Aku Anak Papua (1)

Korupun, Distrik di Tengah Ngarai


Primus Dorimulu / HA
Sabtu, 2 Maret 2019 | 23:32 WIB

Sentani, Beritasatu.com - -Letaknya tidak terlalu tinggi. Sekitar 1.400 meter dari permukaan laut. Namun, distrik ini hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang. Seramnya, agar bisa mendarat, pesawat harus berputar dua-tiga kali untuk mendapatkan lorong di antara dua ngarai sebelum masuk ke landasan.

Landasan pesawat tidak beraspal. Hanya pengerasan yang dikerjakan oleh penduduk setempat bersama misionaris. Bagian ujung landasan untuk landing lebih rendah dibanding ujung yang lain. Tingkat kemiringan lapangan terbang itu sekitar 25 derajat. Ketika landing, pesawat seperti memasuki jalan menanjak. Itu dimaksudkan untuk menyiasati landasan yang pendek, hanya sekitar 400 meter.

Saat take off, pesawat bergerak dari tempat yang lebih tinggi. Posisi seperti itu membuat pesawat melaju lebih cepat dan mudah terangkat ke udara, karena tidak jauh dari di ujung landasan ada tebing curam. Jaraknya hanya sekitar 300 meter dari ujung landasan. Dengan keahlian pilot, pesawat langsung dibelokkan ke kanan, menyusuri lorong yang diapit dua tebing.

Itulah Distrik Korupun, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, ketika dikunjungi Beritasatu.com, Senin (25/2/2019). Wilayah ini terhitung terisolasi. Tidak ada jalan raya meski sekadar untuk jalan sepeda motor. Dengan pesawat terbang dari Sentani, wilayah ini bisa dijangkau dalam waktu 65 menit. Sedang dengan berjalan kaki, waktu tempuh ke Sentani bisa sekitar satu hari dan ke ibu kota Kabupaten Yahukimo sekitar dua hari.

Ujung landasan rumput di Korupun, Papua. (Primus Dorimulu)

Tidak hanya Bandara Korupun, empat bandara lainnya yang kami kunjungi juga menampilkan kondisi serupa, yakni Bandara Nalca, Bandara Karubaga, Bandara Mamit, dan Bandara Daboto. Hanya Bandara Danowage yang datar dengan runway 1.300 meter. Bandara yang terletak di dataran rendah ini sudah diaspal tahun lalu.

Bukan hanya pesawat yang harus dalam kondisi prima untuk menggapai wilayah terpencil di Papua. Pilot pun dituntut memiliki kualifikasi khusus. Mereka perlu memahami kondisi wilayah Papua yang bergunung-gunung. Tidak seperti daerah lain, gunung-gunung di Papua umumnya terjal dengan kemiringan 80-90 derajat. Pesawat yang dikendalikan harus melalui lorong di antara dua ngarai yang dalam untuk bisa mendarat di landasan pendek di tengah lembah.

Pilot harus paham cuaca yang acap berawan. Setelah pukul 14.00 WIT, awan tebal umumnya menutup gunung dan lembah. Pada hari kedua, pesawat yang ditumpangi Beritasatu.com tidak bisa mendarat di Mamit. Pilot akhirnya mengalihkan tujuan ke Karubaga dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali mencoba memasuki Mamit.

Selama tiga hari, Senin (25/2/2019) hingga Rabu (27/2/2019), Beritasatu.com ikut dalam rombongan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP), di antaranya, pendiri dan ketua Dewan Pembina YPHP James T Riady dan anggota Dewan Pengelola YPHP Aileen Hambali Riady. Dengan pesawat propeler Cessna milik Mission Aviation Fellowship (MAF), kami mengunjungi Distrik Korupun, Kebupaten Yahukimo; Kotawage, Kabupaten Boven Digul; Nalca, Kabupaten Yahukimo; Karubaga, Kabupaten Tolikara; Mamit, Kabupaten Tolikara; dan Daboto, Kabupaten Intan Jaya.

Di enam distrik terisolasi ini, YPHP mengelola Sekolah Lentera Harapan (SLH) dan Klinik Siloam. Hanya di Karubaga, YPHP belum mendapatkan lahan untuk membangun klinik. Untuk membantu anak-anak dan penduduk miskin yang belum terjangkau tangan pemerintah, YPHP memberikan pendidikan dan kesehatan gratis.

Pendiri dan Pembina YPHP James T Riady (tengah) dan rombongan berfoto di landasan rumput Bandara Korupun, Papua, dengan latar belakang gunung di ujung landasan, 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)

Lamban
Beda dengan wilayah daratan terpencil di NTT, yang umumnya bisa dijangkau dengan menunggang kuda, di Papua tidak ada kuda. Ternak populer seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba tidak ada di Papua. Sapi hanya ada di Kawasan Marauke. Di Papua hanya ada babi, baik yang dipelihara maupun yang liar. Ini mungkin disebabkan oleh topografi Papua yang hampir setiap jengkal hanya ditumbuhi pohon. Rumput hanya tumbuh di tempat yang sudah dihuni manusia. Pada lahan yang sudah bebas dari pepohonan, rumput bisa tumbuh subur.

Masyarakat di wilayah yang sudah terhubung jalan raya menggunakan sepeda motor atau mobil angkutan umum seperti di Kurubaga, Tolikara. Isolasi yang sudah terbongkar menyebabkan kota kabupaten ini sudah cukup maju, ditandai oleh pasar yang selalu ramai oleh penjual dan pembeli. Banyak pendatang dari Sulawesi Selatan mendiami kota ini dan acapkali bentrok dengan penduduk Papua.

Isolasi menyebabkan suku Kimial yang mendiami wilayah Korupun sangat lamban berkembang. Jika ada sekolah dan pelayanan kesehatan yang baik di wilayah ini, orang Korupun tentu sudah lebih maju dari kondisi saat ini. Dengan mengirimkan anak belajar di Sentani, sejumlah orang Korupun kini sudah menjadi orang hebat. Satu menjadi bupati Yahukimo, dua anggota DPRD setempat, dua DPR RI, dan tiga orang dokter.

"Saya ingin menjadi pilot," ujar seorang siswa SD Kelas II Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Korupun, Senin (25/2/2019). Pilot adalah cita-cita anak suku Kimial. Hal itu mungkin karena besarnya peran pilot dalam memecah isolasi di wilayah mereka.

Siswa kelas II SD Lentera Harapan, Korupun, Papua, dalam foto tertanggal 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)

Penduduk suku Kimial sekitar 10.000 jiwa lebih. Mereka tinggal di gunung-gunung dan lembah. Sekitar lapangan terbang hanya ada puluhan keluarga. Di area yang tidak seberapa luas ini terdapat rumah ibadah, sekolah yang dikelola SLH dan klinik yang diasuh Siloam.

Tanah datar yang sempit menyebabkan pihak yayasan tidak mudah mendapatkan lahan untuk membangun sekolah. Namun, pengurus gereja setempat menyambut baik kedatangan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) untuk membangun SLH. Apalagi pihak YPHP juga membangun Klinik Siloam.

"Jumlah siswa TK dan SD SLH sudah 80 orang , naik dari 40 orang tahun sebelumnya," kata Theresia Saragih, guru SLH, Senin (25/2/2019). Ia bersama lima rekan seprofesi tinggal di Korupun. Semua mereka adalah alumni Teacher College di UPH.

SD yang dibangun pemerintah sudah lama ada. Namun, gedung sekolah umumnya kosong, karena para guru lebih memilih tinggal di kota kabupaten. Mereka hanya datang sekali dalam sebulan.

Lippo juga menghadirkan Klinik Siloam dengan dua perawat dan satu dokter. "Kami senang sekali mendapat bantuan pendidikan dari Sekolah Lentera Harapan dan Klinik Siloam," kata Benny Osu, tokoh masyarakat setempat.

Dikelola tiga perawat tamatan Sekolah Keperawatan UPH, Klinik Siloam di Korupun melayani para ibu dan anak serta seluruh warga setempat. Dalam sehari, mereka melayani puluhan pasien. Umumnya, masyarakat setempat terkena penyakit pernafasan, TBC, malaria, dan cacingan. Sebelum ada Klinik Siloam, tingkat kematian anak cukup tinggi.

Dari kiri: anggota Dewan Pengola Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) Aileen Hambali Riady, Minny Riady, dan Dumasi Samosir di Klinik Siloam, Korupun, Papua. (Primus Dorimulu)

Tidak Akan Pindah
Meski wilayah ini hanya bisa dijangkau oleh pesawat terbang, tidak bisa dengan moda transportasi lain, mereka tidak mau pindah. "Nenek moyang kami dari dulu tinggal di sini. Kami tidak mau pindah," ujar Benny.

Aneh juga. Wilayah Papua sangat luas. Masyarakat setempat tidak mau pindah. Menurut Benny, daerah lain ada pemiliknya, yakni suku lain. "Kalau kami pindah ke tempat lain, kami bisa berperang dengan suku lain," ungkap Benny.

Di sinilah pentingnya intervensi pemerintah. Suatu komunitas akan tetap sulit berkembang jika satu-satunya moda transportasi adalah angkutan udara yang mahal. Cepat atau lambat, konektivitas lewat jalan darat harus dibangun. Demi keadilan dan demi kebersamaan dalam dekap sayap Garuda, Korupun harus bisa dijangkau oleh moda transportasi darat.

SD Lentera Harapan di Korupun, Papua, dalam foto tertanggal 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)

Panggilan
Suku Kimial mulai mengenal dunia luar, sekaligus mengenal Allah Pencipta tahun 1963 saat para misionaris masuk wilayah Itu untuk mewartakan Injil. Sebelumnya, penduduk setempat menganut animisme, yakni kepercayaan akan kekuatan roh yang ada di setiap benda.

Setahun kemudian, para pewarta membangun landasan pesawat. Kehadiran pesawat membantu pendidikan di wilayah ini. Pada tahun 1965, sekitar 12 orang Korupun sudah melek huruf. Mereka kemudian dibaptis tahun 1967.

Sebuah perubahan penting terjadi tahun 2010 saat Injil dalam bahasa setempat diterbitkan. Peringatan 50 tahun kehadiran Injil di Korupun dirayakan tahun 2013.

Pendiri dan Pembina Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James T Riady (kiri) bersama para siswa SD Lentera Harapan di Korupun, Papua, 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)

Masuk tahun 2017, YPHP langsung membangun SLH dan Klinik Siloam. "Kami sangat berterimakasih kepada Yayasan yang sudah menghadirkan sekolah dan klinik," ujar Benny.

Tidak seperti yang lainnya, demikian Benny, pendidik SLH dan tenaga medis Klinik Siloam sangat menyenangkan. Mereka tidak saja diterima, melainkan disayang penduduk setempat.

Merespons pernyataan Benny, James T Riady mengatakan, bagi dirinya dan keluarganya, keterlibatan dalam upaya memajukan sesama Saudara di Papua adalah sebuah keistimewaan. "Allah mencintai orang Koropun. Apalagi orang Korupun sudah memiliki iman sejati. Kami sangat berbahagia ikut megambil bagian dalam pelayanan ini," kata James. (Bersambung)

>>> [2] Berilah Anak Papua Harapan >>> [3] Membangun Papua dengan Hati



Sumber: BeritaSatu.com

Aku Anak Papua (2)

Berilah Anak Papua Harapan


Primus Dorimulu / HA
Senin, 4 Maret 2019 | 19:56 WIB

Sentani, Beritasatu.com - Papua tampak biru dari udara. Setiap jengkal tanah, dari bibir pantai hingga pegunungan tertinggi, ditumbuhi pepohonan nan subur. Sesekali pemandangan biru diselingi sungai besar yang tampak bagaikan garis putih dari udara. Di bawah tanah, bumi Papua kaya akan berbagai jenis mineral, terutama emas dan tembaga.

Kontras dengan alam yang kaya raya, penduduk Papua masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian orang asli Papua masih terbelakang, bahkan primitif. Sudah banyak dana pusat yang diguyur ke dua provinsi di pulau terbesar ini, yakni Provinsi Papua dan Papua Barat. Namun, dua provinsi itu masih tercatat sebagai yang termiskin di Indonesia.

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), September 2018 menunjukkan, penduduk miskin di Provinsi Papua 915.220 orang atau 27,4% dari total penduduk. Sedang di Papua Barat, penduduk miskin 212.670 orang atau 22,6%. Papua Barat dan Papua menempati peringkat teratas sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia, jauh di atas rata-rata penduduk miskin nasional, 9,6%. Provinsi terkaya, rakyat termiskin.

Penduduk termiskin berada di wilayah pedalaman Papua dan Papua Barat. Banyak penduduk di dua provinsi ini yang belum mendapatkan pelayanan apa pun dari negara. Mereka hidup tanpa pemerintahan. Wilayah yang luas, pola hidup masyarakat yang umumnya nomaden, dan infrastruktur transportasi darat yang minim menyulitkan aparat negara menjangkau mereka. Mereka benar-benar hidup miskin tanpa masa depan yang lebih baik.

Perkampungan asli di Mamit, Papua, dengan rumah tradisional Honai yang menggunakan panel surya sebagai sumber listrik. (Primus Dorimulu)

"They have no money, no clothes, no education, no goverment, and no hope," kata Stephen Crockett, misionaris asal AS yang menetap di Daboto, Kecamatan Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Rabu (27/2/2019). Stephen dan rekan-rekannya menemukan Daboto tahun 2000. Pemerintah Indonesia baru mengetahui ada Daboto setelah penemuan mereka itu.

Begitu mendengar kabar bahwa ada atap rumah yang terlihat dari udara di pedalaman Papua, kata Stephen, dia dan rekannya mencoba melacak. Helikopter mereka mendarat di kebun penduduk. "Kami takut anak panah. Tapi, mereka tidak melukai kami, bahkan sebaliknya bersedia menerima kami," ujar Stephen yang biasa disapa Steve kepada Beritasatu.com.

Steve Crockett, misionaris asal AS yang pertama kali menemukan warga Daboto, Papua. (Primus Dorimulu)

Terletak di sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi dan lancip, Daboto benar-benar jauh dari dunia luar. Untuk mencapai Nabire, penduduk memerlukan waktu tiga hari tiga malam. Sudah lama wilayah ini tidak mengalami pemerintahan. Meski akhirnya Daboto masuk Kabupaten Intan Jaya, hingga saat ini belum ada satu pun jenis pelayanan yang diberikan pemerintah.

Steve dan istrinya, Carolyn, tinggal di Daboto bersama penduduk suku Moi. Jumlah mereka sekitar 500, tersebar di gunung-gunung, dan sebagian lelaki dewasa masih menggunakan koteka. Saat pertama bertemu tahun 2000, suku Moi yang tinggal di sekitar Daboto baru sekitar 100 orang.

Sejak ada Sekolah Lentera Harapan (SLH), orangtua murid memilih tinggal di Daboto agar bisa mengawasi langsung anak mereka. Setiap Jumat sore, mereka kembali ke gunung-gunung untuk bekerja dan Minggu kembali ke Daboto untuk beribadah dan sekaligus menetap hingga Jumat berikut guna mendampingi anak-anak mereka.

Kesediaan orang tua murid di Daboto untuk tinggal bersama anak-anak mereka yang sedang belajar menunjukkan kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan. Mereka membuat rumah tradisional yang disebut "honai".

"Kami ingin anak-anak kami hidup lebih baik dari kami," kata Lukas, penduduk suku Moi kepada Beritasatu.com.

Meski anaknya masih kecil, Lukas yang selalu menenteng busur dan panah bertekad untuk mendorong anaknya sekolah. "Saya mau anak saya menjadi seperti Bapak dan Ibu," ujar Lukas dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata menjawab pertanyaan Beritasatu.com.

Lukas (kanan) bersama siswa Sekolah Lentera Harapan di Daboto, Papua. (Primus Dorimulu)

Busur-Panah
Busur dan panah bagi orang Daboto, demikian Steve, adalah dompet mereka. Mereka tidak punya apa-apa. Jangan membayangkan uang rupiah dan tabungan di bank. Mereka tidak mengenal itu semua. Di rumah tinggal mereka tak ada barang apa pun selain bahan makanan untuk beberapa hari dan noken, yakni tas buatan sendiri untuk membawa bahan makanan dari kebun dan juga bayi.

Tidak ada mebel dan tidak ada pakaian. Ada sedikit perhiasan buatan sendiri, yaitu kalung yang terbuat dari tulang binatang, bebatuan, biji pohon pilihan, dan gigi tikus pohon. Ada jenis logam yang sudah diolah menjadi mata uang. Namun, benda itu hanya dimiliki oleh beberapa kepala keluarga. Alat tukar tidak populer di Papua.

Ada beberapa jenis senjata asli Papua, yakni belati dari tulang babi dan kapak batu. Namun, yang selalu melekat di badan pria Papua pedalaman adalah busur-panah. Tidak salah ketika Steve menyebut senjata itu adalah dompet mereka. Kebutuhan utama mereka adalah bahan makanan. Ketika tidak punya daging, pria Papua mengangkat senjatanya untuk memanah binatang dan burung. Tentu saja, busur-panah sangat penting untuk berperang dan sekadar mempertahankan diri.

Orang Papua pedalaman, seperti di Daboto, Mamit, Nalca, dan Korupun makan ubi-ubian dan sayur. Protein didapatkan dari binatang darat dan burung. Oleh karena itu, pria Papua pedalaman harus piawai memanah.

Cara memasak tradisional menggunakan batu panas di Nalca, Yahukimo, Papua. (Primus Dorimulu)

Bahan makanan umumnya dibakar dan salah satu cara memasak untuk melayani orang dalam jumlah besar adalah "membakar" batu. Batu dibakar hingga panas. Lalu batu panas dipindahkan ke atas dedaunan yang sudah disiapkan. Di atas batu panas itu diletakkan bahan makanan, mulai dari ubi-ubian, sayuran, hingga daging. Di atas bahan makanan diletakkan lagi daun-daunan.

Setelah 15 menit, bahan makanan sudah menjadi makanan siap saji. Tidak ada garam dan cabai. Makanan siap santap itu langsung dikonsumsi. Lezat... karena kematangannya tidak langsung kena bara atau nyala api.

Potong Jari
Satu-satunya ternak orang Papua pedalaman adalah babi. Pada masyarakat yang masih primitif, babi dimasukkan dalam honai dan menjadi bagian dari penghuni rumah. Babi merupakan binatang yang sangat tinggi nilainya. Selain sumber protein, babi adalah simbol status sosial dan digunakan sebagai belis atau mas kawin. Mereka yang punya banyak babi, bisa mendapatkan wanita lebih dari satu.

Karena itu, babi piaraan menjadi perhatian utama orang Papua pedalaman. Seorang ibu dari Mamit, tahun lalu memotong jari tangannya sebagai ungkapan perasaan bersalah karena 15 babinya sakit dan mati. Sebelum agama Kristen masuk ke pedalaman, orang Papua masih percaya animisme. Setiap benda hidup dan benda mati dianggap memiliki kekuatan supranatural, yang bisa memberikan keberuntungan dan petaka.

Dengan memotong jari telunjuknya, ibu bernama Welhelmina Soll itu hendak menunjukkan perasaan bersalah sekaligus menyilih dosanya. Dia yakin, babinya mati karena dirinya kurang menunjukkan kasih sayang kepada babi. Putri Welhelmina bernama Tabita adalah siswa SLH di Mamit.

"Jangan lagi memotong tanganmu, ya Bu. Manusia jauh lebih berharga dibanding seluruh mahluk di bumi, termasuk babi," kata Aileen Hambali Riady, anggota Dewan Pengelola Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) di Nalca, Selasa (26/2/2019).

Manusia, kata Aileen, adalah mahluk Tuhan tertinggi, yang diciptakan sesuai gambaran dan citra Allah. Yang harus dimuliakan adalah manusia, bukan mahluk lain karena manusia adalah gambaran Allah sendiri.

Yang bisa menolong hidup kita, demikian Aileen, adalah Tuhan. Karena itu, hanya Tuhanlah yang wajib kita sembah. Kita harus terus-menerus berusaha mengenal dan dekat dengan Tuhan kita serta menjalankan perintah-Nya.

Para orangtua murid mendengarkan dengan penuh takzim sambil duduk bersila. Pada kesempatan yang sama, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina YPHP James Riady mengingatkan pentingnya tiga pilar dalam mendidik anak. Pertama, keluarga sebagai tempat pertama dan utama dalam pendidikan. Anak-anak belajar mengasihi dari orang tua. Dia belajar mengampuni dari orang tua. Kedua, sekolah yang baik. SLH hadir untuk memberikan pendidikan yang baik.

Ketiga, agama. Sebagai umat Kristen, anak-anak diajak ke gereja. Selain mendengarkan firman Tuhan, di gereja mereka berkumpul bersama orang lain untuk saling meneguhkan dan memperkaya iman.

Seorang ibu dari Mamit, Papua (kiri), berkisah telah memotong jari tangannya sebagai ungkapan perasaan bersalah karena 15 babinya sakit dan mati. (Primus Dorimulu)

Memberikan Harapan
Selain memiliki Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Kampung Harapan, Sentani, ibukota Kabupaten Jayapura, YPHP kini beroperasi di enam wilayah terpencil, yakni Deboto, Kabupaten Intan Jaya; Korupun, Kabupaten Yahukimo; Nalca, Kabupaten Yahukimo; Mamit, Kabupaten Tolikara; Danowage, Kabupaten Boven Digul; dan Karubaga, Kabupaten Tolikara. Dalam tiga hari, Beritasatu.com mengunjungi enam daerah terpencil itu.

Mulai beroperasi Agustus 2016, SLH di Daboto saat ini mendidik 48 siswa. Dengan lima guru tamatan Teacher College, Universitas Pelita Harapan (UPH), SLH kini menangani tiga kelas SD, yakni kelas I hingga III. YPHP sudah membangun gedung sekolah di tanah yang diserahkan suku setempat.

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James T Riady bersama para siswa Sekolah Lentera Harapan di Daboto, Papua. (Primus Dorimulu)

Bersamaan dengan SLH, YPHP juga membangun Klinik Siloam di Daboto. Setiap hari, ada belasan pasien yang datang ke klinik. Mereka dilayani seorang dokter dan dua perawat alumni UPH.

Di keluarga, anak-anak Papua tidak biasa diajari menghormati orang tua. Budaya ini terbawa hingga mereka menempuh pendidikan. Karena itu, tantangan utama para pendidik adalah disiplin anak Papua yang kendor. Tantangan kedua adalah mengubah pandangan orangtua agar memperlakukan anak wanita setara dengan anak pria.

Klinik Siloam di Danowage, Papua. (Primus Dorimulu)

Mamit mendapatkan tempat tersendiri di hati Aileen Hambali Riady dan James T Riady, pendiri dan ketua Dewan Pembina YPHP. Karena di tempat inilah mereka pertama kali membangun SLH dan Klinik Siloam, Agustus 2013. Tahun ini, SLH sudah mencapai enam kelas, kelas I hingga VI SD. Ada sekitar 243 siswa yang ditangani 19 guru alumni Teacher College, UPH. Sedang Klinik Siloam ditangani dua perawat, alumni sekolah perawat UPH.

Tiga tahun kemudian, Agustus 2016, SLH dibuka di Daboto dan Karubaga. Saat ini baru ada Kelas I hingga III SD di Karubaga. Jumlah murid 66 orang dan ditangani enam guru. Belum ada Klinik Siloam di ibu kota Tolikara ini karena sulitnya mendapatkan lahan. Para pendeta setempat, asli Papua, sudah berjanji kepada James untuk memberikan tanah untuk rumah sakit.

Setahun kemudian, Agustus 2017, YPHP mendapatkan kesempatan membangun SLH di Korupun, Danowage, dan Nalca. Di Korupun, SLH mengelola kelas I hingga III SD. Saat ini ada 80 siswa yang ditangani enam guru lulusan Teacher College, UPH. Sedang Klinik Siloam dilayani dua perawat.

Di Danowage, SLH kini mendidik 33 murid Kelas I hingga II SD. Meski tanah Danowage adalah milik ulayat suku Korowai, sebagian besar siswa berasal dari suku Lani. Misionaris setempat sudah membangun asrama untuk menampung anak-anak suku Korowai dan Lani yang menetap di gunung-gunung dan wilayah dataran yang jauh.

Para staf Sekolah Lentera Harapan dan Klinik Siloam Daboto, Papua, berfoto bersama James T Riady dan siswa sekolah setempat. (Primus Dorimulu)

Ada Klinik Siloam dengan seorang dokter wanita cantik asal Yogya dan dua perawat. Wilayah Danowage sangat datar, tapi sepi penduduk. Dengan landasan pesawat yang sudah diaspal diharapkan penduduk asli bersedia tinggal di Danowage.

Di Nalca, 96 anak suku Mek kini sedang dididik oleh enam guru SLH tamatan Teacher College, UPH. Baru kelas I dan II SD. Namun, semangat masyarakat setempat cukup besar untuk menyekolahkan anak. Masyarakat Nalca mendapatkan akses kesehatan lewat Klinik Siloam yang dilayani dua perawat.

Kondisi ekonomi penduduk Papua pedalaman saat ini tidak menunjukkan adanya harapan. Namun, di dada setiap anak Papua tertanam harapan yang kuat untuk maju dan berdiri sejajar dengan suadara sebangsanya di wilayah Indonesia lainnya.

"Saya harap anak-anak Papua bisa jadi orang kelak. Mereka bisa maju seperti orang lain di Indonesia," kata Sylvia Makabore, guru SLH di Danowage kepada Beritasatu.com. Ibu guru berparas cantik ini berasal dari Serui.

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James T Riady menggendong bayi dalam noken di Danowage, Boven Digul, Papua. (Primus Dorimulu)

Kehadiran para guru SLH tidak saja membawa anak Papua pada Tuhan, melainkan juga merangkul anak Papua agar merasakan dekapan mesra Ibu Pertiwi, Indonesia Raya.

"Saya senang sekali ketika anak Papua dengan kesadaran sendiri menggambar burung Garuda dengan simbol-simbol Pancasila," ujar seorang guru di Daboto.

Orangtua murid Sekolah Lentera Harapan di Nalca, Papua, mendengar penjelasan Aileen Hambali Riady, anggota Dewan Pengelola Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP). (Primus Dorimulu)

Pada tahun 2016, Papua yang memiliki luas daratan 309.934 km persegi dihuni 3,6 juta penduduk. Kepadatan penduduk 11,8 jiwa per km. Bandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk Indonesia yang mencapai 125 orang per km persegi. Etnis asli Papua sekitar 52%. Ada banyak suku Papua, namun yang terbesar di antaranya adalah suku Amungme, Arfak, Asmat, Dani (Lani), Damai, dan Yali. Sekitar 82% penduduk Papua beraga Kristen Protestan dan Katolik.

Almarhum Franky Sahilatua, pria Maluku, pernah menggubah lagu "Aku Papua". Lagu itu dipopulerkan oleh penyanyi Papua, Edo Kondologit dan kini nyaris menjadi lagi wajib anak Papua. Anak-anak Papua menyanyikan lagu ini dengan semangat menyala-nyala. Di beberapa daerah Papua, lirik lagu ini sedikit diubah. Berikut tiga bait lirik asli lagu Aku Papua karangan Franky.

"Aku Papua

Tanah Papua tanah yang kaya.
Surga kecil jatuh ke bumi.
Seluas tanah, sebanyak batu
adalah harta harapan.

Tanah Papua tanah leluhur.
Di sana aku lahir.
Bersama angin bersama daun
Aku dibesarkan.

Hitam kulitku, keriting rambutku.
Aku Papua.
Hitam kulitku, keriting rambutku. Aku Papua.
Biar nanti langit terbelah
aku tetap Papua."

Adalah tugas negara dan sesama warga Indonesia yang peduli untuk menjadikan tanah Papua dan tanah Indonesia, Sabang sampai Marauke, tanah harapan bagi anak Papua. Berilah mereka harapan akan masa depan. Bukan hanya bumi Cendrawasih yang bisa mereka nikmati, melainkan seluruh wilayah Indonesia.

Sylvia Makabore (tengah), guru Sekolah Lentera Harapan di Danowage, Papua. (Primus Dorimulu)

Kedatangan para misionaris di pedalaman Papua, wilayah terpencil yang tak terjangkau pelayanan negara, mestinya mampu mengetuk nurani kita semua untuk mengambil langkah konkret: memberikan harapan kepada anak Papua.

Korupun, Distrik di Tengah Ngarai [1]<<<   >>>[3] Membangun Papua dengan Hati




Sumber: BeritaSatu.com

Aku Anak Papua (3)

Membangun Papua dengan Hati


Primus Dorimulu / HA
Selasa, 5 Maret 2019 | 23:10 WIB

Sentani, Beritasatu.com - Berbaris rapi di pinggir landasan, anak-anak Papua, dengan wajah ceria, tak henti-hentinya melambaikan tangan. Saat pesawat berhenti di ujung lapangan, mereka dengan tertib menyanyi dan menari menyambut tamu. Setelah melihat isyarat boleh mendekat, mereka pun menyerbu tamu yang ditunggu-tunggu dan selanjutnya berlari keliling pesawat.

Pemandangan seperti ini disaksikan Beritasatu.com di Mamit, Korupun, Daboto, Danowage, Nalca, dan Karubaga, enam bandara yang disinggahi pesawat tipe Kodiak dan Cessna yang dioperasikan Mission Aviation Fellowship (MAF) selama tiga hari berturut-turut, Senin (25/2/2019) hingga Rabu (27/2/2019). Pemandangan yang sama juga terjadi saat pesawat take off. Namun, berbeda dengan saat penyambutan, perpisahan selalu menyisakan kesedihan, terutama para guru dan perawat yang datang dari jauh.

Tarian suku di Nalca, Papua, menyambut kedatangan pesawat. (Primus Dorimulu)

Bagi masyarakat setempat, setiap kedatangan pesawat adalah kabar baik. Pesawat biasanya membawa berbagai barang kebutuhan sekolah dan rumah sakit. Tanpa ada pesawat yang datang, daerah ini tidak bisa mendapatkan berbagai barang kebutuhan yang tidak dihasilkan di wilayah itu.

Sebuah rumah papan untuk asrama para guru Sekolah Lentera Harapan (SLH), perawat, dan dokter Klinik Siloam di Mamit, Yahukimo, Papua menelan biaya Rp 4,1 miliar. Sangat mahal karena seng, paku, beton, semen, dan berbagai bahan bangunan, selain kayu, dibawa dari luar dengan pesawat.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James Riady (kedua dari kiri) berfoto di Siloam Clinic, Danowage, Papua, bersama para staf. (Primus Dorimulu)

BBM satu harga yang ditetapkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sangat membantu dan penting untuk mewujudkan keadilan sosial. Namun, BBM satu harga itu hanya di SPBU dan Pertashop, yakni stasiun BBM mini yang dibangun Pertamina. Sedang di daerah yang jauh dari SPBU dan Pertashop, harga BBM tetap saja mahal. Di daerah pedalaman yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat, BBM adalah barang istimewa. Para misionaris membangun pembangkit listrik tenaga matahari, solar sel.

Kesedihan juga menghinggapi para guru SLH serta perawat dan dokter Klinik Siloam yang berasal dari berbagai daerah. Namun, kesedihan itu tak pernah mengurangi kebahagiaan mereka. Karena bekerja sebagai guru SLH dan tenaga medis Klinik Siloam di tempat terpencil adalah panggilan.

"Kami berbahagia karena bisa mengabdi," kata Merry Tobing, Guru SLH di Danau Wage. Alumnus Teacher College, UPH ini mengaku bahagia meski harus meninggalkan kampung halamannya. Bersama SLH, ia bersedia dikirim ke wilayah Papua terpencil lainnya.

Siswa SD Lentera Harapan di Danau Wage, Papua, sedang mengikuti kegiatan kelas. (Primus Dorimulu)

Orang tak mungkin bisa memberikan roti jika ia tak memiliki roti. Demikian pula dengan kebahagiaan. Orang tak mungkin membahagiakan orang lain jika ia sendiri tidak bahagia. Para guru SLH dan pekerja medis Klinik Siloam bekerja dengan sukacita. Mereka mampu tinggal di pedalaman Papua dalam jangka waktu bertahun-tahun karena panggilan.

Tanpa panggilan orang tak mungkin bisa bertahan di daerah terpencil seperti di pedalaman Papua. Karena panggilan itu, mereka bekerja dengan penuh sukacita dan dengan hati yang riang, mereka mampu menjalankan tugas dengan tulus-ikhlas.

Di kelas V SD asuhan SLH di Mamit, Selasa (26/2/2019), satu per satu siswa dipersilakan ke depan untuk mengerjakan soal matematika yang diberikan ibu guru. Mereka menjawab soal yang sudah ditulis di papan. Rekan sekelasnya diminta mengevaluasi. Ada lima anak yang ke depan, satu di antaranya, wanita. Semua soal dijawab dengan benar.

Tidak ada suasana tegang di kelas. Guru bicara dengan jelas sambil tersenyum. Anak murid pun menyambut dengan rileks. Matematika jauh dari kesan rumit dan menakutkan. "Anak-anak Papua umumnya cerdas dalam Matematika," kata ibu guru.

Anak-anak Papua mampu belajar semua bidang ilmu asalkan ada guru yang berkualitas dan tentu ditunjang nutrisi yang baik pula. Jika persyaratan ini dipenuhi, dalam 15 tahun, dunia akan melihat lahirnya generasi baru Mutiara Hitam yang hebat.

Aktivitas belajar mengajar di SD asuah Lentera Harapan di Mamit, Papua. (Primus Dorimulu)

Panggilan
Guru adalah profesi terhormat. Tidak semua orang bisa menjadi guru. Selain memiliki kapabilitas dan integritas yang diperlukan, kata James T Riady, pendiri dan ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP), mereka harus mempunyai panggilan. Ada bisikan Tuhan yang selalu memanggilnya untuk berkarya sebagai pendidik.

Menjadi tenaga medis, dokter dan perawat, juga sama. Pekerjaan mereka adalah membasuh luka sesama. Pekerjaan yang berat ini ditambah pula oleh lokasi yang jauh. Tanpa panggilan, orang tak mungkin bisa mengabdi di pedalaman Papua dan wilayah serupa di Indonesia.

Di Mamit ada pasutri yang sudah berusia di atas 80 tahun, yakni Wesley Dale asal Australia dan Ester Dale asal Kanada. Ayah Wesley, Stanley Dale, tewas pada usia 52 tahun dengan usus terburai akibat belasan anak panah yang menancap di perutnya, 25 September 1968.

Wesley dan Ester Dale di Mamit, Papua. (Primus Dorimulu)

Dua tahun sebelumnya, 1966, Stanley Dale terkapar di tempat yang sama akibat 16 anak panah yang menancap di tubuh, termasuk di perut. Setelah menjalani perawatan di Australia, Dale Senior sembuh. Ia pun kembali ke Papua dan masuk ke lokasi yang sama, yakni Kawasan Yahukimo.

"Orang suku Yali heran. Papa saya, kok, masih hidup. Mereka pun menarik busur dan memberondongkan anak panah ke tubuh ayah," kata Wesley. Saat itu, ia masih remaja dan ikut ayahnya tinggal di Sentani. Setelah ayahnya meninggal, ia dan saudaranya kembali ke Australia.

Sembilan tahun setelah kematian ayahnya, Wesley kembali ke Papua. Ia terpanggil untuk meneruskan karya ayahnya sebagai misionaris. Pada tahun 1981, ia bertemu pembunuh ayahnya. "Mereka malu dan merasa bersalah. Tapi, saya bilang, saya sudah memaafkan para pembunuh sejak ayah saya dinyatakan meninggal," kata Wesley kepada Beritasatu.com.

Cerita Wesley adalah contoh konkret sebuah panggilan. Ketika Tuhan memanggil untuk menjadikan kita alat-Nya, kita tak bisa menampik. Wesley sudah membuktikannya. Demikian pula para guru SLH dan paramedis yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara.

Mereka ke Papua untuk membangun anak Papua. Membebaskan orang Papua dari buta aksara dan penyakit. Mereka yakin, setiap manusia mampu meraih prestasi terbaiknya. Seperti kata James T Riady, setiap manusia diberikan sekitar 300 talenta oleh Tuhan. Tugas orangtua dan guru adalah mendampingi anak didik untuk menemukan satu-dua bakat yang terbesar.

"Jika bakat terbesar itu ditemukan dan dikembangkan, anak akan menjadi orang paling hebat di bidangnya," kata James. Dia menyarankan agar para orangtua dan guru atau siapa pun untuk tidak mendewa-dewakan satu bidang studi, matematika dan fisika, misalnya.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James Riady (kiri) bersama anak-anak pedalaman di ruang kelas SD Lentera Harapan di Mamit, Papua. (Primus Dorimulu)

Setiap bidang studi penting bagi hidup manusia karena manusia terdiri atas aspek badan, jiwa, dan rohani. Pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia paripurna, lengkap. Otak kiri dan kanan harus seimbang. Otak kiri berperan untuk mengingat dan menganalisis. Otak kanan untuk emosi dan seni. Di sinilah pentingnya setiap disiplin ilmu.

Asrama dan Bea Siswa
Penampilan para guru SLH dan paramedis Klinik Siloam memberikan kesan tersendiri bagi Wally Wiley, chief advisor Mission Aviation Fellowship (MAF), maskapai yang menangani penerbangan ke daerah terpencil di pedalaman Papua. Ia berterimakasih kepada Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) dan RS Siloam yang sudah mengirimkan tenaga guru dan paramedis berkualitas.

"Mereka sesungguhnya adalah misionaris," kata Wally Wiley, pria asal AS yang sudah di Indonesia lebih dari 40 tahun kepada Beritasatu.com. Ia mengaku terpanggil untuk membangun Papua dan ajaibnya, dua anaknya yang sekolah di AS kembali ke Indonesia dan memilih menetap di Papua, masing-masing, bersama suami dan istrinya. Dua anak Wally, pria dan wanita, lahir di Indonesia dan keduanya memilih untuk menjadi misionaris seperti ayah dan ibu mereka.

Misionaris asal Amerika, Wally Wiley. (Primus Dorimulu)

Selain memiliki kapabilitas, integritas, dan panggilan, para guru dan paramedis di bawah YPHP tinggal di asrama selama mereka belajar di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci. Para calon guru dididik selama empat tahun di Teacher College dan perawat selama tiga tahun di UPH. Mereka berasal dari berbagai wilayah Indonesia yang diseleksi ketat.

"Sekolah dan asrama sepenuhnya dibiayai oleh Yayasan," kata James. Dalam setahun, biaya pendidikan yang dikeluarkan Yayasan sekitar Rp 1,5 triliun. Sumber dana berasal dari orangtua murid siswa dan dana yang disisihkan Lippo Group sekitar Rp 200 miliar setiap tahun untuk menutup kekurangan. Dengan dana ini, Yayasan bisa memberikan bea siswa dan mengasramakan calon guru dan perawat serta membiayai siswa tidak mampu.

Saat ini Lippo Group memiliki sejumlah yayasan pendidikan, yaitu Yayasan Pelita Harapan (YPH), Yayasan Dian Harapan (YDH), Yayasan Lentera Harapan (YLH), dan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP). Jumlah murid di bawah yayasan-yayasan ini sekitar 21.601 orang dan guru mencapai 1.731 orang.

YPH mengelola enam sekolah, termasuk Hope Academy di Puri Indah. YDP mengorganisasi 14 sekolah yang tersebar di Lippo Village, Cikarang, Bogor, Jakarta, Palembang, Bangka, Lubuk Lingga, Medan, Makassar, Ranotana (Manado), Holland Village (Manado), dan Kupang. YDH juga mengelola UPH College di Lippo Village.

Sedang YLH mengelola 24 SLH di berbagai lokasi yang tersebar dari Sabang hingga Marauke. Ada tujuh SLH di Sumatera, dua di Jawa, tiga di NTT, empat di Sulawesi, satu di Maluku, dan tujuh di Papua. Khusus untuk Papua dibentuk satu yayasan, yakni YPHP. Selain enam di pedalaman Papua, YPHP juga mengasuh Kampung Harapan di Sentani. Semua siswa di pedalaman Papua sekolah gratis. Para guru dan perawat sepenuhnya dibiayai yayasan.

Para siswa SD Lentera Harapan di Mamit, Papua, bertemu dengan para pengelola Yayasan Pendidikan Harapan Papua. (Primus Dorimulu)

"Kami sangat ketat mendidik guru. Tidak semua calon guru yang masuk Sekolah Guru otomatis menjadi guru," tukas James. Di tengah jalan, calon yang tidak menunjukkan komitmen terhadap panggilan dikeluarkan dari sekolah.

Peran asrama sangat penting dalam pembentukan karakter para calon guru dan paramedis. Selama masa pendidikan, mereka dibekali pengetahuan, motivasi, dan kebiasaan hidup yang baik. Mereka dibiasakan hidup sebagai pelayan dan pemimpin yang mengajar dengan contoh hidup yang benar.

Pihak Lippo pernah menawarkan bea siswa kepada anak Papua lewat Pemprov Papua pada era Gubernur Barnabas Suebu tahun 2010. Ada dua program, yakni pertama, bea siswa ke luar negeri dengan masa persiapan di UPH. Program ini dibiayai Pemprov Papua. Kedua, UPH merekrut dan mendidik anak Papua di UPH dengan biaya sepenuhnya dari UPH.

"Pemprov sempat membiayai dua tahun pertama. Selanjutnya, pemprov tidak lagi membiayai," kata Andi Rumrar, guru SLH di Mamit, Papua. Ia mahasiswa Teacher College, UPH, angkatan 2013 yang sempat dibiayai Pemprov Papua.

Panel surya sebagai pembangkit listrik di Daboto, Papua. (Primus Dorimulu)

Para orangtua murid di Danowage, Mamit dan Nalca meminta YPHP untuk membangun sekolah hingga SMP dan SLTA. Mereka menunjuk contoh gagalnya anak Papua yang mengenyam pendidikan di kota kabupaten dan provinsi karena karakternya belum sungguh terbentuk. Saat nilai agama dan budaya belum kuat dihayati, anak mudah terpengaruh kehidupan modern di kota.

Asrama bagi anak Papua dinilai sebagai salah satu solusi yang tepat untuk membangun karakter. Dalam kehidupan bersama di asrama, mereka membiasakan diri untuk menghayati nilai-nilai agama dan budaya yang baik dari leluhur.

Bukan Soal Uang
Kemiskinan Papua bukan karena uang. Dana dari pusat mengalir deras ke Bumi Cendrawasih. Bukan saja dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dan dana bagi hasil kekayaan alam. Pusat juga menggelontorkan dana otonomi khusus (Otsus) dan dana infrastruktur. Sejak UU Otsus bagi Papua diberlakukan tahun 2001, total dana Otsus yang mengalir ke Papua selama periode 2002-2018 sudah mencapai Rp 75,1 triliun. Ditambah dana infrastruktur sebesar Rp 23,3 triliun, total dana yang mengalir ke Papua sejak 2002 mencapai Rp 98,4 triliun.

Dana itu belum termasuk DAU dan DAK serta dana bagi hasil. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Papua tahun 2018 sebesar Rp 14,1 triliun dan 2019 sebesar Rp 13,9 triliun. Pendapatan asli daerah (PAD) hanya enam persen. Selebihnya, 94%, adalah dana transfer dari pusat.

Sebagaimana daerah lainnya, dana pusat juga mengalir ke Papua lewat program dana desa. Setiap desa dan kelurahan mendapatkan dana minimal Rp 1 miliar setiap tahun. Pemerintah juga menggulirkan program sosial, termasuk jaminan sosial lewat Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Semua dana ini, kata sejumlah ekonom, cukup untuk menyejahterakan sekitar 3,7 juta penduduk Papua. Namun, mengapa warga Papua tetap miskin dan sebagian masuk kategori terbelakang? Jawaban adalah kesalahan elite politik, baik yang berada di Jakarta maupun di Papua, dalam mengelola dana-dana itu.

Dana pendidikan dan kesehatan tidak sampai kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan merata ke seluruh masyarakat. Warga Papua di pedalaman tidak mendapatkan pelayanan pemerintah. Di Daboto dan sejumlah wilayah terpencil di Papua, tidak ada pemerintahan. Sekolah dan klinik pemerintah tidak ada.

Sedang di daerah yang ada gedung sekolah, kegiatan belajar-mengajar tidak ada. Karena guru hanya hadir sekali dalam sebulan atau dua bulan. Klinik tanpa pelayanan. Di kota kabupaten pun, rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang benar kepada masyarakat.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengakui RSUD-nya jauh dari ideal. Karena itu, ia merespons positif tawaran James agar pengelolaannya diserahkan kepada Siloam minimal lima tahun. Semua biaya yang dikeluarkan Siloam tidak perlu dikembalikan karena hal itu merupakan bagian dari kegiatan kemanusiaan Lippo Group.

"Kami tidak mencari bisnis di Papua. Di sini, sepenuhnya, kami melakukan kegiatan kemanusiaan," ujar James dalam diskusi santai dengan bupati Jayapura. Kerjasama dengan RSUD dan puskesmas setempat dinilai James sebagai langkah paling cepat untuk membantu rakyat Papua.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw. (Primus Dorimulu)

Saat ini, YPHP dan Siloam sedang mencari lokasi baru di Papua untuk membuka SLH dan Klinik Siloam. Salah satu tempat di pedalaman yang segera dibangun YPHP adalah Tumdungmou, Pegunungan Bintang.

Papua memiliki tempat tersendiri di hati James. Tanah Papua diakuinya memberikan dampak besar terhadap perjalanan hidupnya. Saat didera kegalauan, ke Papua dan di pulau paling timur Indonesia itu ia bertobat pada tahun 1990.

Saat kembali ke Jakarta, Papua selalu memanggilnya. Hati kecilnya selalu membisikkan permintaan untuk membantu Papua. Ia kemudian memutuskan untuk membentuk yayasan dengan misi utama membangun pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat yang tertinggal, baik di Papua maupun di wilayah Indonesia bagian timur lainnya. Kini SLH ada di 24 lokasi, di antaranya, 15 lokasi di Indonesia bagian timur.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James Riady memegang busur dan panah saat berkunjung ke Danowage, Papua. (Primus Dorimulu)

Di setiap titik singgah, James tampak ceria dan penuh semangat. Di bandara Daboto, ia berlari bersama siswa SLH dan anak Papua yang belum sekolah. Di Bandara Danowage, ia berlari kecil bersama penari setempat. Di setiap kunjungan ke kelas, ia aktif berdialog dengan para siswa. Ia seperti mendapatkan energi berlimpah saat di tengah anak Papua.

Noblesse Oblige
Pembangunan Papua harus dimulai dari pendidikan dan kesehatan. Lalu perlahan mereka diajari kegiatan ekonomi. Untuk itu, infrastruktur perlu dibangun, mulai dari infrastruktur dasar, yakni air bersih dan sanitasi, hingga infrastruktur transportasi, energi, dan telekomunikasi. Dana untuk pendidikan dan kesehatan harus sampai ke masyarakat, tidak ada yang menguap di tengah jalan. Dana infrastruktur sungguh dimanfaatkan untuk pembangunan agar setiap wilayah terkoneksi dan warga mendapatkan pelayanan.

Anak Papua ditanamkan semangat kemandirian. Mereka yang tidak menjadi pendeta, guru, pegawai negeri dan pekerja di sektor formal perlu dididik menjadi pekerja mandiri. Sektor pertanian, misalnya, sangat terbuka lebar bagi anak Papua.

Membagikan uang tunai kepada warga Papua dalam jangka waktu yang lama sama sekali tidak membantu mengangkat kesejahteraan Papua. Saat mengunjungi Karubaga, ibukota Tolikara, Beritasatu.com melihat betapa pria dewasa Papua mondar-mandir di pertokoan dan menyusuri jalan-jalan kota.

Sejumlah pemuda di Karubaga, Papua, berkumpul di depan sebuah toko. (Primus Dorimulu)

Menjawab pertanyaan Beritasatu.com, sopir yang membawa kami menjelaskan, pria dewasa Papua diberikan dana desa dalam bentuk tunai. Dengan dana desa itu mereka belanja untuk keperluan konsumsi. Sebagian untuk rokok dan minuman. Belum sampai pertengahan bulan, uang sudah habis. "Yang bekerja di kebun adalah para ibu," kata sopir kelahiran Karubaga tersebut.

Orang Prancis bilang, "Noblesse oblige". Artinya setiap orang yang sudah tercerahkan wajib memikirkan dan membantu mereka yang masih tertinggal. Dana pusat yang mengalir ke Papua wajib dimanfaatkan dengan benar agar bisa mengangkat kesejahteraan dan martabat rakyat Papua. Elite politik yang berada di Jakarta dan Papua bertanggung jawab penuh terhadap pemanfaatan dana yang sangat besar itu.

Memberi Hati
Membangun Papua tak cukup hanya dengan uang, melainkan harus dengan hati. Setiap orang yang hendak membangun Papua harus juga memberikan hatinya kepada Papua. Mereka adalah orang yang terpanggil untuk mengabdi di Papua, bukan sekadar bekerja di Papua.

Seorang guru SLH asal Papua di Kampung Harapan, Sentani mengungkapkan harapannya agar generasi baru Papua bangkit. Mereka harus benar-benar menjadi mutiara dari timur. Namun, ia mengingatkan, untuk menghasilkan generasi baru Papua yang hebat, setiap yang terlibat dalam pembangunan Papua harus bisa memberikan hatinya.

"Berilah hatimu kepada anak Papua. Mereka akan memberkan kepadamu hatinya," katanya pada makan malam dengan James T Riady, anggota Dewan Pengelola YPHP Aileen Hambali Raidy, dan putri bungsu Mochtar Riady, Minny Riady, Selasa (26/2/2019).

Bekerja dengan hati ditekankan berulang kali oleh Aileen kepada setiap guru dan paramedis di setiap wilayah Papua yang dikunjungi. Mengutip seorang sosiolog, ia mengatakan, dunia tidak diubah oleh akademisi, melainkan oleh mereka yang dipakai Tuhan. Karena mereka yang dipakai Tuhan sungguh bekerja dengan hati.

Korupun, Distrik di Tengah Ngarai [1] <<<  Berilah Anak Papua Harapan [2] <<<




Sumber: BeritaSatu.com

VIDEO: Seni Mendaratkan Pesawat di Landasan Rumput Papua


Heru Andriyanto / HA
Selasa, 5 Maret 2019 | 01:14 WIB

Yahukimo, Beritasatu.com - Ini mungkin mimpi buruk bagi pilot mana pun. Mendaratkan pesawat di landasan tanah berumput yang tak rata, dengan jurang menganga di ujung landasan dan masuk celah di antara dua bukit tinggi sebelum landasan terlihat.

Salah sedikit berarti maut.

Namun, penerbangan adalah satu-satunya akses untuk menjangkau Distrik Korupun di Kabupaten Yahukimo, Papua, meskipun hanya memungkinkan untuk pesawat propeler kecil.

Pemimpin redaksi Beritasatu.com Primus Dorimulu mengalami sendiri ketegangan saat mendarat di Korupun dengan pesawat Cessna milik Mission Aviation Fellowship (MAF) dan sempat merekam pesawat kedua yang melakukan pendaratan setelahnya pada 25 Februari lalu.

"Pesawat harus berputar dua-tiga kali untuk mendapatkan celah di antara dua ngarai sebelum masuk ke landasan," kata Primus.

"Landasan pesawat tidak beraspal. Hanya pengerasan yang dikerjakan oleh penduduk setempat bersama misionaris."

Bagian ujung landasan untuk landing lebih rendah dibanding ujung yang lain. Tingkat kemiringan lapangan terbang itu sekitar 25 derajat. Ketika landing, pesawat seperti memasuki jalan menanjak untuk menyiasati landasan yang pendek, hanya sekitar 400 meter, sehingga membantu memperlambat pesawat.

Saat take off, permukaan yang miring itu berfungsi sebaliknya. Pesawat meluncur dari tempat yang lebih tinggi sehingga mendapat tambahan daya dorong sebelum mencapai ujung landasan satunya -- jurang yang menganga.

"Dengan keahlian pilot, pesawat langsung dibelokkan ke kanan, menyusuri celah yang diapit dua tebing," jelas Primus.

Saksikan video berikut:



Sumber: BeritaSatu.com