Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Kematian Massal di Itaewon dan Kanjuruhan

Maut di Kerumunan, Pelajaran dari Tragedi Kanjuruhan dan Itaewon

Kamis, 3 November 2022 | 14:28 WIB
Oleh : Surya Lesmana, Dwi Argo Santosa / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Dua tragedi besar melibatkan kerumunan manusia terjadi di bulan Oktober 2022 ini. Di awal bulan terjadi tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Lalu pada akhir bulan tragedi nyaris serupa terjadi di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Kedua peristiwa tragis di Asia ini mengguncang dunia karena memakan korban ratusan jiwa.

Tragedi Kanjuruhan dan tragedi Itaewon menunjukkan hal yang sama akan adanya ancaman dan bahaya mengintai dari kerumunan massa.

Pergerakan massa yang membeludak dan tak terkontrol ditambah adanya faktor pemicu dari luar bakal dengan mudah menimbulkan insiden yang memakan korban jiwa. Jumlah korbannya pun tidak sedikit.

Kerumunan massa berdesak-desakan saat perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korsel, Sabtu, 29 Oktober 2022 malam waktu setempat.
Kerumunan massa berdesak-desakan saat perayaan Halloween di Itaewon.

Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022 di stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ada kegiatan besar yang membuat massa berkumpul di sana, yakni kecintaan mereka terhadap klub sepak bola Arema Malang. Kala itu tim berjuluk Singo Edan bertanding melawan musuh bebuyutan sesama Jatim, Persebaya Surabaya.

Pertandingan lanjutan Liga 1, kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia ini sengaja tidak menghadirkan suporter Persebaya. Jadi, Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam itu benar-benar milik Aremania, sebutan bagi suporter Arema Malang.

Sayang, pertandingan berakhir dengan kemenangan Persebaya Surabaya. Suporter berduka. Mungkin banyak yang kesal dan frustrasi klub kesayangannya kalah. Sejumlah suporter kemudian ada yang turun ke lapangan ketika tim dan ofisial Arema FC menghampiri tribun untuk meminta maaf kepada para pendukungnya karena kekalahan tersebut.

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, 1 Oktober 2022.
Suporter Arema FC memasuki lapangan di Stadion Kanjuruhan.

Laporan Komnas HAM menyebutkan, insiden tragedi Kanjuruhan terjadi 20 menit setelah pertandingan berakhir. Pada saat itu gas air mata pertama ditembakkan aparat untuk menghalau suporter di lapangan. Namun, bukan hanya di lapangan, dari rekaman yang beredar terlihat pula gas air mata itu ditembakkan ke arah tribun penonton.

Aparat keamanan, termasuk Kapolda Jatim kala itu Irjen Pol Nico Afinta, mengklaim gas air mata itu ditembakkan untuk mengamankan situasi atas kericuhan suporter yang turun ke lapangan. Polisi bahkan mengklaim penembakan gas air mata oleh aparat sudah sesuai prosedur.

Klaim itu terbantahkan baik dari temuan Komnas HAM maupun Tim Gabungan Independen Pencari Fakta yang laporannya telah diserahkan ke Presiden Jokowi. Berdasarkan temuan Komnas HAM, suporter turun ke lapangan untuk memberi semangat kepada para pemain klub kesayangan mereka.

Berdasarkan aturan induk olahraga sepak bola dunia, FIFA, gas air mata dilarang digunakan di dalam stadion. Celakanya, 11 tembakan gas air mata dilepaskan ke berbagai arah termasuk tribun.

Bagi yang pernah mengalami, tentu tahu bagaimana “pedasnya” efek yang ditimbulkan dari tembakan gas air mata. Tak mengherankan penonton di tribun panik dan menghindar. Bertambah tembakan semakin banyak pula suporter yang panik.

Mereka berlarian ke arah pintu keluar, berharap bisa menghindari gas air mata dan menyelamatkan diri. Namun, keluar dari stadion saat itu tak mudah. Ada pintu stadion yang terbuka, namun ukurannya kecil.

Akhirnya terjadi desak-desakan antarsuporter. Banyak suporter yang sesak napas akibat kondisi tersebut. Ruang gerak sempit, sementara efek gas air mata masih terasa. Mereka yang berdesakan tidak hanya pingsan. Ratusan orang akhirnya meninggal dunia.

Belakangan diketahui bahwa massa di Stadion Kanjuruhan ternyata melampaui kapasitas yang seharusnya. Berdasarkan temuan Komnas HAM, ada sekitar 43.000 tiket yang terjual. Padahal kapasitas stadion hanya untuk 38.000 penonton.

Tragedi Kanjuruhan ini menewaskan 135 orang.

Ketika pengusutan tragedi Kanjuruhan ini masih berlangsung terjadi tragedi kerumunan massa lainnya di penghujung Oktober. Insiden di Distrik Itaewon, Kota Seoul, Korea Selatan, memakan korban jiwa hingga 154 orang.

Dunia kembali terhenyak. Para pemimpin internasional menyampaikan ucapan duka cita atas insiden yang terjadi saat perayaan Halloween ini.

Sama seperti di Kanjuruhan, tragedi Itaewon juga terjadi pada Sabtu malam, alias malam Minggu. Tepatnya 29 Oktober 2022.

Sama-sama melibatkan kerumunan massa, tragedi Itaewon tidak dipicu oleh aksi aparat keamanan. Jumlah massa-nya pun berbeda.

Pada perayaan Halloween di Itaewon, lokasi favorit anak muda dan wisatawan asing itu dibanjiri hingga 100.000 lebih orang.

Pada saat kejadian, hanya ada sekitar 130 polisi yang bertugas di kawasan itu. Mereka tidak bertugas untuk mengawasi kerumunan massa melainkan memastikan lalu lintas berjalan lancar dan mencegah aksi kriminal.

Massa begitu banyak sementara kondisi beberapa lokasi berupa jalan sempit dan berbukit.

Distrik Itaewon terkenal sebagai pusat hiburan di Kota Seoul, di mana banyak bar, restoran, atau kelab malam berjajar di gang-gang sepanjang 300 meter belakang jalanan utama distrik itu. Gang-gang yang sempit hanya selebar 3 hingga 4 meter dengan permukaan jalannya yang kadang naik turun seperti bukit.

Bisa dibayangkan ketika kawasan itu diserbu ratusan ribu orang yang berjejal. Lautan manusia kemudian memenuhi sudut jalan.

Dr Milad Haghani dari University of New South Wales di Australia menyebutkan, ketika kerumunan mencapai tingkat kepadatan kritis yang melebihi kapasitasnya, tidak ada individu dalam kerumunan yang pada dasarnya bertanggung jawab atas tindakan atau gerakan mereka. Tidak ada orang yang dapat memutuskan ke mana harus pergi atau bagaimana harus bereaksi.

Efek dari ratusan ribu orang dalam ruang terbatas membuat kerumunan bertindak seperti “satu kesatuan tubuh” yang terus menerus bergerak seperti cairan.

Ketika kerumunan orang berjatuhan, mereka mencoba bangun dengan kondisi lengan dan kaki terpelintir. Saat terjatuh, selama 30 detik suplai aliran darah ke otak terhenti, menyebabkan orang bisa kehilangan kesadaran dengan kadar oksigen di dalam tubuh berkurang atau asfiksia.

Celakanya, di saat orang sudah berjejal dan tidak mendapat ruang, muncul kericuhan di tengah lautan massa. Kerumunan orang yang panik mencoba menghindar tak memiliki tempat untuk bergerak. Mereka terjatuh, terijak-injak oleh yang lainnya.

Ratusan orang kemudian mengalami henti jantung sehingga perlu dilakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) untuk membuat jantung kembali bergerak. Ada yang berhasil, banyak yang gagal, dan meninggal. Sungguh sebuah tragedi.

Sejumlah video memperlihatkan CPR dilakukan oleh warga biasa. Mereka yang tanpa rompi petugas melakukan pertolongan pertama. Beberapa media asing menyebut bahwa kondisi itu disebabkan petugas di lokasi kejadian tidak sebanding dengan korban yang berjatuhan.

Hal serupa terjadai pada tragedi Kanjuruhan. Dari sejumlah video amatir yang beredar memperlihatkan bagaimana sesama suporter atau warga sipil menolong mereka yang pingsan atau sekarat.

Namun tidak terlihat ada warga yang melakukan upaya CPR. Mungkin karena teknik ini tidak umum diketahui publik. Upaya yang dilakukan kebanyakan adalah mengevakuasi korban. Bahkan ada yang mengangkut korban dengan sepeda motor ke rumah sakit terdekat.

Dua kejadian mematikan ini menjadi pelajaran berharga untuk pergelaran-pergelaran yang melibatkan jumlah massa yang cukup banyak.

Perlu diingat bahwa ada banyak penyelenggaraan acara yang melibatkan ribuan massa berjalan baik tanpa insiden. Dengan demikian, trauma tragedi Kanjuruhan dan Itaewon tidak boleh menyurutkan acara-acara besar.

Yang perlu diperhatikan adalah evaluasi dari kedua peristiwa tersebut sehingga di pergelaran acara-acara lainnya tidak terulang.

Dari sisi individu, tragedi seperti ini seharusnya bisa dicegah dengan kesadaran dari individu itu sendiri.

Dr Milad Haghani mengungkapkan, tingkat kepadatan kerumunan yang kritis sering terjadi secara bertahap dan dengan kecepatan yang sangat lambat. Sehingga untuk banyak orang yang tidak waspada, mereka tidak dapat memperkirakan bencana yang akan datang.

“Orang-orang yang berada di dalam kerumunan secara bertahap merasa bahwa kerumunan menjadi semakin tidak nyaman, tetapi pada saat mereka menyadari bahwa mereka berada dalam masalah, mungkin sudah terlambat,” katanya.

Kerumunan seperti itu sering kali tidak memberikan rute atau peluang orang untuk melepaskan diri. “Dan sebagai akibatnya, tidak akan ada banyak kemungkinan bagi orang untuk menyelamatkan diri mereka sendiri,” katanya.

Dalam tragedi Itaewon, beberapa orang yang selamat menyatakan, mereka berada di pinggiran kerumunan dan meraih benda-benda untuk bisa terangkat. Namun di kerumunan massa yang padat, tidak semua bisa melakukan hal seperti itu.

“Kesadaran dan kewaspadaan Anda jadi kunci besar untuk bisa selamat. Jika berada dalam sebuah acara dengan kerumunan massa dengan jumlah besar, lihat adakah pihak berwenang yang bertugas untuk mengendalikan kerumunan ini. Jika tak ada, sebaiknya Anda mempertimbangkan keselamatan terlebih dahulu,” katanya.

Pada hari-hari mendatang akan ada banyak kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah yang besar mengingat pandemi Covid-19 sudah surut. Selain konser artis, berbagai perayaan di masa pergantian tahun kemungkinan menyedot banyak orang.

Kunci dari keselamatan sebuah acara adalah antisipasi jitu terhadap segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Pihak penyelenggara bertanggung jawab terhadap semua hal berkaitan dengan acara yang bakal digelar.

Koordinasi penyelenggara dengan aparat keamanan serta tim medis jauh sebelum acara menjadi poin krusial mencegah insiden.

Berikut ini catatan penting dari sebuah perhelatan yang melibatkan kerumunan massa.

1. Estimasi Jumlah dan Karakteristik Massa
Pada tragedi Itaewon jumlah 100.000 orang disebut sebagai jumlah yang di luar dugaan. Jauh melebihi jumlah pengunjung pada tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan pada tragedi Kanjuruhan, jumlah tiket yang terjual 5.000 di atas kapasitas stadion.

Pihak penyelenggara kegiatan harus memiliki kesadaran tinggi untuk menghindari bahaya dari kerumunan massa. Mereka harus memikirkan keselamatan pengunjung, tidak semata mencari untung dengan memaksakan orang datang hingga melebihi kapasitas.

Ketepatan estimasi jumlah massa sangat penting sebagai dasar menentukan langkah antispasi pengamanan dan keselamatan. Lebih jauh dari sekadar jumlah adalah menelisik karakteristik massa.

Massa dalam terminologi suporter pertandingan, pengunjung mal, penonton konser, kader partai dalam sebuah kampanye, atau bahkan masyarakat acak memiliki karakter dan emosi berbeda-beda. Penanganannya pun berbeda. Penonton konser musik klasik tentu sangat berbeda dibanding musik rock.

Peristiwa Heysel pada 29 Mei 1985 salah satu contoh bagaimana karakter suporter adalah hal yang tidak boleh luput dari perhatian penyelenggara. Pada final Piala Champions antara Liverpool dan Juventus, hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Dalam peristiwa itu sebanyak 39 orang tewas dan 600 lebih lainnya luka-luka.

Dalam catatan sejarah sepak bola, pada final sebelumnya, yakni 1984 di mana Liverpool mengalahkan AS Roma dan juara Piala Champions, sejumlah fans Liverpool mendapat serangan dari fans Roma. Diyakini sejumlah penggemar Liverpool melakukan perjalanan ke Brussel dengan tujuan membalas dendam pada penggemar sepak bola Italia.

Pada tragedi Kanjuruhan, karakteristik itu sudah diantisipasi. Penonton hanya dari Aremania. Namun sebuah event yang dihadiri massa homogen ternyata tidak menjamin penanganan keamanan dan keselamatan menjadi mudah. Karena itu antisipasi pada massa yang heterogen butuh kecermatan ekstra.

Selain massa suporter dari dua kubu berbeda, kumpulan massa heterogen ini bisa dijumpai pada acara-acara festival yang menggunakan jalan raya sebagai panggung. Masyarakat dari berbagai kelompok umur dan latar belakang tumplek menyaksikan festival.

2. Daya Dukung Tempat Penyelenggaraan
Jumlah dan karakteristik massa menjadi perhatian utama namun pada tragedi Kanjuruhan maupun Itaewon lokasi kejadian juga memiliki andil penyebab jatuhnya banyak korban.

Di Kanjuruhan, Malang, pintu keluar stadion yang tertutup atau terbuka namun sempit membuat penonton berdesakan, terhimpit, dan terinjak. Sedangkan di Itaewon, Seoul, gang sempit dan menurun curam memberi andil serupa.

Daya dukung tempat peyelenggaraan acara bukan hanya terkait kapasitas secara keseluruhan. Kemungkinan penumpukan massa di satu titik tertentu juga harus menjadi perhatian.

Tidak sedikit insiden pengunjung pingsan karena antre di lokasi masuk arena gara-gara jalur masuknya sempit dan terjadi penumpukan manusia pada saat yang sama. Padahal dari sisi jumlah keseluruhan, lokasi acara mampu menampungnya.

Tak kalah penting adalah rute evakuasi bila terjadi chaos atau insiden di luar kendali.

Daya dukung lainnya adalah ketahanan berbagai fasilitas di arena dari ancaman kemungkinan terburuk.

Sedikitnya delapan orang penonton tewas dan lebih dari 40 lainnya dirawat saat sebuah tribun Stadion Fonte Nova di kota Salvador, Brasil, runtuh.

Kejadian pada 2007 itu disebabkan fans yang bersorak sorai dan melompat-lompat di tribun setelah tim kesayangannya, Bahia, mendapat promosi ke divisi II. Goncangan para fans membuat tribun runtuh.

Sedangkan pada tragedi Heysel, kubu Liverpool menuding bahwa pilihan Stadion Heysel, Belgia sebagai tempat final Piala Champions adalah kontroversial. Pasalnya, stadion berusia 55 tahun dan membutuhkan pembangunan kembali.

Sebagian besar struktur stadion dinilai lemah. Penggemar tanpa tiket bahkan bisa membuat lubang di dinding cinderblock untuk mendapatkan akses ke pertandingan. Arsenal telah bermain di stadion itu sebelum final 1985 dan menganggap stadion itu tidak memadai. Baik Juventus dan Liverpool telah meminta UEFA untuk mengubah tuan rumah untuk final, namun UEFA menolak permintaan mereka.

Sejarah buram dunia sepak bola memang dimulai oleh hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus sekitar sejam sebelum kick off. Pendukung Juventus pun berusaha menjauh namun dinding pembatas di sektor tersebut roboh karena tidak kuasa menahan beban dari orang-orang yang terus berusaha merangsek dan melompati pagar. Ratusan orang tertimpa dinding yang berjatuhan.

3. Dukungan Aparat Keamanan dan Tim Medis
Dukungan aparat keamanan bukan saja bergantung pada jumlah melainkan juga koordinasi serta keterampilan. Dalam rapat koordinasi antara penyelenggara dan aparat keamanan biasanya dibahas detail terkait risiko dan beberapa skenario pengamanan.

Di Indonesia, bagian keamanan biasanya bukan hanya dari kepolisian atau TNI. Penyelenggara punya petugas keamanan internal dan bahkan melibatkan petugas pemadam kebakaran.

Di Kanjuruhan, jumlah aparat tidak dipermasalahkan. Justru tindakan aparat saat menghalau suporterlah yang menjadi pemicu banyaknya korban jiwa melayang. Sedangkan di Itaewon, kurangnya jumlah aparat kepolisian mengendalikan massa menjadi kritik tajam. Mereka tidak menduga jumlah pengunjung yang datang begitu banyak.

Di sisi lain, kecepatan penanganan medis terhadap korban kritis sangat menentukan dalam mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Untuk itu keberadaan tim medis dalam jumlah memadai beserta peralatan emergency menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Dalam event olahraga seperti Formula 1, helikopter disiapkan mengangkut korban kritis ke rumah sakit yang sudah ditunjuk.

Semoga tragedi Kanjuruhan dan Itaewon menjadi pembelajaran dan meningkatkan kesadaran kita akan adanya ancaman maut dari sebuah perhelatan yang melibatkan kerumunan massa.



4 Fakta Tragedi Itaewon, Minim Antisipasi hingga Telatnya Pertolongan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 18:11 WIB
Oleh : Dwi Argo Santosa / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Lebih dari 150 orang, sebagian besar berusia remaja dan 20-an, tewas karena terhimpit dan terinjak-injak kerumunan massa dalam insiden yang disebut sebagai tragedi Itaewon. Peristiwa itu terjadi pada acara Halloween di distrik hiburan malam Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam.

Ini adalah insiden desak-desakan terburuk dalam sejarah Korea Selatan. Presiden Yoon Suk-yeol telah memerintahkan penyelidikan penuh dan bersumpah tragedi seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi. Berikut ini 4 fakta di lapangan.

1. Orang Membeludak di Gang Curam
Hingga 100.000 orang turun ke distrik Itaewon yang cukup populer di Seoul pada Sabtu (29/10/2022) malam untuk acara Halloween.

Pedagang lokal yang telah bekerja di daerah itu selama 30 tahun mengatakan kepada AFP bahwa kerumunan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Polisi menyatakan mereka berencana mengerahkan hanya 200 petugas.

Kerumunan massa berdesak-desakan saat perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korsel, Sabtu, 29 Oktober 2022 malam waktu setempat.
Massa saat perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korsel.

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan kerumunan yang penuh sesak. Kerumunan itu awalnya damai namun kemudian mulai muncul kepanikan ketika orang-orang terus mendorong di gang sempit yang menurun, yang sudah dipenuhi orang-orang yang bersuka ria.

Penyebab mengapa ada aksi dorong dari belakang, masih simpang siur. Beberapa pengguna media sosial berspekulasi desak-desakan itu dipicu oleh kebocoran gas atau kebakaran di salah satu klub. Yang lain mengklaim penyebabnya bisa jadi penampakan selebriti.

Pengguna online juga melayangkan kemungkinan penggunaan narkoba dengan foto-foto yang diduga "permen narkoba" yang diduga dibagikan di acara tersebut yang beredar di Twitter. Ada juga yang menyebut perkelahian pengguna narkoba.

