Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Menanti Jakarta Bebas Banjir

Konsistensi Mengatasi Banjir Jakarta

Jumat, 13 Januari 2023 | 08:22 WIB
Oleh : Bernadus Wijayaka / Anselmus Bata

Jakarta, Beritasatu.com - Ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan cuaca ekstrem yang bakal melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada akhir Desember 2022 hingga awal Januari 2023, warga Jakarta dan sekitarnya kembali dibayangi bencana banjir besar seperti yang terjadi pada 2002, 2007, serta awal 2020.   

Kekhawatiran akan bencana banjir besar kembali terulang tak pernah pupus dari benak warga Ibu Kota. Pasalnya, proyek utama untuk mengatasi banjir Jakarta hingga kini belum sepenuhnya rampung Dari empat proyek utama untuk mengatasi banjir Jakarta, baru satu yang tuntas, yakni pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tiga proyek lainnya, yakni merampungkan sodetan Ciliwung di Jakarta Timur, membangun tanggul raksasa di Jakarta Utara, dan melakukan normalisasi 13 sungai di Jakarta, tak mengalami kemajuan berarti. 

Ketika meresmikan Bendungan Ciawi dan Sukamahi, Jumat (23/12/2022), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan pentingnya konsistensi penyelesaian proyek pengendalian banjir Jakarta. Pertama, normalisasi 13 sungai di Jakarta. Kedua, manajemen pemompaan yang ada di waduk-waduk di Jakarta, serta ketiga, penyelesaian pembangunan tanggul laut, serta keempat, sodetan Ciliwung menuju ke Banjir Kanal Timur (BKT).

Jokowi yang pernah menjadi gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014 menegaskan siapa pun yang menjadi gubernur DKI Jakarta harus konsisten menyelesaikan normalisasi 13 sungai di Jakarta.

"Kalau tidak selesai, sampai kapan pun Jakarta akan selalu banjir. Siapa pun gubernurnya, harus konsisten menyelesaikan," tegasnya.

Infografik upaya atasi banjir Jakarta.
Infografik upaya atasi banjir Jakarta.

Bendungan dan Sodetan
Bendungan Ciawi merupakan bendungan kering yang pembangunannya dimulai sejak 2016. Bendungan ini bisa menampung kurang lebih 6,05 juta meter kubik air. Bendungan Ciawi memiliki luas genangan hingga 39,40 hektare dan mampu menampung volume air hingga 6,05 juta meter kubik. Bendungan itu dapat mereduksi air Sungai Ciliwung sebelum sampai ke Jakarta dengan kapasitas 111,75 meter kubik per detik.

Bendungan Sukamahi dibangun di atas lahan seluas 5,23 hektare dan ditargetkan dapat mereduksi air 15,47 meter kubik per detik. Bendungan ini mereduksi air dari beberapa anak sungai yang mengalir ke Ciliwung, seperti Sungai Sukabirus.

Kedua bendungan didesain untuk mengurangi debit banjir yang masuk ke Jakarta dengan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung.

Selain memiliki manfaat sebagai induk sistem pengendalian banjir Jakarta, kedua bendungan juga bisa dijadikan tempat wisata atau taman ekowisata.

Jokowi mengaku sudah membisiki Heru Budi Hartono untuk menyelesaikan proyek sodetan Ciliwung menuju BKT.

"Tadi saya sudah bisiki ke Pak (Pj) Gubernur DKI kalau Bendungan Sukamahi, Bendungan Ciawi, ditambah selesainya sodetan dari Ciliwung ke BKT, yang sekarang ini masih proses pembebasan lahan, kami harapkan bulan Maret juga sudah selesai, akan mengurangi banyak sekali wilayah yang sebelumnya tergenang menjadi tidak," kata Jokowi.

Heru Budi Hartono menyebut Bendungan Ciawi dan Sukamahi merupakan bendungan kering yang mampu mereduksi debit air Sungai Ciliwung ketika musim penghujan tiba. Kedua bendungan dibangun sebagai bentuk kesungguhan pemerintah dalam mengatasi banjir di wilayah Jabodetabek.

"Kehadiran dua bendungan memberikan optimisme bahwa banjir di Ibu Kota bisa diupayakan penanganannya," tutur Heru.

Proyek kedua bendungan ini terdapat dalam rencana induk sistem pengendalian banjir Jakarta. Dengan fungsi khusus tersebut, kedua bendungan ini masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).

Selain itu, pemerintah pusat bersama Pemprov DKI Jakarta telah menyelesaikan penambahan pintu air Manggarai dan Karet, serta tengah menyelesaikan sodetan Sungai Ciliwung ke BKT. Proyek sodetan Ciliwung kembali dilanjutkan pada 2021 setelah terhenti pada 2015 karena terganjal pembebasan lahan. Sodetan sepanjang 549 meter akan menambah panjang jalan air menuju BKT menjadi 1,26 kilometer.

Tanggul Laut
Pemprov DKI Jakarta tengah mematangkan konsep pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) karena berkaitan dengan tata ruang dan bersinggungan dengan provinsi lain.

“Kami tajamkan lagi konsepnya seperti apa, sekali lagi itu kami serahkan kepada Bappenas,” kata Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono.

Heru menuturkan rencana membangun tanggul laut raksasa mengalami dinamika konsep yang dibahas sejak 2007 hingga 2020. Konsep yang dibahas pada 2020 akan dimatangkan lagi oleh Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat. Konsep pembangunan akan selesai dibahas dalam waktu tiga bulan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pembahasannya juga melibatkan, antara lain  Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Warga menurunkan barang saat banjir di permukiman penduduk kawasan Rawajati, Jakarta, Senin, 10 Oktober 2022.
Warga menurunkan barang saat banjir di permukiman penduduk kawasan Rawajati, Jakarta, Senin, 10 Oktober 2022.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Yusmada Faizal menambahkan, selain mematangkan konsep pembangunan tanggul laut, Pemprov DKI juga sedang membahas pembiayaannya. Namun, ia belum memberikan proyeksi jumlah anggaran yang diperlukan untuk pembangunan tanggul laut tersebut

Selain tanggul laut, Pemprov DKI Jakarta bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga membangun tanggul pantai yang dilakukan secara bertahap hingga 2027. Proyek pembangunan tanggul pantai sepanjang 37 kilometer ini sampai 2022, baru berdiri sepanjang 17 kilometer. Apakah setelah 2027 Jakarta bakal bebas banjir? Wallahualam.



Atasi Banjir Jakarta, Ini Strategi Heru Budi Hartono

Senin, 17 Oktober 2022 | 17:45 WIB
Oleh : Agnes Valentina Christa / Willy Masaharu

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan perbaikan drainase dan memperkuat tanggul sebagai strategi mengatasi banjir Jakarta. Hal ini berkaitan dengan seringnya Jakarta tergenang air di kala musim hujan akhir-akhir ini.

"Di Jakarta akan dilakukan, perbaikan drainase, memperkuat tanggul, menaruh pompa di tempat strategis," ungkap Heru di Pendopo Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2022).

Heru Budi Hartono menjelaskan, ada 3 penyebab banjir di Jakarta yakni, rob, hujan yang turun, dan kiriman banjir. Ia mengatakan, terkait penyebab  rob, Pemprov DKI Jakarta akan mengantisipaai dengan membangun waduk di sekitar Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kemudian bersama dengan pusat NCID dibuat tanggul- tanggul raksasa di lokasi tertentu

"Di Jakarta Utara seperti, Cilincing. Sebagian Jakarta Barat tanggulnya harus diperbaiki," kata Heru.

Heru mengatakan, kedepan di Jakarta bisa dilakukan revitalisasi saluran-saluran drainase dan pengurasan. Ia menambahkan, hal tersebut relevan untuk dilakukan dalam waktu dekat ini. Selain itu, melakukan penguatan-penguatan rumah pompa dan menaruh pompa-pompa air di tempat strategis juga diperlukan, seperti di tempat yang sering terjadi kemacetan akibat banjir.

Berikutnya, berkaitan dengan banjir akibat kiriman air dari wilayah lain, Heru menegaskan Pemprov DKI Jakarta akan segera berdiskusi dan berkoordinasi dengan Menteri PUPR. Sehingga, bisa terjalin sinergi dalam melalui permasalahan banjir ini. Adapun waduk yang menjadi salah satu concern yakni, Waduk Ciawi, Waduk Sukamahi, dan sodetan

Terakhir, ketika ditanya mengenai rencana normalisasi sungai, Heru menyatakan, untuk menunggu saja tindakan Pemprov DKI ke depannya terkait penanganan banjir di DKI.



Banjir Jakarta, Pakar Tata Air: Ini yang Harus Dilakukan DKI

Jumat, 14 Oktober 2022 | 19:02 WIB
Oleh : Agnes Valentina Christa / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan perkiraan cuaca oleh BMKG, Jakarta akan dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Berkaitan dengan itu, Pakar Tata Air Perkotaan, Firdaus Ali mengatakan terdapat hal yang harus dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

“Di dalam Kota, Pemprov DKI Jakarta harus melaksanakan, normalisasi sungai, pembersihan drainase dan penyediaan pompa berkapasitas besar,” ujar Firdaus saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (14/10/2022).

Pertama pelaksanaan normalisasi sungai di DKI Jakarta. Firdaus mengatakan normalisasi sungai adalah cara untuk mengembalikan kapasitas alir pada air sehingga begitu hujan bisa disalurkan ke laut segera. Dia menambahkan sungai perlu dinormalisasi dikarenakan sungai di Jakarta sudah dangkal, penuh sampah, dan banyak diokupasi oleh hunian maka dari itu harus dinormalisasikan kapasitas angkut airnya.

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta lebih memilih melakukan naturalisasi bukan normalisasi. Ia menyatakan naturalisasi fungsinya sebagai keindahan atau estetika. Sementara normalisasi sungai berfungsi sebagai pengendali banjir.

“Harus dipahami nih, apakah naturalisasi jelek? Tidak , tetapi tidak tepat untuk pengendalian banjir, apakah normalisasi bagus? Ya tergantung,” ungkap Firdaus.

Kedua melakukan pembenahan drainase air. Firdaus menyatakan drainase di DKI Jakarta harus dibenahi saluran primer, sekunder dan tersiernya dikarenakan usianya sudah tua dan tidak pernah dirawat. Lalu adanya konstruksi bangunan, adanya kabel-kabel dan adanya bangunan yang dibangun diatas drainase. Dia menambahkan dengan adanya permasalah pada drainase DKI sehingga harus dibenahi dengan diperbesar.

Firdaus menjelaskan, dahulu Jakarta masih memiliki drainase yang masih hijau sehingga beban Jakarta tidak sebesar saat ini. 50 tahun sebelumnya, ketika hujan turun di Jakarta, 90% air yang turun di ruang terbuka hijau diserap oleh vegetasi dan kemudian 10% dilintaskan ke sungai. Tetapi, kondisi Jakarta sebaliknya ruang terbuka hijau semakin sedikit dan saluran drainasenya tidak diperbesar dan tidak mampu menampung beban air sehingga menyebabkan genangan banjir.

“Ini kebalik, sementara salurannya tidak membesar jadi tidak mungkin airnya tertampung,” imbuh Firdaus.

Ketiga melakukan pemasangan pompa dengan kapasitas yang besar. Firdaus mengatakan pemasangan pompa di DKI Jakarta adalah pilihan yang harus dilakukan mau tidak mau karena kondisi topografi Jakarta tidak memungkinkan dialiri secara alami, terlebih di tempat-tempat cekungan, maka harus ada sistem pompa. Penempatan pompa stasioner dan pompa yang bisa berpindah-pindah diperlukan di beberapa titik di Jakarta.

Dia menekankan, Pemprov DKI jangan hanya memperbanyak pompa air namun perlu melakukan pembesaran kapasitas daya tampungnya.Firdaus menambahkan, besarnya kapasitas pompa harus sesuai dengan beban aliran air yang masuk.

“Saya beli pompa sejuta tetapi pompa sanyo, enggak akan nendang untuk mengatasi banjir dengan kapasitas yang besar. Jadi, jangan hanya ditambah, namun kapasitasnya diperbesar,” ujar Firdaus.

Keempat, perkuat tanggul-tanggul yang ada. Firdaus mengatakan Pemprov DKI Jakarta harus memastikan kekuatan dari tanggul-tanggul yang ada kokoh dan tidak mudah roboh diterjang air. Seperti tanggul sunga di Muara, tanggul pantai harus dipastikan tanggul-tanggul tersebut kuat agar air tidak masuk ke wilayah warga dan menyebabkan banjir.

Kemudian dari keempat solusi diatas, Firdaus kembali mengingatkan meskipun hal-hal tersebut dilakukan banjir tidak akan benar-benar hilang. Tetapi dengan dilakukannya upaya-upaya tersebut banjir yang melanda Jakarta akan lebih mudah tertangani, terkelola dengan baik, hanya berlangsung di lokasi-lokasi tertentu saja serta tidak menggenangi daerah dalam waktu lama bahkan sampai menyebabkan korban jiwa dan properti di masyarakat.

Firdaus menegaskan, upaya tersebut untuk mencegah dan mengendalikan banjir. Tetapi, menurut Firdaus Pemprov DKI belum melakukan hal itu padahal kapasitas fiskal Jakarta sangat besar.

“APBD Jakarta lebih besar dari APBD 1 kementerian saat sebelum pandemi. Rata-rata selama Gubernur DKI memerintah APBD paling rendah sekitar 70-80 T per bulan dikalikan 5 tahun tentu besar,” jelas Firdaus.

Terakhir, membangun gorong-gorong raksasa di bawah tanah. Firdaus mengatakan dikarenakan lahan di Jakarta terbatas dan tidak mungkin melakukan pembebasan lahan di masa sekarang, opsi membangun gorong-gorong raksasa di bawah tanah bisa menjadi pilihan.



Camat Cilincing: Waduk Marunda Mampu Kendalikan Banjir Jakarta

Kamis, 12 Januari 2023 | 06:00 WIB
Oleh : / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Waduk Marunda di Cilincing yang saat ini sedang tahap pembangunan, disebut bakal mampu mengendalikan banjir Jakarta. Hal itu diutarakan oleh Camat Cilincing Anita Permatasari.

Menurut Anita, Waduk Marunda didesain sebagai retensi atau sarana penampung air ketika debit dari Kanal Banjir Timur dan Kali Blencong mencapai kapasitas maksimum untuk kemudian secara perlahan mengalirkan ke Sungai Tiram yang bermuara ke laut ketika debit keduanya sudah normal kembali.

"Keberadaan Waduk Marunda nantinya berfungsi sebagai penampung air, mengurangi luapan dari kali, serta mengendalikan potensi banjir ketika curah hujan tinggi," kata Anita di Jakarta Utara, Rabu (11/1/2023).

Waduk Marunda diresmikan Joko Widodosaat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 11 Februari 2014.

Jalan Kebon Pala II, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, digenangi banjir pada Rabu 12 Oktober 2022 pagi.
Jalan Kebon Pala II, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, digenangi banjir pada Rabu 12 Oktober 2022 pagi.

Selanjutnya, waduk seluas 56 hektare di Kampung Bambu Kuning RW02 Kelurahan Marunda itu kembali ditinjau pembangunannya oleh Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dan Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim pada Jumat, 16 Desember 2022 lalu.

Tampak ketika itu, jalanan di tepinya sedang terdapat aktivitas lima unit alat berat ekskavator berwarna biru.

Kedatangan Heru untuk memastikan program pembangunan waduk tersebut terus menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Diketahui, dalam anggaran pembangunan Waduk Marunda Tahap I dengan kode tender 52349127 dalam laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), pembangunan menggunakan sumber dana dari Anggaran Penerimaan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta tahun 2022 dengan pagu sebesar Rp59 miliar.



Bogor Hujan, Bendung Katulampa Siaga 3 Banjir Jakarta

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 18:53 WIB
Oleh : Vento Saudale / Willy Masaharu

 

Bogor, Beritasatu.com - Curah hujan yang tinggi di wilayah Bogor menyebabkan tinggi muka air (TMA) Sungai Ciliwung yang terpantau di Bendung Katulampa, Bogor, hingga 130 sentimeter (cm) atau dalam status Siaga 3 banjir Jakarta. Sementara 3 tiga pintu air di Jakarta waspada.

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Bogor secara merata terjadi sejak pukul 16.00 WIB, Sabtu, (15/10/2022) menyebabkan ketinggian air di Sungai Ciliwung naik ke Siaga 3 banjir Jakarta.

"Ia saat ini dalam posisi Siaga 3 banjir Jakarta," kata kepala pengawas Bendung Katulampa, Andi Sudirman, mengonfirmasi pukul 18.30 WIB.

Berdasarkan data Pos Bendung Katulampa kenaikan aliran Sungai Ciliwung cukup drastis dalam hitungan puluhan menit.

Kata dia, pada Sabtu siang, TMA Ciliwung di Bendung Katulampa masih berada dalam keadaan normal TMA 50 cm (normal) dan saat hujan sore hari naik drastis 90 cm pukul 16.08, lalu 100 cm pukul 16.20, 140 cm pada pukul 18.00, dan 130 cm.

Andi memperkirakan, TMA Ciliwung masih akan naik, mengingat curah hujan masih tinggi di hulu Ciliwung di Puncak, Cisarua.

"Diperkirakan sekitar 10 hingga 12 jam, aliran Ciliwung akan tiba di hilir Jakarta dan sekitarnya," papar Andi.

Untuk itu, ia pun mengimbau agar masyarakat di sepanjang bantaran dan hilir sungai wilayah Jakarta agar tetap waspada.

Hingga pukul 17.00 WIB, hujan deras masih berlangsung di Kota Bogor. BMKG memprediksi hujan dengan intensitas deras masih akan berlangsung hingga pukul 20.00 WIB.

Sementara tiga pintu air di Jakarta saat ini sudah dalam posisi waspada yakni Pintu Air Krukut Hulu 170 cm, juga dua pintu air di Utara Jakarta Pasar Ikan dan Marina disebakan air laut.

Sedangkan, Pintu Air Panus, Depok, masih normal di bawah 130 cm. Begitu juga dengan Pintu Air Manggarai dilaporkan belum ada kenaikkan debit air, 685 cm atau masih posisi normal.








TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


B1 Livestream

TERKINI
Viral, Rekaman CCTV Pelempar Batu Dikeroyok Sekelompok Orang Diduga Pemain Persis Solo

Viral, Rekaman CCTV Pelempar Batu Dikeroyok Sekelompok Orang Diduga Pemain Persis Solo

NEWS | 4 jam yang lalu









CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE