Indonesia Menyambut Varian Omicron
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Home > Fokus > Indonesia Menyambut Varian Omicron

Setelah Negara Tetangga, Omicron Tiba di Indonesia?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:47 WIB
Oleh : Jeis Montesori, Dwi Argo Santosa / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Kemunculan varian baru Covid-19 berjuluk Omicron membuat dunia terhenyak. Banyak negara langsung menerapkan kewaspadaan tinggi demi mengantisipasi persebarannya. Salah satunya adalah melarang masuk para pelaku perjalanan dari sejumlah negara di Afrika, tempat di mana Omicron pertama terdeteksi.

Kewaspadaan tersebut sangat masuk akal mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan bahwa Omicron bisa memicu lonjakan kasus Covid-19 global. Varian ini diketahui lebih cepat menular ketimbang varian-varian sebelumnya.

Seperti diberitakan, Afrika Selatan melaporkan kasus pertama varian Omicron ke WHO pada 24 November 2021.

Dua hari kemudian, atau pada 26 November 2021, WHO langsung mengategorikan SARS-CoV-2 B.1.1.529 sebagai variant of concern atau varian yang perlu diwaspadai.

Kelompok Penasihat Teknis WHO terkait Evolusi Virus menyatakan, mutasi varian ini berdampak pada sifat virus. Para peneliti menemukan bahwa varian Omicron memiliki lebih banyak mutasi pada protein spike, bagian penting dari virus Corona untuk menempel ke sel manusia.

Jika pada varian Delta ada delapan mutasi di protein spike, pada varian Omicron ada empat kali lebih banyak mutasi, yakni 32.

Hal inilah yang membuat para ilmuwan khawatir, Omicron mampu menular 4-5 kali lebih cepat dibanding varian Delta dan dapat mengurangi efektivitas vaksin atau pengobatan Covid-19.

Per 3 Desember 2021, atau dalam waktu kurang dari 10 hari setelah temuan pertama, Omicron sudah menyebar di lima benua di planet ini.

Sedikitnya sudah 27 negara melaporkan temuan varian Omicron. Tiga di antaranya adalah negara tetangga kita, Australia, Malaysia, dan Singapura.

Melihat fakta bahwa infeksi Omicron sudah ditemukan di tiga negara tetangga maka tak berlebihan bila menyebut varian baru ini sudah mengintip Indonesia.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, Indonesia tak terhindar dari penularan varian Delta meski telah membuat aturan ketat sebelumnya.

Lantas, bagaimana perisai Indonesia mencegah Omicron?

Presiden Jokowi telah meminta semua jajaran untuk mewaspadai penyebaran Omicron sambil mempercepat program vaksinasi dan jangan lengah.

Pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan pembatasan bagi pelaku perjalanan internasional yang hendak memasuki wilayah Indonesia.

Kebijakan tersebut diatur dalam Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 23/2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19, tanggal 29 November 2021.

Seberapa jauh aturan itu dapat menghambat masuknya Omicron ke Indonesia bisa diukur dari pengalaman selama ini.

Jika varian Delta bisa menembus pertahanan Indonesia, maka varian lain pun kemungkinan besar akan serupa.

Para pakar di dunia sudah memformulasikan pencegahan penularan Covid-19. Protokol kesehatan itu kemudian dijadikan dasar untuk membuat peraturan mencegah transmisi antarnegara. Persoalannya adalah pada implementasi dari aturan tersebut.

Di Indonesia, kita melihat sejumlah pelanggaran protokol kesehatan yang sudah baku. Jauh sebelum muncul varian Delta, seorang petugas PCR Bandara Soekarno-Hatta kedapatan memanipulasi hasil rapid test calon penumpang. Kasus ini terbongkar karena korban bersuara. Ia bukan hanya diperas melainkan juga mendapatkan pelecehan seksual dari pelaku.

Jika praktik ini tidak terbongkar, bukan tidak mungkin akan semakin banyak calon penumpang dengan hasil tes positif namun diklaim negatif dan boleh terbang.

Kasus lain adalah terungkapnya penggunaan alat swab antigen bekas yang dipakai lagi ke calon penumpang pesawat, di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara. Bagaimana bisa mengandalkan akurasi hasil tes yang menggunakan alat bekas? Dengan hasil tes yang dipertanyakan keakuratannya bitu, calon penumpang bisa terbang. 


Calon penumpang pesawat mengenakan APD di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Senin (29/11/2021). (AFP)

Beruntung kasus ini berhasil dibongkar Direktorat Kriminal Khusus Polda Sumut meski para pelaku sudah berpraktik seperti itu selama empat bulan.

Pada kedua contoh kasus itu, pemerintah sudah membuat aturan jelas dan ketat. Namun rangkaian pencegahan penularan di angkutan udara menjadi sia-sia ketika salah satu mata rantai pengetatannya, bocor.

Kasus terkini yang cukup menghebohkan adalah ketika selebgram Rachel Vennya diduga keluar dari karantina sebelum waktunya. 

Kasus ini melibatkan seorang oknum anggota TNI yang membantu Rachel “kabur” dari karantina. Diduga, aturan karantina dilanggar dengan memanfaatkan “backing”.


Rachel Vennya di Polda Metro Jaya. (Antara)

Model-model pelanggaran seperti itu yang memungkinkan virus menemukan jalan untuk merajalela di wilayah baru meski aturan ketat atau super ketat sudah dibuat.

Dalam aturan yang dibuat pemerintah saat ini pun terdapat pengecualian atau keistimewaan perlakuan. Salah satu contoh, aturan masuknya pelaku perjalanan ke Indonesia dikecualikan bagi mereka yang mendapatkan pertimbangan atau izin khusus secara tertulis dari kementerian atau lembaga.

Izin-izin atau pertimbangan semacam itu perlu diawasi ketat mengingat mudah disalahgunakan.

SE Nomor 23/2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19 ditandatangani Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Suharyanto.

Dalam SE itu, pelaku perjalanan dari 11 negara di kawasan Afrika untuk sementara tak diizinkan memasuki Indonesia.

Ke-11 negara tersebut meliputi tiga negara yang telah mengonfirmasi adanya transmisi komunitas varian baru Omicron, yakni Afrika Selatan, Botswana, dan Hong Kong serta delapan negara yang secara geografis berdekatan dengan negara transmisi komunitas kasus Omicron secara signifikan yakni Angola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Mozambique, Namibia, Eswatini, dan Lesotho.


Kepala BNPB Suharyanto. (dok BNPB)

Pelaku perjalanan yang dimaksud adalah warga negara asing (WNA) yang secara langsung dari negara-negara tersebut maupun sekadar transit. Juga, mereka yang pernah tinggal dan/atau mengunjungi negara-negara tadi dalam kurun waktu 14 hari.

Sedangkan bagi warga negara Indonesia (WNI) dari luar negeri diizinkan memasuki Indonesia dengan tetap mengikuti protokol kesehatan ketat sebagaimana ditetapkan pemerintah.

Pelaku perjalanan internasional yang boleh masuk ke Indonesia, menurut SE Nomor 23/2021, pertama, mereka yang tidak memiliki riwayat perjalanan atau tinggal dalam kurun waktu 14 hari di negara-negara yang telah mengonfirmasi adanya Omicron.

Kedua, mereka yang sudah memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 34/2021 tentang Pemberian Visa dan Izin Tinggal Keimigrasian dalam Masa Penanganan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Ketiga, mereka yang memenuhi skema perjanjian (bilateral), seperti Travel Corridor Arrangement (TCA).

Keempat, sudah mendapatkan pertimbangan atau izin khusus secara tertulis dari kementerian atau lembaga.

Aturan ini juga menyebutkan, seluruh pelaku perjalanan internasional, baik WNI maupun WNA harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Protokol dimaksud adalah wajib menunjukkan kartu atau sertifikat fisik maupun digital, telah menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap minimal 14 hari sebelum keberangkatan.

Baik WNI maupun WNA yang belum mendapat vaksin di luar negeri maka akan divaksinasi di tempat karantina setibanya di Indonesia setelah dilakukan pemeriksaan tes polymerase chain reaction (PCR) kedua dengan hasil negatif.


Vaksinasi massal di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (9/7/2021). (Beritasatu.com)

Namun khusus WNA ada tambahan ketentuan. Mereka yang diberi fasilitas vaksinasi di tempat karantina yakni hanya mereka yang berusia 12 - 17 tahun, pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas, atau pemegang kartu izin tinggal terbatas (Kitas) dan kartu izin tinggal tetap (Kitap).

Aturan ini juga menyebutkan, bagi WNA yang sudah berada di Indonesia dan akan melakukan perjalanan, baik domestik maupun internasional, wajib melakukan vaksinasi melalui skema program atau gotong royong sesuai peraturan perundang-undangan.

Dalam aturan ini terdapat pengecualian kewajiban menunjukkan kartu atau sertifikat vaksinasi Covid-19 sebagai persyaratan memasuki Indonesia.

Mereka yang dikecualikan adalah, pertama, WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas yang terkait dengan kunjungan resmi atau kenegaraan pejabat asing setingkat menteri ke atas dan WNA yang masuk ke Indonesia dengan skema Travel Corridor Arrangement, sesuai prinsip resiprositas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kedua, WNA yang belum melakukan vaksinasi dan bermaksud untuk melakukan perjalanan domestik dan melanjutkan dengan tujuan mengikuti penerbangan internasional keluar dari wilayah Indonesia.

Mereka diperbolehkan tidak menunjukkan kartu/sertifikat vaksinasi Covid-19 selama tidak keluar dari area bandara saat transit menunggu penerbangan internasional yang hendak diikutinya. Itu pun dengan syarat telah diizinkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan setempat.

Ketiga, pelaku perjalanan internasional usia di bawah 18 tahun.

Keempat, pelaku perjalanan internasional dengan kondisi kesehatan khusus atau penyakit komorbid yang menyebabkan pelaku perjalanan tidak dapat menerima vaksin.

Syaratnya, wajib melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah negara keberangkatan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum dan/atau tidak dapat mengikuti vaksinasi Covid-19.

Pelaku perjalanan internasional juga wajib menunjukkan hasil negatif melalui tes PCR di negara/wilayah asal yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan atau eHAC Internasional Indonesia.

Pada saat kedatangan, setiap pelaku perjalanan WNI dan WNA dilakukan tes ulang PCR dan diwajibkan menjalani karantina selama 7 x 24 jam. Aturan ini kemudian diperbaiki melalui adendum SE 23/2021, yakni menjadi karantina selama 10 x 24 jam.

Dalam hal WNI yang berasal dari negara/wilayah yang mengonfirmasi adanya transmisi komunitas atau secara geografis berdekatan dengan negara transmisi komunitas Omicron, tetap dapat memasuki wilayah Indonesia.

Syaratnya wajib dilakukan tes ulang PCR saat kedatangan dan diwajibkan menjalani karantina 14x24 jam.

Biaya karantina bagi WNI dengan status sebagai pekerja migran Indonesia (PMI), pelajar/mahasiswa, atau pegawai pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas luar negeri ditanggung oleh pemerintah.

Bagi WNI di luar kriteria itu, serta WNA, termasuk diplomat asing, menjalani karantina di tempat yang mendapatkan rekomendasi dari Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan (untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya) atau Dinas Kesehatan Provinsi terkait dengan sertifikasi protokol kesehatan Covid-19.

Selama masa karantina, pelaku perjalanan internasional akan menjalani tes PCR kedua pada hari keenam untuk yang menjalani karantina dengan durasi tujuh hari dan hari ke-13 untuk yang menjalani karantina dengan durasi 14 hari.

Jika tes PCR kedua dinyatakan negatif, pelaku perjalanan dapat melanjutkan perjalanan dan dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari serta menerapkan protokol kesehatan.

Namun, jika tes RT-PCR kedua dinyatakan positif, pelaku perjalanan akan dirawat di rumah sakit dengan biaya ditanggung pemerintah untuk WNI, sementara untuk WNA biaya ditanggung mandiri.

Penutupan sementara masuk ke wilayah Indonesia dan kewajiban karantina ini dikecualikan bagi WNA dengan kriteria tertentu, yakni:
- WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas.
- WNA pejabat asing setingkat menteri ke atas beserta rombongan yang melakukan kunjungan resmi/kenegaraan.
- WNA yang masuk ke Indonesia melalui skema Travel Corridor Arrangement.
- Delegasi negara-negara anggota G-20.

Bagi WNA kriteria khusus ini tetap diterapkan sistem bubble dan protokol kesehatan secara ketat.

Protokol kesehatan ketat itu di antaranya:
- Wajib menggunakan masker dengan benar menutupi hidung dan mulut.
- Jenis masker yang digunakan oleh pelaku perjalanan adalah masker kain 3 lapis atau masker medis.
- Tidak diperkenankan untuk berbicara satu arah maupun dua arah melalui telepon ataupun secara langsung sepanjang perjalanan dengan moda transportasi umum darat, perkeretaapian, laut, sungai, danau, penyeberangan, dan udara
-Tidak diperkenankan untuk makan dan minum sepanjang perjalanan penerbangan bagi perjalanan yang kurang dari 2 jam, terkecuali bagi individu yang wajib mengonsumsi obat dalam rangka pengobatan yang jika tidak dilakukan dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan orang tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, demi mencegah masuknya Omicron, masa karantina bagi WNA dan WNI ditambah menjadi 10 hari dari sebelumnya tujuh hari.

Larangan ini berlaku bagi WNA dan WNI pelaku perjalanan dari negara-negara di luar 11 negara yang dilarang masuk.

Langkah itu diambil dengan mempertimbangkan semakin banyaknya negara yang mendeteksi varian Omicron. Perpanjangan masa karantina ini akan berlaku sejak 3 Desember 2021.

"Tentunya kebijakan yang diambil ini akan terus dievaluasi secara berkala sambil kita terus memahami dan mendalami informasi tentang varian baru ini," kata Luhut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Pemerintah juga melarang pejabat negara untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Larangan terhadap pejabat negara tersebut berlaku kepada seluruh lapisan jabatan, terkecuali bagi yang melaksanakan tugas penting negara.

Sementara bagi masyarakat umum, Luhut mengimbau agar masyarakat tidak melakukan perjalanan ke luar negeri pada saat ini

Dari sisi surveilans, pemerintah mengajak para epidemiolog dalam negeri untuk memantau perkembangan varian Omicron.

"Selain saya ada juga Pak Pandu Riono, Pak Hari, Pak Windhu dan lainnya. Para epidemiolog yang tersebar dari berbagai universitas," kata epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Iwan Ariawan.

Menurut epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, kasus positif terkonfirmasi dari varian ini sudah menyentuh angka di atas 113 kasus.

“Pemerintah harus memperketat proses skrining dan karantina di pintu masuk negara dengan 3T (testing, tracing, dan treatment) yang ketat, serta wajib sudah divaksinasi,” katanya.

Indonesia juga harus mempersiapkan diri jika terjadi lonjakan kasus. Persiapan dimaksud antara lain penguatan sistem pelayanan kesehatan dan pendeteksian varian melalui metode whole genome sequencing.

Dicky Budiman mengungkapkan varian Omicron dari dari Afrika Selatan lahir dari situasi wilayah negara atau kawasan yang rendah kapasitas dari kombinasi 3T, 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas), vaksinasi, dan lemahnya surveillance genomic.

“Suatu wilayah dengan kondisi tersebut tinggal menunggu waktu saja lahirnya varian super. Ini bisa juga terjadi di wilayah Indonesia.,” katanya.


Dicky Budiman. (Istimewa)

Menurut Dicky, ini pertama kalinya varian baru SARS-CoV-2 "lompat kelas". Varian Omicron langsung menjadi variant of concern atau kategori kewaspadaan tertinggi. Omicron tak melalui kategori kelompok variant under investigation (VUI) atau variant of interest (VOI).

"Ini pertanda sangat serius,” kata Dicky.

Dicky menyarankan masyarakat dan pemerintah memperkuat aksi pencegahan dengan pola hidup sehat dan memperkuat protokol kesehatan minimal 5M.

Selain itu, ia menekankan, apa pun varian Covid-19, vaksin akan memberi manfaat bagi pasien yang terjangkit.

Varian Covid-19 ditengarai terus bermutasi, karena itu butuh komitmen kuat seluruh anak bangsa untuk mengikuti anjuran yang telah ditetapkan otoritas yang berwenang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Varian Omicron Mengancam Pemulihan Ekonomi Dunia

Sabtu, 4 Desember 2021 | 13:53 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Para ilmuwan dunia dan para ahli virologi masih belum memastikan seberapa besar ancaman yang ditimbulkan dari varian baru Covid-19, Omicron. Meskipun demikian, banyak otoritas negara sudah mengambil kebijakan pembatasan perjalanan internasional.

Setelah 27 negara mendeteksi, per 3 Desember 2021, Omicron diprediksi mengancam perekonomian dunia yang sedang dalam pemulihan.

Varian B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. Sejauh ini, banyak laporan memang menyebut varian Omicron atau B.1.1.529 berasal dari Afrika Selatan atau Botswana, dua negara yang memperingatkan dunia akan varian baru itu.


Seorang penumpang tiba di terminal internasional Bandara Sydney, Australia, 29 November 2021. (AFP)

Namun, Afsel dan Botswana tampaknya hanyalah negara yang pertama mendeteksi keberadaan Omicron berkat kemampuan pengurutan genetik terdepan di dunia. Dengan demikian kedua negara itu tidak bisa disebut sembarangan sebagai tempat awal mula munculnya Omicron.

Buktinya, pada Selasa (30/11/2021), pejabat kesehatan Belanda menyebut Omicron sudah ada di negara itu pada sampel 19-23 November 2021.

WHO telah mengategorikan Omicron sebagai variant of concern, dan menyatakan bukti awal menunjukkan varian itu memiliki risiko infeksi ulang yang lebih tinggi. Pada Selasa (30/11), WHO menyatakan belum ada kasus kematian terkait Omicron.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, kemunculan Omicron menunjukkan betapa berbahaya dan gentingnya situasi pandemi.

“Omicron menunjukkan mengapa dunia membutuhkan kesepakatan baru tentang pandemi,” katanya.

Richard Hatchett, CEO Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), satu yayasan yang mendanai pengembangan vaksin, mengatakan, kemunculan Omicron telah melengkapi prediksi bahwa penularan virus di daerah dengan tingkat vaksinasi rendah akan mempercepat evolusinya.


Pelancong tiba di Bandara Tullamarine Melbourne, Australia, Senin (29/11/2021). (AFP)

“Ketidaksetaraan yang menjadi ciri respons global kini telah muncul kembali," katanya seraya mencatat bahwa vaksinasi dosis lengkap di Botswana dan Afrika Selatan baru mencapai seperempat populasi.

Sebagai zona panas, Afrika Selatan diharapkan bisa memberikan gambaran lengkap bagaimana Omicron memengaruhi penyebaran Covid. Para ahli sudah mencermati negara itu untuk memantau berapa banyak kasus yang meningkat dalam beberapa waktu mendatang.

Indikator
Terkait Omicron, sebenarnya ada tiga indikator pertama jelas dan mudah dipahami semua orang: Apakah kasus meningkat? Apakah rawat inap meningkat? Apakah Omicron merupakan bagian terbesar dari seluruh kasus infeksi?

Para ahli epidemiologi mengukur pertumbuhan epidemi menggunakan R, jumlah rata-rata kasus baru yang disebarkan oleh setiap infeksi.

Pada akhir November, Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan di Johannesburg menetapkan bahwa R sudah di atas 2 di Gauteng, provinsi terkecil di Afrika Selatan.

Pantauan lonjakan kasus di Afrika Selatan cukup mengejutkan. Pada awal November, Afrika Selatan rata-rata mencatat sekitar 349 kasus Covid-19 baru setiap hari. Namun pada 1 Desember, rata-rata hampir 3.800 kasus baru setiap hari.

Tom Weseleers, ahli biologi evolusi di KU-Leuven di Belgia, mengatakan, berdasarkan kenaikan data kasus dan pengurutan Covid-19, Weseleers memperkirakan bahwa Omicron dapat menginfeksi orang tiga hingga enam kali lebih banyak daripada Delta, dalam periode waktu yang sama.


Calon penumpang memberikan informasi menjelang tes Covid-19 gratis di Bandara Internasional Los Angeles. (AFP)

Sementara, Christian Althaus, seorang ahli epidemiologi komputasi di University of Bern, Swiss, berpendapat, pengawasan yang meningkat di Afrika Selatan dapat menyebabkan para peneliti melebih-lebihkan pertumbuhan cepat Omicron.

Tetapi, katanya, jika pola itu berulang di negara lain maka fakta itu baru menjadi bukti yang sangat kuat bahwa Omicron memiliki keunggulan penularan.

“Jika itu tidak terjadi, misalnya, di negara-negara Eropa, itu berarti segalanya sedikit lebih kompleks dan sangat bergantung pada lanskap imunologis. Jadi kita harus menunggu,” tambah Althaus.

Aris Katzourakis, pakar evolusi virus di University of Oxford, Inggris menilai seberapa cepat varian menyebar di tempat lain mungkin bergantung pada faktor-faktor seperti vaksinasi dan tingkat infeksi sebelumnya.

Mendominasi
Sebelum Amerika Serikat (AS) sebagai negara ke-24 yang mengidentifikasi Omicron, beberapa negara telah mengidentifikasi keberadaan Omicron yakni Inggris, Prancis, Israel, Belgia, Belanda, Jerman, Italia, Swedia, Denmark, Australia, Kanada, Hong Kong, India, Ghana, Arab Saudi, UEA, Singapura dan sejumlah negara di Afrika bagian selatan.

Omicron mungkin saja mendominasi pandemi Covid-19, seperti Delta, atau malah gagal seperti Beta dan Gamma, varian yang mungkin sudah terlupakan.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah itu menjadi dominan adalah bahwa jumlah kasus Covid-19 seperti AS atau negara lain, yang disebabkan oleh Omicron, akan mulai meningkat.

Untuk melengkapi gambaran, varian Delta menyebar di AS dimulai dari pertumbuhan kecil yakni sekitar 1% dari semua kasus Covid-19 pada Mei.

Namun, varian Delta menjadi 99 % dari keseluruhan kasus pada Agustus atau hanya berselang tiga bulan. Untuk saat ini, 99,9% sampel yang diurutkan di AS adalah varian Delta.

Dalam prediksi yang lebih ekstrem, Leong Hoe Nam, dokter penyakit menular di RS Mount Elizabeth Singapura, menyebut, Omicron akan membanjiri dunia dalam tiga sampai enam bulan mendatang.


Antrean warga Washington DC, AS, di layanan vaksinasi Covid-19. (AFP)

Menurut Reuters, Delta, varian yang saat ini menyumbang 99% dari infeksi Covid, mulai menjadi lebih umum di negara bagian Maharashtra di India pada Maret 2021, dan lantas menjadi dominan secara global pada Juli.

Saat ini, pertanyaan kunci banyak orang adalah apakah Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada varian Delta? Jika ya, jawaban itu akan menyiratkan gambaran masa depan yang suram. Meskipun demikian, semakin banyak temuan kasus Omicron, ada semakin banyak alasan orang untuk khawatir.

Omicron juga telah terdeteksi di Israel, negara yang cermat melacak data Covid-19.

Seperti AS, Israel bahkan telah lama menerapkan strategi vaksin penguat alias booster. Namun fenomena Omicron di Israel masih dini.

Di sisi lain, jika Omicron dapat menghindari antibodi penetralisir, hal itu tidak berarti bahwa respons imun yang dipicu oleh vaksinasi dan infeksi sebelumnya tidak akan memberikan perlindungan terhadap varian tersebut.

“Studi kekebalan menunjukkan bahwa tingkat antibodi penetralisir yang relatif rendah dapat melindungi orang dari bentuk Covid-19 yang parah,” kata Miles Davenport, seorang pakar imunologi di University of New South Wales di Sydney, Australia.

Beberapa dokter percaya bahwa vaksin yang ada saat ini akan dapat memberikan perlindungan terhadap varian baru.

Syra Madad, seorang peneliti di Belfer Center for Science and International Affairs menyebut, tubuh manusia menghasilkan "seluruh antibodi yang berbeda" sebagai respons terhadap vaksin.

“Saya pikir vaksin kita saat ini akan bertahan sampai batas tertentu, dengan varian baru ini. Omicron mungkin mengurangi efektivitas vaksin beberapa tingkat, tetapi itu belum terlihat. Vaksin saat ini, bersama dengan vaksin penguat tetap harus memberikan tingkat perlindungan yang baik,” katanya seraya mencatat bahwa vaksin cukup mampu memberikan perlindungan terhadap Delta.

Dampak Ekonomi
Menyikapi seluruh fenomena global, pada Kamis (2/12/2021), Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, dampak Omicron cukup signifikan pada ekonomi global.

Varian Omicron dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dengan memperburuk masalah rantai pasokan dan menekan permintaan.

“Mudah-mudahan itu bukan sesuatu yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Ada banyak ketidakpastian, tetapi itu bisa menyebabkan masalah yang signifikan. Kami masih mengevaluasi itu,” kata Yellen.

Bagaimanapun, penyebaran Omicron telah mengguncang pasar keuangan dan mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk memperketat pembatasan perjalanan dan tempat kerja.

Seperti Yellen, pada Selasa (30/11/2021), Ketua Federal Reserve Jerome Powell pun bersaksi bahwa varian Omicron mengancam pemulihan ekonomi Amerika. Jika memperpanjang pandemi, Omicron tetap bisa mendorong harga-harga naik, mengganggu pertumbuhan lapangan kerja, dan memperburuk krisis rantai pasokan.

“Kenaikan baru-baru ini dalam kasus Covid-19 dan munculnya varian Omicron menimbulkan risiko penurunan terhadap pekerjaan dan aktivitas ekonomi dan meningkatkan ketidakpastian inflasi,” tulis Powell.


Jarome Powell. (AFP)

Powell mencatat, ekonomi mengalami pukulan berat di musim panas ketika varian Delta menyebar ke seluruh dunia.

Saat itu, banyak orang Amerika takut bepergian, berbelanja, makan di restoran, dan kembali ke kantor. Bagaimana pun, separuh dampak ekonomi dari pandemi datang dari konsumen yang secara sukarela memutuskan untuk menjaga jarak, terlepas dari batasan hukum.

Sampai saat ini, vaksin masih menjadi garis pertahanan terbaik menghadapi pandemi Covid, termasuk penyebaran Omicron. Nasib langsung ekonomi global, bagaimanapun, tergantung pada data rawat inap di banyak negara. Jadi ketidakpastian dampak Omicron mungkin akan berlanjut hingga tahun 2022, membebani ekonomi saat mulai kembali pemulihan normal.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN
Share to WhatsApp


TAG POPULER

# Kakek Dihakimi Massa


# Alinea


# Omicron


# Covid-19


# Arsenal


B1 Livestream

TERKINI
Polisi: Pembakaran Rumah Terkait PSU Yalimo

Polisi: Pembakaran Rumah Terkait PSU Yalimo

NASIONAL | 4 jam yang lalu









BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings