Saat Remaja Tak Bisa Kendalikan Diri di Media Sosial


Yudo Dahono / AB
Kamis, 25 April 2019 | 12:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kehidupan sosial manusia di era internet ini dapat dikatakan semakin mudah. Keberadaan media sosial dalam genggaman membuat interaksi antara satu orang dengan yang lainnya bak tidak terpisahkan oleh jarak. Jarak ribuan kilometer yang memisahkan bukanlah penghalang bagi manusia untuk saling terhubung satu sama lain.

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social "Digital Around The World 2019" bekerja sama dengan Hootsuite, terdapat 130 juta jiwa orang Indonesia yang aktif di media sosial. Dalam laporan tersebut terungkap bahwa total populasi Indonesia yang kini mencapai 265,4 juta jiwa, setengah di antaranya telah menggunakan internet, yaitu sebanyak 132,7 juta.

Apabila dilihat dari angka tersebut maka dapat dikatakan bahwa seluruh pengguna internet di Indonesia adalah pengguna media sosial. Hasil penelitian We Are Social menyebutkan dari 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, 130 juta di antaranya adalah pengguna aktif di media sosial dengan penetrasi mencapai 49%. Angka itu juga berarti bahwa lebih dari separuh populasi di Indonesia telah melek media sosial.

Pesatnya penggunaan media sosial telah memengaruhi cara berpikir kita terhadap teman, kenalan, serta orang asing. Selama ini kita memiliki jaringan sosial yang terdiri atas keluarga dan teman dalam lingkaran sosial. Kehadiran media sosial dalam lingkup teknologi membuat jaringan sosial tersebut menjadi membesar dan berbeda dibanding sebelumnya.

Media sosial membuat orang “masuk” ke dalam jaringan tersebut dengan cara yang sangat mudah dan cakupan yang lebih luas. Salah satu perbedaan terbesar antara jaringan sosial tradisional dengan media sosial adalah batasan-batasan antara ruang privat dengan publik, antara sekolah dengan rumah atau pekerjaan dengan rumah, menjadi kabur.

Hubungan antar manusia yang kian mendekat kendati jarak dipisahkan hingga ribuan kilometer antara satu dengan yang lainnya juga memiliki efek negatif. Seperti kasus penganiayaan yang baru-baru ini terjadi terhadap siswi SMP bernama Audrey di Pontianak, Kalimantan Barat. Audrey dikeroyok dan mengalami penganiayaan oleh sejumlah siswi SMA yang diduga dipicu masalah asmara dan saling balas komentar di media sosial.

Bahkan Presiden Joko Widodo merasa khawatir dengan kasus perundungan yang terjadi karena media sosial ini.

"Yang pasti adalah, kita sedang menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial antarmasyarakat melalui media sosial. Kita sedang dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, hendaknya lebih berhati-hati," kata Jokowi dalam akun Instagram, @jokowi, Rabu (10/4/2019).

Sementara itu pada medio Desember 2018, seorang pelajar SMP di Bekasi dikeroyok empat orang pelajar lainnya setelah saling ejek di media sosial. Hal yang mirip juga terjadi pada November 2018 di Kolong Tol Deplu Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Satu korban tewas setelah dua kelompok pelajar saling tantang untuk berduel di Instagram.

Sementara pada Maret 2019 lalu, Amir Hamdani (17) harus meregang nyawa setelah terkena luka bacok. Amir tewas setelah sebelumnya bertengkar dengan MR di media sosial Facebook. Selain Audrey, dan Amir, ada Amir dan Audrey lain yang menjadi korban media sosial dari kalangan remaja di berbagai penjuru Tanah Air.

Berdasarkan penelitian “Social media as a vector for youth violence: A review of the literature”, pada beberapa tahun terakhir internet dan media sosial telah menjadi “fasilitator” terhadap kekerasan anak dan remaja.

Media sosial telah menjadi alat bagi anak muda untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap teman-temannya, seperti perundungan (bullying), pelecehan, serta kejahatan terkait geng. Media sosial juga menjadi alat untuk melukai diri sendiri, yang paling utama adalah bunuh diri siber.

Remaja masa kini adalah pengguna aktif dari media sosial, seperti Facebook, Twitter atau Instagram. Berdasarkan penelitian yang sama sekitar 90 persen dari remaja menggunakan internet secara reguler dan 70 persen di antaranya memiliki setidaknya satu profil di media sosial.

Kaburnya batasan antara ruang privat dan publik menimbilkan banyak dampak negatif terhadap penggunanya, khususnya terhadap remaja. Penetrasi ponsel pintar membuat penggunaan media sosial semakin intens. Bahkan tiga miliar orang atau sekitar 40 persen dari populasi dunia menggunakan media sosial. Rata-rata dua jam setiap hari para pengguna tersebut berinteraksi di sana dengan membagikan, menyukai, menulis, serta melakukan pembaruan status.

Kaburnya batasan antara ruang privat dan publik di media sosial berdampak negatif terutama pada banyak kasus remaja di Indonesia. Perundungan, pengeroyokan yang tragisnya berujung nyawa justru menjadi simalakama kehadiran media sosial bagi remaja di Indonesia. Perubahan pola interaksi dengan kehadiran media sosial mengubah nilai-nilai tradisional. Sayangnya, remaja justru menjadi korban akibat perubahan pola interaksi lewat media sosial.



Sumber: BeritaSatu.com

Ini Aneka Pengaruh Negatif Media Sosial


Yudo Dahono / AB
Kamis, 25 April 2019 | 12:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Media sosial merevolusi pola interaksi sosial. Perubahan pola interaksi ini dapat dikatakan mengubah nilai-nilai tradisional yang telah tertata sebelumnya. Media sosial telah memengaruhi kehidupan sosial Anda – langsung atau tidak langsung sebagai penggunanya.

Berikut berbagai dampak media sosial terhadap kesehatan mental Anda. Menurut hasil penelitian sekitar tiga miliar orang atau mencapai 40 persen dari populasi dunia menggunakan media sosial rata-rata hampir dua jam setiap hari.

Saat media sosial memiliki peran yang begitu besar terhadap kehidupan penggunanya, tentu terdapat dampak yang ditimbulkan. Karena media sosial relatif masih baru, Facebook--yang menjadi media mainstream dunia--digunakan oleh 2,32 miliar pengguna aktif berdasarkan catatan pada 31 Desember 2018 lalu menjadi mayoritas penelitian mengenai media sosial.

Studi mengenai media sosial saat ini terus berkembang dan aneka penemuan mengenai perubahan interaksi antarmanusia ditemukan seiring dengan penggunaan media sosial yang semakin intens secara global. Media sosial bisa menimbulkan efek positif, tetapi penggunaan yang terlalu sering dalam jangka Panjang justru membuat Anda dapat merasa tidak bahagia bahkan terisolasi.

Berikut hasil penemuan dampak negatif dari media sosial yang bahkan mungkin tidak Anda sadari:

Stres
Pengguna melampiaskan berbagai hal melalui media sosial. Dari urusan kantor, dapur hingga politik. Kelemahannya adalah unggahan dari pengguna lebih menyerupai stres tidak berujung. Peneliti dari Pew Research Center melakukan studi apakah media sosial justru menyebabkan stres daripada menguranginya?

Pada studi yang dilakukan terhadap 1.800 orang, ditemukan bahwa perempuan lebih mengalami stres di media sosial daripada laki-laki. Media sosial Twitter berperan meningkatkan kesadaran pengguna terhadap tekanan yang dialami pengguna lainnya. Menariknya Twitter juga berfungsi untuk menanggulangi stres yang dialami pengguna. Semakin banyak perempuan yang memakai Twitter, semakin berkurang tingkat tekanan yang dialaminya.

Efek tersebut justru tidak ditemukan pada pria. Pada pengguna pria, para peneliti menemukan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih berjarak dengan media sosial. Menurut penelitian Pew, penggunaan media sosial terkait dengan stres pada pria memiliki tingkat yang lebih rendah.

Kepercayaan diri
Media sosial bisa menjadi sumber ketidakpercayaan diri. Hal tersebut ditemukan dalam studi yang dilakukan Universitas Kopenhagen. Banyak orang yang menderita “kecemburuan Facebook”. Menurut penelitian tersebut, mereka yang tidak menggunakan Facebook merasa lebih puas dengan kehidupan yang telah dijalani.

“Saat kita mendapatkan penghargaan berdasarkan apa yang kita lakukan secara relatif terhadap orang lain, kita menempatkan kebahagiaan kita dalam satu variabel yang sama sekali tidak dapat dikontrol,” kata Dr Tim Bono, pengarang buku When Likes Aren’t Enough.

Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia menjadi hal yang penting bagi kita sebagai makhluk sosial. Sayangnya interaksi serta komunikasi itu bisa menjadi sulit saat kita “terikat” dengan media sosial. Hubungan sosial antarmanusia digantikan dengan teman digital lewat media sosial.

Seorang mantan foto model Stina Sanders yang memiliki 107.000 followers di Instagram menjelaskan bagaimana media sosial membuatnya merasa terkucilkan.

“Saya tahu dari pengalaman bahwa saya merasa gelisah saat melihat foto-foto teman di sebuah pesta yang tidak saya hadiri. Dan hal itu bisa membuat saya merasa kesepian dan cemas,” kata Stina.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Jurnal Epidemi Amerika yang meneliti 5.208 subjek menemukan bahwa secara umum penggunaan Facebook secara regular memiliki dampak yang negatif terhadap kesehatan penggunanya.

Daya ingat
Media sosial bisa menjadi tempat yang tepat untuk mengenang kejadian-kejadian masa lampau serta kenangan yang menyenangkan. Namun, media sosial juga dapat mendistorsi cara penggunanya mengingat kenangan dalam kehidupan mereka.

Banyak pengguna media sosial kini lebih menghabiskan waktu untuk mengambil gambar yang sempurna guna diunggah. Alih-alih membuat orang mengagumi pengalaman menikmati pada saat pertama secara langsung, media sosial justru membuat penggunanya melewatkan kesempatan langka tersebut.

“Kalau kita menghabiskan perhatian untuk mengambil gambar terbaik di media sosial untuk para pengikut agar mereka kagum, maka semakin sedikit (bagi kita) untuk menikmati berbagai aspek yang bisa dijalani di kehidupan nyata,” kata Dr Bono.

“Menghabiskan banyak waktu dengan ponsel kita akan mengurangi aspek-aspek pengalaman dan merusak kebahagiaan yang semestinya bisa kita dapatkan,” katanya. 

Tidur
Kehadiran media sosial telah mengganggu waktu tidur. Berdasarkan data dari Global Web Index, pengguna media sosial pada rentang umur 16-24 tahun menghabiskan waktu rata-rata tiga jam setiap harinya. Gangguan tidur terjadi karena penggunaan media sosial melalui ponsel saat akan tidur menyulitkan kita untuk terlelap. Salah satu saat terburuk mengakses media sosial adalah menjelang tidur.

“Rasa gelisah atau cemburu yang disebabkan oleh apa yang kita lihat di media sosial membuat otak dalam kondisi waspada. Kondisi itu membuat kita menjadi sulit untuk tidur. Selain itu cahaya dari ponsel dengan jarak hanya beberapa inci dari wajah membuat tubuh kesulitan melepaskan melatonin atau hormon yang membantu kita merasa lelah,” kata Dr Bono.

Gangguan Perhatian
Media sosial ternyata juga memengaruhi perhatian para penggunanya. Bahkan saat terjaga penuh, media sosial membuat para penggunanya kesulitan untuk berkonsentrasi secara penuh. Informasi yang tersedia di media sosial memang begitu melimpah, tetapi hal tersebut juga membuat kita jauh lebih mudah mengalihkan perhatian.

“Media sosial telah menyediakan godaan secara konstan dengan begitu banyaknya, hiburan yang dengan mudah bisa dijangkau,” kata Dr Bono.

Media sosial sering kali membuat penggunanya merasa “gatal” untuk melihat lini masa, status teman atau apa yang tengah menjadi tren. Inilah mengapa media sosial membuat penggunanya sulit untuk memfokuskan diri.

Kesehatan Mental
Media sosial juga terbukti menjadi pemicu kesedihan, bahkan bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental seperti kegelisahan atau depresi. Hal itu terjadi apabila media sosial digunakan terlalu sering dengan tidak bijaksana.

Berdasarkan survei pada Maret 2018, dari 1.000 orang generasi Z, lebih dari sepertiganya menyatakan bahwa mereka meninggalkan media sosial untuk selamanya. 41 persen menyatakan bahwa platform media sosial membuat mereka merasa lebih gelisah, sedih, bahkan depresi.

Adalah Ben Jacobs, seorang disc jockey (DJ) yang memiliki lebih dari 5.000 pengikut di Twitter memutuskan untuk “berlibur” dari platform tersebut pada Januari 2016 dan menyatakan bahwa hal itu menguntungkannya.

“Twitter telah membuat saya merasa gelisah sepanjang waktu. Saya mengkhawatirkan diri saya sendiri mengenai perasaan ribuan orang asing yang mengikuti saya, sementara mereka tidak perlu mengetahui siapa saya sebenarnya,” kata Ben.

“Sejak absen dari Twitter, saya bisa berpikir dengan jernih dan memiliki banyak waktu untuk mencurahkan pekerjaan lain seperti bangun pagi dan membaca buku," ujarnya. 

Anda memang tidak perlu berhenti total dari media sosial. Namun, bukankah sudah waktunya untuk mengalokasikan waktu tanpa media sosial dari kehidupan sehari-hari? Mengurangi frekuensi media sosial dapat berdampak positif mengingat banyaknya imbas negatif dari platform tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com

Ini Cara Bijak Gunakan Media Sosial


Herman / YUD
Sabtu, 24 November 2018 | 18:27 WIB

Jakarta - Memasuki era digital seperti saat ini, keberadaan media sosial (medsos) sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Hampir semua orang memiliki akun medsos, bahkan satu orang bisa memiliki lebih dari satu akun.

Selain memberi dampak positif seperti memperluas pertemanan dan juga membuka peluang bisnis, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga bisa berdampak buruk. Laiknya pisau bermata dua, media sosial jadi alat yang ampuh untuk menebar kebencian. Tak jarang tindak kejahatan dan pertengkaran terjadi karena media sosial.

Koordinator gerakan #BijakBersosmed, Enda Nasution menyampaikan, saat ini ada sekitar 143 juta pengguna internet di Indonesia, di mana mayoritasnya aktif bermedsos. Konsekuensinya, ada begitu banyak informasi yang berseliweran di media sosial, termasuk berita-berita palsu atau hoax.

Karenanya, Enda mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial, sehingga media sosial bisa kembali tenang dan damai. Hal paling pertama yang harus diperhatikan adalah memahami aturan yang dibuat setiap medos, serta aturan yang berlaku di Indonesia seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

"Hampir setiap bulan ada kasus hukum yang melibatkan penggunaan media sosial. Makanya penting sekali memperhatikan aturan hukum yang berlaku. Kalau pun tidak mendapatkan sanksi hukum, biasanya dapat sanksi sosial dari netizen," kata Enda Nasution saat mengisi acara Netizen Fair 2018, di Jakarta, Sabtu (24/11).

Saat bermedsos, lanjut Enda, emosi juga harus lebih dijaga. Biasanya saat emosi, seseorang menjadi tidak bisa mengontrol apa yang dia tulis atau diposting di media sosial. Emosi biasanya timbul akibat postingan atau ulah pengguna media sosial lain.

Setiap informasi atau postingan yang kita bagikan juga harus melibatkan akal sehat. Jangan membagikan informasi-informasi pribadi di medsos seperti alamat rumah atau foto KTP karena itu bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya niat jahat.

"Bahasa yang kita gunakan juga harus diperhatikan agar tidak menyakiti pengguna lain. Jangan menjelek-jelekkan fisik seseorang, membully, atau memposting hal-hal yang melanggar hak cipta," tuturnya.

Penyebaran berita hoax yang semakin marak di media sosial juga harus disikapi dengan kritis. Pahami kenapa ada orang yang menciptakan dan menyebarkan berita hoax yang biasanya bersifat profokatif dan meresahkan.

"Apabila menemukan informasi yang yang belum dibuktikan kebenarannya, jangan langsung disebarkan ke pengguna lain. Biasakan untuk mengecek kebenaran dari informasi yang ada di medsos," pesannya.

Enda mengingatkan, pengguna media sosial harus menghormati setiap hak pengguna untuk berbeda pendapat, menghargai perbedaan tanpa kehilangan rasa kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, serta menolak segala bentuk diskriminasi, penyebaran kebencian, penghinaan dan pelecehan terhadap siapa pun.



Sumber: BeritaSatu.com