Kelompok Ali Kalora Diperkirakan Tak Sampai 10 Orang


Robertus Wardi / HA Jumat, 4 Januari 2019 | 03:15 WIB

Jakarta - Pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridwan Habib mengemukakan‎ kekuatan kelompok Ali Kalora sangat kecil. Maksimal mereka hanya tujuh-delapan orang dan bergerilya dari satu tempat ke tempat yang lain.

"Mereka tidak pernah lama dalam satu tempat, hanya satu-dua hari dan memakan apa yang ada di situ. Ada lumbung padi mereka rampok, ada ketela mereka makan, dan sebagainya," kata Ridwan di Jakarta, Kamis (3/1).

Ia menjelaskan jika ada berita pemenggalan warga, barangkali warga ini melawan kelompok Ali Kalora. Pelawanan dilakukan karena warga bersangkutan marah atas hasil pertanian yang selalu dirampas oleh kelompok tersebut.

"Apa yang mereka lakukan bukan serangan terencana. Kalau terencana, mestinya mereka sudah siap dan melakukan aksi-aksi sadis seperti pemenggalan, karena kelompok ini kan memang untuk memberikan ketakutan pada masyarakat," jelas Ridwan.

Menurutnya, secara jalur organisasi, Mujahidin Indonesia Timur (MIT)‎ yang merupakan organisasi basis perjuangan Ali Kalora sudah terpisah dengan ‎induknya Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Hal itu seiring dengan kematian pimpinan MIT Santoso dua tahun lalu. Dengan kematian Santoso, maka Ali bersama MIT sudah tidak diakui lagi dalam struktur jaringan tersebut.

"‎Setelah kematian Santoso sudah tidak strategis membangun koidah‎ aminah di Poso. Maka yang ada sekarang adalah hanya simpatisan kecil. secara jaringan, mereka sudah tidak ada," tuturnya.

Dia menegaskan Ali bukan seorang kombatan ISIS dan bukan pula seorang ideolog, berbeda dengan Santoso yang bisa merakit bom dan seorang ideolog. Ali dan kelompoknya hanya mau menegakkan ego pribadi untuk sebuah pengakuan. Namun sesungguhnya, gerakan mereka sudah tidak dianggap oleh pimpinan induknya yang berada di JAD.

"Ini seperti menjaga ego saja. Bukan kombatan, bukan ideolog juga. Sudah tidak relevan dia berjuang. Sudah tidak relevan berjuang untuk khalifah. Ini hanya ego 7 orang saja karena pimpinan pusat sudah melupakan mereka," tegas Ridwan.

Magnet
Sementara itu pengamat terorisme dari Certified Counter Terrorism Practitioner (CCTP) Rakyan Adibrata mengemukakan untuk wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), hanya Ali yang masih bisa menjadi tokoh yang bisa menarik jihadis bergabung dengan MIT‎. Hal itu mengingat MIT merupakan satu-satunya kelompok pro ISIS di Indonesia yang memiliki wilayah operasi yang jelas.

Di sisi lain, wilayah Poso sangat cocok bagi kelompok Ali dalam beroperasi karena‎ memiliki hutan yang luas dan lebat.

"Terlalu luas untuk dilakukan penyekatan oleh aparat TNI dan Polri. Kemudian masih ada beberapa jihadis baru yang bergabung dengan MIT," kata Rakyan di Jakarta, Kamis (3/12).

Ia tidak yakin kelompok Ali ini akan mengganggu jalannya pemilu walaupun di level provinsi, karenajumlah mereka sangat sedikit.

Terkait upaya kontra radikalisasi dan deradikalisasi, dia berpandangan harus terus berjalan. Namun pemerintah harus secara tegas mengambil langkah serius seperti menutup total aplikasi Telegram di Indonesia. Alasannya hingga sekarang Telegram masih dipakai untuk komunikasi antar sesama jihadis.

"Pemerintah harus tegas soal ini, jika mau mempersempit ruang gerak teroris," tuturnya.

Sementara terkait‎ revisi UU Antiterorisme, dia menegakasn ada dua Peraturan Pemerintah dan dua Peraturan Presiden yang masih disusun oleh pemerintah sebagai turunan dari hasil revisi UU. Salah satunya adalah Perpres yang mengatur tentang peran TNI dalam penanggulangan terorisme. Perpres tersebut harus segera selesai agar memperjelas Standar Operasi (SOP) dan aturan kerjasama pelibatan.

"Bukan perbantuan tapi pelibatan. Konsep ini mungkin yang memakan waktu penyusunannya," tutup Rakyan.



Sumber: Suara Pembaruan

Ali Kalora Dulunya Penunjuk Jalan Santoso


Yeremia Sukoyo / HA Jumat, 4 Januari 2019 | 03:50 WIB

Jakarta - Setelah pentolan jaringan teroris Poso, Santoso, tewas di tangan aparat pada Juli 2016 dan tangan kanannya Basri juga tertangkap pada September 2016, kini muncul kembali aksi teror di Poso yang dipimpin Ali Kalora.

Kelompok ini melancarkan aksi teror menjelang penutupan akhir tahun. Jaringan Ali, yang merupakan pengikut Santoso, diduga membunuh dan memmutilasi seorang warga, lalu menembak dua polisi di Parigi Moutong pada 30 Desember silam.

Mantan Komandan Negara Islam Indonesia (NII) sekaligus pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menjelaskan, Ali selama ini memang diketahui berafiliasi dengan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang beroperasi di wilayah Poso dan Parigi Moutong.

"Ali di kelompok MIT dan dekat dengan Santoso, awalnya sebagai petunjuk jalan. Ali dikenal bukan sebagai ahli ibadah tapi di MIT terkenal sebagai pemberani. Dia punya mental nekat, makanya di kalangan mereka cukup disegani," kata Ken di Jakarta, Kamis (3/1).

Ken berpendapat aksi teror kembali terjadi di wilayah Poso karena kelompok teroris yang ada di Indonesia menilai saat ini gerakan pendirian khilafah menjadi kendur. Kondisi ini membuat mereka marah, kata Ken.

"Mereka (aksi kelompok teroris) muncul sebagai bentuk kemarahan sebab akhir-akhir ini isu khilafah mengendur karena faktor politik yang tidak berpihak pada mereka," ucapnya.

Saat ini mereka berharap dalam pemilihan presiden ada isu tentang agama yang mengusung khilafah supaya masyarakat terprovokasi dan mudah mengadu domba umat Islam. Namun, isu khilafah kendur sebab salah satu capres yang diharapkan kini justru terpojok dengan isu agama, kata Ken tanpa mengelaborasi lebih jauh.

Menurut Ken, jaringan Ali memang tidak besar, tetapi mereka punya kemampuan dan keberanian yang cukup tinggi, sehingga yang bersangkutan bisa melakukan aksi kapan pun dan di mana pun yang dia mau.

"Ini yang harus diwaspadai. Satu orang saja buat aksi bom, maka dipastikan negara ini akan heboh," ujarnya.

Dikatakan Ken, upaya deradikalisasi yang sekarang dilakukan belum cukup efektif karena yang disentuh dominan hanya para mantan yang pernah terlibat kasus terorisme.

Penanganan terorisme juga dianggap banyak menimbulkan jaringan teroris baru. Dicontohkan, bila seseorang berkawan, lalu kawan tersebut melakukan terorisme dan menginap barang semalam, maka kawan tersebut juga terkena pasal terorisme.

Padahal, ada yang memang tidak tahu-menahu tapi tiba-tiba ditangkap dengan pasal terorisme.

"Otomatis anak dan keluarganya tidak terima dan berujung benci kepada negara karena dianggap tidak adil. Ini yang juga menimbulkan jaringan baru terorisme," kata Ken.

Saat ini, UU Antiterorisme justru akan membuat marah kelompok teroris, sebab jaringan dan langkah kelompok teroris akan semakin sempit.

"Persoalan utama menurut saya adalah kita tidak kompak dalam menangani masalah ini, dan kita belum merasa terancam. Padahal para pelaku terorisme itu memposisikan kita sebagai lawan atau musuh yang harus dibinasakan. Sebab kita dianggap kafir karena masih berhukum Pancasila yang mereka anggap sebagai taghut atau berhala," ungkapnya.

Karena itu dirinya berharap semua pihak dapat bersatu melawan aksi terorisme. Salah satu cara sederhananya yakni harus membentengi keluarga dan lingkungan dari bahaya radikal dan terorisme.



Sumber: Suara Pembaruan

Sepak Terjang Teroris MIT Ali Kalora


Farouk Arnaz / FMB Kamis, 3 Januari 2019 | 13:13 WIB

Jakarta— Polisi telah menuding Ali Kalora sebagai pentolan kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang beroperasi dan bergerilya di kawasan pegunungan di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Nama aslinya Ali Ahmad namun karena berasal dari desa Kalora di pesisir Poso sehingga dia dipanggil Ali Kalora, dan diyakini sudah bergerilya bersama MIT sejak 2011 lalu. Kini dia bergerilya bersama 10 orang simpatisannya.

“Nilai plus Ali bisa terpilih jadi pimpinan MIT karena dia yang tahu seluk beluk hutan dan wilayah di gunung. Karena dia orang Kalora sehingga masih banyak keluarga dan simpatisannya. Paling vokal-lah,” kata anggota polisi yang tahu soal Ali saat ditanya Beritasatu.com pada Kamis (4/1).

Dari data yang didapat Beritasatu.com, 10 orang DPO pengikut Ali memang kebanyakan berasal dari Bima, NTB. Sebut saja Qatar alias Farel, Nae alias Galuh, Basir alias Romzi, Abu Alim dan Kholid.

Memang ada Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar yang juga asal Poso tetapi dia diketahui masih junior. Dia tidak semilitan Ali yang bahkan mengajak istrinya —yang asal Bima— bergerilya di hutan sebelum istrinya itu ditangkap.

Tini Susanti Kaduku alias Umi Fadel ditangkap di Poso Kota, Oktober 2016 dalam keadaan hamil delapan bulan. Belakangan dia divonis 3 tahun penjara dalam sidang di PN Jakarta Timur.

Menurut sumber polisi yang lain, Ali Kalora berani beraksi belakangan ini karena pos-pos sekat Satgas Tinombala yang selama ini digelar di pegununungan biru dan tamanjeka telah ditarik ke bawah. Akibatnya mereka leluasa bergerilya.

“Buntutnya ‘kebakaran’ lagi dan kini kami diperintahkan untuk kembali melakukan penyekatan dan pengejaran di atas. Kita juga gelar pasukan lagi,” sambung sumber itu.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga pernah menyebut jika Ali adalah orang ketiga di MIT setelah Abu Wardah Asy Ayarqi alias Santoso dan Basri alias Bagong.

Santoso tewas pada 18 Juli 2016 silam di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso dan Basri ditangkap bersama istrinya, Nurmi Usman alias Oma, pada 14 September 2016. Maka tak heran kini Ali pegang kendali dan diburu lagi.



Sumber: BeritaSatu.com

Regenerasi Sel Teroris MIT Dipimpin Ali Kalora


Farouk Arnaz / FMB Kamis, 3 Januari 2019 | 13:00 WIB

Jakarta— Sel teroris dipastikan masih terus beregenerasi. Termasuk sel kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang beroperasi dan bergerilya di kawasan pegunungan di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Pascatewasnya Abu Wardah Asy Ayarqi alias Santoso pada 18 Juli 2016 silam di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, kelompok yang berbait pada ISIS itu masih tetap eksis.

Awalnya setelah ditinggal Santoso, pimpinan diambil Basri alias Bagong hingga kemudian dia disergap polisi bersama istrinya, Nurmi Usman alias Oma, pada 14 September 2016.

Kini pimpinan MIT —yang dulu sempat diperkuat foreign terror fighter (FTF) dari suku Uighur, Tiongkok itu— berubah. MIT dipimpin oleh Ali Kalora dan diperkirakan punya 10 orang anggota.

Ali Kalora menjadi buruan utama Operasi Tinombala, yang merupakan lanjutan dari Operasi Camar Maleo IV. Operasi Tinombala mulai berjalan sejak 10 Januari 2016 dan berhasil melumpuhkan sekitar 30 orang teroris itu.

“Saat ini sel teror paling aktif di Sulteng ya MIT ini. Yang lain terus kami waspadai bersama dengan Densus 88/Antiteror,” kata Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius saat dihubungi Beritasatu.com Kamis (4/1).

Muncul dan aktifnya Ali Kalora, kata mantan Kabareskrim Polri ini, “sebagai konsekuensi karena dia salah satu tokoh yang belum tertangkap. Terus kita kejar.”

Saat dikejar itulah Ali Kalora berulah. Mereka memutilasi Ronal Batau alias Anang (34), penambang emas tradisional di Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong yang bertetangga dengan Poso. Jenazah Ronal yang dipenggal kepalanya itu ditemukan Minggu (30/12/2018) sekitar pukul 11.00 WITA.

Tak berhenti di sini, saat polisi mengevakuasi jenazah Ronal mereka juga menyerang. Anggota Resmob Satgas 3 Tinombala Bripka Andrew Maha Putra dan anggota Sat Intelkam Polres Parigi Moutong Bripda Baso terluka tembak.

“Satgas Tinombala, gabungan TNI-Polri, saat ini sudah mengerucut dan terus melakukan pengejaran terhadap beberapa tersangka yang diduga melakukan perbuatan melawan hukum itu,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Rabu (3/1).

Polisi yakin jika pelakunya adalah Ali Kalora cs setelah mendapatkan seorang saksi yang kini sudah diamankan oleh Satgas. Saksi tersebut mengonfirmasi sosok pelaku setelah diperlihatkan foto-foto DPO yang dimiliki Polda Sulteng.

“Saksi kunci sudah membenarkan 100 persen. Dia mengkonfirmasi satu-satu foto yang dikenali oleh saksi yang melihat peristiwa pembunuhan tersebut. Jumlah mereka tidak banyak, kecil, jumlahnya 10 orang,” lanjutnya.

Juga sudah diidentifikasi kekuatannya di mana mereka hanya memiliki tiga senjata. Dua senjata laras panjang di mana satu rakitan dan satu senjata laras pendek jenis rakitan. Sisanya senjata tajam.

Dari data yang didapat Beritasatu.com, 10 orang DPO itu adalah Ali Kalora alias Ali Ahmad, Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar asal Poso, Qatar alias Farel asal Bima NTB, Nae alias Galuh asal Bima NTB, Basir alias Romzi asal Bima NTB, Abu Alim dan Kholid asal Bima NTB.

Lalu ada tiga pendatang baru Alhaji Saliki, Rajif Gandi Sabban alias Rajjes, dan Raditya alias Adid. Mereka bertiga ini masuk saat Operasi Tinombala terus mengejar mereka dan menjadi bukti ideologi mereka masih menarik pengikut baru.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada rilis akhir tahun di Mabes Polri Kamis (27/12) lalu —sebelum Ali Kalora beraksi— mengakui jika aksi teror sepanjang tahun 2018 memang naik 42 persen dibanding 2017.

Jika pada 2017 ada 12 kasus maka pada 2018 ada 17 kasus. Pun pelaku teror yang ditangkap meningkat 113 persen pada 2018 ini menjadi 396 pelaku. Padahal tahun 2017 hanya 176 orang.

Ini tak lepas dari adanya UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menurut Tito mempermudah polisi menjerat teroris.

UU yang lahir pascabom bunuh diri di sejumlah gereja di Surabaya itu lebih bergigi karena memberi ruang mengkriminalisasikan pelaku teror saat masih di awal keterlibatan mereka.

“Ini bagus sehingga Polri bisa mencegah atau melakukan preemptive strike daripada menunggu ada barang bukti terlebih dahulu," kata Tito saat itu.

Polisi langsung bisa beraksi tatkala pelaku teror hanya terbukti berafiliasi dengan organisasi/korporasi yang sudah dilarang seperti dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Sepanjang sudah bisa dibuktikan ada kaitan dengan JAD sudah bisa ditangkap-tangkapi sebelum mereka beraksi,” sambung Tito.

Selain MIT, JAD memang juga diketahui sebagai sel teror paling aktif saat ini. Namun JAD beroperasi di Jawa meski mereka ada irisannya dengan MIT karena sama-sama mendukung ISIS.

“Di Jawa, JAD yang masih dominan. Mereka ini yang terus kita tangkapi pasca-Bom Surabaya. Prinsipnya kita harus selalu mendahului,” kata penyidik Densus 88 saat dihubungi Kamis pagi.

Target utama jaringan teror ini tetap personil Polri. Jika pada tahun 2017 ada 18 polisi jadi korban, maka tahun 2018 ada 31 orang polisi yang jadi korban.



Sumber: BeritaSatu.com

CLOSE