Tak Sampai Sepekan 3 Kasus Pembunuhan Terungkap


Dwi Argo Santosa / HA Minggu, 25 November 2018 | 00:11 WIB

Jakarta - Tiga kasus pembunuhan yang terjadi beruntun di wilayah Jabodetabek sepekan terakhir cukup membetot perhatian masyarakat. Beruntung aparat kepolisian dalam waktu singkat berhasil membekuk para tersangka pelaku dan mengungkap motif tiga kasus itu.

Kecepatan aparat patut mendapat acungan jempol karena pengungkapan tiga kasus itu tidak sampai seminggu. Bahkan ada yang hanya dalam hitungan kurang dari lima jam.

Awalnya, publik dikejutkan oleh berita bahwa keluarga Nainggolan--terdiri dari suami istri dan dua anak--tewas dibunuh di Bekasi, Jabar, Selasa (13/11). Selang lima hari kemudian pekerja media dan mantan jurnalis bernama Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi (43) ditemukan sudah menjadi mayat dalam drum plastik di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jabar.

Selasa (20/11) atau dua hari setelah kasus penemuan mayat dalam drum plastik, perempuan pemandu karaoke bernama Ciktuti Iin Puspita (22) ditemukan sudah membusuk di dalam lemari kamar kosnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Harus diakui, ketiga kasus pembunuhan itu membuat masyarakat sejenak melupakan hiruk-pikuk atau perang pernyataan dalam Pemilihan Presiden 2019. Kasus di Bekasi menjadi perhatian karena empat nyawa melayang sekaligus. Keterikatan emosional publik begitu erat pada kasus ini, terutama karena mengetahui bahwa dua bocah berumur tujuh dan sembilan tahun ikut menjadi korban. Betapa tega pelaku menghabisi nyawa dua anak tersebut.

Sedangkan pada kasus Dufi, atensi publik tercurah bukan saja karena korban adalah mantan jurnalis melainkan juga karena jasad korban dibuang dengan cara memasukkannya dalam drum plastik. Kasus ini makin menarik karena sempat dibumbui beredarnya kabar burung bahwa Dufi tewas diduga karena tugas jurnalistiknya memburu berita soal mobil Esemka.

Kabar tak jelas itu akhirnya terbantahkan manakala pihak TVMu, tempat Dufi terakhir bekerja, menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak sedang mendapat tugas liputan mengenai mobil Esemka. Namun isu sudah terlanjur menyebar melalui media sosial sehingga wajar bila publik semakin bertanya-tanya, apa yang menjadi latar pembunuhan ayah enam anak tersebut?

Pada kasus pembunuhan di Mampang, modus pelaku menyimpan korban hingga membusuk di lemari cukup menarik keingintahuan publik terhadap kelanjutan kasus ini. Apalagi latar belakang profesi korban adalah pemandu karaoke. Apa motif pelaku menghabisi para korban?

Dari ketiga kasus tersebut, rekor tercepat penangkapan tersangka adalah pada kasus Mampang. Jasad Iin ditemukan tak bernyawa dan mulai membusuk di lemari pakaian di kamar kosnya di rumah Kos 21 Jalan Mampang Prapatan VIII Gang Senang Kompleks Bappenas RT 03/RW 01, Tegalparang, Mampang Prapatan, Selasa (20/11) pukul 13.20 WIB.

Pada pukul 17.30 WIB, atau empat jam sepuluh menit kemudian, aparat Polsek Mampang dan Polres Jaksel bekerja sama dengan Polres Merangin, Jambi, berhasil membekuk dua tersangka pelaku. Dua tersangka, Yustian (24) dan Nissa Regina (17), dibekuk di Jambi.

Menurut Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Indra Jafar, Yus dan Nissa membunuh Iin setelah pertengkaran spontan masalah uang tip. Iin dan Nissa bertengkar dan Yustian membantu Nissa.

Kasus kedua tercepat adalah penangkapan tersangka pelaku pembunuhan keluarga Nainggolan, Haris Simamora (23). Polisi mendapatkan laporan temuan mayat pada Selasa (13/11) sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah mengumpulkan keterangan dari para saksi dan kerabat korban serta mendapatkan laporan dari warga di Cikarang, tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi berhasil membekuk tersangka di kaki Gunung Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (14/11) sekitar pukul 22.00 WIB. Artinya, perburuan tersangka berakhir kurang dari 40 jam setelah laporan diterima polisi.

Tersangka Haris, yang masih bersepupu dengan korban, awalnya mengelak tudingan sebagai pelaku. Namun, belakangan ia mengaku membunuh keluarga Nainggolan karena tersinggung mendapat perkataan kasar, yakni dianggap sebagai sampah. Haris, melalui pengakuannya dan saat rekonstruksi, menghabisi Diperum dan Maya dengan menggunakan linggis kemudian baru menghabisi kedua bocah, Sarah dan Arya Nainggolan.

Dari ketiga kasus, yang paling lama adalah penangkapan tersangka pembunuh Dufi yang memakan waktu sekitar dua hari. Awalnya polisi membekuk tersangka Nurhadi di rumah kontrakannya di Bantargebang, Bekasi, Jabar, pada Selasa (20/11). Lantas, pada Kamis (22/11) giliran istri tersangka, Sari Murniasih yang ditangkap karena diduga ikut terlibat dalam pembunuhan.

Dibanding dua kasus lainnya yang terang benderang, pada kasus pembunuhan Dufi masih ada bagian yang buram. Pertama, berdasarkan lokasi penemuan mayat, kasus ini ada di bawah penanganan Polres Bogor yang menurut struktur kelembagaan berada di wilayah hukum Polda Jawa Barat. Meski demikian, Nurhadi dan Sari justru sempat dibawa ke Polda Metro Jaya, bukan ke Polda Jabar.

[YOUTUBE]https://www.youtube.com/watch?v=9lOvUcaCmxk' frameborder='0' allowfullscreen>

Saat pengejaran pun tidak terdengar kabar dibentuknya tim gabungan Polres dan Polda, seperti ketika penanganan kasus pembunuhan keluarga Nainggolan oleh tim gabungan Polres Metro Bekasi dan Polda Metro Jaya. Pada kasus pembunuhan Dufi, Polres Bogor malah bungkam. “Enggak ada, saya enggak bakal komentar, jangan ditanyain lagi. Tanya Polda Metro Jaya saja,” kata Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Pol Andy M Dicky sambil meninggalkan awak media di Mapolres Bogor, Kamis (22/11). Belum jelas apakah pernyataan Andy itu karena ada tumpang tindih penyelesaian kasus antarlembaga atau ada hal lain.

Catatan kedua, hubungan antara Dufi dan tersangka Sari belum jelas benar. Juga motif korban mendatangi Sari juga belum terungkap ke publik meski polisi sudah menyatakan bahwa tersangka membunuh korban karena ingin menguasai harta korban, yakni mobil.

Lepas dari masih adanya tanda tanya tersebut, kecepatan proses penegakan hukum yang tengah dijalankan oleh para penyidik perlu diapresiasi. Masyarakat berharap hukum dapat ditegakkan tanpa pandang bulu. Sejumlah kasus yang sampai kini masih menjadi misteri juga harus mendapatkan porsi perhatian serta keseriusan yang sama.

Berdasarkan catatan penanganan kasus selama ini, Polda Metro Jaya masih memiliki beberapa kasus yang belum terungkap. Kasus yang dimaksud bukan kejahatan jalanan melainkan kasus yang sempat menjadi perhatian masyarakat.

Salah satu kasus tersebut adalah kematian mahasiswi universitas Esa Unggul, Tri Ari Yani Puspo Arum (22). Tri ditemukan bersimbah darah di rumah kos Jalan H Asmat Ujung, Perumahan Kebon Jeruk Baru, Jakarta Barat, tanggal 9 Januari 2017. Malaikat maut menjemputnya saat ia dilarikan ke rumah sakit akibat luka tusuk di punggung dan lehernya. Polisi belum juga menemukan pelaku pembunuhan yang diduga bermotif ekonomi karena sejumlah barang berharga milik korban hilang.

Kasus pembunuhan lainnya adalah kematian mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Akseyna Ahad Dori (19). Korban ditemukan mengapung di Danau Kenanga UI Depok, Jawa Barat, pada 26 Maret 2015. Awalnya korban diduga tewas bunuh diri namun belakangan ada indikasi korban dihabisi. Kedua kasus tersebut terancam tidak akan terungkap bila tidak ada kemauan penyidik dalam membuka kembali penyelidikan kasus ini. Seandainya dilakukan penyelidikan, kesulitan bakal menghadang karena lokasi kejadian sudah rusak, para saksi pun sulit memberikan keterangan jelas karena sudah lama berlalu, atau barang bukti baru sulit ditemukan.

Sedangkan kasus-kasus kriminal yang menjadi perhatian publik terkait nuansa politik di dalamnya, namun belum juga tuntas, antara lain kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Kasus tersebut hingga saat ini masih gelap.

Wajah Novel disiram air keras ketika ia pulang menunaikan salat subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017. Kasus ini terkatung-katung hingga kini padahal korbannya adalah penegak hukum, dan korbannya mengalami kerusakan bola mata permanen. Polisi tampak kesulitan meski ada rekaman CCTV, karena diklaim tidak ada saksi mata.

Polisi sempat mengamankan lima orang yang diduga pelaku, tetapi kemudian dibebaskan lagi karena tidak cukup bukti. Kemajuan paling signifikan adalah polisi menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan. Kapolri pun sudah dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk melaporkan perkembangan kasus ini. Hasilnya nihil sampai saat ini.

Masyarakat juga belum mendapat kejelasan mengenai sejauh mana kasus chat pornografi yang melibatkan pimpinan FPI Rizieq Syihab. Polisi telah menetapkan Rizieq dan Firza Husein sebagai tersangka sejak Mei 2017 namun kasus ini belum sampai juga ke meja hijau.

Profesionalisme aparat kepolisian memang tidak bisa diukur hanya oleh keberhasilan mengungkap atau menyelesaikan satu-dua kasus.



Sumber: Suara Pembaruan

Kabur ke Gunung Setelah Menghabisi Empat Nyawa


Dwi Argo Santosa / HA Minggu, 25 November 2018 | 00:25 WIB

Bekasi - Malam itu, Senin (12/11), Jimmy seperti biasa baru sampai ke kontrakannya sekitar pukul 23.30 WIB.

Gerbang kontrakan di Jalan Bojong Nangka RT 02/07 Kelurahan Jatirahayu, Pondokmelati, Kota Bekasi itu sudah ditutup. Memang menurut aturan sang pemilik, gerbang sudah harus digembok pukul 23.00 dan baru dibuka pukul 06.00 WIB.

Namun, Jimmy tak pernah kesulitan masuk jam berapa pun karena ia memiliki kunci gerbang sendiri. Hanya dua orang yang memiliki kunci gerbang kontrakan selain dirinya, yakni Diperum Nainggolan sang pengelola kontrakan dan Dauglas Nainggolan, kakak Diperum sekaligus pemilik kontrakan.

Diperum, istri, dan dua anaknya tinggal di bangunan bagian depan rumah kontrakan tersebut. Keluarga itu juga membuka warung kelontong. Posisi rumah dan warung membuat Diperum dan keluarga bisa mengetahui keluar-masuknya setiap warga kontrakan.

Menurut Jimmy, Diperum biasanya keluar rumah bila terdengar derit engsel atau gemeretak rantai gembok saat orang menutup atau membuka gerbang. Dalam kondisi seperti itulah biasanya Diperum keluar dan menyapa Jimmy yang pulang malam. Namun, malam itu kondisi berbeda. Suara gerbang tak membuat pengelola kontrakan menyapanya. Sepi.

Jimmy pun langsung menuju kamarnya di lantai dua. Saat itu Jimmy masih melihat dua mobil di selasar yakni mobil boks Mitsubishi B 9094 SCG dan Nissan X-trail B 1075 UOG milik Dauglas.

Sekitar setengah jam kemudian atau sekitar pukul 00.00, Jimmy mendengar pintu gerbang dibuka. Namun ia tak peduli siapa yang membukanya. Saat itu Jimmy tidak menyadari bahwa orang yang membuka gerbang itu kemungkinan besar adalah seorang membunuh berdarah dingin yang baru saja menghabisi empat nyawa sekaligus.

Menurut Ketua RT 02/RW 07, Agus Sani, hansip yang berpatroli sekitar pukul 02.00 WIB melaporkan tak ada masalah keamanan. Sama seperti Jimmy, Agus pun tak menyadari bahwa sudah terjadi kasus pembunuhan yang esok paginya bakal menggegerkan.

Sementara itu seorang perempuan penghuni kontrakan lainnya, Feby Lofa (35), melihat gerbang masih terbuka pada pukul 03.30 WIB. Dari rangkaian kejadian, tampak bahwa orang yang membuka gerbang pada pukul 00.00 -- seperti didengar Jimmy -- tidak menutupnya kembali.

Karena gerbang terbuka menyalahi aturan, Feby memanggil pengelola kontrakan. Namun, tak ada jawaban dari rumah keluarga Diperum. Ia sempat melongok melalui jendela, televisi di ruang tamu masih menyala. Lantas Feby menelepon Diperum untuk memberitahukan soal gerbang terbuka, tapi tidak diangkat. Feby tak curiga bahwa pada saat yang sama orang yang dipanggil dan diteleponnya sudah tewas bersimbah darah di depan televisi.

Pagi harinya sekitar pukul 06.30 WIB, Feby yang hendak berangkat kerja penasaran karena keluarga Diperum belum juga bangun. Ia pun melongok melalui jendela samping. Alangkah kagetnya Feby melihat Diperum Nainggolan (38) dan istrinya, Maya Ambarita (37) tergeletak bersimbah darah di ruang tamu. Belakangan kedua anak pasangan tersebut, Sarah Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7) juga ditemukan tewas di tempat tidur.

Feby berteriak memanggil Rahmat Basuki, satpam Sekolah Nasional Satu (Nassa) yang tak jauh dari lokasi. "Dokter (Feby) memanggil-manggil tetangga dalam kondisi panik. Kemudian saya hampiri dan saya diajak melihat rumah korban," tutur Rahmat.

Maka gegerlah lingkungan tempat satu keluarga itu terbunuh. Tak hanya itu, foto-foto korban begitu cepat tersebar di dunia maya sehingga membuat kasus ini mendapatkan perhatian khalayak.

Diperum dikenal sudah tinggal di situ sekitar sepuluh tahun. Menurut Jimmy, korban baru sekitar dua tahun mendapat kepercayaan dari Dauglas untuk mengelola kontrakan yang bertarif Rp 800.000 hingga Rp 850.000/bulan tersebut. Sebagai pengelola, Diperum dikenal disiplin. Masih menurut Jimmy, ketika kontrakan dikelola oleh orang sebelum Diperum banyak terjadi kasus kehilangan barang.

Diperum dan Maya membuka warung kelontong yang menyediakan penjualan gas elpiji, air mineral, pulsa telepon, dan pembayaran listrik serta BPJS Kesehatan.

Polisi yang melakukan olah tempat kejadian perkara dengan cepat menyatakan bahwa pelaku pembunuhan kemungkinan besar adalah orang dekat korban. Kesimpulan awal ini masuk akal. Pertama, tak ada pintu atau gembok yang rusak atau dibuka paksa. Kedua, tak ada yang mendengar anjing peliharaan korban menggonggong pada malam kejadian. Juga tak ada yang mendengar kegaduhan dari rumah korban. Ketiga, waktu itu polisi sudah mendapat keterangan dari pemeriksaan terhadap Dauglas di Mapolres Bekasi Kota. Dengan demikian penyidik tentu sudah mengetahui bahwa mobil Nissan X-trail milik Dauglas raib.

Tak lama berselang, polisi ternyata sudah menemukan mobil tersebut di sebuah rumah kos di kawasan Cikarang. Pengelola kos mencurigai mobil yang ditinggalkan calon pengontrak. Nomor polisi dan jenis mobil ternyata sama dengan yang tengah dicari pihak kepolisian terkait pembunuhan di Jatirahayu. Ia pun melapor ke polisi.

Calon pengontrak itu tak lain adalah Haris Simamora (23) sepupu Maya Ambarita. Dialah yang membawa kabur mobil Nissan X-trail tersebut. Kepada pengelola kos, Haris meninggalkan uang tanda jadi kos di situ. Kekurangannya akan ia selesaikan pada kesempatan berikutnya. Setelah itu Haris pergi dengan meninggalkan mobil di situ karena alasan akan mengurus pekerjaan.

Tim Jatanras Polda Metro dan Polres Bekasi Kota mendatangi lokasi mobil. Sedangkan keberadaan Haris diketahui dari ponsel yang dibawanya. Sang pengelola kos diminta menghubungi Haris. Meski awalnya tak tersambung, pesan singkat yang terkirim akhirnya dibuka juga dan dijawab oleh Haris sehingga posisinya terdeteksi. Haris dibekuk pada Rabu sekitar pukul 22.00 WIB.

Pemuda yang sudah tiga bulan menganggur itu awalnya membantah melakukan pembunuhan. Ia di Garut karena hendak mendaki gunung bersama rekan-rekannya. Akun Facebook atas nama Haris Simamora memang menampilkan banyak kegiatan alam tersangka. Tampaknya aktivitas outdoor menjadi hobi Haris.

Namun Haris tak bisa mengelak ketika penyidik menyebut telah menemukan bercak darah di mobil yang dibawanya. Ia juga diketahui mengalami luka baru di tangan. Karena itu, alasannya ke Garit memang karena ia hendak kabur ke gunung untuk menenangkan diri.

Pengakuan Haris selanjutnya mengungkap misteri pembunuhan sadis ini. Haris datang ke tempat korban karena diundang Maya. Esok hari mereka hendak pergi membeli baju Natal di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Haris diminta mengantar Maya dan anak-anak.

Senin malam itu Haris masih bercengkerama dengan Diperum dan Maya. Pembicaraan kemudian menyangkut apakah Haris harus menginap atau tidak. Diperum meminta Haris tidur di belakang. Menurut pengakuan tersangka, korban sempat melontarkan kata-kata yang menyakitkan yakni menganggapnya sebagai sampah. Ketersinggungan Haris tidak serta merta muncul sehingga saat itu tidak ada cek-cok mulut yang membuat gaduh atau mengundang perhatian tetangga dan penghuni kontrakan.

Kemarahan Haris baru dilampiaskan ketika Diperum dan istrinya sudah tertidur di depan televisi. Kepala Diperum dipukul dengan linggis kemudian ujung runcingnya ditusuk ke leher korban. Diperum langsung tak bergerak. Setelah itu giliran sang sepupu, Maya Ambarita, yang dihabisinya dengan pukulan dan tusukan linggis. Diduga Maya tidak langsung ambruk sehingga pelaku berkali-kali memukul korban.

Kegaduhan di ruang tengah itu membuat Sarah dan Arya terbangun. “Ada apa dengan Mama?” Sarah bertanya. Haris menjawab singkat, “Mungkin mama sedang sakit”. Setelah itu Haris mengantar kedua keponakannya tidur. Tak berapa lama, Haris membekap kedua anak itu dengan selimut dan mencekiknya hingga tewas.

Ia mengambil sejumlah uang dan kunci mobil kemudian kabur dengan terlebih dahulu mengunci pintu rumah Diperum.



Sumber: Suara Pembaruan

Tanda Tanya Seputar Kematian Dufi


Dwi Argo Santosa / HA Minggu, 25 November 2018 | 00:38 WIB

Jakarta - Tanda tanya yang masih bergelayut dalam kasus terbunuhnya pekerja media dan mantan jurnalis, Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi (43), adalah hubungan antara korban dengan pelaku. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi mendapati fakta bahwa korban secara aktif mendatangi tersangka Sari Murniasih di sebuah rumah kontrakan. Kemudian tersangka lain, Nurhadi yang tak lain adalah suami Sari, datang membacok korban.

Polisi sampai Sabtu (26/11) belum mau mengungkap, untuk keperluan apa Dufi mendatangi Sari di kamar kontrakan di Jalan Swadaya, RT 03/04, Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor. Di situlah korban diduga dihabisi dan kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik sebelum dibuang.

Beberapa warga sekitar rumah kontrakan menyatakan bahwa Dufi belum tahu persis rumah kontrakan Sari. Sebelum terbunuh, Dufi sempat menanyakan di mana rumah Sari, sambil menunjukkan foto wajah Sari yang ada di ponsel. Menurut sejumlah tetangga, pekerjaan Sari tidak jelas. Tetangga hanya mengetahui Sari sering keluar petang hari dengan baju seronok.

Sedangkan menurut keterangan Nurhadi, dirinya mengetahui rencana kedatangan Dufi yang ingin menemui istrinya. Namun demikian, belum jelas apa motif Dufi menemui Sari.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu hanya menuturkan, antara korban dengan pelaku sudah saling mengenal dan mereka berjanji bertemu di kontrakan milik Nurhadi di Jalan Swadaya tersebut pada hari pembunuhan. Trunoyudo enggan menyebut detail motif mengapa Dufi datang ke rumah kontrakan Sari dengan alasan polisi masih mendalami untuk kepentingan penyelidikan.

Trunoyudo menyebut hubungan antara tersangka dan korban adalah kerabat, padahal keluarga Dufi tidak ada yang mengenal Sari maupun Nurhadi. Apalagi menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, korban dan tersangka saling kenal melalui media sosial Instagram. Mana yang benar? Masyarakat belum mendapatkan jawaban jelas mengenai hal ini.

Yang pasti pasangan suami istri Nurhadi dan Sari mengaku merencanakan pembunuhan terhadap Dufi. Tujuannya adalah untuk mengambil mobil korban.

Dufi datang ke kontrakan Sari. Saat sedang berduaan dengan Sari, Nurhadi pun melayangkan golok ke leher Dufi. Golok itu pun sempat menyabet tangan Sari dan membuatnya terluka.

Mengetahui korban tewas, jenazah korban dimasukkan ke dalam drum plastik berwarna biru. Jenazah dalam drum plastik itu kemudian dibuang di kawasan industri Kembang Kuning, Kampung Narogong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Minggu (18/11). Seorang pemulung menemukan jenazah korban.

Aparat kepolisian bergerak cepat. Uniknya, bukan tim Polres Bogor melainkan Subdit 3 Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya yang menangkap tersangka. Dua hari setelah penemuan jenazah, Nurhadi ditangkap di dekat usaha pencucian motor Omen yang berada di belakang Kelurahan Bantar Gebang, Bekasi, tidak jauh dari kediamannya yang berada di Bekasi. Hal itu dibenarkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono.

Dari tangan tersangka diperoleh barang bukti telepon genggam korban, KTP korban, SIM korban, dua kartu ATM, dan buku tabungan milik korban.

Kedua tersangka terjerat Pasal 340 tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 dan atau Pasal 365 ayat (3) subsider Pasal 363 dan atau Pasal 480 dengan ancam hukuman mati atau kurungan seumur hidup.

Polisi masih mengejar dua tersangka yang membantu dua tersangka. Trunoyudo menuturkan, Nurhadi dan Sari dibantu dua tersangka lain yakni Y dan Z. Seusai melakukan pembunuhan, Nurhadi meminta bantuan Y untuk memindahkan jenazah korban. Sementara, untuk kendaraan dan benda berharga lainnya milik korban diserahkan kepada Z.

“Dua pelaku lain sedang kita cari. Keduanya diduga mempunyai peran membantu mengangkat jenazah, satu lagi menjual barang milik korban,” tambah Truno, Jumat (23/11).



Sumber: Suara Pembaruan

CLOSE