Polisi sejauh ini tidak menemukan bukti tentang semua itu, dan saksi mata tidak menjelaskan apa pun seperti ini kepada AFP.

Para ahli, sebaliknya, menunjuk kegagalan kepolisian dalam pengendalian massa

"Orang-orang tidak bisa bergerak maju namun dari belakang terus mendorong dan mendorong sementara (gang tempat kerumunan) adalah bukit yang terjal (menurun) sehingga orang-orang menumpuk satu di atas yang lain," kata saksi mata Jarmil Taylor (40) kepada AFP.

2. Mayoritas Korban Mati Lemas
Mayoritas korban adalah wanita muda berusia 20-an, kata para pejabat. Mereka meninggal karena terjebak dalam kerumunan padat di gang sempit dan miring di lokasi kejadian.

Jenazah korban penyerbuan Halloween dibawa dengan tandu di Itaewon, Seoul, Minggu, 30 Oktober 2022.
Jenazah korban tragedi Itaewon.

Dalam kebanyakan situasi terinjak-injak, para ahli mengatakan, orang meninggal karena mati lemas. Pihak berwenang di Seoul mengatakan bahwa banyak korban henti jantung dalam keadaan seperti itu.

Saksi mata juga menggambarkan melihat orang-orang jatuh dan terjebak oleh kerumunan sebelum diinjak-injak dan tertindih.

Tertundanya pertolongan pertama darurat juga bisa menyebabkan lebih banyak kematian, kata para kritikus menunjuk pada kurangnya jumlah polisi di tempat kejadian. Orang-orang yang pertama memberikan pertolongan berjuang untuk menjangkau korban melalui gang-gang yang penuh sesak.

3. Minim Antisipasi, Kurang Polisi
Menurut Menteri Dalam Negeri Korsel, Lee Sang Min mengatakan, protes besar di distrik Gwanghwamun Seoul pada Sabtu juga membutuhkan kehadiran polisi yang signifikan, sehingga banyak petugas dikerahkan ke sana.

Polisi berjaga-jaga untuk membatasi akses ke lokasi di mana penyerbuan Halloween terjadi di Itaewon, Seoul, Minggu, 30 Oktober 2022.
Polisi berjaga-jaga.

Dalam dokumen yang diunggah dua hari sebelum acara, polisi mengatakan mereka hanya berencana menghadirkan 200 petugas untuk acara Halloween Itaewon. Kritikus mengatakan, jumlah polisi tersebut menunjukkan kurangnya perencanaan yang cukup menyedihkan.

"Ini adalah bencana buatan manusia yang dipicu oleh kurangnya kesadaran tentang keselamatan. Para pemilik usaha di Itaewon dan pejabat pemerintah seharusnya lebih mempersiapkan diri menghadapi kerumunan massa," kata Shin Dong-min, seorang profesor di Universitas Transportasi Nasional Korea kepada YTN News.

4. Telat pada Pertolongan Pertama
Saat tim bantuan yang kekurangan tenaga berjuang untuk membantu sejumlah korban gagal jantung, orang yang lewat melompat untuk membantu dengan upaya pertolongan pertama dan melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR).

CPR dilakukan terhadap orang yang tidak mampu bernapas atau mengalami henti jantung akibat suatu hal, dalam hal ini karena terhimpit. Dengan mengembalikan fungsi napas dan jantung, CPR dapat menyelamatkan nyawa seseorang.

Ambulans dikerahkan di lokasi sekitar penyerbuan Halloween terjadi di Itaewon, Seoul, Minggu, 30 Oktober 2022.
Ambulans dikerahkan di lokasi.

Sebuah video yang beredar di Twitter menunjukkan puluhan orang datang untuk melakukan CPR pada korban yang tergeletak di jalan. Rekaman lain menunjukkan orang-orang dengan kostum membawa tubuh lemas di punggung mereka.

"Saya sedang berjalan tetapi berhenti untuk membantu CPR karena itu tampak seperti situasi darurat," kata Min Byung-yeon, seorang mantan perawat kepada YTN News.

Wanita lain yang pergi ke Itaewon dengan anaknya untuk menikmati perayaan, mengatakan, dia diminta untuk melakukan resusitasi mulut ke mulut pada beberapa korban.

Tetapi yang lain mengatakan orang-orang terlalu sibuk dengan telepon genggam mereka dan tidak membantu. "Saya tidak bisa menahan air mata saya karena tidak ada yang menawarkan untuk membantu tetapi terus merekam," ungkap salah seorang yang melakukan CPR, seorang wanita yang mengidentifikasi dirinya sebagai perawat menulis di Twitter.

Kecepatan pertolongan pertama ini sangat penting karena banyak korban yang menderita henti jantung mungkin telah melewati empat menit penting sebelum bantuan tiba, kata para ahli.

Presiden Yoon telah menyatakan masa berkabung nasional dan bersumpah untuk "menyelidiki secara menyeluruh penyebab insiden tersebut".

 



Komnas HAM: Gas Air Mata Alasan Utama Korban Tragedi Kanjuruhan Meninggal

Rabu, 2 November 2022 | 20:00 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyimpulkan penembakan gas air mata menjadi penyebab awal dan alasan utama kematian korban dalam tragedi Kanjuruhan, Malang di Jawa Timur.

Penembakan tersebut dilakukan oleh sebagian aparat kepolisian yang berada di dalam stadion.

"Penembakan gas air mata merupakan penyebab utama korban meninggal dunia, luka-luka ataupun trauma," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta pada Rabu (2/11/2022).

Ia mengatakan bahwa penembakan gas air mata dalam tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 telah memicu jatuhnya 135 korban meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka ataupun trauma, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terkait dengan pemicu secara langsung, kata dia, penembakan gas air mata menjadi sesuatu yang mematikan apabila digunakan di dalam ruang tertentu dan kondisi tertentu, seperti penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan yang bentuk ruangannya cenderung tertutup dan dipadati oleh penonton pertandingan sepak bola.

Komnas HAM mengakui karakter dasar gas air mata memang tidak mematikan. Namun dalam kondisi tertentu dapat menjadi penyebab kematian, seperti pada Tragedi Kanjuruhan dan massa penonton tengah berdesakan mencari jalan keluar dari kepulan asap gas air mata.

"Dapat dilihat secara langsung sebabkan kematian di pintu 13, asap masuk ke lorong di tengah kepanikan penonton," ujar Anam.

Gas air mata pun disebut Komnas HAM menjadi dalang atas korban luka dan trauma. "Secara tidak langsung sebabkan luka dan trauma karena buat kepanikan dan muncul desakan untuk keluar (stadion) dengan dada sesak, kulit panas," lanjut Anam.

Walau demikian, Komnas HAM tetap mendukung investigasi atas kematian korban Kanjuruhan lewat otopsi. Hal ini guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

"Secara faktual memungkinkan (meninggal karena gas air mata), tapi harus disandingkan dengan otopsi," ucap Anam.

Selain itu, Komnas HAM menemukan gas air mata kedaluarsa dalam tragedi Kanjuruhan. Namun Komnas HAM belum dapat menyimpulkan efek yang terjadi bila terpapar zat tersebut.

"Terdapat gas air mata kedaluwarsa didasari keterangan yang didapat dari laboratorium. Konsekuensinya masih perlu didalami dengan proses ilmiah. Kami tidak mendalami kalau kedaluwarsa kondisinya A, B, C, D," ucap Anam.

Sementara itu, mengenai pemicu secara tidak langsung, Anam mengatakan bahwa hal tersebut terkait dengan penembakan gas air mata ke arah tribun yang menyebabkan banyak orang panik, lalu sesak napas, dan berujung pada kematian.

"Penembakan ke tribun dan sebagainya mengakibatkan kepanikan. Dari panik itu, banyak yang juga mengalami sesak napas dan lain sebagainya, terus berebut keluar pintu dengan tangga yang curam. Di situ, ada yang jatuh, terluka, dan meninggal," ucap Anam.



Polri Tahan 6 Tersangka Kasus Tragedi Kanjuruhan

Senin, 24 Oktober 2022 | 18:07 WIB
Oleh : Stefani Wijaya / Bernadus Wijayaka

Jakarta, Beritasatu.com - Kadiv Humas Polri Irjen Dedi mengungkapkan, Polri menahan enam tersangka terkait tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur mulai hari ini, Senin (24/10/2022).

"Selesai nanti pemeriksaan tambahan keenam tersangka tersebut oleh penyidik langsung dilakukan penahanan," kata Dedi kepada wartawan di Mabes Polri.

Dikatakan Dedi, mulanya penyidik memanggil keenam tersangka itu untuk dilakukan pemeriksaan tambahan dan hingga saat ini masih berproses.

Nantinya, apabila telah selesai diperiksa maka keenamnya akan dilakukan penahanan di Rutan Polda Jawa Timur.

Polri menetapkan enam orang tersangka terkait tragedi Kanjuruhan pasca kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, seusai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.

Keenamnya yaitu Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ahmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang Abdul Haris, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur AKP Hasdarman, security steward Suko Sutrisno.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan pasal yang menjerat keenam tersangka itu.

Tiga warga sipil dijerat Pasal 359 dan atau Pasal 360 KUHP dan atau Pasal 103 ayat (1) juncto Pasal 52 UU 11/2022 tentang Keolahragaan.

"Di mana pelaksana dan koordinat penyelenggaraan pertandingan yang bertanggung jawab kepada LIB di situ disebutkan di Pasal 103, panitia pelaksana bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kejadian," kata Sigit saat konferensi pers di Malang, Jawa Timur, Kamis (6/10/2022).

Sementara itu, tiga anggota polisi dijerat dengan Pasal 359 dengan bunyi "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun".

Kemudian Pasal 360 KUHP berbunyi "Barang siapa karena kelalaiannya menyebabkan orang luka berat, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun". Pasal 360 KUHP juga mengatur soal luka berat atau luka yang menyebabkan jatuh sakit atau terhalang pekerjaan sehari-hari.

 



Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Bertambah, Total Jadi 135

Senin, 24 Oktober 2022 | 11:15 WIB
Oleh : Didik Fibrianto / Jaja Suteja

Malang,Beritasatu.com - Aremania korban meninggal dunia akibat tragedi Kanjuruhan bertambah satu. Korban meninggal dunia diketahui bernama Farzah Dwi Kurniawan warga Jalan Sudimoro Utara RT 3/RW 17, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Total korban meninggal dunia akibat tragedi Kanjuruhan berjumlah 135 orang.

Menurut Amanda Febrianti Putri, teman sekampung korban, Farzah menghembuskan napas terakhirnya setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang selama 23 hari.

"Korban meninggal dunia pada Minggu malam ( 23/10/2022) sekitar jam 11 malam lebih, setelah dirawat 23 hari di RSSA," kata teman sekampung korban, Amanda Febrianti Putri, di Malang, Senin (24/10/2022).

Menurut Amanda, saat tragedi Kanjuruhan terjadi, Farzah bersama teman-temannya menonton di tribune selatan tempat ditembakkannya gas air mata oleh oknum aparat kepolisian. Namun, pasca-terkena gas air mata kondisi korban mengenaskan.

"Saat digotong teman-teman, wajah Farzah membiru terkena gas air mata," ungkapnya.

Namun, dia dan keluarganya menyayangkan diagnosis dari dokter RSSA yang menyatakan jika Farzah terkonfirmasi Covid-19. Padahal, jelas bahwa Farzah adalah korban gas air mata.

"Korban oleh dokter RSSA dicovidkan, dan jenazahnya sempat dibungkus plastik. Padahal, jelas terkena gas air mata," tandasnya.

Sementara itu, setelah dimandikan di rumah duka dan disalatkan keluarganya di masjid, jenazah Farzah langsung dimakamkan keluarganya di pemakaman umum setempat.

Farzah merupakan mahasiswa Tehnik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam kesehariannya, Farzah dikenal baik kepada keluarga dan teman-temannya.

"Farzah anaknya pintar, berbakti kepada orangtuanya. Kepada teman-temannya juga baik," pungkas Amanda.








CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE