Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Memburu Buronan Kasus Korupsi Rp 78 Triliun

Berbeda Jalan Adili Surya Darmadi

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 10:02 WIB
Oleh : Muhammad Aulia, Fana F Suparman / Carlos KY Paath

Jakarta, Beritasatu.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah memburu pemilik PT Darmex Group/ Duta Palma Group, Surya Darmadi alias Apeng. KPK sudah tiga tahun mencari keberadaan bos produsen minyak goreng dengan merek Palma itu. Kedua lembaga penegak hukum memiliki kepentingan yang sama. Mengadili Surya Darmadi atas kasus korupsi.

Kejagung menetapkan Surya Darmadi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait penyerobotan lahan oleh PT Duta Palma Group di Indragiri Hulu, Riau. Tak hanya itu, Apeng juga dijerat ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Kejagung juga menjerat Raja Thamsir Rachman selaku Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008 dalam kasus dugaan korupsi penyerobotan lahan.

Kasus ini bermula saat Raja Thamsir Rahman menerbitkan izin lokasi dan usaha perkebunan di daerahnya pada lahan seluas 37.095 hektare kepada lima perusahaan anak usaha PT Duta Palma Group milik Surya Darmadi secara melawan hukum. Kelima perusahaan itu, yakni PT Panca Agro Lestari, PT Palma Satu, PT Seberida Subur, PT Banyu Bening Utama, dan PT Kencana Amal Tani.

"Izin usaha lokasi dan izin usaha perkebunan dipergunakan oleh SD (Surya Darmadi) dengan tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan serta tanpa adanya hak guna usaha dari Badan Pertanahan Nasional (BPN)," ujar Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam keterangan pers melalui video, dikutip Selasa (2/8/2022).

Apeng telah memanfaatkan kawasan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit serta memproduksinya. Tak tanggung-tanggung, ulah korup Surya Darmadi diduga menimbulkan kerugian negara hingga mencapai Rp 78 triliun.

Grafis Lima Kasus Korupsi dengan Kerugian Terbesar.
Grafis Lima Kasus Korupsi dengan Kerugian Terbesar.

"Membuka perkebunan kelapa sawit dan memproduksi sawit yang menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara berdasarkan hasil perhitungan ahli dengan estimasi kerugian sebesar Rp 78 triliun," tutur Burhanuddin.

Secara nominal, kerugian keuangan negara dalam kasus korupsi yang menjerat Surya Darmadi memang masih kalah dibanding skandal BLBI yang ditaksir mencapai lebih dari Rp 130 triliun. Namun, perlu dicatat, kerugian keuangan negara dalam skandal BLBI melibatkan sekitar 48 bank. Sementara, dugaan korupsi penyerobotan lahan di Riau hanya menyangkut Surya Darmadi dan sejumlah perusahaannya. Dengan demikian, dapat dikatakan korupsi yang yang menjerat Surya Darmadi merupakan kasus dengan kerugian keuangan terbesar sepanjang sejarah di Indonesia.

Ditambah lagi sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejagung, Surya Darmadi sudah berstatus buronan KPK. Status itu, bahhkan telah disandang Surya Darmadi sejak 2019 atau tiga tahun lalu.

KPK memasukkan nama Surya Darmadi dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan lantaran terus-menerus mangkir dari pemeriksaan terkait kasus dugaan suap pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau tahun 2014 yang menjeratnya sebagai tersangka. Dalam kasus itu, selain Surya Darmadi selaku pemilik Darmex Group, KPK juga menjerat Legal Manager PT Duta Palma Group, Suheri Terta dan anak usaha PT Duta Palma Group, Duta Palma Satu.

Penetapan tersangka terhadap Surya Darmadi, Suheri Terta dan korporasi PT Palma Satu itu merupakan pengembangan dari kasus dugaan suap alih fungsi hutan Riau yang sebelumnya menjerat Annas Maamun selaku Gubernur Riau dan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Medali Emas Manurung serta Wakil Bendahara DPD Partai Demokrat Riau, Edison Marudut Marsadauli Siahaan.

Apeng diduga bersama-sama Suheri Terta telah menyuap Annas Maamun selaku Gubernur Riau saat itu. Suap sebesar Rp 3 miliar itu diberikan terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau kepada Kementerian Kehutanan. Suheri merupakan orang kepercayaan Apeng untuk mengurus perizinan terkait lahan perkebunan milik Duta Palma Group dan anak usahanya, termasuk PT Palma Satu.

Annas Maamun sendiri diketahui telah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, pada 21 September 2020 lalu atas perkara suap alih fungsi lahan kebun kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Annas Maamun menjalani hukuman tujuh tahun penjara dikurangi setahun karena mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Meski demikian, Annas Maamun masih menjadi tersangka KPK atas kasus dugaan suap kepada DPRD Riau terkait pembahasan RAPBD Perubahan tahun 2014 dan RAPBD tahun 2015. Annas telah menyandang status tersangka kasus ini sejak Januari 2015 dan kini telah divonis satu tahun penjara serta denda Rp 100 juta atas perbuatannya tersebut.

Sementara Suheri Terta sempat divonis bebas Pengadilan Tipikor Pekanbaru yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu pada 9 September 2020 lalu. Majelis hakim menyatakan Suheri Terta tidak terbukti menyuap mantan Gubernur Riau, Annas Maamun melalui pengusaha Gulat Manurung terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau kepada Kementerian Kehutanan.

Beruntung, kasasi yang diajukan KPK dikabulkan Mahkamah Agung pada 30 Maret 2021. Dalam putusannya, MA memutuskan memvonis Suheri Terta dengan hukuman 3 tahun pidana pidana penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sementara, Surya Darmadi sendiri hingga kini tak diketahui rimbanya. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka Kejagung, nama Surya Darmadi sempat santer di media sosial dan disebut berada di Singapura. Namun, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Singapura menyebut Surya Darmadi tidak ada dalam catatan keimigrasian mereka.

"Menurut catatan Imigrasi kami, Surya Darmadi saat ini tidak berada di Singapura," kata Kemenlu Singapura yang dikutip dari keterangan resminya, Jumat (5/8/2022).

Kemenlu Singapura berjanji akan membantu Indonesia untuk mencari keberadaan Surya Darmadi. Bantuan itu akan diberikan jika pemerintah Indonesia mengajukan permintaan resmi ke Singapura.

"Jika Indonesia mengajukan permintaan resmi ke Singapura dengan informasi pendukung yang diperlukan, Singapura akan memberikan bantuan yang diperlukan kepada Indonesia, dalam lingkup hukum dan kewajiban internasional kami," kata Kemenlu Singapura.

KPK hingga kini meyakini Surya Darmadi berada di luar negeri. "Bisa dipastikan KPK yang bersangkutan (Apeng) tidak ada di Indonesia," ujar Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Untuk keberadaan Apeng, Nawawi mengakui pihaknya tidak tahu-menahu. Nawawi juga tidak memberikan penjelasan lebih lanjut soal upaya pengejaran terhadap Apeng. "Kita pastikan dia tidak ada di Indonesia," ungkap Nawawi.

Mengadili Surya Darmadi
Terlepas perdebatan mengenai keberadaan Surya Darmadi, KPK dan Kejagung mengambil sikap yang berbeda dalam mengadili orang terkaya ke-28 di Indonesia menurut Majalah Forbes tahun 2018 tersebut. Kejagung berkukuh mengadili Surya Darmadi secara in absentia atau persidangan tanpa dihadiri terdakwa.

Pada prinsipnya, in absentia merupakan peradilan tanpa dihadiri oleh terdakwa. Pelaksanaan in absentia dalam perkara korupsi dan pencucian uang diatur dalam Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 79 ayat (1) UU 8/2010 Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Kedua pasal itu menyatakan, "Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadirannya."

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah menjelaskan proses hukum secara in absentia ditempuh karena sampai saat ini penyidik belum dapat menghadirkan Surya Darmadi. Penyidik telah melakukan pemanggilan secara patut sebanyak tiga kali terhadap tersangka.

Grafis Dasar Hukum in Absentia.
Grafis Dasar Hukum in Absentia.

Surat panggilan tersebut telah dikirimkan ke alamat rumah tinggalnya yang ada di Jakarta, lalu ke alamat kantor Duta Palma Group di Palma Tower, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, termasuk tempat tinggalnya di Singapura.

Merespons pernyataan Kemenlu Singapura yang menyebut Surya Darmadi tidak berada di negara itu, Febrie mengatakan pihaknya melalui Atase Kejaksaan di Singapura masih melakukan pembicaraan. Penyidik Jampidsus Kejagung masih melakukan proses pencarian buronan Surya Darmadi. "Posisinya yang jelas penyidik masih mencari itu, namanya buron. Tidak di Singapura, tetapi di tempat lain juga sedang dicari penyidik," kata Febrie.

Menurutnya, persidangan in absentia akan digelar jika pihaknya gagal menghadirkan Surya Darmadi ke Tanah Air. Ini juga terkait dengan batasan waktu proses penyidikan yang dilakukan penyidik Kejagung.

Ia menegaskan mekanisme persidangan in absentia tidak akan menghilangkan kesempatan jajaran Kejagung untuk memulangkan Surya Darmadi ke Tanah Air. Untuk itu, putusan persidangan tersebut menjadi kekuatan hukum lebih kuat untuk mengkestradisi terdakwa.

Selain itu, kata Febrie, persidangan in absentia juga tidak menghalangi kejaksaan dalam upaya pemulihan aset. Surya Darmadi justru bakal merugi bila persidangan in absentia dilaksanakan karena tidak dapat membela diri.

"Kalau sudah in absentia malah dia (Surya) yang rugi, dia kan tidak bisa melakukan pembelaan secara sempurna, in absentia kan kami sidangkan tanpa dia, tujuan kami adalah memang nanti akan kami rampas asetnya," kata Febrie.

Upaya Kejagung dalam menyidangkan Surya Darmadi secara in absentia dan merampas asetnya bukanlah lips service. Kejagung diketahui telah memblokir seluruh rekening operasional perusahaan pada PT Duta Palma Group.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Ketut Sumedana menuturkan bahwa rekening operasional yang diblokir yakni pada PT Seberida Subur, PT Panca Agro Lestari, PT Palma Satu, PT Banyu Bening Utama, serta PT Kencana Amal Tani. Perusahaan tersebut merupakan anak usaha dari PT Duta Palma Group.

“Rekening-rekening tersebut terdapat pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Central Asia,” ujar Ketut dalam keterangannya, dikutip Selasa (9/8/2022).

Tak hanya itu, Kejagung juga telah menyita 23 aset Surya Darmadi di berbagai lokasi. Puluhan aset itu terdiri dari delapan bidang perkebunan sawit milik sejumlah anak usaha Duta Palma Group di Indragiri Hulu, 12 bidang tanah dan bangunan di sejumlah lokasi di Kebayoran Lama dan dan Setiabudi, Jakarta Selatan, serta tiga unit apartemen di tiga lokasi berbeda di Jakarta Selatan. Selain itu, tim jaksa penyidik Kejagung telah menggeledah sedikitnya 10 lokasi di Riau yang berkaitan dengan kasus ini, baik kantor perusahaan milik Duta Palma Group maupun Pemkab Indragiri Hulu.

Grafis Aset Duta Palma Group yang Disita Kejagung.
Grafis Aset Duta Palma Group yang Disita Kejagung.

Berbeda halnya dengan Kejagung yang bakal memproses secara in absentia, KPK memilih untuk tetap berupaya mencari dan menyeret Surya Darmadi ke pengadilan di Indonesia.

Plt Jubir KPK, Ali Fikri menjelaskan alasan pihaknya enggan menempuh opsi in absentia. Dikatakan, perkara korupsi Surya Darmadi yang ditangani KPK menyangkut pasal suap. Penggunaan pasal tersebut tidak menyangkut kerugian keuangan negara. Hal ini berbeda dengan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor yang menyangkut kerugian keuangan negara yang diterapkan Kejagung terhadap Surya Darmadi.

"Kami tidak berbicara mengenai kerugian keuangan negara tentunya. Nah in absentia itu bisa dilakukan kalau kemudian ujungnya ada perampasan hasil tindak pidana korupsi yang ditimbulkan, hasil kerugian keuangan negara yang tadi itu. Artinya, ketika kemudian diputus oleh pengadilan memang kemudian optimalisasi asset recovery bisa dilakukan ketika pada Pasal 2, Pasal 3," kata Ali.

Sedangkan dalam pasal suap, ia mengatakan yang akan dituntut dengan uang pengganti hanya penerima suap. "Berbeda dengan pasal suap, apalagi pemberi suap yang kemudian dituntut untuk uang pengganti ini kan penerima suap karena dia menikmati sebagai koruptor yang menikmati dan menerima, maka kemudian dirampasnya dengan cara uang pengganti, dituntut uang pengganti," ucap Ali.

"Untuk pemberi apakah kemudian uangnya dikembalikan, tentunya tidak. Ini yang kemudian KPK sejauh ini tidak mengambil opsi in absentia karena pasal-pasalnya, pasal suap, berbeda dengan Pasal 2, Pasal 3 yang itu bisa dilakukan penyitaan aset kemudian ketika diputus di pengadilan bisa dilakukan eksekusi dan sebagainya," imbuh Ali.

Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango mengatakan sejauh ini, pihaknya belum membicarakan opsi in absentia. Selain terkait pasal suap, Nawawi khawatir dengan peradilan in absentia terhadap Surya Darmadi muncul anggapan publik KPK ingin menempuh jalan pintas terhadap tersangka korupsi lain yang masih buron.

"Khawatirnya juga nanti lama-lama dibilang di luaran dibilang nanti setiap DPO kita in absentia begitu untuk cari jalan pintas biar sekalian DPO terhapus dari daftarnya," kata Nawawi.

Meski berbeda jalan yang ditempuh, KPK memastikan terus berkoordinasi dengan Kejagung dalam memproses hukum Surya Darmadi. Bahkan, Nawawi mengaku sudah bertemu dengan Febrie dan Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Supardi.

"Kita ngobrol soal itu dan mereka memang membuka kemungkinan untuk mengadili Surya Darmadi secara in absentia dengan argumen argumen yang disampaikan dan itu kami kira cukup beralasan," katanya.

Apa pun jalan yang ditempuh kedua lembaga penegak hukum diharapkan berorientasi pada proses hukum yang adil, transparan, dan mengutamakan kepentingan publik. Lebih jauh dari itu, upaya pemberantasan korupsi di Indonesia dapat terus berjalan maksimal. Apalagi, mengingat dalam kasus korupsi Surya Darmadi yang ditangani Kejagung terdapat kerugian keuangan negara yang mencapai Rp 78 triliun.



KPK Pastikan Surya Darmadi Tidak Berada di Indonesia

Selasa, 9 Agustus 2022 | 13:16 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / Jeis Montesori

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bos PT Duta Palma Group, Surya Darmadi alias Apeng tidak sedang berada di Indonesia. Diketahui, Apeng tengah terjerat kasus dugaan korupsi dan kini statusnya menjadi buronan.

"Bisa dipastikan KPK, yang bersangkutan (Apeng) tidak ada di Indonesia," ujar Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Untuk keberadaan Apeng, Nawawi mengakui pihaknya tidak tahu-menahu. Namun demikian, dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut soal upaya pengejaran terhadap Apeng.

"Kita pastikan dia tidak ada di Indonesia," ungkap Nawawi.

Sebelumnya, KPK menetapkan anak usaha PT Duta Palma Group, yakni PT Palma Satu sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau tahun 2014. Selain korporasi, KPK juga menetapkan pemilik PT Darmex Group/ PT Duta Palma, Surya Darmadi alias Apeng dan Legal Manager PT Duta Palma Group, Suheri Terta.

Adapun saat ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mengusut dugaan penyerobotan lahan oleh PT Duta Palma Group. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan, perusahaan tersebut mengelola lahan 37.095 hektare secara melawan hukum dan pemiliknya yakni Apeng, menjadi buronan KPK. Dari penyelewengan tersebut, perusahaan Apeng diduga untung Rp 600 miliar tiap bulannya.

Kini, Apeng telah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus tersebut oleh Kejagung dan yang bersangkutan diduga telah melarikan diri ke Singapura untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. Perbuatan Apeng dalam kasus ini diduga mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 78 triliun.



Diburu KPK dan Kejagung, Ini Rekam Jejak Kasus Surya Darmadi

Selasa, 2 Agustus 2022 | 15:02 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / Fana F Suparman

Jakarta, Beritasatu.com – Pemilik PT Duta Palma Group, Surya Darmadi alias Apeng kini ditetapkan sebagai tersangka dan diburu oleh dua institusi penegak hukum yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait kasus dugaan korupsi. Adapun dugaan korupsi Surya Darmadi itu berkaitan dengan grup perusahaannya yakni PT Duta Palma.

Berikut rekam jejak kasus korupsi Surya Darmadi di KPK dan Kejagung 

Kasus di KPK

Pada 29 April 2019, KPK menetapkan anak usaha PT Duta Palma Group, yakni PT Palma Satu sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau tahun 2014. Selain korporasi, KPK juga menetapkan pemilik PT Darmex Group/ PT Duta Palma, Surya Darmadi alias Apeng dan Legal Manager PT Duta Palma Group, Suheri Terta.

Penetapan tersangka terhadap Surya Darmadi, Suheri Terta dan korporasi PT Palma Satu itu merupakan pengembangan dari kasus dugaan suap alih fungsi hutan Riau yang sebelumnya menjerat Annas Maamun selaku Gubernur Riau dan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Medali Emas Manurung serta Wakil Bendahara DPD Partai Demokrat Riau, Edison Marudut Marsadauli Siahaan.

Apeng diduga bersama-sama Suheri Terta telah menyuap Annas Maamun selaku Gubernur Riau saat itu. Suap sebesar Rp 3 miliar itu diberikan terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau kepada Kementerian Kehutanan. Suheri merupakan orang kepercayaan Apeng untuk mengurus perizinan terkait lahan perkebunan milik Duta Palma Group dan anak usahanya, termasuk PT Palma Satu.

Annas Maamun sendiri diketahui telah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, pada 21 September 2020 lalu atas perkara suap alih fungsi lahan kebun kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Annas Maamun menjalani hukuman tujuh tahun penjara dikurangi setahun karena mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Meski demikian, Annas Maamun masih menjadi tersangka KPK atas kasus dugaan suap kepada DPRD Riau terkait pembahasan RAPBD Perubahan tahun 2014 dan RAPBD tahun 2015. Annas telah menyandang status tersangka kasus ini sejak Januari 2015 dan kini telah divonis satu tahun penjara serta denda Rp 100 juta atas perbuatannya tersebut.

Sementara Suheri Terta divonis bebas Pengadilan Tipikor Pekanbaru yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu pada 9 September 2020 lalu. Majelis hakim menyatakan Suheri Terta tidak terbukti menyuap mantan Gubernur Riau, Annas Maamun melalui pengusaha Gulat Manurung terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau kepada Kementerian Kehutanan.

Kasasi yang diajukan KPK dikabulkan Mahkamah Agung pada 30 Maret 2021. Dalam putusannya, MA memutuskan memvonis Suheri Terta dengan hukuman 3 tahun pidana pidana penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan. 

Sedangkan Surya Darmadi sendiri hingga kini masih menjadi buronan KPK. 

Kasus di Kejagung

Kini, Kejagung menetapkan Surya Darmadi alias Apeng sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait penyerobotan lahan di Riau oleh grup perusahaannya. Apeng juga ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang. Perbuatan korupsi yang dilakukan Apeng diduga menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 78 triliun.

Dalam kasus korupsi penyerobotan lahan ini, Kejagung juga menetapkan Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008, Raja Thamsir Rahman sebagai tersangka.

Jaksa Agung, ST Burhanuddin menjelaskan, kasus yang menjerat Apeng kali ini bermula saat Raja Thamsir Rahman menerbitkan izin lokasi dan usaha perkebunan di daerahnya pada lahan seluas 37.095 hektare ke lima perusahaan secara melawan hukum. Adapun kelimanya diketahui merupakan anak perusahaan dari PT Duta Palma Group yakni PT Panca Agro Lestari, PT Palma Satu, PT Seberida Subur, PT Banyu Bening Utama, dan PT Kencana Amal Tani.

“Izin usaha lokasi dan izin usaha perkebunan dipergunakan oleh SD (Surya Darmadi) dengan tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan serta tanpa adanya hak guna usaha dari Badan Pertanahan Nasional (BPN),” ujar Burhanuddin dalam keterangan pers melalui video, dikutip Selasa (2/8/2022).

Apeng lalu diketahui telah memanfaatkan kawasan hutan untuk dengan membuka perkebunan kelapa sawit serta memproduksinya. Perbuatan Apeng tersebut diduga menimbulkan kerugian negara hingga mencapai Rp 78 triliun.

“Membuka perkebunan kelapa sawit dan memproduksi sawit yang menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara berdasarkan hasil perhitungan ahli dengan estimasi kerugian sebesar Rp 78 triliun,” tutur Burhanuddin.

Atas ulahnya, Apeng disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 3 atau Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

KPK-Kejagung Buru Apeng

Adapun kini, Apeng diduga telah melarikan diri dari Indonesia untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. Baik KPK maupun Kejagung belum dapat membekuk yang bersangkutan. Terkait upaya memburu Apeng, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata memastikan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Kejagung, mengingat kedua instansi tengah mengejar sosok yang sama.

“Kita selalu komunikasi karena sama-sama mencari orang yang sama,” ungkap Alex, sapaan akrabnya, di Jakarta, Kamis (28/7/2022).

Diungkapkan Alex, pihaknya berkomunikasi juga dengan Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Supardi dalam upaya memburu Apeng. Dia menegaskan tidak ada persoalan berarti bagi pihaknya dalam berkomunikasi dengan aparat hukum lainnya yang tengah mengusut dugaan korupsi.

Apeng sendiri dikabarkan melarikan diri ke Singapura. Terkait hal itu, Subkoordinator Humas Ditjen Imigrasi, Achmad Nur Saleh menuturkan bahwa status pencegahan terakhir terhadap Apeng sudah berakhir pada 12 Oktober 2019. Mengenai persoalan itu, Alex menyatakan, pihaknya akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut jika Surya Darmadi ternyata telah menjadi warga negara Singapura.

Dikatakan, KPK bakal mendalami peluang mengekstradisi Surya Darmadi alias Apeng dari Singapura. Adapun sebelumnya pada 25 Januari 2022, Indonesia sudah menandatangani perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Singapura.

“Kalau ada perjanjian ekstradisi kan satu, cuma nanti kita pahami lebih lanjut,” ungkap Alex.



Korupsi Surya Darmadi Diduga Rugikan Negara Rp 78 Triliun

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / Willy Masaharu

 

Jakarta, Beritasatu.com – Pemilik PT Duta Palma Group, Surya Darmadi alias Apeng sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam kasus dugaan korupsi terkait penyerobotan lahan di Riau oleh grup perusahaannya. Apeng juga ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang. Perbuatan korupsi yang dilakukan Apeng diduga menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 78 triliun.

Dalam kasus ini, Kejagung juga menetapkan Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008, Raja Thamsir Rahman sebagai tersangka.

Jaksa Agung, ST Burhanuddin menjelaskan, kasus ini bermula saat Raja Thamsir Rahman menerbitkan izin lokasi dan usaha perkebunan di daerahnya pada lahan seluas 37.095 hektare ke lima perusahaan secara melawan hukum. Adapun kelimanya diketahui merupakan anak perusahaan dari PT Duta Palma Group yakni PT Panca Agro Lestari, PT Palma Satu, PT Seberida Subur, PT Banyu Bening Utama, dan PT Kencana Amal Tani.

“Izin usaha lokasi dan izin usaha perkebunan dipergunakan oleh SD (Surya Darmadi) dengan tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan serta tanpa adanya hak guna usaha dari Badan Pertanahan Nasional (BPN),” ujar Burhanuddin dalam keterangan pers melalui video, dikutip Selasa (2/8/2022).

Apeng lalu diketahui telah memanfaatkan kawasan hutan untuk dengan membuka perkebunan kelapa sawit serta memproduksinya. Perbuatan Apeng tersebut diduga menimbulkan kerugian negara hingga mencapai Rp 78 triliun.

“Membuka perkebunan kelapa sawit dan memproduksi sawit yang menimbulkan kerugian keuangan negara dan perekonomian negara berdasarkan hasil perhitungan ahli dengan estimasi kerugian sebesar Rp 78 triliun,” tutur Burhanuddin.

Atas ulahnya, Apeng disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 3 atau Pasal 4 UU 8/2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sementara Raja Thamsir Rachman dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun keduanya tidak dilakukan penahanan mengingat Raja Thamsir tengah menjalani vonis pidana dalam kasus korupsi terkait dana kasbon APBD Indragiri Hulu tahun 2005-2008, sementara Apeng kini statusnya masih buronan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).



Kejagung Bakal Proses Hukum Surya Darmadi secara In Absentia

Rabu, 10 Agustus 2022 | 23:55 WIB
Oleh : / Fana F Suparman

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah mengatakan pihaknya bakal memproses Surya Darmadi, tersangka kasus korupsi penguasaan lahan sawit yang rugikan negara Rp 73 triliun secara in absentia.

In absentia, sudah proses,” kata Febrie saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (10/8/2022).

Upaya ini dilakukan karena sampai saat ini penyidik belum dapat menghadirkan Surya Darmadi. Penyidik telah melakukan pemanggilan secara patut sebanyak tiga kali terhadap tersangka.

Surat panggilan tersebut telah dikirimkan ke alamat rumah tinggalnya yang ada di Jakarta, lalu ke alamat kantor Duta Palma Group di Palma Tower, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, termasuk tempat tinggalnya di Singapura.

Belum lama ini Kementerian Urusan Luar Negeri Singapura mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa Surya Darmadi tidak berada di negara singa putih tersebut.

Merespons hal itu, Febrie mengatakan pihaknya melalui Atase Kejaksaan di Singapura masih melakukan pembicaraan. Penyidik Jampidsus Kejagung masih melakukan proses pencarian buronan Surya Darmadi.

“Posisinya yang jelas penyidik masih mencari itu, namanya buron kan. Tidak di Singapura, tapi di tempat lain juga sedang dicari penyidik,” kata Febrie.

Menurut dia, persidangan in absentia akan digelar jika pihaknya gagal menghadirkan Surya Darmadi ke Tanah Air. Ini juga terkait dengan batasan waktu proses penyidikan yang dilakukan penyidik Gedung Bundar.

Ia menegaskan, mekanisme persidangan in absentia tidak akan menghilangkan kesempatan jajaran Kejagung untuk memulangkan Surya Darmadi ke Tanah Air. Untuk itu, putusan persidangan tersebut menjadi kekuatan hukum lebih kuat untuk mengkestradisi terdakwa.

Selain itu, kata Febrie, persidangan in absentia juga tidak menghalangi kejaksaan dalam upaya pemulihan aset. Justru, kerugian dari pihak Surya Darmadi bila persidangan in absentia dilaksanakan.

“Kalau sudah in absentia malah dia (Surya) yang rugi, dia kan tidak bisa melakukan pembelaan secara sempurna, in absentia kan kami sidangkan tanpa dia, tujuan kami adalah memang nanti akan kami rampas asetnya,” kata Febrie.

Dalam kasus ini, penyidik juga mentersangkakan Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008 Raja Thamsir Rachman.

Pada Senin (1/8/2022) lalu, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengungkap bahwa estimasi kerugian keuangan dan perekonomian negara yang ditimbulkan perkara itu mencapai Rp 78 triliun.

Adapun kronologis singkat kasus ini pada 2003, Surya Darmadi disebut melakukan kesepakatan dengan Raja untuk mempermudah izin kegiatan usaha lima perusahaannya di bawah Duta Palma Group.

Kelima perusahaan yang dimaksud adalah PT Banyu Bening Utama, PT Panca Agro Lestari, PT Seberida Subur, PT Palma Satu, dan PT Kencana Amal Tani.

Kemudian, usaha budidaya perkebunan dan pengolahan kelapa sawit itu terletak di kawasan hutan produksi konversi (HPK), hutan produksi terbatas (HPT), dan hutan penggunaan lainnya (HPL) di lahan seluas 37.000 hektare.

Menurut Burhanuddin, kelengkapan perizinan dibuat secara melawan hukum dan tanpa didahului dengan izin prinsip maupun analisis dampak lingkungan. Di samping itu, grup perusahaan Surya Darmadi juga tidak memenuhi kewajiban hukum dalam menyediakan pola kemitraan sebesar 20 persen dari total areal kebun yang dikelola.

Kedua tersangka, disangkakan melanggar primair Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dengan subsidiair Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Khusus tersangka Surya Darmadi, ia juga disangkakan melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.



Diburu KPK dan Kejagung, Surya Darmadi Dicegah ke Luar Negeri

Kamis, 11 Agustus 2022 | 18:45 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / Fana F Suparman

Jakarta, Beritasatu.com - Bos PT Duta Palma Group, Surya Darmadi alias Apeng dicegah ke luar negeri oleh Ditjen Imigrasi Kemenkumham untuk enam bulan ke depan. Diketahui, Surya Darmadi alias Apeng merupakan buronan kasus dugaan korupsi yang tengah diburu KPK dan Kejagung.

"Hari ini kami menerima permohonan pencegahan dari Kejagung RI terhadap WNI bernama Surya Darmadi. Adapun masa pencegahan berlaku selama enam bulan hingga tanggal 11 Februari 2023,” ujar Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, I Nyoman Gede Surya Mataram dalam keterangannya, Kamis (11/8/2022).

Surya Mataram menegaskan, keberadaan Apeng hingga kini terus dicari. Dikatakan, Ditjen Imigrasi bersama KPK, Polri, Interpol dan instansi terkait berkoordinasi untuk melacak keberadaan Apeng.

Diketahui, KPK menetapkan Surya Darmadi alias Apeng selaku pemilik PT Darmex Group/ PT Duta Palma, Legal Manager PT Duta Palma Group, Suheri Terta, dan anak usaha PT Duta Palma Group, yakni PT Palma Satu sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau tahun 2014. Sejak ditetapkan sebagai tersangka, Surya Darmadi selalu mangkir dari pemeriksaan KPK hingga ditetapkan sebagai buronan atau masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pada 2019.

Sementara, saat ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mengusut dugaan penyerobotan lahan oleh PT Duta Palma Group. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan, perusahaan tersebut mengelola lahan 37.095 hektare secara melawan hukum dan pemiliknya yakni Apeng, menjadi buronan KPK. Dari penyelewengan tersebut, perusahaan Apeng diduga untung Rp 600 miliar tiap bulannya.

Kini, Apeng telah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus tersebut oleh Kejagung. Perbuatan Apeng dalam kasus ini diduga mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 78 triliun.








CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings