2019, Neraca Perdagangan Harus Kembali Surplus


/ HA
Rabu, 26 Desember 2018 | 18:24 WIB

Jakarta – Pemerintah harus segera melakukan terobosan agar neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada 2019. Jika terus defisit seperti tahun ini, rupiah akan sangat tertekan dan memukul semua sektor ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (17/12), hingga November 2018, Indonesia mencatatkan defisit bulanan delapan kali dan cenderung makin parah, yakni Januari senilai US$ 0,76 miliar, Februari US$ 0,05 miliar, April US$ 1,63 miliar, Mei US$ 1,45 miliar, Juli US$ 2,01 miliar, Agustus US$ 0,94 miliar, Oktober US$ 1,77 miliar, dan November US$ 2,05 miliar. Sedangkan surplus hanya terjadi tiga kali, pada Maret sebesar US$ 1,12 miliar, Juni US$ 1,71 miliar, dan September US$ 0,31 miliar.

Akibatnya, pada periode Januari-November tahun ini, defisit sangat dalam mencapai US$ 7,52 miliar. Padahal, periode sama tahun lalu, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan US$ 12,08 miliar.

“Tahun 2018 dipastikan defisit neraca perdagangan, karena surplusnya hanya beberapa bulan saja dan selebihnya defisit. Apalagi, November saja defisit US$ 2 miliaran. Kalau untuk tahun 2019, yang pemerintah bisa lakukan ya berusaha surplus, walaupun sulit,” ujar Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto kepada Investor Daily, di Jakarta, Senin (17/12).

Eko Listiyanto mengatakan, ada tiga hal penting yang perlu segera dilakukan pemerintah untuk membuat neraca perdagangan kembali surplus. Pertama, lebih proaktif dalam misi perdagangan antarpemerintah (government to government/G2G) untuk menegosiasikan kepentingan perdagangan Indonesia. Pemerintah Indonesia di antaranya bisa meminta pemerintah India agar urung menaikkan tarif impor minyak sawit dari Indonesia agar lebih kompetitif, seperti juga dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

“Misi perdagangan G2G perlu dilakukan dengan negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia, agar ekspor Indonesia tidak terus turun. Hal ini sudah mulai dilakukan banyak negara, karena forum-forum formal seperti WTO, G20, dan APEC, saat ini kurang efektif untuk memperjuangkan kepentingan dagang setiap negara. Misi dagang G2G dinilai lebih efektif, setelah Amerika Serikat dan Tiongkok saling terlibat dalam perang dagang dan cenderung 'meninggalkan' forum-forum perdagangan.

Langkah kedua yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah makin memperbaiki fundamental ekonomi dan menyelesaikan masalah di dalam negeri. Ini, antara lain, dengan menekan biaya logistik dengan membangun infrastruktur lebih baik, serta memperbaiki perizinan dan birokrasi yang masih berbelit agar tidak membebani perekonomian. Ketiga, memberi insentif yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Sementara itu, menyusul rilis laporan neraca perdagangan pada November lalu menembus US$ 2,05 miliar atau tertinggi dalam tahun ini, rupiah kemarin melemah. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia, nilai tukar rupiah turun 79 poin kemarin, dari Rp 14.538 per dolar AS pada 14 Desember 2018 menjadi Rp 14.617.

Negara mitra yang membuat Indonesia defisit perdagangan nonmigas terbesar adalah Tiongkok, diikuti Thailand,
Australia, Jepang, dan Jerman. Sedangkan negara mitra yang membuat Indonesia surplus perdagangan nonmigas terbesar adalah India, diikuti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan Taiwan.

Ekspor-Impor
Pada kesempatan terpisah, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, pada November 2018, ekspor Indonesia sebesar US$ 14,83 miliar, turun 6,69% dibanding Oktober 2018. “Sektor yang menyebabkan turun adalah migas, yang ekspornya merosot 10,75%. Penurunan terjadi karena ekspor hasil minyak turun,” ucap dia di kantornya, Jakarta, Senin (17/12).

BPS mencatat, defisit neraca perdagangan bulan November lalu sebesar US$ 2,05 miliar, melebar dari defisit US$ 1,8 miliar di bulan Oktober. Ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$ 14,83 miliar, sementara impor mencapai US$ 16,88 miliar.

Impor RI pada November menurun dibandingkan bulan Oktober, tetapi belum mampu menyusutkan defisit karena ekspor juga menurun. Nilai ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$ 14,83 miliar atau menurun 6,69% dibanding Oktober 2018. Demikian juga dibanding November 2017 menurun 3,28%. Sementara itu, nilai impor Indonesia November 2018 mencapai US$16,88 miliar atau turun 4,47% dibanding Oktober 2018, namun jika dibandingkan November 2017 naik 11,68%.

Ekspor nonmigas November 2018 mencapai US$ 13,46 miliar, turun 6,25% dibanding Oktober 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas November 2017, turun 4,12%. Sedangkan impor nonmigas November 2018 mencapai US$ 14,04 miliar atau turun 4,80% dibanding Oktober 2018, sebaliknya jika dibanding November 2017 meningkat 8,79%.

Impor migas November 2018 menurun ke US$ 2,84 miliar atau turun 2,80% dibanding Oktober 2018, namun meningkat 28,62% apabila dibandingkan November 2017. Untuk impor migas Januari-November 2018 naik 27,85%, mencapai US$6,06 miliar.

Ekspor Januari-November
Suhariyanto menjelaskan lebih lanjut, ekspor nonmigas November 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,01 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,46 miliar dan Jepang US$ 1,36 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,87%. Sedangkan ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,37 miliar.

Secara kumulatif, lanjut dia, ekspor Indonesia Januari–November 2018 mencapai US$ 165,81 miliar atau meningkat 7,69% dibanding periode yang sama tahun 2017. Namun, impor kumulatif Januari–November 2018 mencapai US$ 173,32 miliar atau meningkat 22,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini membuat defisit neraca RI Januari-November 2018 menembus US$ 7,52 miliar.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–November 2018 adalah Tiongkok dengan nilai US$ 40,85 miliar (28,07%), Jepang US$ 16,61 miliar (11,41%), dan Thailand US$ 10,09 miliar (6,94%). Sedangkan impor nonmigas dari Asean 20,08% dan dari Uni Eropa 8,93%.

Ia menjelaskan, negara mitra yang membuat Indonesia defisit perdagangan nonmigas terbesar Januari-November 2018 adalah Tiongkok, diikuti Thailand, Australia, Jepang, dan Jerman, masing-masing senilai US$ 18,14 miliar, US$ 4,73 miliar, US$ 2,83 miliar, US$ 1,46 miliar, dan US$ 1,23 miliar. Sedangkan negara mitra yang membuat Indonesia surplus perdagangan nonmigas terbesar adalah India, diikuti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan Taiwan masing-masing senilai
US$ 8,07 miliar, US$ 7,80 miliar, US$ 2,42 miliar, US$ 1,61 miliar, dan US$ 0,11miliar.

Tekanan Eksternal
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kinerja ekspor RI masih terdampak tekanan eksternal. Ini terutama karena pengurangan permintaan dari negara tujuan utama, seperti RRT. Selain itu, pelemahan kinerja ekspor juga terjadi akibat lesunya perdagangan dengan pasar nontradisional, seperti di Amerika Latin dan Afrika, yang ikut terdampak kondisi global.

"Ini harus dilihat secara hati-hati, karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok lagi ada penyesuaian dari sisi internal atau karena ada perang dagang dengan Amerika Serikat. Pasar-pasar baru, barangkali dalam kondisi ekonomi sekarang, tendensinya menjadi lemah. Jadi, kemampuan untuk menyerap ekspor jadi terbatas," katanya di Jakarta, Senin lalu.

Sri Mulyani menambahkan, ada pula komoditas ekspor yang sensitif terhadap isu-isu nonekonomi, seperti minyak sawit. Ini ikut mengurangi permintaan di negara-negara Eropa.

Melihat kondisi global yang diliputi ketidakpastian tersebut, kata dia, pemerintah terus memperkuat daya saing ekspor dengan memberikan insentif kepada eksportir agar gairah sektor perdagangan tidak melemah. "Ekspor dipacu dari sisi daya kompetisi kita, melalui berbagai kebijakan untuk mendukung, seperti insentif. Namun, kita perlu memahami, dinamika pasar global sedang sangat tinggi atau tidak menentu," ujarnya.

Dari sisi impor, pemerintah akan melakukan kajian lebih mendalam atas kebijakan pengurangan impor yang sudah diterbitkan sebelumnya, seperti peningkatan tarif PPh impor.

"Untuk upaya lain, di sektor migas dan nonmigas, harus tetap memperhatikan kemampuan industri dalam negeri untuk menghasilkan subtitusi impor. Jadi kami tetap fokus dalam porsi itu," tambah Sri Mulyani.

 



Sumber: Investor Daily

Defisit Neraca Perdagangan November Melebar ke US$ 2,05 Miliar


Faisal Maliki Baskoro / FMB
Senin, 17 Desember 2018 | 12:09 WIB

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan bulan November sebesar US$ 2,05 miliar, melebar dari defisit US$ 1,8 miliar di bulan Oktober. Ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$14,83 miliar, sementara impor mencapai US$16,88 miliar.

Impor RI pada November menurun dibandingkan bulan Oktober tetapi belum mampu menyusutkan defisit karena ekspor juga menurun. Nilai ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$14,83 miliar atau menurun 6,69 persen dibanding ekspor Oktober 2018. Demikian juga dibanding November 2017 menurun 3,28 persen. Nilai impor Indonesia November 2018 mencapai US$16,88 miliar atau turun 4,47 persen dibanding Oktober 2018, namun jika dibandingkan November 2017 naik 11,68 persen.

Ekspor nonmigas November 2018 mencapai US$13,46 miliar, turun 6,25 persen dibanding Oktober 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas November 2017, turun 4,12 persen. Impor nonmigas November 2018 mencapai US$14,04 miliar atau turun 4,80 persen dibanding Oktober 2018, sebaliknya jika dibanding November 2017 meningkat 8,79 persen.

Impor migas November 2018 menurun mencapai US$2,84 miliar atau turun 2,80 persen dibanding Oktober 2018, namun meningkat 28,62 persen apabila dibandingkan November 2017. Impor migas Januari-November 2018 naik 27,85 persen mencapai US$6,06 miliar.

Secara kumulatif, defisit neraca RI Januari-November 2018 mencapai US$ 7,51 miliar. Nilai ekspor Indonesia Januari–November 2018 mencapai US$165,81 miliar atau meningkat 7,69 persen dibanding periode yang sama tahun 2017. Nilai impor kumulatif Januari–November 2018 adalah US$173,32 miliar atau meningkat 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor nonmigas November 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,01 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,46 miliar dan Jepang US$1,36 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,87 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,37 miliar.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–November 2018 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$40,85 miliar (28,07 persen), Jepang US$16,61 miliar (11,41 persen), dan Thailand US$10,09 miliar (6,94 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,08 persen, sementara dari Uni Eropa 8,93 persen.



Sumber: BeritaSatu.com

BPS: Defisit Neraca Perdagangan karena Tingginya Impor Migas


/ YTB
Jumat, 16 November 2018 | 14:03 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) umumkan defisit neraca perdagangan terutama disebabkan impor minyak dan gas yang masih tinggi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membenarkan impor migas selama 3 kuartal besar.

Sumber: BeritaSatu TV