Mengenang Tragedi 20 Tahun Silam
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Home > Fokus > Mengenang Tragedi 20 Tahun Silam

Apa yang Terjadi Pada 11 September 2001?

Senin, 6 September 2021 | 13:44 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com – Pada hari Selasa, 11 September 2001, para pelaku serangan bunuh diri membajak sejumlah pesawat penumpang Amerika Serikat yang kemudian ditabrakkan ke dua gedung pencakar langit di New York, menewaskan ribuan orang.

Serangan itu merupakan peristiwa paling traumatik abad ini, bukan hanya bagi warga Amerika tetapi juga bagi warga dunia.

Apa saja targetnya?
Empat pesawat yang terbang di wilayah timur Amerika dibajak secara simultan oleh beberapa tim kecil yang menjadi penumpang.

Pesawat-pesawat itu kemudian dipakai sebagai rudal raksasa yang diarahkan ke gedung-gedung penting di New York dan Washington.

Dua pesawat menghantam Menara Kembar gedung World Trade Center di New York.

Menara utara yang pertama diserang, pada pukul 08:46 waktu setempat atau pukul 20:46 WIB. Pesawat kedua menabrak menara selatan pukul 09:03.

Warga New York lari menyelamatkan diri setelah menara World Trade Center runtuh akibat ditabrak pesawat yang dibajak pada 11 Sept. 2001. (AFP)

Dua gedung itu terbakar, menjebak orang-orang di lantai lebih atas, dan memenuhi kota dengan asap tebal. Kurang dari dua jam kemudian, dua gedung yang masing-masing setinggi 110 lantai ambruk dan mengakibatkan awan debu yang sangat tebal dan masif.

Pukul 09:37, pesawat ketiga merusak sayap barat gedung Pentagon – markas besar militer Amerika Serikat yang berdekatan dengan ibu kota negara, Washington DC.

Pesawat keempat jatuh di sebuah ladang di Pennsylvania pukul 10:03 setelah para penumpang yang lain melakukan perlawanan. Diduga para pembajak bermaksud menyerang Gedung Capitol di Washington DC.

Berapa korbannya?
Secara keseluruhan, 2.977 orang terbunuh (tidak termasuk 19 pembajak pesawat), sebagian besar di New York.

Empat pesawat itu mengangkut total 246 penumpang dan awak pesawat, semuanya tewas.

Di Menara Kembar, korban jiwa mencapai 2.606 orang -- meninggal seketika atau kemudian akibat luka yang diderita.

Menara selatan Gedung World Trade Center ditabrak pesawat penumpang yang dibajak teroris menyusul serangan serupa di menara utara beberapa menit sebelumnya pada 11 September 2001. (AFP)

Di Pentagon, 125 orang tewas.

Korban paling muda bernama Christine Lee Hanson, 2, yang meninggal di salah satu pesawat bersama orang tuanya, Peter dan Sue.

Korban paling tua adalah Robert Norton, 82, yang tewas di pesawat lainnya bersama pasangannya Jacqueline. Mereka dalam perjalanan untuk menikah.

Ketika pesawat pertama menghantam gedung, diperkirakan ada 17.400 orang di Menara Kembar. Tidak ada orang selamat di semua lantai di atas lokasi hantaman pesawat di menara utara, tetapi 18 orang bisa menyelamatkan diri dari atas lokasi hantaman di menara selatan.

Korban jiwa berasal dari 77 negara berbeda. New York City kehilangan 441 petugas penyelamat yang datang pertama kali.

Ribuan orang lagi cedera atau kemudian menjadi sakit akibat serangan itu, termasuk para petugas pemadam kebakaran yang bekerja di reruntuhan penuh debu dan asap beracun.

Foto tertanggal 18 September 2001 menunjukkan para petugas pemadam kebakaran dan tim SAR masih berusaha mencari korban selamat satu pekan setelah serangan yang meruntuhkan gedung World Trade Center di New York. (AFP)

Siapa para pelaku serangan?
Jaringan ekstremis yang disebut al Qaeda merencanakan serangan tersebut dari Afghanistan.

Dipimpin oleh Osama Bin Laden, al Qaeda menyalahkan Amerika Serikat dan para sekutunya sebagai penyebab berbagai konflik di dunia Muslim.

Pelaku serangan sebanyak 19 orang, terdiri dari tiga tim beranggotakan lima orang dan satu tim dengan empat anggota -- yang beroperasi di pesawat yang jatuh di Pennsylvania.

Masing-masing kelompok memiliki anggota yang sudah dilatih sebagai pilot. Ironisnya, mereka dilatih di sekolah penerbangan di Amerika sendiri.

Seperti Bin Laden, 15 pembajak adalah warga negara Arab Saudi. Dua berasal dari Uni Emirat Arab, satu dari Mesir, dan satu lagi dari Lebanon.

Bagaimana respon Amerika?
Kurang dari sebulan setelah serangan itu, Presiden George W Bush memerintahkan invasi di Afghanistan dengan dukungan koalisi internasional untuk membasmi al Qaeda dan memburu Bin Laden.

Namun, baru pada 2011 pasukan AS akhirnya menemukan dan membunuh Bin Laden di Pakistan.

Terduga perencana serangan, Khalid Sheikh Mohammad, ditangkap di Pakistan pada 2003. Sejak itu dia diambil oleh AS dan ditahan di Guantanamo Bay, masih menunggu persidangan hingga sekarang.

Al Qaeda juga masih eksis. Kekuatan utamanya berada di wilayah sub-Sahara Afrika, tetapi sampai sekarang juga masih punya anggota di wilayah Afghanistan.

Pasukan AS meninggalkan Afghanistan tahun ini setelah bercokol di sana selama hampir 20 tahun, sehingga muncul kekhawatiran jaringan ekstremis akan kembali terbentuk.

Dampak 11 September
Keselamatan penerbangan diperketat di seluruh dunia sejak peristiwa 11 September.

Di AS didirikan Badan Keamanan Transportasi untuk meningkatkan keamanan di bandara dan di dalam pesawat.

Butuh waktu lebih dari delapan bulan untuk membersihkan "Ground Zero" - lokasi runtuhnya Menara Kembar.

Lokasi runtuhnya menara kembar World Trade Center di Manhattan, New York, yang sekarang sudah dibangun kembali untuk gedung pengganti bernama One World Trade Center, sebuah museum dan sebuah bangunan memorial. (AFP)

Di lokasi tersebut sekarang muncul gedung-gedung baru dengan rancangan berbeda, ditambah sebuah gedung memorial dan museum untuk mengenang peristiwa tersebut.

Di sana sudah tegak berdiri gedung One World Trade Center, atau "Freedom Tower" setinggi 1.776 kaki (541 meter), melampaui ketinggian menara sebelumnya yang sudah runtuh yaitu 1.368 kaki.

Rekonstruksi di Pentagon selesai kurang dari satu tahun dan para staf sudah kembali bekerja di sana pada Agustus 2002.

Gedung One World Trade Center atau lebih dikenal sebagai "Freedom Tower" menjulang ke langit Manhattan di New York, dalam foto tertanggal 10 Juni 2021. (AFP)



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Rabu, 8 September 2021 | 12:32 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com – Selasa pagi, 11 September 2001, cuaca di wilayah timur Amerika Serikat cerah dan jutaan orang siap untuk bekerja.

Ada yang berangkat ke Menara Kembar, gedung megah yang menjadi ciri kompleks World Trade Center di New York City. Ada juga yang pergi ke Arlington, Virginia, ke Gedung Pentagon.

Di sepanjang Sungai Potomac, Kongres Amerika Serikat kembali memulai masa persidangan. Di ujung lain Pennsylvania Avenue, pengunjung mengantre untuk tur ke Gedung Putih.

Di Sarasota, Florida, Presiden George W. Bush berangkat untuk jogging. Bagi yang menuju bandara, kondisi cuaca tampak sempurna untuk penerbangan yang aman dan menyenangkan.

Tidak ada warga Amerika yang mengira pagi yang indah itu akan mengawali serangan teroris paling dahsyat di negara superpower tersebut dan menjadi tragedi penerbangan sipil paling mengerikan dalam sejarah dunia.

Empat pesawat dibajak kelompok teroris -- dua ditubrukkan ke Menara Kembar di New York, satu menghantam Gedung Pentagon dan satu lagi jatuh dalam perjalanan ke Washington DC, entah menargetkan Gedung Capitol atau Gedung Putih.

Dalam laporan yang disusun komisi khusus berjudul The 9/11 Commission Report diuraikan secara mendetail peristiwa yang mengubah sejarah dunia tersebut untuk mengungkap kebenaran sampai ke fakta terkecil, mengetahui mana yang salah dan tidak sesuai prosedur, dan memberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kisah berikut dirangkum dari laporan setebal 585 halaman itu di bagian yang khusus menguraikan peristiwa di masing-masing pesawat yang dibajak, untuk mengenang peristiwa 20 tahun silam dan melihat bagaimana pemahaman ideologi secara ekstrem bisa mengubah manusia menjadi pembunuh yang tidak kenal belas kasih dan rasa takut bagi sesamanya.

Para pembajak yang kemudian diketahui sebagai anggota al Qaeda beroperasi dalam empat tim – tiga tim beranggotakan lima orang dan satu tim beranggotakan empat orang.

Pembajakan American 11
Pesawat American Airlines nomor penerbangan 11, selanjutnya disebut American 11, melayani rute Boston-Los Angeles. Hari itu, pesawat diterbangkan oleh Pilot John Ogonowski dan Ko-Pilot Thomas McGuinness. Di dalam pesawat Boeing 767 itu juga ada sembilan awak pesawat untuk melayani 81 penumpang, termasuk lima teroris.

Pesawat lepas landas pada pukul 7:59 waktu setempat. Sekitar 15 menit, ketinggian pesawat sekitar 26.000 kaki, masih di bawah jadwal yang seharusnya 29.000 kaki.

Semua data komunikasi dan penerbangan normal. Sekitar waktu itu, tanda fasten seatbelt atau kencangkan sabuk keselamatan biasanya dimatikan dan pramugari mulai melayani penumpang.

Juga pada saat itu, American 11 mengakhiri komunikasi rutin dengan menerima instruksi navigasi dari pusat pengendali lalu lintas udara (air traffic control/ATC) di Boston.

Enambelas detik setelah transmisi terakhir, ATC memerintahkan pilot menambah ketinggian hingga 35.000 kaki. Pesan ini dan upaya berikutnya untuk mengontak pesawat tidak direspons.

Dari fakta ini, diduga aksi pembajakan dimulai pukul 8:14 atau tidak lama setelah itu.

Dua pramugari bernama Betty Ong dan Madeline “Amy” Sweeney kemudian bertindak luar biasa dengan terus memberi informasi soal kejadian di dalam kabin sampai saat terakhir.

Pembajakan dimulai oleh dua pelaku, diyakini sebagai Wail al Shehri dan Waleed al Shehri yang duduk di kelas 1 baris kedua. Mereka menikam dua kru pesawat yang sedang bersiap melayani penumpang.

Tidak diketahui bagaimana para pembajak bisa masuk kokpit. Menurut regulasi Badan Penerbangan Federal (FAA), pintu kokpit harus selalu tertutup dan terkunci selama penerbangan.

Menurut dugaan Ong, pelaku mungkin memaksa masuk.

Ada beberapa kemungkinan kenapa pembajak bisa masuk kokpit, seperti ditulis dalam laporan tersebut.

Teroris mungkin menikam kru pesawat untuk mendapat kunci kokpit, atau memaksa salah satu dari mereka untuk membuka pintu, atau memancing pilot atau ko-pilot keluar kokpit, atau bisa jadi ada kru yang sedang membuka pintu dan masuk kokpit.

Mohamed Atta, yang duduk di kelas bisnis, adalah satu-satunya pembajak yang sudah mendapat pelatihan pilot pesawat jet. Pada saat itu dia mungkin sudah menduduki kokpit, diduga ditemani oleh Aziz al Omari.

Saat peristiwa berlangsung, penumpang bernama Daniel Lewin yang duduk di baris belakang Atta dan Omari ditikam oleh salah satu pembajak, kemungkinan Satam al Suqami, yang duduk tepat di belakang Lewin.

Lewin pernah bertugas empat tahun di militer Israel. Ada kemungkinan dia berusaha bertindak untuk menghentikan para pembajak di depannya, tidak sadar ada satu lagi yang duduk persis di belakangnya.

Para pembajak segera menguasai pesawat dan menyemprotkan Mace, senjata sejenis semprotan merica, atau senjata iritan lainnya di kabin kelas 1 guna memaksa penumpang dan kru pindah ke bagian belakang pesawat. Mereka juga menggertak penumpang dengan mengatakan membawa bom.

Sekitar lima menit setelah aksi dimulai, Betty Ong mengontak kantor American Airlines di Cary, North Carolina, menggunakan telepon AT&T untuk melaporkan situasi darurat penerbangan.

Komunikasi darurat berlangsung sekitar 25 menit -- Ong dengan tenang dan profesional memberi informasi tentang rentetan peristiwa di kabin kepada petugas di darat.

Pukul 8:19, Ong mengatakan: “Kokpit tidak menjawab, ada orang ditikam di kelas bisnis, saya duga ada Mace karena kami jadi susah bernapas – saya tidak tahu, saya pikir kami sedang dibajak.”

Lalu, dia mengatakan dua kru juga ditikam.

Pukul 8:21, pegawai American Airlines yang menerima informasi dari Ong di North Carolina mengontak kantor pusat di Fort Worth, Texas. Upaya kantor pusat menghubungi kokpit juga gagal. Mereka lalu menghubungi ATC di Boston sekitar pukul 8:29.

Ternyata ATC Boston sudah tahu krisis yang terjadi. Pasalnya, pada pukul 8:25 para pembajak mencoba berkomunikasi dengan penumpang lewat mikrofon tetapi justru terhubung ke ATC.

Salah satu pembajak terdengar mengatakan: “Jangan ada yang bergerak. Semua akan baik-baik saja. Jika Anda mencoba bertindak, Anda hanya akan membahayakan diri sendiri dan pesawat. Tetap tenang.”

Petugas ATC mendengar transmisi itu, Ong tidak.

Para pembajak kemungkinan tidak paham bagaimana mengoperasikan sistem komunikasi radio di kokpit sehingga secara tidak sengaja mengirim pesan ke ATC bukan ke kabin penumpang.

Juga pada pukul 8:25 dan 8:29, pramugari Amy Sweeney mengontak kantor American Flight Services di Boston tetapi suaranya terpotong setelah dia melaporkan ada yang terluka di pesawat. Tiga menit kemudian, Sweeney terhubung kembali ke kantor itu dan mulai mengirim informasi ke manajer bernama Michael Woodward.

Pukul 8:26,Ong mengatakan pesawat “terbang bergoyang-goyang”. Semenit kemudian, pesawat belok ke selatan. Kantor American Airlines mulai mengindentifikasi pembajak setelah Ong lalu diikuti Sweeney memberi nomor kursi penumpang yang menerobos masuk kokpit.

Sweeney dengan nada tenang melaporkan ke kantor di Boston bahwa pesawat telah dibajak, seorang pria di kelas 1 digorok lehernya, dua kru pesawat ditikam -- satu luka parah dan menggunakan tabung oksigen, satu lagi luka ringan, kru tidak bisa mengontak kokpit, dan ada bom di kokpit.

Dia menambahkan bersama Ong akan terus memberi informasi ke darat.

Pukul 8:38, Ong mengatakan pesawat kembali bergoyang.

Saat yang sama Sweeney mengatakan para pembajak berwajah Timur Tengah dan memberi tahu nomor kursi tiga dari mereka. Para pembajak masuk kokpit dan dia tidak tahu bagaimana caranya. Pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat.

Pukul 8:41, Sweeney mengatakan seperti ada kondisi darurat medis di kabin kelas 1.

Pukul 8:44, petugas di North Carolina kehilangan kontak dengan Ong. Saat yang sama Sweeney melaporkan: “Ada yang tidak beres. Kami menukik dengan cepat . . . kami bergelimpangan di sini.”

Petugas di Boston meminta Sweeney melihat ke jendela untuk bisa memperkirakan posisi mereka. Sweeney menjawab: “Kami terbang rendah. Kami terbang sangat-sangat rendah. Kami terbang terlalu rendah.”

Beberapa detik kemudian dia mengatakan: “Ya Tuhan, kami terlalu rendah!” Sambungan telepon kemudian terputus.

Pukul 8:46:40, American 11 menabrak menara utara gedung World Trade Center di New York City. Semua orang di pesawat dan orang-orang dalam gedung yang belum dipastikan jumlahnya tewas seketika.

Pembajakan United 175
Pesawat United Airlines nomor penerbangan 175, selanjutnya disebut United 175, dijadwalkan berangkat ke Los Angeles pukul 8:00 dengan pilot Kapten Victor Saracini dan Ko-Pilot Michael Horrocks. Pesawat Boeing 767 itu membawa tujuh awak pesawat dan 56 penumpang.

United 175 meninggalkan Bandara Logan, Boston, Massachusetts, pukul 8:14. Lalu pada 8:33 sudah mencapai ketinggian jelajah 31.000 kaki, ketika awak pesawat seharusnya memulai aktivitas layanan kabin.

Ketika United 175 lepas landas, pesawat American 11 sedang dibajak. Pukul 8:42 kru United 175 melaporkan “transmisi mencurigakan” yang terdengar dari pesawat lain (kemudian diketahui American 11) beberapa saat setelah mereka lepas landas. Itu merupakan komunikasi terakhir United 175 dengan petugas di darat.

Para pembajak mulai menyerang antara pukul 8:42 dan 8:46. Mereka menggunakan pisau (seperti dilaporkan oleh seorang kru dan dua penumpang), semprotan merica Mace (dilaporkan seorang penumpang), dan ancaman bom (dilaporkan penumpang yang sama).

Mereka menikam beberapa kru pesawat (dilaporkan seorang kru dan seorang penumpang). Dua pilot di kokpit dibunuh (dilaporkan seorang kru).

Kesaksian para saksi mata didapat dari sambungan telepon yang dilakukan di bagian belakang pesawat oleh para penumpang yang awalnya duduk di kabin bagian depan, indikasi bahwa para penumpang dan kru dipindahkan ke bagian belakang.

Tampaknya, pembajak di United 175 dan American 11 menggunakan taktik yang sama. Terduga ketua tim pembajak di dua pesawat itu, Atta di American 11 dan Marwan al Shehhi di United 175, sempat bicara selama 3 menit lewat telepon saat mereka sama-sama di Bandara Logan dari terminal berbeda.

Selain Shehhi, empat pembajak lain di United 175 diidentifikasi sebagai Fayez Banihammad, Mohand al Shehri, Ahmed al Ghamdi, dan Hamza al Ghamdi.

Bukti pertama yang menunjukkan situasi tidak normal di United 175 datang pukul 8:47, ketika pesawat mengubah kode beacon dua kali dalam semenit. Pukul 8:51, pesawat menyimpang dari ketinggian yang diharuskan dan semenit kemudian ATC New York berulang kali mencoba mengontak tanpa hasil.

Pukul 8:52 di Easton, Connecticut, pria bernama Lee Hanson menerima panggilan telepon dari putranya, Peter, penumpang di United 175.

Putranya mengatakan: “Saya pikir mereka sudah mengambil alih kokpit. Seorang kru telah ditikam — dan seseorang di bagian depan mungkin sudah dibunuh. Pesawat membuat gerakan-gerakan yang aneh. Hubungi United Airlines. Sampaikan ke mereka, ini Penerbangan 175, dari Boston ke LA.”

Lee Hanson kemudian menelepon Kepolisian Easton dan menyampaikan apa yang dia dengar.

Juga pada pukul 8:52, seorang kru pesawat pria menelepon kantor United di San Francisco, mencari Marc Policastro. Kru itu melaporkan bahwa pesawat telah dibajak, dua pilot dibunuh, seorang kru lain ditikam, dan kemungkinan pesawat sedang diterbangkan oleh para pembajak.

Pembicaraan itu berlangsung sekitar 2 menit, dan setelahnya Policastro bersama seorang rekannya sia-sia mengontak kokpit.

Pukul 8:58, pesawat mulai mengarah ke New York City.

Pukul 8:59, penumpang bernama Brian David Sweeney mencoba mengubungi istrinya, Julie. Dia meninggalkan pesan di mesin penjawab bahwa pesawat sudah dibajak.

Lalu, dia menelepon ibunya, Louise Sweeney, mengatakan pesawat sudah dibajak dan para penumpang berencana menyerbu kokpit untuk merebut kendali dari para pembajak.

Pukul 9:00, Lee Hanson menerima telepon kedua dari Peter:

“Ini makin buruk Ayah. Seorang pramugari ditikam. Mereka tampaknya punya pisau dan Mace. Mereka bilang punya bom. Para penumpang terlempar dan mabuk. Pesawat bergerak liar. Saya pikir bukan pilot yang menerbangkan pesawat. Saya pikir kami bakal jatuh. Saya pikir mereka ingin ke Chicago atau tempat lain dan terbang ke sebuah bangunan. Jangan khawatir Ayah, jika itu terjadi, akan sangat cepat. Ya Tuhan, ya Tuhan.”

Suara telepon putus mendadak.

Lee Hanson sempat mendengar jeritan perempuan sebelum sambungan telepon terputus. Dia menyalakan televisi, demikian juga Louise Sweeney di rumahnya.

Mereka berdua menyaksikan pesawat kedua yang menghantam World Trade Center.

Pukul 9:03:11, United Airlines nomor penerbangan 175 menghantam menara selatan World Trade Center. Semua orang di pesawat dan orang dalam gedung yang belum diketahui jumlahnya tewas seketika.

Pesawat United 175 yang dibajak menuju ke arah menara selatan World Trade Center di New York pada 11 Sept. 2001. (AFP)

Pembajakan American 77

Pesawat American Airlines nomor penerbangan 77, selanjutnya disebut American 77, dijadwalkan berangkat dari Bandara Washington Dulles menuju Los Angeles pukul 8:10. Pesawat Boeing 757 itu dipiloti Charles F. Burlingame dengan Ko-Pilot David Charlebois. Dengan ditemani empat kru, mereka menerbangkan 58 penumpang. American 77 lepas landas pukul 8:20.

Pukul 8:46, pesawat mencapai ketinggian jelajah 35.000 kaki, ketika layanan kabin dimulai.

Pukul 8:51, American 77 mengirim transmisi radio rutin yang terakhir. Pembajakan dimulai antara pukul 8:51 dan 8:54.

Seperti halnya di penerbangan American 11 dan United 175, para pembajak juga menggunakan pisau (dilaporkan seorang penumpang) dan memindahkan semua penumpang (kemungkinan juga kru) ke bagian belakang pesawat (dilaporkan seorang kru dan seorang penumpang).

Tidak seperti di dua kasus sebelumnya, para pembajak di American 77 juga membawa cutter pembuka kardus, menurut kesaksian seorang penumpang.

Akhirnya, seorang penumpang melaporkan ada pengumuman oleh “pilot” bahwa pesawat telah dibajak.

Tidak ada satu pun saksi mata yang melaporkan ada penusukan atau ancaman bom atau semprotan merica Mace, meskipun para saksi itu awalnya duduk di kelas satu di kabin terdepan.

Pukul 8:54, pesawat menyimpang dari jalurnya dan berbelok ke selatan.

Dua menit kemudian, transponder pesawat dimatikan dan bahkan radar primer pesawat juga hilang.

ATC di Indianapolis berulangkali mencoba mengontak pesawat tetapi gagal. Hal serupa dialami para petugas American Airlines.

Pukul 9:00, Wakil Presiden Eksekutif American Airlines Gerard Arpey mengatakan komunikasi dengan American 77 sudah hilang sama sekali. Pesawat kedua maskapai itu sekarang dalam masalah.

Dia memerintahkan seluruh penerbangan American Airlines di timur laut yang belum lepas landas untuk tetap di darat.

Menjelang pukul 9:10, curiga bahwa American 77 telah dibajak, markas maskapai menyimpulkan bahwa pesawat kedua yang menghantam World Trade Center kemungkinan adalah American 77.

Setelah tahu bahwa United Airlines juga kehilangan sebuah pesawat, kantor pusat American Airlines memperluas larangan terbang ke seluruh negeri.

Pukul 9:12, Renee May menelepon ibunya, Nancy May, di Las Vegas. Dia mengatakan pesawatnya dibajak oleh enam orang yang memerintahkan penumpang untuk pindah ke bagian belakang. Dia meminta ibunya memberi tahu American Airlines. Nancy May dan suaminya menuruti permintaan itu.

Antara pukul 9:16 dan 9:26, Barbara Olson menelepon suaminya, Ted Olson, yang menjabat pengacara negara. Dia mengatakan pesawat dibajak dan para pelaku membawa pisau dan cutter.

Menurutnya, para pembajak tidak tahu kalau dia menelepon dan semua penumpang sudah dipindah ke bagian belakang pesawat.

Sekitar semenit kemudian, pembicaraan terputus. Sang suami lalu menghubungi Jaksa Agung John Ashcroft tetapi gagal tersambung.

Tidak lama kemudian, Barbara Olson menghubungi suamnya lagi. Menurutnya, pilot mengumumkan kalau pesawat sudah dibajak dan dia meminta saran ke suaminya apa yang harus dikatakan kepada pilot. Ted Olson bertanya soal lokasi pesawat, dijawab bahwa pesawat "terbang di atas rumah-rumah".

Seorang penumpang memberi tahu kalau mereka terbang arah timur laut. Olson lalu memberi tahu istrinya tentang dua kasus pesawat yang dibajak sebelumnya dan jatuh. Sang istri tidak menunjukkan ekspresi panik dan tidak mengindikasikan kalau dia tahu pesawatnya bakal jatuh sebentar lagi. Saat itu, sambungan kembali terputus.

Pukul 9:29, sistem autopilot American 77 dimatikan; pesawat di ketinggian 7.000 kaki dan hanya 38 mil (60,8 km) sebelah barat Pentagon.

Pukul 9:32, pengawas di pengawasan radar Dulles Terminal mengamati adanya “target radar primer ke arah timur dengan kecepatan tinggi". Kemudian disimpulkan citra dalam radar itu adalah American 77.

Pukul 9:34, Bandara Ronald Reagan Washington National mengingatkan Secret Service atau pasukan pengamanan presiden tentang pesawat tak dikenal yang mengarah ke Gedung Putih. Saat itu, American 77 hanya 5 mil dari Pentagon dan mulai berbelok 330 derajat.

Setelah selesai berbelok, pesawat menurunkan ketinggian ke 2.200 kaki, diarahkan ke Pentagon dan pusat kota Washington. Pembajak yang menjadi pilot lalu meningkatkan tenaga pesawat hingga batas maksimum, menukik ke Pentagon.

Para pembajak diidentifikasi sebagai Khalid al Mihdhar, Majed Moqed, Hani Hanjour dan dua bersaudara Nawaf al Hazmi dan Salem al Hazmi. Tiga yang disebut terakhir duduk di kabin kelas 1.

Pukul 9:37:46, American 77 menghantam Pentagon dengan kecepatan sekitar 530 mil (848 km) per jam.

Semua orang di pesawat dan pegawai sipil dan personel militer di dalam gedung terbunuh.

Foto udara dua hari setelah serangan 11 September 2001 menunjukkan sisi Gedung Pentagon di Washington yang hancur ditabrak pesawat penumpang yang dibajak teroris. (National Archives Catalog)

Pembajakan United 93
Pukul 8:42, pesawat United Airlines nomor penerbangan 93, selanjutnya disebut United 93, lepas landas dari Bandara Internasional Liberty di Newark, New Jersey menuju San Francisco.

Pesawat Boeing 757 itu dipiloti Kapten Jason Dahl dan Ko-Pilot Leroy Homer, dengan lima kru. Hanya ada 37 penumpang, termasuk para pembajak.

Penerbangan sempat tertunda dari jadwal semula pukul 8:00 karena padatnya lalu lintas udara pagi itu.

Saat United 93 meninggalkan Newark, kru pesawat belum tahu adanya kasus pembajakan American 11. Sekitar pukul 9:00, FAA, American Airlines, dan United Airlines mulai sadar adanya kasus pembajakan berantai. Pukul 9:03, mereka menyaksikan pesawat kedua yang menabrak World Trade Center. Namun, para manajer krisis di FAA dan maskapai belum memperingatkan pesawat-pesawat lain.

Di saat yang sama, ATC Boston menyadari ada pesan yang dikirim sebelum pukul 8:25 dari pembajak yang mengendalikan American 11 termasuk kalimat: “We have some planes” [Kami menguasai beberapa pesawat].

Tidak seorang pun di FAA maupun maskapai yang pernah berhadapan dengan pembajakan berantai. Dalam 30 tahun terakhir belum pernah ada kasus seperti itu, dan di Amerika belum pernah sekali pun terjadi.

Saat berita tentang pembajakan berantai mulai menyebar ke FAA dan maskapai, para petinggi mereka belum melihat perlunya memperingatkan pesawat-pesawat lain di udara bahwa mereka mungkin juga berisiko.

United 175 dibajak antara pukul 8:42 dan 8:46, dan kesadaran soal itu mulai menyebar setelah pukul 8:51.

American 77 dibajak antara pukul 8:51 dan 8:54.

Pada pukul 9:00, para pejabat FAA dan maskapai mulai menduga bahwa para pelaku juga mengejar pesawat-pesawat lain. Instruksi larangan terbang nasional oleh American Airlines diterbitkan antara pukul 9:05 dan 9:10, diikuti oleh United Airlines.

Para pengawas FAA di ATC Boston yang melacak dua pesawat yang dibajak sebelumnya meminta Pusat Komando Herndon untuk “mengirim pesan ke semua pesawat yang mengudara agar meningkatkan keamanan di kokpit”, pukul 9:07.

Tidak ada bukti Herndon melakukan tindakan itu. ATC Boston segera bersepkulasi bahwa pesawat lain mungkin dalam bahaya, dan mengkhawatirkan pembajakan di pesawat Delta 1989 — yang faktanya aman-aman saja.

Pukul 9:19, kantor cabang FAA di New England menghubungi Herndon dan meminta ATC Cleveland mengingatkan Delta 1989 untuk meningkatkan keamanan kokpit.

Sejumlah pejabat FAA mengatakan pemberitahuan masalah keamanan dalam pesawat adalah tanggung jawab maskapai. Juga disebutkan bukan wewenang FAA untuk memerintahkan maskapai agar menyampaikan pesan ke para pilot.

Hal seperti ini tidak mencerminkan peran dan tanggung jawab FAA dalam bidang keselamatan penerbangan.

Maskapai juga bertanggung jawab. Mereka dihadapkan pada berbagai laporan berbeda dan kadang keliru soal penerbangan maskapai lain, dan minim informasi dari FAA soal pesawat yang dibajak.

Namun, tidak ada bukti bahwa American Airlines mengirim peringatan untuk keamanan kokpit di semua pesawatnya pada hari itu. United baru mengirim peringatan pada pukul 9:19, ketika petugas pemantau Ed Ballinger menghubungi 16 pesawat yang sedang di udara dan berpesan: “Awas ada upaya menyusup ke kokpit. Dua a/c [aircraft] menabrak World Trade Center.”

Salah satu pesawat yang menerima peringatan itu adalah United 93. Namun, karena Ballinger masih mengurusi penerbangan-penerbangan lain termasuk United 175 yang dibajak, peringatan dia baru terkirim ke United 93 pukul 9:23.

Berdasarkan semua keterangan, 46 menit pertama penerbangan United 93 berlangsung rutin. Komunikasi radio masih normal. Arah terbang, kecepatan, dan ketinggian sesuai rencana.

Pukul 9:24, peringatan Ballinger diterima di kokpit United 93. Dua menit berikutnya, Pilot Jason Dahl merespons dengan nada tidak yakin: “Ed, tolong konfirmasi pesan terakhir—Jason.”

Para pembajak mulai menyerang pukul 9:28. Saat itu United 93 terbang dengan ketinggian 35.000 di atas wilayah timur Ohio, dan mendadak turun sebanyak 700 kaki.

Sebelas detik saat pesawat mulai turun, ATC di Cleveland menerima transmisi radio dua kali. Yang pertama, pilot atau ko-pilot berteriak “Mayday! Mayday!” di tengah suara seperti ada pergulatan fisik di kokpit.

Transmisi radio kedua, 35 detik kemudian, mengindikasikan bahwa perkelahian di kokpit masih berlangsung. Kapten atau ko-pilot terdengar berteriak: “Hei keluar dari sini! Keluar dari sini, keluar dari sini!”

Dalam pesawat hanya ada 37 penumpang, termasuk empat pembajak yang diidentifikasi sebagai Saeed al Ghamdi, Ahmed al
Nami, Ahmad al Haznawi, dan Ziad Jarrah. Mereka semua menempati kabin kelas 1.

Jarrah di kursi 1B, paling dekat dengan kokpit, Nami di 3C, Ghamdi di 3D, dan Haznawi di 6B.

Jumlah penumpang total di bawah angka normal untuk ukuran Selasa pagi di musim panas. Namun, tidak ada bukti bahwa para pembajak telah memanipulasi tingkat keterisian atau memborong tiket kursi untuk mendukung operasi mereka.

Para teroris yang membajak tiga pesawat lain masing-masing bergerak dalam tim sebanyak lima orang dan mulai menyerbu kokpit sekitar 30 menit setelah lepas landas.

Namun, dalam penerbangan United 93, serangan dilakukan 46 menit setelah lepas landas dan hanya ada empat pembajak.

Terduga pelaku lainnya bernama Mohamed al Kahtani ditolak masuk oleh petugas imigrasu di Orlando International Airport, Florida, bulan sebelumnya.

Sejumlah penumpang mengatakan hanya ada tiga pembajak.

Tim komisi penyelidik menduga bahwa pelaku bernama Jarrah yang pernah mendapat pelatihan pilot, tetap duduk dan tidak bertindak sampai kokpit direbut teman-temannya. Begitu dia masuk kokpit, Jarrah tidak terlihat lagi oleh para penumpang lainnya.

Pukul 9:32, salah satu pelaku yang diduga adalah Jarrah, memberi pengumuman ke penumpang: “Ibu Bapak, di sini kapten. Mohon tetap duduk. Kami punya bom di pesawat, jadi duduk saja.”

Rekaman data dari flight data recorder mengindikasikan bahwa Jarrah kemudian menyetel sistem autopilot untuk memutar balik pesawat dan menuju ke timur.

Rekaman suara dari cockpit voice recorder mengindikasikan bahwa seorang perempuan, kemungkinan awak pesawat, disandera di dalam kokpit. Dia berjuang melawan pembajak yang kemudian entah membunuhnya atau membungkamnya.

Tidak lama setelah itu, para penumpang dan awak pesawat mulai menelepon lewat perangkat di pesawat atau ponsel. Pembicaraan dengan keluarga, teman dan rekan kerja berlangsung sampai akhir penerbangan sehingga orang-orang di darat mendapat kesaksian langsung dari dalam kabin.

Komunikasi dengan telepon ini juga membuat para penumpang di kabin mendapat informasi penting, termasuk kabar bahwa dua pesawat telah menghantam World Trade Center.

Pukul 9:39, ATC Cleveland mendengar pengumuman kedua, bahwa ada bom di pesawat, bahwa pesawat kembali ke bandara, dan bahwa penumpang harus tetap duduk.

Pengumuman ini dimaksudkan untuk mengelabui para penumpang, yang justru tidak mendengarnya karena salah sambung. Jarrah, seperti Atta di pesawat yang lain, sepertinya tidak paham bagaimana mengoperasikan radio dan interkom.

Tidak ada petunjuk bahwa mereka berdua pernah benar-benar menerbangkan pesawat penumpang sebelumnya.

Setidaknya dua orang mengatakan para pembajak tahu kalau para penumpang menelepon, tetapi rupanya tidak peduli.

Cukup mungkin kalau Jarrah sudah tahu kesuksesan serangan di World Trade Center.

Dia bisa melihatnya di pesan yang dikirim oleh United Airlines ke kokpit pesawat-pesawat lain, termasuk United 93, yang memperingatkan soal upaya menerobos kokpit dan kabar serangan di New York.

Namun tanpa pesan itu, dia juga pasti sudah paham kalau serangan ke World Trade Center sudah atau masih berlangsung karena United 93 berangkat terlambat.

Sedikitnya 10 penumpang dan dua awak pesawat memberi informasi ke keluarga, teman, rekan kerja dan orang dekat lainnya di darat. Mereka semua tahu bahwa pesawat telah dibajak, pelaku membawa pisau dan mengklaim punya bom.

Para pembajak memakai bandana merah dan memaksa para penumpang pindah ke bagian belakang.

Para saksi menyebutkan seorang penumpang ditikam dan dua orang tergeletak di lantai kabin, entah terluka atau sudah tewas, kemungkinan adalah pilot dan ko-pilot. Satu saksi mengatakan seorang awak kabin sudah dibunuh.

Tidak ada saksi yang melihat pelaku membawa senjata api.

Dari penyelidikan di lokasi pesawat jatuh juga tidak ada bukti serpihan senjata, demikian juga rekaman suara kokpit tidak mengindikasikan adanya suara letusan senjata atau penyebutan senjata api dalam percakapan.

Menurut Biro Penyidik Federal (FBI), tidak ada bukti bahan peledak di lokasi pesawat jatuh.

Sedikitnya lima saksi mengatakan ada keinginan dari para penumpang untuk melakukan perlawanan, setelah mendengar kabar tentang World Trade Center dari penerima telepon di darat.

Salah satu saksi mengatakan ada pemungutan suara soal itu, kemudian diputuskan untuk bertindak.

Pukul 9:57, serangan oleh para penumpang dimulai. Sejumlah penumpang memutus hubungan telepon agar bisa ikut bertindak.

Salah satunya mengatakan: “Semua orang berlari ke kabin kelas 1. Saya harus pergi. Selamat tinggal.”

Perangkat cockpit voice recorder merekam suara-suara serangan penumpang yang menggedor pintu kokpit. Sebagian kerabat yang kemudian mendengarkan rekaman itu mengatakan mereka bisa mengidentifikasi suara orang yang dikenalnya ikut terlibat dalam perlawanan.

Di dalam kokpit, Jarrah merespons dengan secara mendadak menggoyangkan pesawat ke kiri dan ke kanan untuk menjatuhkan para penumpang.

Pukul 9:58:57, Jarrah meminta pembajak lain di kokpit untuk menghalangi pintu dan kembali menggoyang pesawat. Para penumpang terus melawan.

Pukul 9:59:52, Jarrah mengubah taktik dengan menaik-turunkan hidung pesawat.

Alat perekam memperdengarkan suara-suara benturan keras, teriakan, dan kaca pecah.

Pukul 10:00:03, Jarrah menstabilkan pesawat.

Lima detik kemudian, Jarrah bertanya: “Apa sudah waktunya? Kita akhiri sekarang?”

Seorang pembajak menjawab: “Jangan, belum. Begitu mereka semua datang, kita selesaikan.”

Suara-suara perlawanan masih berlanjut di luar kokpit. Lagi, Jarrah mengangkat dan menurunkan hidung pesawat.

Pukul 10:00:26, seorang penumpang berteriak: “Di dalam kokpit. Jika kita tidak lakukan, kita mati!”

Enambelas detik kemudian, seorang penumpang berteriak: “Dorong!” [Kemungkinan penumpang menggunakan troli makanan untuk mendobrak pintu kokpit]

Jarrah menghentikan manuver drastis pesawat sekitar pukul 10:01:00 dan berteriak: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Kemudian, dia bertanya lagi: “Sudah sekarang? Maksudku, kita tarik turun?” Dijawab oleh yang lain: “Ya, tarik turun, tarik turun.”

Para penumpang melanjutkan serangan dan pada pukul 10:02:23, seorang pembajak berteriak: “Tarik turun! Tarik turun!”

Para pembajak tetap menguasai pesawat tetapi ketika itu mereka tampaknya menilai para penumpang bakal mengalahkan mereka dalam beberapa detik.

Pesawat menukik turun, setir mengarah tajam ke kanan. Pesawat berguling dengan punggung di bawah dan seorang pembajak mulai berseru: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Suara perlawanan penumpang masih terdengar, sampai pesawat akhirnya jatuh di lahan kosong di Shanksville, Pennsylvania, dengan kecepatan 580 mil (928 km) per jam, hanya 20 menit jarak penerbangan dari Washington DC.

Sasaran Jarrah adalah menabrakkan pesawat ke simbol Amerika, yaitu Gedung Capitol atau Gedung Putih. Dia dikalahkan oleh para penumpang United 93 yang tidak bersenjata.

Joe Biden meletakkan karangan bunga di Flight 93 National Memorial pada peringatan 19 tahun serangan teror 9/11 di Shanksville, Pennsylvania, 11 Sept. 2020. (AFP)



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Pernyataan Perang Bin Laden dan Jawaban George Bush

Jumat, 10 September 2021 | 23:05 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com – Sekitar tiga tahun sebelum serangan teroris dahsyat ke sejumlah kota di Amerika Serikat pada 11 September 2001, sebetulnya sudah ada ancaman dari kelompok pelaku yang juga diketahui masyarakat luas.

Pada Februari 1998, warga Arab Saudi terusir Osama Bin Laden dan buronan asal Mesir Ayman al Zawahiri mengeluarkan “fatwa” dengan klaim mewakili Front Islam Dunia untuk diterbitkan di sebuah suratkabar bahasa Arab di London.

Dalam “fatwa” itu disebutkan bahwa Amerika sudah menyatakan perang kepada Tuhan dan nabi-Nya, dan menyerukan pembunuhan terhadap setiap warga negara Amerika di mana pun di muka bumi.

Seruan itu menjadi “tugas yang bisa dilakukan setiap Muslim di semua negara bila mana memungkinkan”, menurut bunyi “fatwa” tersebut.

Tiga bulan kemudian, ketika diwawancarai televisi ABC di Afghanistan, Bin Laden mempertegas pesannya dengan mengatakan lebih penting bagi kaum Muslim untuk membunuh warga Amerika daripada membunuh “orang kafir” lainnya.

“Jauh lebih baik bagi siapa pun untuk membunuh seorang tentara Amerika daripada melakukan aktivitas lainnya,” ujarnya ketika itu.

Saat ditanya apakan dia menyetujui tindak terorisme dan serangan terhadap warga sipil, Bin Laden menjawab: “Kami yakin bahwa pencuri paling buruk di dunia dan teroris paling buruk adalah warga Amerika. Kami tidak harus membedakan antara militer dan sipil. Sepemahaman kami, mereka semua adalah target.”

Bin Laden mengatakan bahwa hengkangnya tentara Uni Soviet dari Afghanistan pada akhir 1980-an merupakan bukti bahwa pasukan Muslim yang berdedikasi bisa mengatasi sebuah negara superpower.

“Kami yakin -- dengan rahmat Allah -- akan bisa menang atas Amerika,” ujarnya.

Lalu dia melanjutkan: “Jika ketidakadilan ini berlanjut, tidak akan terhindarkan lagi bahwa perang akan pindah ke tanah Amerika.”

Pada September 2001, 19 anggota Al Qaeda pimpinan Bin Laden membajak empat pesawat penumpang Amerika, dua ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center, satu dihantamkan ke gedung Pentagon, dan satu lagi jatuh sebelum sampai ke Washington DC, entah menargetkan Gedung Putih atau Gedung Capitol.

Hampir 3.000 orang tewas di bumi Amerika saat itu, serangan teroris paling dahsyat dalam sejarah mereka.

Jawaban Amerika
Tidak pelak lagi, serangan itu membuat Amerika dalam situasi siap perang. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui siapa pelaku serangan, dan tidak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa Al Qaeda pelakunya dan Bin Laden dalangnya.

Mood untuk segera berperang dan melakukan pembalasan tidak hanya melanda pemerintah, tetapi juga anggota parlemen, akademisi, dan bahkan media Amerika.

Presiden George W Bush tampil sebagai sosok pemersatu dan setiap rencananya untuk menyusun serangan berlangsung mulus tanpa kendala politik.

Presiden George W. Bush berpidato secara mendadak menggunakan megafon di atas reruntuhan gedung World Trade Center pada 14 September 2001. (National Archives Catalog/Eric Draper)

Malam hari setelah serangan, Bush mengatakan Amerika akan memburu pihak yang bertanggung jawab dan “tidak akan membedakan antara teroris dan pemerintah yang melindungi mereka”.

Ketika itu, nama Al Qaeda dan Bin Laden belum disebutkan.

Baru pada 20 September 2001, di hadapan seluruh anggota parlemen di Capitol, Bush mengidentifikasi lawan Amerika dalam pidato yang disebut-sebut yang terbaik pada eranya.

Ketika itu, para politisi Partai Republik dan Partai Demokrat bersatu dan membuang perbedaan. Mereka berdiri dan bertepuk tangan untuk presiden hingga lusinan kali. Juga hadir sebagai tamu kehormatan adalah Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

“Pada 11 September, musuh dari kebebasan melakukan tindakan perang melawan negara kita. Amerika pernah berperang, tetapi selama 136 tahun mereka berperang di luar negeri, kecuali pada satu hari Minggu tahun 1941. Amerika juga pernah mengalami jatuhnya korban, namun tidak di pusat kota yang hebat pada pagi yang damai,” kata Bush.

“Amerika juga pernah diserang mendadak, tetapi tidak pernah dilakukan pada ribuan warga sipil.”

Setelah itu, Bush mulai membeberkan peran Al Qaeda, Bin Laden, dan rezim yang melindungi mereka -- Taliban di Afghanistan.

Berikut petikan pidato Bush:

“Bukti yang kami kumpulkan semua menunjuk pada afiliasi longgar organisasi-organisasi teroris yang diketahui sebagai al Qaeda. Mereka ini sebagian adalah para pembunuh yang didakwa atas pemboman di kedutaan Amerika di Tanzania dan Kenya dan bertanggung jawab atas pemboman di kapal USS Cole.

Al Qaeda dan terorisme sama seperti Mafia dan kriminalitas. Namun, tujuan mereka bukan mendapat uang, tujuan mereka adalah mengubah dunia dan memaksakan keyakinan radikal pada orang-orang di mana saja.

Para teroris mempraktikkan satu ajaran ekstremisme Islam yang sudah ditolak oleh para cendekiawan Muslim dan sebagian besar para pemuka agama Islam -- gerakan yang mengkhianati ajaran-ajaran damai dalam Islam.

Perintah yang diterima para teroris adalah membunuh umat Kristen, Yahudi, dan semua warga Amerika dan tidak membedakan antara militer dan sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kelompok ini dan ketuanya, orang bernama Osama Bin Laden, terkait dengan organisasi-organisasi lain di berbagai negara, termasuk Islamic Jihad Mesir dan Islamic Movement Uzbekistan.

Ada ribuan teroris seperti ini di lebih dari 60 negara.

Mereka direkrut dari negara dan lingkungan masing-masing dan dibawa ke tempat-tempat seperti Afghanistan, di mana mereka dilatih taktik terorisme. Mereka lalu dikirim pulang atau dikirim untuk bersembunyi di negara lain di seluruh dunia untuk merencanakan kejahatan dan kehancuran.

Kepemimpinan Al Qaeda punya pengaruh besar di Afghanistan dan mendukung rezim Taliban untuk menguasai sebagian besar negara itu. Di Afghanistan kami melihat visi Al Qaeda pada dunia. Rakyat Afghanistan diperlakukan dengan brutal, banyak yang kelaparan dan banyak yang sudah melarikan diri.”

Presiden George W. Bush menonton berita televisi tentang pesawat yang menabrak salah satu menara World Trade Center saat dia berkunjung ke sebuah sekolah dasar di Sarasota, Florida, 11 September 2001. (National Archives Catalog/Eric Draper)

Taliban
Lanjutan pidato Bush berikutnya secara tidak langsung menjadi pernyataan perang bukan hanya kepada Al Qaeda, tetapi juga Taliban yang memerintah Afghanistan.

Berikut pernyataannya:

Dengan membantu dan mendukung pembunuh, maka rezim Taliban ikut melakukan pembunuhan. Dan malam ini, Amerika Serikat menyampaikan sejumlah tuntutan berikut kepada Taliban.

Kirim kepada otoritas Amerika Serikat semua pemimpin Al Qaeda yang bersembunyi di negara Anda.

Bebaskan semua warga asing, termasuk warga Amerika yang telah kalian penjarakan secara tidak adil.

Lindungi para jurnalis asing, diplomat dan pekerja kemanusiaan di negara Anda.

Segera tutup secara permanen setiap tempat pelatihan teroris di Afghanistan. Dan serahkan semua teroris dan infrastruktur pendukung mereka ke otoritas berwenang.

Berikan Amerika Serikat akses penuh ke tempat-tempat pelatihan teroris sehingga kami bisa memastikan mereka tidak beroperasi lagi.

Tuntutan-tuntutan ini tidak untuk dinegosiasikan atau didiskusikan.

Jelas pidato Bush tersebut tidak banyak basa-basi, tetapi langsung mengarah ke rencana aksi militer di Afghanistan. Dalam konteks waktu itu, hampir tidak ada anggota Kongres atau rakyat Amerika yang keberatan.

Kalimat Bush lain yang mendapat aplaus sangat meriah adalah berikut ini:

“Perang kami melawan terorisme dimulai dengan Al Qaeda, tetapi tidak akan berakhir di sana. Ini baru akan berakhir kalau setiap kelompok teroris yang punya jangkauan global telah ditemukan, dihentikan, dan dikalahkan.”

Bush juga menjelaskan bahwa perang yang akan dijalani Amerika Serikat tidak seperti perang mengusir Irak dari Kuwait atau perang di Kosovo yang berlangsung relatif singkat.

Juga bukan sekedar aksi pembalasan dengan serangan terbatas, melainkan perang berkepanjangan untuk mengalahkan dan mengusir teroris dari satu tempat ke tempat lain sampai tidak ada lagi tempat bersembunyi. Juga akan melibatkan aksi diplomasi dan upaya menghentikan pendanaan global bagi teroris.

Kontroversi
Lalu, dia membuat pernyataan yang sangat kontroversial di mata negara lain hingga sekarang.

“Dan kami akan memburu negara-negara yang memberi bantuan atau melindungi terorisme. Setiap negara di setiap kawasan harus membuat keputusan sekarang: apakah Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris,” kata Bush.

Bagi para anggota Kongres, ucapannya itu terdengar sangat heroik dan mendapat sambutan luar biasa.

Pidato Bush diikuti oleh invasi militer Amerika ke Afghanistan pada 7 Oktober 2001, dengan nama Operation Enduring Freedom dan dibantu negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Hanya sekitar satu bulan berikutnya, Kabul direbut dan penguasa Taliban tersingkir ke wilayah pegunungan.

Namun, kelompok tersebut tetap eksis dan kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021, sebulan menjelang perayaan 20 tahun peristiwa 11 September.

Bin Laden akhirnya terbunuh dalam operasi pasukan khusus Amerika di Pakistan pada Februari 2011 di era Presiden Barack Obama.

Kabar terbunuhnya Osama Bin Laden di halaman sampul surat kabar Pakistan Today (AFP)



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Biden Sedang di Gerbong Kereta Saat Peristiwa 11 September

Sabtu, 11 September 2021 | 03:28 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com - Senator Joe Biden sedang dalam perjalanan naik kereta api dari Delaware ke Washington DC dan bicara di telepon dengan istrinya ketika pesawat kedua menabrak gedung World Trade Center, 11 September 2001.

"Ya Tuhan, ya Tuhan."
"Jill, ada apa?"
"Pesawat satu lagi ... menara satu lagi."

Biden, saat itu menjabat Ketua Komite Hubungan Luar Negeri di Senat, berada di kereta pagi berangkat dari stasiun Wilmington untuk bekerja di gedung parlemen di Washington DC.

Dua pesawat menghantam menara kembar World Trade Center, dan segera menyadarkan semua warga Amerika bahwa itu bukan kecelakaan, tetapi serangan disengaja oleh teroris.

Sekarang menjabat presiden, Biden akan memimpin peringatan dua dekade peristiwa itu dengan mengunjungi tiga lokasi di mana empat pesawat yang dibajak jatuh -- Ground Zero di New York; Shanksville, Pennsylvania; dan Pentagon di Arlington, Virginia.

Dalam memoarnya berjudul: "Janji untuk Dipenuhi: Dalam Hidup dan Politik”, Biden menggambarkan bagaimana dia berupaya menguatkan dan mempersatukan bangsa Amerika yang terguncang pada hari naas itu.

Dia juga mengungkap telah mengirim pesan kepada presiden waktu itu, George W Bush -- yang memulai perang di Afghanistan setelah tragedi dan kemudian diakhiri Biden akhir Agustus lalu.

Saat turun dari kereta di Stasiun Union, Biden mengatakan dia melihat asap tebal mengepul ke langit di atas Gedung Capitol. Pesawat ketiga baru saja menabrak Pentagon, yang tidak jauh letaknya dari Washington DC.

Dia melanjutkan perjalanan ke Capitol, di mana sedang dilakukan evakuasi terhadap semua penghuni kantor DPR dan Senat.

Saat ditelepon putrinya yang meminta dia keluar dari Washington, Biden berkeras bahwa Capitol adalah tempat yang paling aman, bahkan meskipun banyak yang mengatakan ada pesawat lain mengarah ke sana dan semua pimpinan Kongres sudah diangkut helikopter ke bunker.

"Brengsek, saya ingin masuk," ujarnya kepada seorang polisi di tangga masuk Capitol. Petugas tetap melarangnya masuk.

Seperti tertulis di memoarnya, Biden mengatakan penting bagi dia untuk menunjukkan ke bangsa ini bahwa aktivitas masih tetap berlangsung normal.

Linda Douglass, saat itu jurnalis ABC News, mengatakan dia melihat Biden dan senator John Warner dari Virginia membahas masalah senioritas di antara mereka, karena Biden ingin masa sidang Kongres tetap dibuka.

"Dia sungguh-sungguh merasa ini hal penting bagi pemerintahan untuk kembali bekerja," kata Douglass.

Setelah itu Biden setuju untuk wawancara dengan ABC News dan mengikuti Douglass beberapa blok ke lokasi di mana sudah disiapkan kamera.

Menurut Douglass, ketika Biden diwawancara, Presiden Bush masih di pesawat Air Force One, Wakil Presiden Dick Cheney diamankan di sebuah bunker dan para petinggi Kongres juga diungsikan ke tempat aman.

"Sangat penting bagi bangsa ini untuk mendengar pernyataan dari seorang tokoh senior di pemerintahan," kata Douglass.

Dalam wawancara, Biden mengatakan Amerika akan memburu siapa pun yang bertanggung jawab dalam serangan tersebut sembari mendesak warga untuk tetap tenang dan kompak.

"Terorisme menang ketika mereka bisa mengubah kemerdekaan sipil kita atau membungkam lembaga-lembaga kita," kata Biden.

"Kita harus tunjukkan bahwa tidak satu pun dari itu terjadi."

Lalu, dia menambahkan: "Bangsa ini terlalu besar, terlalu kuat, terlalu erat persatuannya dan terlalu kokoh dalam soal nilai-nilai untuk bisa diruntuhkan begitu saja. Dan itu tidak akan pernah terjadi."

Anggota DPR Bob Brady dari Philadelphia, teman lama Biden, sedang bersama dia pada hari itu.

Brady mengatakan dia memberi tumpangan pada Biden dan saudaranya Jim untuk pulang ketika Presiden Bush menelepon dari Air Force One untuk berterima kasih pada Biden atas komentarnya di televisi.

"Penting untuk menunjukkan ke rakyat Amerika bahwa semuanya sudah aman sekarang dan kita senasib dalam hal ini. Baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, kami akan total mendukung presiden. Itu pesan yang disampaikan Joe, dan untuk itulah Presiden menelepon dia," kata Brady.

Brady mengenang bahwa Biden saat itu mendesak Bush untuk kembali ke ibu kota.

"Mr. President, pulanglah ke Washington,” kata Biden.

Dalam wawancara dengan CNN, Brady memberi pendapatnya.

“Anda pasti tidak ingin rakyat melihat pemimpinnya menuju bunker. Keluarkan dia dari sana, kembalikan ke Gedung Putih. Dan bagusnya, dia melakukan itu," kata Brady.

Biden juga menulis pembicaraannya dengan Bush, bahwa presiden memberi tahu kalau dia menuju ke sebuah lokasi rahasia di Midwest karena intelijen melarangnya kembali ke Washington DC.

"Waktu itu saya mengisahkan sebuah cerita tentang pemimpin perlawanan Prancis, Charles de Gaulle, menjelang akhir Perang Dunia II. Ketika Prancis dibebaskan, ada perayaan di Champs-Elysées, Paris oleh para tokoh penting, jenderal, dan perwira, dipimpin oleh de Gaulle sendiri. Saat mereka berbaris menuju Hôtel de Ville, suara tembakan terdengar dari atas dan semua tiarap kecuali de Gaulle. Dia terus berjalan tegak ke depan," tulis Biden.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Kenang Para Korban, AS Gelar Peringatan 9/11

Sabtu, 11 September 2021 | 13:44 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / Unggul Wirawan

New York, Beritasatu,com- Amerika menandai peringatan 20 tahun tragedi 9/11 pada Sabtu (11/9/2021). Seperti dilaporkan AFP, Sabtu (11/9), warga menggelar upacara khidmat untuk mengenang para korban. Peringatan yang menyayat hati akan tergambar di masing-masing dari tiga lokasi di tempat 19 pembajak Al-Qaeda melancarkan aksinya.

Dalam satu video yang diposting pada malam peringatan itu, Presiden Joe Biden mendesak orang Amerika untuk menunjukkan persatuan, sebagai "kekuatan terbesar Amerika”

"Bagi saya, itulah pelajaran utama 11 September. Itu adalah hal yang paling rentan, dalam dorongan dan tarikan dari semua yang membuat kita menjadi manusia, dalam pertempuran untuk jiwa Amerika, persatuan adalah kekuatan terbesar kita," kata Biden. dalam pesan enam menit dari Gedung Putih.

Di Ground Zero New York, tempat dua kolam air sekarang berdiri di tempat Menara Kembar dulu, kerabat akan membacakan nama-nama hampir 3.000 orang yang tewas, dalam layanan empat jam mulai pukul 8.30 pagi waktu setempat.

Enam momen hening akan dikenang, sesuai dengan saat dua menara World Trade Center dihantam, dan runtuh, dan saat Pentagon diserang dan Penerbangan 93 jatuh.

Monica Iken-Murphy, yang kehilangan suaminya yang berusia 37 tahun Michael Iken di World Trade Center, mengatakan peringatan ini akan menjadi peringatan "besar" bagi banyak orang Amerika.

Tetapi bagi , seperti banyak orang yang selamat lainnya, rasa sakit itu tidak pernah goyah. "Saya merasa seperti itu baru saja terjadi," katanya kepada AFP.

Seluruh generasi telah tumbuh sejak pagi 11 September 2001.

Untuk sementara, pendiri Al Qaeda Osama bin Laden telah diburu dan dibunuh. Satu pencakar langit baru yang menjulang tinggi telah muncul di atas Manhattan, menggantikan Menara Kembar. Kurang dari dua minggu lalu, tentara AS terakhir terbang dari bandara Kabul, mengakhiri apa yang disebut "perang selamanya".

Tapi Taliban yang pernah melindungi bin Laden kembali memerintah Afghanistan, militer AS yang perkasa dipermalukan. Di Teluk Guantanamo, terdakwa dalang 9/11 Khalid Sheikh Mohammed dan empat pria lainnya terus menunggu persidangan, sembilan tahun setelah dakwaan diajukan.

Bahkan cerita lengkap tentang bagaimana serangan itu terjadi masih dirahasiakan. Baru minggu lalu Biden memerintahkan pelepasan dokumen rahasia dari penyelidikan Biro Investigasi Federal selama enam bulan ke depan.

Di Ground Zero pada tahun 2001, sekitar 2.753 orang dari seluruh dunia tewas dalam ledakan awal, melompat ke ajal mereka, atau menghilang begitu saja di neraka menara yang runtuh.

Di Pentagon, satu pesawat membuat lubang api di sisi pusat saraf militer negara adidaya itu, menewaskan 184 orang di pesawat dan di darat.

Di Shanksville, Pennsylvania, gelombang ketiga pembajak menabrak satu lapangan setelah penumpang melawan, mengirim pesawat United 93 jatuh sebelum mencapai target yang diinginkan - kemungkinan gedung Capitol AS di Washington.

Menurut Gedung Putih, Biden dan Ibu Negara Jill Biden singgah di masing-masing tempat ini pada Sabtu untuk "menghormati dan mengenang nyawa yang hilang.

Dalam pidato video pada Jumat malam, Biden mendesak orang Amerika untuk bersatu ketika mereka merenungkan tragedi itu.

“Persatuan bukan berarti kita harus mempercayai hal yang sama, tetapi kita harus memiliki rasa hormat dan keyakinan mendasar satu sama lain dan pada bangsa ini,” katanya.

Namun, alih-alih memimpin momen persatuan, Biden akan melintasi negeri yang marah atas evakuasi Kabul yang berantakan, termasuk soal 13 tentara AS yang terbunuh oleh seorang pembom bunuh diri, dan disengat oleh realisasi kegagalan dan kekalahan yang lebih luas.

Bagi kerabat korban, peringatan hari tragedi 9/11 adalah tentang menjaga ingatan orang yang mereka cintai tetap hidup.

"Ini seperti Pearl Harbour. Orang yang tidak hidup tidak memiliki perasaan yang sama dengan mereka yang masih hidup. Tapi Amerika tidak pernah melupakan Pearl Harbor dan Amerika tidak akan pernah melupakan 9/11," kata Frank Siller, yang saudara pemadam kebakarannya Stephen meninggal di World Trade Center.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Dua Dekade Pascaserangan 9/11, Arab Saudi Ingin Hapus Citra Keras

Kamis, 9 September 2021 | 23:49 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / Unggul Wirawan

Riyadh, Beritasatu.com- Dua dekade setelah milisi mendalangi dan melakukan serangan 11 September, kerajaan Arab Saudi berjuang untuk menghapus citra keras. Seperti dilaporkan AFP, Kamis (9/9/2021), Saudi melakukan upaya reformasi yang bertujuan memperbarui citra ultra-konservatifnya.

Wanita dapat mengemudi dan bioskop telah dibuka kembali di Arab Saudi "baru" di bawah putra mahkota dan penguasa de facto Mohammed bin Salman, di antara banyak reformasi modern yang diyakini beberapa orang dapat dikaitkan dengan trauma 9/11.

“Inisiatif itu adalah salah satu konsekuensi jangka panjang" dari serangan teroris terburuk di tanah AS,” kata Yasmine Farouk dari lembaga kajian, Carnegie Endowment for International Peace kepada AFP.

Lima belas warga Saudi termasuk di antara 19 pembajak dalam serangan pesawat di World Trade Center dan Pentagon. Serangan itu menewaskan hampir 3.000 orang dan direncanakan oleh pemimpin Al-Qaeda kelahiran Saudi, Osama bin Laden.

Kerajaan Saudi yang adalah sekutu lama Amerika, membantah terlibat. Tetapi Saudi menghadapi retorika keras AS atas sistem sosial dan pendidikannya yang menurut para kritikus mempromosikan ekstremisme.

Lebih banyak tekanan dapat menyusul dalam beberapa bulan mendatang setelah Presiden AS Joe Biden memerintahkan deklasifikasi dokumen rahasia dari penyelidikan AS atas serangan tersebut.

Biden menanggapi tekanan dari keluarga beberapa dari mereka yang terbunuh pada 9/11 yang telah lama berpendapat bahwa dokumen rahasia mungkin berisi bukti bahwa pemerintah Saudi memiliki hubungan dengan para pembajak.

Dalam satu pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu (8/9) oleh kedutaan besarnya di Washington, Arab Saudi menyatakan "menyambut baik" langkah Biden.

Citra keras Arab Saudi berakar pada interpretasi Wahhabi yang ketat tentang Islam, sebuah doktrin puritan yang dituduh diekspor ke seluruh dunia.

Negara, yang menampung situs-situs paling suci Islam dan merupakan pengekspor minyak terbesar di dunia, pada awalnya menolak tekanan untuk reformasi.

Tetapi kebangkitan Pangeran Mohammed, atau "MBS", yang dinobatkan sebagai putra mahkota pada tahun 2017, dan kebutuhan untuk melakukan diversifikasi karena permintaan minyak yang menurun telah membawa serangkaian perubahan ekonomi, sosial dan agama.

Pangeran Mohammed telah berusaha memposisikan dirinya sebagai juara Islam "moderat", bahkan ketika reputasi internasionalnya terpukul dari pembunuhan 2018 jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul.

Larangan yang dikecam keras terhadap wanita mengemudi dicabut pada 2018, konser musik campuran gender sekarang diizinkan, dan bisnis dapat tetap buka selama salat lima waktu.

Arab Saudi juga telah mengebiri polisi agama yang pernah ditakuti, yang akan mengusir orang keluar dari mal untuk pergi dan berdoa dan mencaci maki siapa pun yang terlihat berbaur dengan lawan jenis.

Negara Teluk ini adalah tujuan jutaan jemaah Muslim setiap tahun, dan membuka pintunya untuk pariwisata non-religius.

“Kerajaan adalah tempat yang sangat berbeda dan lebih baik. Reformasi telah membongkar struktur dan jaringan Islam radikal di dalam negeri. Teroris yang merencanakan kemarahan yang mirip dengan 9/11 harus pergi ke tempat lain selain kerajaan untuk mencari rekrutan, karena kumpulan pemuda Saudi yang diindoktrinasi dalam Islam reaksioner dengan cepat menyusut,” kata penasihat pemerintah Saudi Ali Shihabi kepada AFP.

Tetapi banyak pihak Saudi memperingatkan bahwa reformasi yang cepat dan menyeluruh membawa risiko serangan balasan. Sentimen populer sulit diukur ketika pihak berwenang terus menindak oposisi atau aktivis mana pun

Peneliti Carnegie, Farouk mengatakan dalam banyak hal, reformasi adalah "Arab Saudi baru", tetapi memperingatkan reformasi "tidak cukup" untuk memberantas ekstremisme.

"Mereka tidak melibatkan dialog dengan masyarakat yang akan membahas argumen ekstremis. Dialog adalah sesuatu yang sangat penting untuk mencapai tujuan dan tidak hanya memaksakan perubahan pada orang-orang,” katanya.

Reformasi harus fokus pada sistem pendidikan yang telah lama dikaitkan dengan Wahhabisme, kata Kristin Diwan dari Institut Negara Teluk Arab di Washington.

"Mereformasi seluruh sistem pendidikan - kurikulum, instruktur, institusi - adalah tugas besar yang mirip dengan membangun kembali masyarakat itu sendiri," katanya kepada AFP.

Kerajaan saat ini sedang meninjau buku teks yang menyebut non-Muslim sebagai "kuffar" atau non-Muslim, sementara kementerian pendidikan telah mengumumkan sedang mengerjakan kurikulum baru yang mempromosikan "nilai-nilai kebebasan berpikir dan toleransi".

Pada tahun 2018, Pangeran Mohammed mengatakan kepada televisi CBS bahwa ia bertujuan untuk menghapus semua elemen "ekstremis" dari sistem pendidikan, di mana kelompok Islam garis keras dipekerjakan secara luas.

"Tidak diragukan lagi bahwa niat sayaada, tapi eksekusi yang efektif akan memakan waktu," kata Diwan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN
Share to WhatsApp


TAG POPULER

# PON Papua


# Tukul Arwana


# Toko Obat Ilegal


# Piala Sudirman


# Suap Pejabat Pajak


B1 Livestream

TERKINI
Liga 1: PSIS Sudah Kantongi Taktik Lawan Arema FC

Liga 1: PSIS Sudah Kantongi Taktik Lawan Arema FC

BOLA | 7 jam yang lalu









BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings