Menanti Imunisasi Massal Vaksin Covid-19
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Home > Fokus > Menanti Imunisasi Massal Vaksin Covid-19

Menanti Produksi Vaksin Covid-19

Minggu, 16 Agustus 2020 | 02:55 WIB
Oleh : Dina Manafe / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Situasi pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum menunjukkan adanya penurunan jumlah kasus positif. Di tengah fakta bahwa hingga saat ini belum ditemukan obat yang spesifik Covid-19, pengujian vaksinnya mulai menunjukkan titik terang. Masyarakat tentu sangat berharap vaksin ini segera digunakan sebagai upaya preventif penanganan Covid-19.

Pada Selasa (11/8/2020) di Bandung, Jawa Barat, kandidat vaksin Covid-19 mulai dilakukan uji klinis fase III atau tahap akhir oleh PT Bio Farma. Pelaksanaannya ditinjau langsung oleh Presiden Joko Widodo. Uji klinis fase III ini ditandai dengan proses screening kesehatan dan pemberian vaksin Covid-19 pada sukarelawan (subjek) uji klinis di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ambil bagian dengan menjadi salah satu sukarelawan.

Jika semua proses uji klinis fase III berjalan baik, ditargetkan awal 2021 vaksin sudah bisa diproduksi. Pemerintah sedang mempersiapkan fasilitas untuk memproduksi 100 juta dosis per tahun. Jumlah ini akan terus ditingkatkan kapasitasnya sehingga total menjadi 250 juta dosis setahun.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Bambang Brodjonegoro mengatakan, tim nasional pengembangan vaksin yang dipimpin oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Kementerian Kesehatan (Kemkes), dan Kementerian BUMN terus berkoordinasi untuk mencari vaksin yang kemungkinan lebih cepat dinyatakan sebagai vaksin Covid-19.

Sejauh ini, dari monitor Badan Kesehatan Dunia (WHO) ada tiga pengembang yang posisi pengembangan vaksinnya paling cepat, di mana sudah masuk uji klinis tahap III. Ketiganya adalah Sinovac Biotech Tiongkok yang bekerja sama Bio Farma, Astra Zeneca-Oxford Inggris, dan Moderna Amerika. Indonesia salah satu negara yang mendapatkan tempat sebagai uji klinis fase III khusus untuk vaksin Sinovac.

Sinovac sebagai pengembang kandidat vaksin. Bibit vaksin diimpor oleh Indonesia melalui mekanisme persetujuan pemasukan obat jalur khusus (special access scheme). Dalam kerja sama juga bakal terjadi transfer teknologi untuk pengembangan produksi vaksin secara lokal. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), vaksin Sinovac telah melalui serangkaian tahap pre-klinis serta uji klinis fase I dan fase II di Tiongkok.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji klinis tersebut, Badan POM telah mengevaluasi dan menunjukkan hasil yang mendukung untuk dilakukan tahapan uji klinis berikutnya, yaitu uji klinis fase III.

Selain Indonesia, uji klinis fase III vaksin Sinovac ini juga sedang dilakukan di Brasil, Cile, Bangladesh, dan Turki. Vaksin Sinovac adalah satu dari tujuh kandidat vaksin di dunia yang masuk uji klinis tahap III. Setelah uji klinis fase akhir, vaksin ini bakal diproduksi oleh Bio Farma kemudian didistribusi atau digunakan oleh Kemkes untuk vaksinasi massal.

Uji vaksin di Brasil.

Menurut Bambang, kalau bibit vaksin ini sudah diuji klinis di Indonesia maka prosesnya dan hasilnya bisa dilihat langsung oleh Badan POM sehingga bisa dinyatakan sebagai vaksin Covid-19 untuk digunakan di Indonesia.

Dibutuhkan waktu tiga bulan untuk melakukan uji klinis tersebut dimulai Agustus 2020. Setelah ada hasil uji klinis, perlu izin edar dari Badan POM. Januari 2021, pemerintah berharap Bio Farma sudah mulai memproduksi vaksin yang pengembangannya dilakukan oleh Sinovac.

Menurut Dirut PT Bio Farma (Persero), Honesti Basyir, pihaknya akan mempercepat ketersediaan vaksin Covid-19. Kolaborasi dengan Sinovac Biotech Ltd Tiongkok dan The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) merupakan upaya jangka pendek.

CEPI atau Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi adalah koalisi antara pemerintah dengan swasta untuk menanggulangi epidemi dengan mempercepat pengembangan vaksin. Kantor pusat CEPI berada di Norwegia. PT Bio Farma menjadi salah satu pabrikan vaksin yang ditunjuk CEPI untuk membuat vaksin Covid-19 secepatnya.

Sedangkan untuk kolaborasi dengan Sinovac Biotech, Bio Farma sudah mendapatkan izin Kemkes dan Badan POM terkait protokol uji klinisnya.

Anggaran untuk memproduksi vaksin ini diestimasikan sekitar Rp103,7 miliar, terdiri dari Rp 63,2 miliar untuk pengembangan vaksin nasional, dan Rp 40,5 miliar untuk keperluan pre klinis kolaborasi Sinovac dan CEPI.

Pembiayaan pengembangan vaksin ini paling cepat menggunakan anggaran pemerintah. Salah satunya anggaran di Kemristek untuk membiayai mulai dari tahap pengembangan, uji pre klinis, hingga uji klinis.

Menurut Menkes Terawan Agus Putranto, kolaborasi internasional bukan hanya antara Bio Farma dengan Sinovac Biotech. Kolaborasi PT BCHT Teknologi Indonesia dengan China National Biotech Group (CNBG) dengan persetujuan izin edar direncanakan awal Mei 2021.

Terkait perusahaan ini Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah serius bekerja sama dengan pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengembangkan vaksin Covid-19. Perusahaan teknologi UEA, Group 42 (G42), ternyata bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, yaitu CNBG, dalam pengembangan vaksin di bawah supervisi Departemen Kesehatan UEA.

“Mereka (UEA) bekerja sama dengan Tiongkok sudah menemukan pada tahap ketiga vaksin Covid-19. Dengan kata lain, Indonesia didorong jadi produsen vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh riset Abu Dhabi dan Tiongkok. Finalnya itu akan diadakan di Indonesia dan bisa langsung produksi," kata Luhut akhir Juni lalu.

Selain itu, PT Kalbe Farma dengan Genexine Korea Selatan dengan target persetujuan izin edar Agusus 2021.

Vaksin Merah Putih
Upaya penyediaan vaksin bukan hanya melalui jalur kerja sama dengan pengembang luar negeri.
Pemerintah juga sedang berupaya mengembangkan vaksin sendiri, terutama dari virus SARS Cov-2 yang bertransmisi di Indonesia. Vaksin buatan Indonesia ini nantinya disebut vaksin merah putih, dan saat ini sedang dipersiapkan di bawah koordinasi Kemristek/Badan Riset Nasional.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman memimpin Konsorsium Vaksin Covid-19 Nasional untuk mengembangkan Vaksin Merah Putih. Menurut Menkes Terawan, kolaborasi Kemristek dan Lembaga Eijkman melibatkan sejumlah instansi seperti Balitbangkes Kemkes, Bio Farma, perguruan tinggi seperti Unair. Dalam proyek ini Bio Farma berperan memproduksi setelah bibit vaksin ditemukan. Diharapkan pada pertengahan 2021 nanti, Vaksin Merah Putih sudah bisa diproduksi.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio mengakui pengadaan Vaksin Merah Putih membutuhkan waktu lama karena pengembangannya sedikit terlambat dibandingkan negara lain. “Kita mulai sudah agak terlambat,” kata Amin dalam diskusi virtual, Sabtu (15/8/2020).

Meski begitu, Lembaga Eijkman tetap berupaya memperpendek proses tahapan pengembangan vaksin buatan Indonesia ini, sehingga dapat mengimbangi kehadiran vaksin Sinovac Tiongkok.

Protokol
Badan POM memastikan uji klinis vaksin produksi Sinovac dilaksanakan sesuai dengan protokol. Ini sebagai bagian dari tugas dan fungsi Badan POM sebagai otoritas obat di Indonesia untuk melakukan clinical trial oversight. Pendampingan dilakukan Badan POM bertujuan agar vaksin yang dihasilkan dapat benar-benar memberikan khasiat dengan keamanan dan kualitas yang terjamin, serta tersedia dalam jangka waktu sesuai yang diharapkan.

“Ketersediaan vaksin Covid-19 menjadi harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu aspek kehati hatian dan ketepatan dalam pelaksanaan prosedur uji klinis harus menjadi perhatian bersama,” kata Kepala Badan POM, Penny Kusumastuti Lukito.

Selain memberikan persetujuan pelaksanaan uji klinis, Badan POM juga melakukan inspeksi cara uji klinis yang baik (CUKB). Inspeksi ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa pelaksanaan uji klinis sesuai protokol yang disetujui dan prinsip-prinsip CUKB dipenuhi oleh peneliti dan sponsor.

Pelaksanaan uji klinis yang baik akan menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara etik maupun ilmiah sebagai produk aman, bermutu, memiliki khasiat atau efikasi. Merupakan tugas Badan POM dalam mengawal khasiat dan keamanan obat sebelum dan sesudah beredar.

Badan POM juga akan memberikan asistensi dalam proses registrasi melalui mekanisme emergency use authorization (EUA) dengan conditional approval untuk mempercepat akses vaksin Covid-19 sampai ke masyarakat.

Menurut Penny, uji klinis merupakan tahapan penting dalam pengembangan vaksin untuk mendapatkan data khasiat dan keamanan yang valid. Uji klinis harus memenuji aspek ilmiah dan menjunjungi tinggi etika penilaian sesuai dengan pedoman CUKB. Hasil uji ini dibutuhkan untuk mendukung proses registrasi vaksin Covid-19.

Vaksin yang diuj juga harus diproduksi sesuai dengan standar CPOB. Khusus untuk vaksin dilakukan sertifikasi lot release oleh Badan POM untuk menjaga keamanan dan mutu vaksin.

Pekerjaan penanggulangan Covid-19 belum selesai meski nanti vaksin telah mulai diproduksi massal. Pasalnya, kapasitas produksi masih belum mencukupi. Menurut Amin Soebandrio, untuk mendapat perlindungan yang memadai, harus dipastikan 70 persen penduduk kebal virus melalui vaksinasi.

Mengacu jumlah penduduk sebanyak 260 juta orang maka Indonesia butuh 70 persennya atau sekitar 175 juta vaksin. Padahal satu orang butuh dua kali vaksinasi. Karena itu dibutuhkan sekitar 350 juta vaksin. Seperti disebutkan sebelumnya, kapasitas produksi kita baru 100 juta dosis per tahun. Jumlah ini akan terus ditingkatkan sehingga  250 juta dosis setahun.



Erick Thohir: Imunisasi Massal Covid-19 Paling Lambat Februari 2021

Kamis, 13 Agustus 2020 | 18:53 WIB
Oleh : Farouk Arnaz / Anselmus Bata

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir mengatakan apabila uji klinis fase III vaksin Covid-19 terhadap 1.620 relawan berjalan baik, maka imunisasi massal bisa dilakukan pada Januari atau paling lambat Februari 2021.

"Alhamdulillah, ini aman dan dipastikan halal. Makanya, pada uji perdana pihak MUI hadir untuk melihat bagaimana proses dari pada vaksin perdana ini. Jadi insyaallah kita bisa kasih lihat kepada bangsa lain, kita tidak ketinggalan," kata Erick di Mabes Polri Jakarta, Kamis (13/8/2020).

Program vaksinasi Covid-19, lanjutnya, akan berada di bawah kendali TNI dan Polri.

“Komite ini tidak memegang uang, tetapi kita memastikan percepatan, support, dan sinkronisasi. Program-program harus tetap di bawah kementerian, kecuali presiden yang sudah putuskan untuk imunisasi massal ada di bawah TNI/Polri," katanya.

Menurut menteri BUMN ini, uji coba perdana vaksin Covid-19 hasil kerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, Sinovac tergolong cepat. Hal itu membuktikan pada dunia bahwa Indonesia merupakan bangsa yang serius bekerja.

“Kadang pemberitaan di media-media luar itu seakan-akan kita tidak berdaya pada Covid-19, padahal kita ketahui bagaimana TNI/Polri dan seluruh bangsa kita memastikan tidak ada yang namanya antrean rumah sakit, (tak ada) antrean makanan. Karena itu, kemarin bangsa-bangsa lain juga cukup kaget ketika kita berhasil melakukan uji vaksin perdana pada 11 Agustus," kata Erick.



Kerelaan Para Relawan untuk Tuntaskan Pandemi Covid-19

Sabtu, 15 Agustus 2020 | 09:25 WIB
Oleh : Adi Marsiela / Asnie Ovier

Bandung, Beritasatu.com - Puluhan relawan uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech, sebuah perusahaan farmasi asal Tiongkok. sudah mengikuti proses penyuntikan tahap pertama. Sebagian besar dari relawan itu mengaku optimistis bahwa uji klinis ini bisa sukses dan tidak menimbulkan efek samping.

Ferry Ahmad Firdaus, 51 tahun, sangat berharap partisipasi keluarganya sebagai relawan bisa membawa angin segar dalam upaya mengatasi pandemi Covid-19. “Makanya, saya mengajak istri dan anak buat bersama-sama menjadi relawan. Apalagi, ini menghadapi ulang tahun kemerdekaan kita yang ke-75 tahun, yang semoga ini menjadi sumbangsih bagi negara,” kata Ferry seusai menjalani penyuntikan vaksin tahap pertama di Klinik Kesehatan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jumat (14/8/2020).

Alasan serupa disampaikan relawan lainnya, Ashari Zain, 28 tahun. Peneliti di PT Bio Farma ini sengaja mendaftarkan diri menjadi relawan karena ingin ikut mengambil bagian dalam upaya mengatasi pandemi. “Semoga saja nanti vaksinnya bisa dipakai dan diproduksi,” imbuh Ashari.

Proses uji klinis gelombang pertama di klinik ini melibatkan 21 relawan. Satu relawan harus kembali datang untuk mengikuti proses penyuntikan, karena saat pemeriksaan fisik, tekanan darahnya terbilang tinggi. Sementara, sisanya yang sudah menjalani penyuntikan harus mencatat gejala-gejala fisik dan yang mereka rasakan dalam jeda 14 hari ke depan.

Indikator-indikator itu, kata Ashari, brupa nyeri lokal, ruam kemerahan, penebalan kulit, serta pembengkakan pada posisi penyuntikan. Selain itu, ada juga gejala umum yang harus mereka catatkan dalam lembar pemantauan yang diberikan tim peneliti. Gejala umum itu antara lain, suhu tubuh, badan lemas, nyeri otot, serta keluhan lainnya. “Pencatatan setiap hari selama 14 hari,” terangnya.

Setiap catatan itu dipermudah dengan panduan di belakang lembar pemantauan. Setiap keluhan dikategorisasikan dalam empat tingkat. Kolom angka nol menandakan tidak ada keluhan atau gejala, sementara kolom angka empat menandakan adanya gejala berat seperti suhu tubuh melebihi 39 derajat Celcius, ada nyeri otot yang dapat menganggu aktivitas, hingga rasa nyeri pada lengan yang membuat kesulitan bergerak.

Selain lembar pemantauan gejala fisik, setiap relawan juga mendapat lembar panduan surveilans untuk 14 hari ke depan. Lembaran ini dipakai apabila relawan melakukan perjalanan ke daerah dengan zona kewaspadaan sedang hingga tinggi sampai menjalani pemeriksaan dan perawatan.

Nur Hidayat, 28 tahun, relawan yang juga peneliti obat di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan, berbagai catatan itu membuktikan uji klinis vaksin ini memang sangat komprehensif.

Para relawan berjenis kelamin perempuan, yang sudah menikah atau belum harus mengikuti pengecekan kehamilan lewat pemeriksaan urine. Sejak awal, uji klinis ini mensyaratkan subjek penelitian tidak boleh dan bakal menjalani proses kehamilan selama tujuh bulan.

“Ibaratnya, kita menjalani general check-up karena semua diperiksa dan dicatat,” imbuh Nur Hidayat.

Dia juga mengapresiasi tim peneliti yang memberikan keleluasaan pada subjek penelitian untuk sewaktu-waktu mundur dari prosesnya apabila merasa ada hal yang tidak disepakati atau menganggunya. “Relawan mendapatkan jaminan, boleh berhenti sewaktu-waktu jika ada keluhan. Ada juga jaminan asuransi,” kata dia.

540 Sampel Darah
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Kusnandi Rusmil mengatakan, dibutuhkan 1.620 relawan yang bakal menjalani proses di enam pusat penelitian. Masing-masing di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Balai Kesehatan Unpad, Puskesmas Sukapakir, Puskesmas Garuda, Puskesmas Ciumbuleuit, dan Puskesmas Dago.

“Sampai hari ini sudah dapat dua ribuan relawan yang mendaftar,” kata Kusnandi.

Soal tahapan uji klinis ini, Kusnandi menuturkan, tim bakal fokus memeriksa 540 sampel darah relawan guna mengetahui imunogesitas, keamanan, serta efficacy atau keampuhan vaksin tersebut. Sementara, pemeriksaan sampel darah 1.080 relawan lainnya difokuskan untuk mengetahui efek keamanan dari vaksin.

“Yang awal (540 relawan) kita perkirakan selesai sebelum Desember 2020 sehingga (tim) bisa membuat laporan,” imbuh Kusnandi.

Dua gelombang besar relawan itu, ujar Kusnandi, mendapatkan suntikan vaksin dan placebo berupa air secara acak. “Saya juga tidak tahu siapa yang dapat vaksin atau placebo,” kata Kusnandi.

Dijelaskan, manfaat dari pemberian placebo itu untuk membantu tim peneliti dalam membandingkan hasil atau dampak dari proses penyuntikan vaksin. “Kami mau melihat efektivitas vaksin dibandingkan dengan yang dapat placebo. Berapa banyak yang (mungkin) terkena Covid-19. Jadi, kami ikuti terus,” papar Kusnandi.

Meski tidak ada kepastian mendapatkan vaksin pada proses penyuntikannya, para relawan mengaku tidak khawatir. Nur Hidayat mengatakan, dirinya sangat percaya proses penyuntikan itu aman bagi dirinya.

“Saya mah percaya, tidak akan kena symptom (gejala) yang parah juga (jika disuntik placebo),” tegasnya.

Sementara, Ferry yang datang bersama istri Dewi Diana Sari, 49 tahun dan putri sulungnya, Ezra Pratiwi, 23 tahun, juga mengaku tidak khawatir dengan penyuntikan yang dijalaninya. “Karena sudah dijelaskan dari awal oleh tim peneliti. Buat yang dapat suntikan placebo pada bagian akhir penelitian juga bakal tetap mendapat vaksin. Ada enam tahapan yang harus kami jalani, sekarang ini baru tahapan dua,” kata Ferry.



Lima Miliar Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Dipesan

Kamis, 13 Agustus 2020 | 18:51 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / Yuliantino Situmorang

Washington, Beritasatu.com - Meskipun belum ada vaksin virus corona yang terbukti kemanjurannya dalam uji klinis, setidaknya 5,7 miliar dosis telah dipesan lebih awal di seluruh dunia.

Pengiriman pertama vaksin Covid-19 yang dibuat oleh laboratorium Barat sering kali diambil alih oleh Amerika Serikat (AS). Lima vaksin yakni tiga dari Barat dan dua dari Tiongkok, berada dalam uji kemanjuran Fase 3 yang melibatkan ribuan orang.

Dalam pengumuman yang mengejutkan, pada Selasa (11/8/2020), Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim vaksin yang dijuluki "Sputnik V" - diambil dari nama satelit Soviet - memberikan "kekebalan berkelanjutan" terhadap virus corona baru.

Saat laboratorium penelitian di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin, para produsen telah menerima pembiayaan untuk membantu persiapan jutaan dosis yang diberikan pada tahun 2021 atau bahkan sebelum akhir tahun 2020.

Universitas Oxford, bekerja sama dengan grup farmasi Swedia-Inggris AstraZeneca, berharap mendapatkan hasil pada September 2020. Sementara perusahaan biotek AS Moderna yang bermitra dengan Institut Kesehatan Nasional AS (NIH), menargetkan akhir tahun, mungkin November.

Presiden Donald Trump telah meluncurkan "Operation Warp Speed" dalam upaya untuk mengembangkan, memproduksi, dan mendistribusikan vaksin Covid-19 ke semua warga Amerika pada Januari 2021.

Ratusan juta dolar telah diarahkan ke pengembang vaksin termasuk hampir US$ 500 juta (Rp 7,35 triliun) kepada Johnson & Johnson pada akhir Maret.

AS telah mengalokasikan dana ke lebih banyak perusahaan daripada negara lain dengan harapan salah satu dari mereka akan menghasilkan vaksin untuk melawan Covid-19 yang sangat menular.

Sejauh ini, Washington telah membagikan setidaknya US$ 9,4 miliar kepada tujuh pengembang vaksin dan menandatangani kontrak manufaktur dengan lima di antaranya untuk menyediakan 700 juta dosis.

Perusahaan yang terlibat adalah: Johnson & Johnson, Moderna, Oxford / AztraZeneca, Novavax, Pfizer / BioNTech, Sanofi / GSK, Merck Sharp dan Dohme.

Dua pengembang vaksin yakni Oxford / AztraZeneca dan Sanofi / GSK, telah menandatangani atau sedang dalam negosiasi lanjutan dengan Komisi Eropa untuk memberikan gabungan 700 juta dosis vaksin.

Inggris, karena Brexit, sedang menegosiasikan pra-pemesanan 250 juta dosis terpisah dari empat pengembang.

Jepang mengandalkan 490 juta dosis dari tiga pemasok termasuk 250 juta dari Novavax di Amerika Serikat. Raksasa farmasi Jepang Takeda membeli hak atas vaksin Novavax untuk Jepang, yang mendanai penelitian tersebut. Vaksin itu akan diproduksi secara lokal.

Brasil memilih model serupa, memesan 100 juta dosis dari AstraZeneca, dan bermitra dengan Sinovac Tiongkok untuk memproduksi 120 juta "CoronaVac", yang sudah menjalani pengujian dengan orang Brasil.

Uji klinis dari dua kandidat vaksin Tiongkok yakni Sinovac dan Sinopharm - sedang berjalan dengan baik tetapi hanya beberapa kemitraan internasional yang diumumkan, satu dengan Brasil dan satu kemungkinan dengan Indonesia.

Rusia mengatakan 20 negara telah memesan satu miliar dosis Sputnik V di muka dan dengan mitra asing akan dapat memproduksi 500 juta dosis setahun di lima negara.

The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), yang diluncurkan pada tahun 2017 oleh Norwegia, India, Bill and Melinda Gates Foundation dan Wellcome Trust, berupaya memastikan bahwa ada "akses yang adil" ke vaksin pada masa depan.

CEPI telah memesan 300 juta dosis dari AstraZeneca untuk puluhan negara berkembang dalam kemitraan dengan The Vaccine Alliance (Gavi).

Miliaran dosis akan diproduksi untuk Asia dan tempat lain oleh Institut Serum India (SII) raksasa, produsen vaksin terbesar di dunia.

Novavax dan AstraZeneca secara terpisah telah menandatangani perjanjian dengan SII untuk memproduksi satu miliar dosis masing-masing untuk India dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan syarat, tentu saja, mereka membuktikan kemanjurannya dalam uji klinis.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS