Setelah Tempe “Digoreng” Elite Jelang Pilpres


Heri Soba / HS
Rabu, 3 April 2019 | 12:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Hanya dalam hitungan beberapa hari lagi, Pemilihan Presiden (Pilpres) sekaligus pemilihan legislatif (Pileg) akan digelar pada 17 April 2019. Perjalanan panjang dan melelahkan berbagai elemen bangsa untuk menyambut pesta demokrasi ini bakal berakhir. Saling serang antarkubu yang bertanding sangat jelas ditonton setiap hari melalui berbagai media.

Banyak hal juga yang menjadi topik pembahasan tetapi kemudian tidak jelas bagaimana akhir dari perdebatan tersebut. Salah satu yang sempat ramai selama September hingga November 2018 lalu adalah seputar tempe. Beritasatu.com mencatat ada fluktuasi dalam isu tempe tersebut yang terlihat sejak pertama kali diangkat pada September hingga akhirnya mereda ketika memasuki awal Januari 2019.

Sandiaga Salahuddin Uno (Cawapres 02) dan Joko Widodo (Capres 01) saat itu menjadikan pasar tradisional sebagai medan kampanye. Salah satu klaim Sandiaga yang jadi viral adalah soal bentuk tempe setipis kartu ATM (anjungan tunai mandiri/automated teller machine). Pernyataan Sandiaga itu bukan tanpa alasan. Hal itu disampaikan setelah melakukan sejumlah blusukan dan bertemu dengan pedagang pasar tradisional. Ditambah lagi kedelai yang masih impor, maka dengan nilai tukar rupiah yang masih lemah, dia meyakini harga tempe akan naik.

"Kita sangat khawatir, prihatin dengan keadaan ekonomi dan kita ingin menyuarakan aspirasi rakyat. Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM," kata Sandiaga, Jumat (7/9/2019) lalu.

Bak disambar petir, semua jajaran pendukung Jokowi pun bergerak. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita langsung mengunjungi sentra produksi tahu dan tempe di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Dalam kunjungannya Mendag berkomentar soal tanggapan Sandiaga Uno yang menyebut harga sejumlah bahan pokok, salah satunya tempe, terus meningkat. Enggar, panggilannya, menjelaskan memang tempe ada yang setipis kartu ATM. Namun tempe tersebut merupakan keripik tempe.

"Saya dengar sebelumnya tempe itu setebal kartu kredit. Memang betul tetapi itu keripik tempe. Saya langsung telepon importir mereka bilang juga enggak naikkin harga," hal tersebut disampaikanya saat mengunjungi gudang Primer Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Semanan, Jakarta Barat, Rabu (19/9/2018).
Ia juga mengatakan, ukuran dari tempe dan tahu juga masih tebal tidak seperti apa yang diberitakan soal ketebalannya berkurang.

"Pengusaha boleh untung tapi jangan ambil untung berlebihan dari rakyat. Saya titip ukuran jangan dikecil-kecilin karena harga kedelai tidak naik," kata dia.

Jokowi pun merespons secara langsung saat blusukan ke Pasar Surya Kencana Bogor pada Selasa (30/10/2018). Jokowi membeli sejumlah tempe dan meminta wartawan menyaksikan bahwa ukuran tempe yang dibelinya cukup tebal. Ucapan Jokowi seolah membantah pernyataan Sandiaga. Besoknya, Rabu (31/10/2019), Sandiaga menantang Jokowi lomba mencari ukuran tempe dari hasil blusukan mereka ke pasar tradisional.

Tempe atau setidaknya pasar tradisional dinilai sangat relevan untuk mengetahui kondisi perekonomian masyarakat secara nyata. Dari kubu Sandiaga, saat itu tercatat sejumlah kenaikan harga kebutuhan rakyat dan berdampak pada menipisnya tempe. Tempe diolah dari kedelai dan Indonesia masih menggantungkan impor kedelai dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain. Dari blusukan tempe itu, Jokowi dinilai gagal mengatur keseimbangan harga di pasar tanpa harus kembali blusukan.

Di sisi lain, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin menyebutkan bahwa blusukan Jokowi ke pasar tradisional untuk membuktikan pernyataan Sandiaga bahwa tempe setipis kartu ATM tidak benar. Langkah tersebut untuk membuktikan bahwa pernyataan tempe sebesar ATM adalah hoaks alias berita bohong.

Lebih dari itu, kubu Jokowi pun memastikan bahwa persoalan harga pasar sangat ditentukan oleh pasokan dan kebutuhan sebuah barang. Menjaga pasokan dan kebutuhan itu sangat penting dalam mengontrol harga sehingga tidak ada yang untungnya berlipat ganda, sedangkan yang lain harus menderita. Secara bersamaan, menjaga kestabilan harga tersebut pun pada akhirnya menjaga lonjakan inflasi yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Menariknya, beberapa pekan kemudian, Sandiaga pun menemukan lagi 'Tempe ATM' tersebut saat melakukan kunjungan di Sentra Industri Kripik Tempe Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (23/11/2018). Bedanya, Sandiaga menyampaikan bahwa ternyata tempe tipis setipis ATM menjadi kekhasan dan ikon dari industri kripik tempe ini. "Disini juga kita melihat tempe setipis ATM. Memang menjadi kekhasan dan ikon, tempe tipis dan keripik tempe ini menjadi unggulan dari kerajinan tempe Sanan Malang ini," ujarnya.

Pernyataan ini seakan-akan mengakhiri polemik soal tempe, ATM, dan keripik yang viral sejak September 2018 lalu. Apakah setelah perdebatan itu ada solusinya, mulai dari tempe hingga harga kebutuhan pokok lainnya, dan bagaimana soal kedelai itu sendiri?

Mudah-mudahan, Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa dan membangun kesejahteraan masyarakat dimana pun mereka berkarya. Tidak harus menjadi Presiden-Wakil Presiden.



Sumber: Suara Pembaruan

Tempe, Warisan Bangsa yang Dipandang Sebelah Mata


Heri Soba / HS
Rabu, 3 April 2019 | 12:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tempe menjadi salah satu topik yang menarik dan selalu ada masa-masa untuk mengangkat isu tempe tersebut. Salah satu yang paling rutin ketika dolar melemah terhadap rupiah sehingga harga kedelai impor pun melonjak. Ini berdampak pada harga produk olahan seperti tempe. Tentu tidak hanya tempe, banyak produk turunan yang terdampak akibat melemahnya dolar. Maklum, sebagian besar bahan baku industri makanan dan minuman olahan di dalam negeri berasal dari impor. Lagi-lagi, membuat analogi tentang tempe lebih mudah ditangkap masyarakat dibandingkan bicara tentang bahan baku impor lainnya.

Apalagi, ketika blusukan ke pasar tradisional akan mudah menemukan tempe dan kebutuhan pokok lainnya. Untuk itu, langkah yang dilakukan para kontestan pemilihan presiden (Pilpres) Joko Widodo – Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa dimaklumi ketika saling berargumentasi soal tempe dan kebutuhan pokok lainnya. Para kandidat ingin menunjukkan ke publik bahwa mereka memiliki perhatian pada kondisi perekonomian rakyat kecil. Sandiaga tentu belajar dari kemenangan Jokowi di 2014 dan ingin menirunya. Tapi Jokowi tidak mau persepsi masyarakat bergeser menganggapnya semakin elitis. Pada konteks inilah, menurut sejumlah pengamat politik, bahwa para peserta Pilpres sedang berupaya mempengaruhi psikologi publik bahwa mereka adalah pemimpin rakyat bukan milik elite-elite partai pengusungnya saja.

Apapun tema yang didebat atau jadi ajang perseteruan, para kandidat Capres-Cawapres beserta tim sukses diharapkan tak terlalu larut dan berhenti pada upaya simbolik saja. Melainkan harus melakukan langkah konkret, seperti tempe, yang menjadi pembahasan sebelumnya. Tentu banyak aspek yang harus ditelaah berkaitan dengan tempe tersebut. Di sisi lain, citra tempe yang disalahartikan pun harus dihilangkan sehigga tidak ada lagi yang berseloroh sebagai 'bangsa tempe' atau 'mental tempe'.

'Mental tempe' yang biasa diartikan lemah atau orang yang merasa terjajah. Analogi tersebut memposisikan tempe sebagai produk marjinal dan tidak mempunyai nilai strategis. Padahal, sejumlah dokumen menyebutkan tempe berasal dari Jawa Tengah dan bisa ditemukan kata ‘tempe’ dalam Serat Centhini yang berlatar abad 16-17. Tempe merupakan makanan khas asli Indonesia.

Tempe memang dikenal sebagai makanan sehat yang punya protein tinggi dan daya cerna yang bagus. Banyak ahli gizi mengatakan bahwa kandungan protein tempe hampir menyamai daging, susu, atau telur. Satu keistimewaan lain adalah kandungan vitamin B12 yang umumnya hanya ditemui pada produk hewani. Dalam proses fermentasi, vitamin ini terbentuk dalam tempe sehingga bagus untuk kaum vegetarian.

“Tempe ini merupakan warisan budaya bangsa yang sangat luar biasa. Kita patut bangga akan karya leluhur bangsa Indonesia. Nilai gizinya pun harus diakui sangat bagus dan bisa menjadi asupan protein,” ujar pakar teknologi pangan yang juga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) FG Winarno.

Penegasan itu sudah disampaikannya berkali-kali sejak tiga dekade terakhir dalam berbagai kesempatan. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Terakhir, dia menyampaikan lagi keajaiban tempe itu dalam forum Tempe Movement Indonesia yang menggelar acara di Jakarta, Sabtu (23/3/2019) lalu. Dalam acara yang dihadiri peserta dari dalam dan luar negeri tersebut dipertunjukkan bahwa tempe mempunyai khasiat yang luar biasa dan bisa diolah menjadi berbagai produk turunan.

Winarno yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Pangan Indonesia, tempe memiliki vitamin yang biasa ditemukan pada ikan, telur atau daging. "Untuk orang yang menerapkan vegetarian, bisa mengonsumsi tempe untuk mendapatkan vitamin B12 ini," ujar Winarno.

Dijelaskan, Vitamin B12 ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan tubuh. Salah satunya adalah mencegah kekurangan darah dan membantu pengembangan otak dan saraf. "Sehingga tempe ini sangat bagus untuk dikonsumsi ibu hamil. Karena dalam proses mengandung, otak dan saraf anak sedang terbentuk," tambahnya.

Dia juga menegaskan bahwa nutrisi dalam tempe jauh lebih tinggi dibandingkan bentuk olahan kedelai lainnya yakni tahu. Tempe juga disebut lebih mudah diserap oleh tubuh. Sayangnya, manfaat dari mengonsumsi tempe tersebut masih belum banyak diketahui orang. Winarno menyebut bahwa masih banyak orang yang menganggap tempe sebelah mata. Tempe seakan-akan kalah "pamor" dibanding jenis lauk-pauk lainnya seperti ikan, daging ayam dan daging sapi.

Willie Chambers selaku Food Manufacturing Pathway Coordinator yang berbasis di Portland, Amerika Serikat, mengagumi betapa manfaat tempe itu sangat luar biasa. Untuk itu dia merasa tidak sia-sia datang ke Indonesia guna mengetahui dan melihat lebih dekat tentang segala hal terkait tempe. Dia hadir sebagai salah satu pemateri dalam aktivitas yang digelar Tempe Movement di Kemang, Jakarta Selatan, dua pekan silam.

Pengakuan soal tempe sudah bertahun-tahun dibuktikan oleh Rustono. Warga Indonesia yang membuka usaha tempe di Jepang ini menjelaskan masyarakat Jepang sangat menyukai tempe dan mulai banyak merasakan manfaatnya. Permintaan tempe yang doproduksinya pun terus meningkat. Bahkan, ada beberapa diekspor ke Korea Selatan dan Eropa. Dia mengakui bahwa penghargaan yang tinggi di luar negeri ini tampak tak sebanding dengan persepsi masyarakat tentang tempe di negara sendiri.

Paradigma yang keliru tentang tempe ini perlu diubah dan alangkah baiknya semua elemen bangsa mulai bergerak untuk tidak saja menjadikan tempe sebagai makanan biasa. Namun, harus menjadikan tempe sebagai makanan favorit yang bisa mengatasi masalah gizi di seluruh lapisan masyarakat. Lebih dari itu, para elite bangsa juga perlu membangun tempe secara terintegrasi mulai dari ketersediaan bahan baku, produksi hingga pegolahan dan memperluas produk turunannya.



Sumber: Suara Pembaruan