambang zodiak untuk menandai tahun baru memang disukai, tapi tidak perlu selalu memakai itu, meskipun menjadi hak masyarakat Tionghoa untuk menerapkannya.

“Penggunaan elemen budaya lain sama luasnya di Sunway Malls, kami mengadopsi warisan budaya suku untuk perayaan tahun ini untuk memberikan penghargaan kepada lima suku utama Tiongkok yang menjadi 90 persen dari pengunjung mal kami. Kami yakin ini pendekatan yang lebih dari terhubung dan relevan,” kata Chan.

Di dalam Islam, babi dan anjing dianggap sebagai binatang haram, sehingga bahkan beberapa merek menerapkan peringatan ekstrim saat menampilkan citra kedua binantang itu. Pada 2018, satu toko kelontong ternama mencetak kaos dengan gambar zodiak Tionghoa, tapi hanya 10 dari 12 zodiak, dengan pengecualian babi dan anjing.

Lego Malaysia juga berhati-hati untuk tahun ini, meskipun perusahaan itu telah berhasil menjual seluruh edisi terbatas set hadiah mainan Tahun Babi, yaitu model dari Tarian Naga Lego yang dipasang di satu mal.

“Kampanye Tahun Baru Imlek Lego dimulai 1 Janari dan sampai hari ini, kami berlum mendapatkan keluhan terkait pencitraan dari dekorasi dan paket kami. Saat ini kami ada model Lego Tarian Naga yang dipajang di Mid Valley Megamall sebagai kampanye Tahun Baru Imlek kami,” kata manajer merek untuk Lego Singapura dan Malaysia.



Sumber: Suara Pembaruan

Rayakan Imlek, Istana Singapura Akan Dibuka untuk Umum


Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 1 Februari 2019 | 13:37 WIB

Singapura, Beritasatu.com- Istana Negara Singapura akan dibuka untuk masyarakat tanggal 6 Februari 2019 mulai pukul 08.30 pagi sampai 18.00 dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek.

Dalam rangka peringatan ulang tahun ke-150 Istana, Presiden Halimah Yacob juga akan meluncurkan Seri Suvenir eksklusif Istana 150 selama open house.

Seri tersebut adalah kolaborasi antara Istana dan Singapore Mint, yaitu perusahaan penyedia hadiah-hadiah premium seperti koin-koin untuk dikoleksi, terdiri dari medali perak dan kartu-kartu FlashPay.

Kartu-kartu itu bergambar Istana, serta arsitektur bangunan yang berlokasi di dalam kompleks Istana. Para pembeli seri itu pada hari peluncurannya akan menerima sertifikat eksklusif.

Istana juga akan menampilkan tarian singa, tarian Tiongkok, dan penampilan wushu. Para pengunjung juga bisa mencoba menggambar tangan mereka dengan kaligrafi Tiongkok serta mengikuti tur Istana. Pengunjung bisa melihat beberapa ruangan terpilih dan koleksi hadiah untuk presiden dan perdana menteri.

Acara open house ini bebas untuk semua warga Singapura dan penduduk tetap. Sedangkan pengunjung lain harus membayar tiket 2 dolar Singapura (sekitar Rp 20.000).



Sumber: Suara Pembaruan

Mudik Imlek dan Revolusi Kereta Api Tiongkok


Heru Andriyanto / HA Minggu, 3 Februari 2019 | 21:19 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Masinis veteran Zhou Li, 54, telah mengemudikan empat generasi kereta api sepanjang karirnya -- mulai dari kereta uap sampai kereta berkecepatan tinggi. Sepanjang hidupnya, dua pertiga perayaan tahun baru Tiongkok atau spring festivals dia lewatkan di dalam ruang mesin kereta, mengantar para pemudik.

Tahun ini adalah hari raya ke-31 yang akan dia lewatkan lagi.

Perayaan tahun baru adalah periode travel yang sangat sibuk di Tiongkok, ketika ratusan juta orang kembali ke tanah kelahiran untuk bertemu keluarga, mengunjungi sanak saudara, atau sekedar mengambil jeda dari riuhnya kehidupan kota besar.

Zhou adalah satu dari banyak masinis negara itu yang menyaksikan sendiri perkembangan sangat pesat dalam teknologi perkeretaapian nasional. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok 70 tahun lalu, kecepatan kereta api meningkat enam kali lipat, sementara panjang jaringan rel bertambah dari sekitar 20.000 km menjadi sekitar 131.000 km pada akhir 2018.

Pada perayaan Imlek tahun ini, sekitar 413 juta warga Tiongkok akan mudik dengan kereta api, dan dibandingkan era sebelumnya perjalanan mereka akan jauh lebih cepat, nyaman, dan berteknologi tinggi.

Jika dibandingkan misalnya pada Imlek 1957 ketika 31 juta orang melakukan perjalanan dengan kereta api, angka itu tidak ada apa-apanya. Namun, pada era itu, jumlah penumpang kereta api menjadi beban yang sangat besar bagi sistem transportasi negara. Pada 1959, surat kabar People's Daily bahkan menulis tajuk yang mengimbau pelancong jarak dekat untuk berjalan kaki atau naik sepeda saja kalau memungkinkan, demi mengurangi beban.

Sekitar 10 tahun yang lalu, berdiri di gerbong penuh penumpang dan barang selama perjalanan 58 jam adalah hal biasa bagi banyak orang. Sekarang, bertambahnya jaringan rel dan hadirnya kereta api peluru membuat perjalanan menjadi tidak penuh sesak dan lebih nyaman.

KIRI: Seorang penumpang menata barang di dalam gerbong kereta api dari Fujian ke Chongqing, 23 Januari 2003. KANAN: kondektur kereta api Jiang Fei mengecek barang di bagasi kereta api peluru di jalur Wuhan-Guangzhou, 30 Januari 2010. (Xinhua)

Yu Maosheng, 38, mengatakan dulu dia harus mengantre beberapa jam untuk membeli tiket, dan butuh lebih dari 30 am perjalanan dari Shenzhen, Provinsi Guangdong, sampai ke kota kelahirannya Linyi, Provinsi Shandong.

Saat ini, waktu perjalanan antara Shenzhen dan Linyi telah dipangkas menjadi hanya 10 jam berkat hadirnya kereta api cepat.

Pada September 2017, kereta api cepat Fuxing buatan Tiongkok mulai beroperasi antara Beijing dan Shanghai. Dengan kecepatan 350 km per jam, Fuxing menjadi kereta api komersial paling kencang di dunia.

Kereta api Fuxing juga akan melayani rute Beijing dan Zhangjiakou di Provinsi Hebei, ketika dua itu menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022.

"Selain itu ada upaya-upaya untuk meluncurkan sistem perkereaapian yang cerdas, dengan menerapkan teknologi canggih seperti big data dan kecerdasan buatan," kata Wang Junbiao, pejabat di Akademi Sains Perkeretaapian Tiongkok (China Academy of Railway Sciences).

KIRI: Seorang petugas mengepel lantai gerbong kereta api dalam perjalanan dari Urumqi ke Kashgar, wilayah Xinjiang, Tiongkok, 10 Maret 2005. KANAN: seorang petugas mengepel lantai gerbong kereta peluru yang sedang berhenti di depo Wuhan, Provinsi Hubei, 10 Februari 2011. ̣Xinhua

Sementara itu, Tiongkok telah mengembangkan situs layanan tiket real-time yang terbesar di dunia, dengan penjualan sekitar 3,5 miliat tiket per tahun. Teknologi baru seperti pemindaian wajah dalam check-in telah diterapkan di banyak stasiun.

Bagi Zhou, si masinis, dia masih ingat hari-hari ketika para penumpangnya mengusung banyak tas dan bergegas masuk kereta memperebutkan ruang untuk bagasi mereka. Dengan ruang gerbong yang lebih luas dan rapi sekarang ini, kekacauan seperti itu sudah jarang terlihat.

"Semuanya meningkat dengan pesat, sama seperti kecepatan keretanya," kata Zhou.



Sumber: Xinua

Sony Kusumo: Jadikan Imlek Momentum Mempererat NKRI


Carlos Roy Fajarta / FMB Senin, 4 Februari 2019 | 20:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Politisi PDI Perjuangan, Sony Kusumo, berharap tahun baru Imlek bisa jadi momentum untuk mempererat Indonesia. Dirinya mengajak para warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk lebih peduli dengan kemajuan bangsa Indonesia.

"Imlek kali ini kita jadikan momentum untuk mempererat NKRI, jangan mencari perbedaan tetapi saatnya untuk berpikir dan berbuat untuk kemajuan Indonesia," ujar Sony Kusumo ketika ditemui di Jakarta Utara, Senin (4/2).

Menurut caleg DPR RI dari Dapil 3 DKI Jakarta itu semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus terus kokoh berdiri di bumi Nusantara. "Dengan berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika mari kita membangun silaturahmi dengan semua lapisan masyarakat," lanjut Sony.

Sony Kusumo juga berharap ke depan WNI keturunan Tionghoa bisa lebih bekerja keras untuk kemajuan Indonesia. "Meskipun keturunan Tionghoa, sepenuhnya jiwa raga harus mengabdi untuk Indonesia yang menjadi tanah air kita," seru politisi PDI Perjuangan itu.



Sumber: BeritaSatu.com

Libur Imlek Sudah Ada di Era Penjajahan


Vento Saudale / DAS Selasa, 5 Februari 2019 | 12:22 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Jauh sebelum Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional di era pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati, ternyata hal serupa sudah pernah terjadi pada saat penjajahan Jepang.

Tokoh masyarakat Tionghoa Bogor, Guntur Santoso menceritakan, sempat dilarang pada masa penjajahan Belanda, Imlek kembali dirayakan pada masa Jepang. Pemerintah pendudukan Jepang bahkan menjadikannya hari libur resmi berdasarkan keputusan Osamu Seiri No 26 tanggal 1 Agustus 1942.

Itulah kali pertama dalam sejarah Tionghoa di Indonesia Imlek menjadi hari libur.

Imlek mulanya dirayakan ketika tampuk pimpinan negeri ini ada di tangan Soekarno. Namun perubahan drastis terjadi ketika pemerintahan berganti ke tangan Soeharto atau masa Orde Baru. Komunis nyang identik dengan Tiongkok adalah musuh negara sehingga segala hal yang berbau Tionghoa, baik keagamaan/kepercayaan maupun adat istiadat, termasuk perayaan Imlek, dibatasi.

Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No 14/1967, Presiden Soeharto melarang masyarakat Tionghoa merayakan Imlek secara terbuka. Perayaan Imlek harus dilakukan di dalam lingkungan keluarga atau tidak menyolok di depan umum. Aturan era Orde Baru itu tertuang dalam Inpres No 14/1967 yang mengatur tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Beleid itu ditandatangani Jenderal TNI Soeharto pada 6 Desember 1967.

“Kalau sembahyang kami tetap jalankan, biasanya ya di rumah masing-masing. Perayaan Imlek saat itu kami lakukan dengan sangat sederhana. Yang pasti tidak ada mercon dan barongsai,” kata Guntur.

Larangan itu berakhir ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi presiden. Gus Dur mencabut Inpres No 14/1967 pada 17 Januari 2000. Pada 2000 atau Imlek 2551 Kongzili, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) mengambil inisiatif merayakan Imlek secara terbuka sebagai puncak Ritual Agama Konghucu secara nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada 9 April 2001, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden No 19/2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif, hari libur hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya.

Pada 2002 atau di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Artinya hari libur bukan hanya untuk warga etnis Tionghoa yang merayakan Imlek. Saat menghadiri perayaan Imlek 2553 Kongzili yang diselenggarakan Matakin, Megawati mengumumkan bahwa Imlek sebagai hari libur nasional dimulai sejak 2003. Pengumuman ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No19/2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek, tertanggal 9 April.

“Sejak itu, sejumlah pertokoan seperti di daerah Pecinan Suryakancana ramai dengan penjual pernak-pernik Imlek. Kelenteng-kelenteng kembali bersih-bersih dan menghias diri setiap kali menjelang Imlek. Barongsai pun kembali meliuk-liuk,” tambah Guntur.

Sejak ditetapkan sebagai hari raya, Cap Go Meh adalah salah satu perayaan yang dipilih warga Bogor dalam merayakan Imlek dalam kemasan pesta rakyat dan festival budaya. Ajang ini dimaksudkan untuk memperlihatkan keberagaman budaya Bogor sekaligus ingin menggambarkan nilai kebersamaan dan sejarah kesatuan etnis yang masih terpelihara dengan baik di Bogor.



Sumber: BeritaSatu.com

Ini Makna Tradisi pada Perayaan Imlek


Vento Saudale / DAS Selasa, 5 Februari 2019 | 11:57 WIB

Bogor,Beritsatu.com - Imlek mulai dirayakan di hari pertama bulan pertama kalender Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelimabelas. Setiap tradisi memiliki makna tersendiri. Berikut ini urutan tradisi perayaan Imlek berikut makna yang terkandung di dalamnya.

Sebelum Imlek mereka yang merayakan sudah mulai membersihkan rumah, mendekor ulang rumah, serta membayar atau melunasi utang. Membersihkan rumah, misalnya, mengandung makna rumah akan bersih dari keburukan dan siap menerima keberuntungan di tahun baru.

Pengurus Vihara Dhanagun, Kota Bogor, Kusumah alias Ayung menuturkan, pada hari pertama tahun baru mereka melakukan sembahyang pada leluhur, dan tak lupa menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar.

“Yang tak punya altar di rumah pergi ke kelenteng terdekat untuk sembahyang, mengucapkan terima kasih atas lindungan Tuhan sepanjang tahun,” katanya saat ditemui Beritsatu.com, Selasa (5/2). Setelah itu mereka memberikan hormat kepada orangtua, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.

Ada sejumlah pantangan pada saat hari raya alias Imlek. Menyapu dan membuang sampah konon akan mengusir rezeki ke luar dari rumah. Mereka juga tak boleh memecahkan piring. Jika tak sengaja memecahkannya, mereka harus cepat-cepat mengucapkan sue sue phing an, yang artinya “setiap tahun tetap selamat”.

Hari kedua, lanjut Ayung, adalah saat hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Perempuan yang sudah menikah membawa teng lu yang merupakan bingkisan atau angpao (amplop merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi, angpao atau hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orangtua.

“Pada hari ketiga, kami lebih banyak tinggal di rumah, tanpa melakukan banyak perjalanan dan aktivitas,” tambah Ayung.

Layaknya tradisi Lebaran, masyarakat Tionghoa mengenakan pakaian baru. Biasanya berwarna merah atau warna terang lainnya. Warga Tionghoa percaya pentingnya penampilan dan sikap baru yang optimistis menghadapi masa depan.

Kata Ayung, semua hal yang mewarnai Imlek pada dasarnya bermakna satu, yakni membuang segala keburukan di tahun lalu dan berharap tahun baru yang lebih baik. Sama seperti musim semi, saat bunga-bunga mulai bermekaran, tunas-tunas tanaman mulai tumbuh, dan matahari muncul dengan kehangatan sinarnya. Musim semi adalah musim harapan, di mana segala sesuatu yang lama digantikan yang baru.



Sumber: BeritaSatu.com

Imlek Pantang Makan Bubur


Vento Saudale / DAS Selasa, 5 Februari 2019 | 11:47 WIB

Bogor,Beritsatu.com - Segala tradisi dalam perayaan Imlek sarat makna. Pada saat Imlek, bubur adalah pantangan untuk dimakan.

“Bubur pantang dimakan saat Imlek karena melambangkan kemiskinan. Makanan berasa pahit seperti pare juga dihindari karena melambangkan kepahitan hidup,” kata pengurus Vihara Dhanagun, Kota Bogor, Kusumah alias Ayung kepada Beritasatu.com, Selasa (5/2).

Hidangan yang disajikan pada perayaan Imlek biasanya terdiri atas 12 macam masakan dan 12 macam kue. Ini melambangkan 12 macam shio.

Mi menjadi makanan wajib karena simbol panjang umur. Lapis legit dan ikan bandeng yang melambangkan rezeki. Beragam kue, dari lapis hingga kue keranjang, dengan rasa yang lebih manis dari biasanya menjadi bentuk harapan kehidupan yang lebih manis di tahun mendatang.

Buah-buahan wajib selama Imlek adalah pisang raja atau pisang mas, jeruk kuning, delima hingga tebu yang melambangkan kemakmuran dan rezeki berlimpah. Buah berduri seperti salak atau durian harus dihindari. Nanas menjadi perkecualian karena namanya wang li dengan pengucapan mirip dengan kata wang yang artinya berjaya, nanas juga dilambangkan sebagai mahkota raja.



Sumber: BeritaSatu.com

CLOSE