"Perang" di Kandang Lawan


Willy Masaharu / AO
Senin, 15 April 2019 | 22:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, 17 April 2019, kurang dari dua hari lagi. Berbagai cara dilakukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk bisa memenangkan pertarungan. Salah satunya adalah dengan merebut suara di daerah-daerah yang menjadi basis massa pendukung lawan. Ini tidak mudah. Tetapi, bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Bisa dikatakan genderang perang di "kandang" lawan ini dimulai oleh kubu pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga S Uno. Beberapa bulan lalu mereka telah menargetkan kemenangan di Jawa Tengah (Jateng). Padahal, selama ini Jateng dikenal sebagai basis massa pendukung capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) bersama partai pengusung utamanya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean pernah mengatakan, PDIP dan Jokowi adalah satu kesatuan. Itu Artinya ada pengakuan bahwa memang cukup sulit untuk merebut suara untuk Prabowo-Sandi di Jateng, Namun, bukan berarti BPN menyerah. Mereka bahkan memindahkan markas perjuangan ke Jateng untuk memecah suara PDIP dan menggerus elektabilitas Jokowi pada Pilpres 2019.

Peluang Prabowo-Sandi menggerus elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin di Jateng terbuka bila melihat hasil Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018, yakni antara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah yang diusung Partai Gerindra dan koalisinya versus Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang diusung PDIP bersama partai koalisi lainnya.

Memang saat itu Ganjar menang. Tetapi, suara yang diperoleh Sudirman-Ida Fauziah cukup signifikan. Mereka berhasil meraih suara 41% atau hanya berjarak sedikit saja dari Ganjar yang meraih 58% suara. "Meski Jateng basis Banteng (PDIP, Red) yang loyal dan militan, tetapi masih ada celah untuk pasangan calon masuk dengan menawarkan ekspektasi yang bisa diterima masyarakat Jateng. Saya kira masih bisa memenuhi target," kata Ferdinand.

Dia menerangkan, celah itu terbuka dari undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pasangan capres-cawapres yang akan dipilih di Pilpres 2019 mendatang. Dia memperkirakan, angka undecided voters di Jateng tinggi, yang sebagian besar adalah kalangan milenial.

Berkaca dari Pilgub Jateng, dia meyakini siapa pun yang bisa merangkul undecided voters pada Pilpres 2019 akan mengubah hasil secara signifikan. Dia menilai, pengemasan isu di media sosial sulit memengaruhi pemilih di Jawa Tengah. Selain karena faktor loyalitas, mayoritas pemilih di Jawa Tengah juga disebut tak banyak mengakses media sosial. Prabowo disebutkan bisa meraih suara undecided voters dari kalangan milenial jika mampu mengemas isu apik di media sosial.

Jateng termasuk dalam urutan ketiga kantong perebutan suara Jokowi dan Prabowo dengan jumlah pemilih sebanyak 27.430.269 orang. Provinsi ini menjadi salah satu titik lemah Prabowo, di mana mantan Danjen Kopassus itu hanya meraih 6.485.720 suara dari total pemilih 19.445.260 suara sah pada Pilpres 2014. Di saat yang sama, Jokowi meraih 12.959.540 suara atau hampir dua kali lipat dari perolehan suara Prabowo saat itu.

Kepercayaan Diri
Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, tim sukses Prabowo berkaca pada hasil Pilgub Jateng, yang membuat mereka melihat ada peluang untuk merebut suara Jokowi di sana. Hasil Pilgub Jateng itu yang memunculkan kepercayaan diri kubu Prabowo.

"Kepercayaan diri tim Prabowo-Sandi sepertinya berangkat dari hasil Pilgub Jawa Tengah, di mana secara mengejutkan Sudirman Said mampu memberikan perlawanan keras dari calon yang diusung PDIP. Dalam perspektif kampanye, ini cara tim Prabowo untuk memperluas zona pertarungan dengan petahana dan menggeser pertarungan ke banyak tempat, sehingga membelah fokus tim petahana," kata Arya.

Pengamat politik dari lembaga survei Median, Rico Marbun mengatakan, kubu Prabowo ingin menjatuhkan mental Jokowi lantaran dengan mendirikan posko pertempuran di Solo, Jateng. Apalagi, Solo merupakan basis massa Jokowi.

"Pihak Prabowo ingin menjatuhkan mental tempur Jokowi. Solo adalah akar Jokowi, sementara Jawa Tengah secara umum adalah basis Jokowi. Jadi, Prabowo ingin memberi pesan ke Jokowi 'saya (Prabowo) tidak takut untuk bertarung di kandang anda (Jokowi)'," kata Rico.

Prabowo juga dinilai tidak perlu khawatir jika kalah tipis oleh Jokowi di Jateng. Sebab, itu tetap membuka peluang Prabowo menang secara nasional dengan catatan unggul di kantong suara lainnya. "Untuk menang secara nasional, Prabowo tidak perlu menang di Jateng. Prabowo kalah tipis saja di Jateng, itu artinya sudah membuka peluang menang secara nasional," kata Rico.

Sementara, Direktur Eksekutif Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago berpendapat, pemindahan markas perjuangan Prabowo-Sandi ke Jateng beberapa waktu lalu merupakan upaya melakukan perang urat saraf . BPN Prabowo-Sandi, ujarnya, berusaha menjatuhkan mental lawan di kandangnya sendiri. "Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal. Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan atau margin elektoral di Jateng," kata Pangi.

Meski demikian, Pangi pesimistis bila Prabowo-Sandi bisa mengalahkan Jokowi-Ma'ruf di Jateng. Upaya-upaya yang dilakukan BPN Prabowo-Sandi diperkirakan hanya bisa mengurangi margin kekalahan. Prediksi itu berdasakan perolehan suara Prabowo dan Jokowi pada Pilpres 2014.

Saat itu, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih 12.959.540 suara atau 66,65%, sedangkan suara Prabowo-Hatta hanya 6.485.720 suara atau 33,35%. "Medannya tidak mudah dan nyaris sama dengan Pilpres 2014. Ada tantangan tersendiri. Namun, sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan cek ombak," ucap Pangi

Merebut wilayah yang secara tradisional milik partai lain bukan perkara yang mudah. Apalagi, bagi wilayah seperti Jateng yang selama bertahun-tahun sudah "milik" PDIP. Partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri ini tidak hanya memenangi wilayah ini secara konsisten, tetapi marjin kemenangan mereka juga tergolong tinggi.

Meski demikian, merebut wilayah tradisional milik partai lain sebenarnya bukan hal yang sama sekali tidak mungkin. Jawa Timur (Jatim) merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah wilayah dapat jatuh ke tangan partai lain, meski secara tradisional menjadi basis massa partai tertentu.

Jatim dianggap sebagai provinsi yang secara tradisional adalah "hijau" karena lekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Setelah Era Reformasi, unsur hijau milik NU itu diterjemahkan ke partai yang berhaluan serupa, yaitu PKB. Pada Pemilu 1999 dan 2004, PKB berhasil membuat Jatim menjadi basis suara mereka.

Namun, pada 2009, Partai Demokrat berhasil mengubah warna hijau Jatim menjadi biru. Di luar dugaan, Demokrat berhasil menghentikan dominasi PKB dan mendapatkan suara terbanyak di provinsi tersebut. Tidak hanya itu, Partai Demokrat juga sudah terlebih dulu mengamankan posisi gubernur, sehingga Jatim bisa dikatakan menjadi provinsi biru secara utuh.

Kemenangan Demokrat di Jatim itu menjadi gambaran bahwa merebut basis suara partai lain bukan sesuatu yang sama sekali mustahil. Boleh jadi, Sandiaga dan tim pemenangannya bisa mengambil kiprah Demokrat tersebut sebagai gambaran untuk menggoyang kandang banteng.

Perlu diakui, mengambil alih kandang banteng bukanlah perkara yang benar-benar mudah. Diperlukan kerja ekstra keras bagi Prabowo dan Sandiaga. Namun, kerja keras ini bisa berbuah manis dan berujung pada sebuah kursi di Istana.

Membidik Bumi Parahyangan
Upaya untuk merebut kandang lawan juga dilakukan oleh Jokowi. Incaran utamanya adalah Jawa Barat (Jabar). Bisa jadi, salah satu alasan Jokowi menunjuk KH Ma'ruf Amin sebagai pasangannya karena ingin merebut suara di Jabar dan Banten. Tipikal masyarakat di dua provinsi itu adalah masyarakat yang relijius, sesuai dengan karakter Kiai Ma'ruf.

Apalagi, selama bertahun-tahun keislaman Jokowi diberi stigma tidak kuat. Stigma seperti ini, yang terus menerus digaungkan di kalangan masyarakat bawah yang amat relijius di Jabar, sangat mengena. Itu juga yang membuat Jokowi kalah di provinsi ini pada Pilpres 2014. Dari total suara sah sebanyak 23.697.696 orang, Jokowi-JK mendapatkan 40,22% atau 9.530.315 atau kalah dari pasangan Prabowo-Hatta yang mendapatkan 14.167.381 suara (59,78%).

Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin pun optimistis bisa merebut kemenangan di Jabar. Keyakinan itu muncul setelah dia berkeliling sejumlah daerah di Jabar, awal Maret lalu. Daerah-daerah yang disambangi Kiai Ma'ruf antara lain Cirebon, Kuningan, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan barakhir di Majenang.

Melalui safari politik itu, Kiai Ma'ruf optimistis bisa mencapai target perolehan suara di Jabar sebesar 60%. "Saya optimistis melihat trennya itu terus naik. Tren (perolehan suara) di Jabar ini terus naik," kata Kiai Ma'ruf saat itu.

Kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf mengatakan, kekalahan Jokowi di Jabar pada Pilpres 2014 karena banyak masyarakat yang termakan kabar bohong. Oleh karena itu, Kiai Ma'ruf berkeliling Jabar untuk meluruskan kabar bohong tentang Jokowi itu. Dia ingin menjaga agar masyarakat tidak terprovokasi.

Untuk merebut suara pemilih mengambang atau yang belum menentukan pilihan, Kiai Ma'ruf bersama tim sukses Jokowi terus mengampanyekan keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK. Diyakini, kampanye keberhasilan itu akan menepis isu-isu bohong dan fitnah yang selama ini dilontarkan kubu lawan.



Sumber: Suara Pembaruan

Memenangkan Pertarungan


Willy Masaharu / AO
Senin, 15 April 2019 | 22:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tensi politik menjelang Pemilihan Presidn (Pilpres) 2019 memang sudah memanas sejak masa kampanye dimulai sekitar enam bulan lalu. Hingga kini, kurang dari dua hari menjelang hari pencoblosan pada Rabu (17/4/2019), bara api yang ada di antara dua kubu calo presiden (capres) tak kunjung padam.

Daerah-daerah yang dianggap sebagai lumbung suara terus digarap. Tak hanya Jawa Tengah (Jateng) yang dianggap sebagai battleground oleh dua paslon, yakni Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno. Dua pasangan juga terus berupaya merebut suara di daerah-daerah lain, khususnya di Jawa.

Pertarungan untuk merebut hati pemilih cukup berat, terlebih suara pemilih di wilayah
tersebut bisa menjadi penentu kemenangan baik untuk Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. Berikut ini empat wilayah yang bakal menjadi “medan pertempuran” berat bagi kedua kubu baik capres:

1. Jawa Barat
Pemilih di Jawa Barat bisa menjadi salah satu penentu kemenangan dalam Pilpres 2019, karena jumlah penduduk Jabar terbesar di Indonesia. Ini membuat dua paslon Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga ramai-ramai merebut hati pemilih di Jabar.

Jika melihat peta politik Pilpres 2014, Jawa Barat merupakan lumbung suara Prabowo. Prabowo menang telak dari Jokowi dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78%. Sedangkan, Jokowi hanya mendapatkan 9.530.315 suara atau 40,22%. Meski demikian, kubu Jokowi tak mau tinggal diam. Mereka menggerakkan semua mesin politik koalisinya dan relawan untuk bergerak memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Salah satunya PDIP melakukan safari politik ke lima kabupaten di Jawa Barat.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya mengusung misi agar Jabar tidak lagi menjadi lumbung suara Prabowo Subianto seperti 2014. “Sehingga, 'kandang' Pak Prabowo di Jawa Barat bergeser menjadi kandang Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin. Itu yang kami pastikan," kata Hasto.

Lagi pula, di Jabar, Ketua Tim Kampanye Daerah Jabar Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedi Mulyadi sudah teruji ketangguhannya menguasai wilayah. Kang Dedi, demikian dia akrab disapa, bukanlah orang sembarangan. Tokoh ini dianggap sangat mampu menaikkan elektabilitas paslon Jokowi-Ma'ruf Amin di lumbung-lumbung pemilih militan Prabowo.

Sementara, kubu Prabowo-Sandi tak khawatir suara pemilih beralih memilih Jokowi. Wakil Ketua BPD Prabowo-Sandi Jabar Abdul Hadi Wijaya, mengatakan koalisinya solid untuk memenangkan Prabowo. Terlebih masyarakat yang memilih golput pada Pilpres 2014 lalu tertarik mendukung Prabowo. "Yang golput itu sebagian besar yang kecewa dengan kondisi saat ini dan mulai mendukung Prabowo-Sandi," kata Hadi.

2. Jawa Tengah
Jawa Tengah juga menjadi daerah yang ditargetkan dapat meraup suara pemilih terbanyak untuk Jokowi dan Prabowo. Jika dilihat pada Pilpres 2014, suara Prabowo kalah telak dari Jokowi. Prabowo hanya memperoleh 6.485.720 suara atau 33,35%, sedangkan Jokowi menang dengan 12.959.540 suara atau 66,65%.

Walau Prabowo tahu jika Jateng menjadi “kandang banteng” atau dengan kata lain lumbung suara Jokowi, tak membuat mereka takut. Kubu Prabowo sampai mendirikan kantor pusat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga, di Jalan Letjen Suprapto 53 A, Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, Ferry Juliantono mengatakan, Jawa Tengah saat ini bukan kandang banteng atau basis masa PDIP lagi. Hal tersebut terbukti saat pelaksanaan Pilgub Jateng beberapa waktu lalu, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah perolehan suaranya tidak berselisih jauh dengan Ganjar-Yasin.

Sementara itu, kubu Jokowi sama sekali tidak terusik dengan lawan berkampanye di Jateng. "Sangat yakin. Banteng tak kenal menyerah. Itu sebabnya ada slogan 'biar gepeng tetap Banteng'," kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

3. Jawa Timur
Jawa Timur (Jatim) menjadi wilayah terpenting di pulau Jawa. Jatim adalah salah satu wilayah yang memiliki penduduk terbanyak. Pilpres 2014 di Jatim dimenangkan oleh Jokowi. Prabowo-Hatta kala itu mendapatkan 10.277.088 suara atau 46,83%, sementara Jokowi-JK meraih 11.669.313 atau 53,17%.

Tim Prabowo ingin pada Pilpres 2019 nanti wilayah basis Jokowi itu direbut. Prabowo ingin menang di Jatim. Salah satu caranya adalah dengan merangkul para kiai dan ulama di Jatim. Peran kiai dan ulama di Jatim sangat vital. Akhir November 2018, sejumlah kiai dan ulama keturunan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) memberikan dukungan ke Prabowo-Sandiaga. Mereka datang ke kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara IV Jakarta dari Jawa Timur untuk mendeklarasikan dukungannya. Prabowo-Sandi berserta partai koalisinya juga aktif berkampanye ke Jawa Timur untuk meraih kemenangan dalam Pilpres 2019.

4. Sumatera Barat
Pilpres 2014 lalu, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla kalah telak dari pasangan Prabowo-Hatta di Sumatera Barat. Pasangan Jokowi-JK tercatat hanya meraup suara 539.308 atau 23,08%, dibandingkan Prabowo-Hatta 1.797.505 suara atau 76,93%. Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin mulai bergerak untuk mendulang suara di Sumatera Barat. Calon Wakil Presiden Nomor 01 Ma'ruf Amin, memulai kunjungannya ke provinsi Sumatera Barat pada Kamis 7 Februari.

Kiai Ma'ruf menegaskan, kehadirannya ke Sumbar, tentu ingin mendulang suara. Di mana pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi kalah di “Markas Prabowo”. Dia meyakini, bahwa kondisi di Sumbar sekarang berbeda dengan Pilpres 2014 lalu.

"Tentu kita ingin meraih suara yang besar. Pokoknya bisa menanglah di Sumatera Barat. Menangnya berapa itu soal lain. Lebih besar lebih bagus. Targetnya menang di Sumatera Barat, yang dulu Pak Jokowi memang kalah. Tapi hari ini sudah berubah. Karena itu 2019 ini, Jokowi-Ma'ruf Amin harus menang," ucap Ma'ruf di BIM, Padang Pariaman, Sumbar, Kamis (7/2/2019).



Sumber: Suara Pembaruan