Pemilu Berjalan Damai, Jokowi-Ma'ruf Unggul


Primus Dorimulu / AB
Jumat, 19 April 2019 | 19:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Meski rumit, Pemilu Serentak 2019 yang digelar Rabu, 17 April 2019, berjalan lancar dan damai. Tak ada tetesen darah yang terjadi akibat bentrokan. Kenyataan itu jauh dari perkiraan berbagai kalangan.

Pemilu 2019 dinilai rumit karena pemilihan presiden (pilpres) digelar serentak dengan pemilu legislatif (pileg) dan semuanya dilaksanakan dalam satu hari. Meski ada beberapa masalah di sejumlah tempat, tetapi secara keseluruhan, pemilu serentak yang digelar untuk pertama kali di Indonesia itu berjalan tertib, lancar, dan damai.

Pemilu 2019 juga mengukir rekor baru dalam partisipasi pemilih. Kampanye anti-golput yang gencar digelar mendongkrak jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih. Hasil quick count (QC) berbagai lembaga survei menunjukkan tingkat partisipasi pemilih di atas 80%. Jauh di atas tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres 2014.

Jumlah pemilih pada daftar pemilih tetap (DPT) di Pilpres 2019 sebanyak 192,8 juta atau tepatnya 192.828.520, meningkat 3,3% dari pemilih dalam DPT tahun 2014. Dengan asumsi tingkat partisipasi 80%, jumlah pemilih yang ikut mencoblos pada 17 April 2019 mencapai 154,3 juta. Ini sebuah perubahan yang mencengangkan.

Pemungutan suara Pemilu 2019.

Tidak semua mereka yang tidak ikut mencoblos adalah golput sejati, yakni mereka memang tidak mau ke TPS karena tidak percaya pada kualitas pemilu. Umumnya, mereka yang tidak ikut mencoblos adalah golput teknis, yakni tak bisa mencoblos karena tak menerima undangan berupa formulir C-6, KTP elektronik, atau surat keterangan penduduk.

Lima kertas suara yang harus dicoblos, ternyata, tidak menimbulkan kebingungan. Pemilih umumnya bisa mencoblos dengan lancar surat suara capres-cawapres, calon anggota DPR, calon anggota DPD, calon anggota DPRD provinsi, dan calon anggota DPRD kabupaten/kota. Proses pencoblosan pun berjalan cepat karena banyak tempat pemungutan suara (TPS) yang menyediakan empat bilik suara.

Kekhawatiran para pengamat akan pemilu yang kacau tidak terbukti. Tidak ada peristiwa serius yang mengganggu jalannya proses pencoblosan di TPS. Kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang berada di TPS, panitia pemungutan suara (PPS) dan panitia pemilihan kecamatan (PPK) di tingkat kelurahan dan kecamatan menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak ada kasus serius yang dialami para saksi.

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Kamis (18/4/2019), menyatakan pemilu berjalan damai. Satu-dua insiden kecil yang terjadi di beberapa TPS tidak memengaruhi kualitas pemilu secara keseluruhan. Jumlah TPS mencapai 809.000 dan TPS yang terkena masalah tak sampai 50 TPS. Pihak Polri sudah mengarahkan 271.880 anggotanya untuk mengamankan pemilu.

"Kalau ada orang membawa senjata tajam atau senjata api mau membunuh rakyat, apa yang Anda lakukan?" tanya Kapolri kepada anggota polisi.

"Tembak di tempat," jawab anggota polisi.

Kapolri pun mengacungkan jempol. Prajurit TNI yang berjumlah 181.436 orang juga mendukung penuh Polri.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) didampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Polhukam, Jakarta, Kamis, 18 April 2019.

Riuh Usai Pemilu
Masa kampanye pemilu yang mencapai lebih dari enam bulan cukup melelahkan. Sesuai penetapan KPU, masa kampanye terentang dari 23 September 2018 hingga 13 April 2019. Bukan hanya kandidat yang kelelahan. Perasaan masyarakat juga diaduk-aduk oleh rivalitas akibat perbedaan pilihan yang berlangsung lama.

Capres-cawapres yang hanya dua pasangan menambah panas suasana yang dialami para pendukung. Tanggal coblos, 17 April 2019, diharapkan sebagai hari terakhir kecemasan. Setelah tanggal coblos, masyarakat yang terbelah diharapkan kembali rukun.

Namun, apa yang terjadi? Kecemasan justru terjadi seusai pencoblosan. Setelah media massa diperbolehkan mengumumkan hasil QC, Rabu (17/4/2019), pukul 15.00 WIB, keterbelahan justru kian menganga. Pasalnya, hasil QC dari 10 lembaga survei bersertifikat yang terdaftar di KPU dianggap sebagai hoax oleh kubu yang kalah.

Hasil QC 10 lembaga survei menunjukkan keunggulan Jokowi-Ma'ruf sekitar 54-56%, sedang raihan suara Prabowo-Sandiaga 44-46%. Ada selisih sekitar 10%. Angka tersebut stabil sejak data pemilih yang masuk mencapai 50%. Pada Jumat (19/4/2019), data dari TPS yang menjadi sampel lembaga survei sudah mencapai 99,5%. Menurut hitung cepat SMRC dengan data yang sudah mencapai 99,5%, Jokowi-Ma'ruf meraih 54,8%, sedangkan Prabowo-Sandiaga 45,2%.

Kubu Prabowo menuding lembaga survei yang memenangkan Jokowi sebagai surveyor bayaran dan hasilnya tidak bisa dipercaya. Mereka lebih percaya pada real count yang dibuat oleh tim sukses. Angka real count kubu pasangan calon (paslon) 02 memenangkan Prabowo-Sandi dengan raihan suara hingga 62%. Data ini memberikan kepercayaan diri kepada Prabowo untuk mendeklarasikan kemenangan.

Prabowo Subianto.

QC adalah survei ilmiah. Bagai tes kesehatan, darah yang diambil cukup sampel saja. Tak perlu darah pasien disedot semuanya. Dalam QC, angka yang dihitung adalah pemilih di TPS yang dijadikan sampel. Sampel diambil secara random bertingkat atau multistages random sampling. Akurasi QC sudah terbukti di mana-mana.

Beda dengan QC, data real count tidak diambil berdasarkan metodologi multistages random sampling. Yang dihitung adalah data riil yang dikirim. Pada akhirnya, real count adalah penghitungan paling akurat. Namun, jika data yang masuk kurang dari 80%, hasilnya jauh dari akurat. Karena bisa jadi, data yang masuk berasal dari basis paslon tertentu.

Saat ini, data lembaga survei sudah hampir 100% dengan kemenangan Jokowi-Ma'ruf. Data real count KPU yang hampir mencapai 3% juga menunjukkan keunggulan Jokowi-Ma'ruf 55,01%. Namun, sebelum data yang masuk mencapai angka 80%, kedua paslon bisa unggul silih berganti.

Dalam situasi seperti ini, semua pihak perlu menguasi diri hingga pengumuman resmi KPU tentang hasil pilpres, selambatnya 22 Mei 2019. Pihak yang tidak setuju dengan hasil yang diumumkan KPU, dipersilakan menempuh jalur hukum, yakni mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. 



Sumber: BeritaSatu.com

3,3 Juta Suara Dihitung, Jokowi Tetap Unggul


Heru Andriyanto / HA
Jumat, 19 April 2019 | 14:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penghitungan suara hasil pemilihan presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru mencapai 3,3 juta suara sampai pukul 14.30 WIB, Jumat (19/4/2019), dan untuk sementara calon petahana Joko Widodo (Jokowi) masih unggul atas penantang Prabowo Subianto.

Jokowi, yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin, mendapatkan 1,8 juta suara atau 55,19 persen, sementara Prabowo dan Sandiaga Uno mendapatkan 1,5 juta suara atau 44,81 persen.

Akumulasi suara tersebut diperoleh dari 17.310 tempat pemungutan suara (TPS) seluruh Indonesia dan luar negeri.

Artinya, baru 2,1% dari 813.350 TPS yang menggelar pemungutan suara.



Sumber: BeritaSatu.com

KPU: Pendukung Paslon Harus Tahan Diri dan Kawal Rekapitulasi


Yustinus Paat / WBP
Jumat, 19 April 2019 | 14:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramono Ubaid Tanthowi mengimbau kepada pasangan calon presiden-wakil presiden, tim sukses dan para pendukung untuk menahan diri menunggu hasil penghitungan perolehan suara resmi dari KPU. KPU akan mengumumkan hasil resminya paling lama pada 22 Mei 2019.

"Yg penting kedua belah pihak menahan diri," ujar Pramono Ubaid Tanthowi di Jakarta, Jumat (19/4).

Pramono Ubaid Tanthowi mengatakan wajar saja jika masing-masing pasangan calon mengklaim kemenangan baik berdasarkan hasil quick count lembaga survei atau hasil real count dari internal. Namun semua pihak harus menahan diri dan mengkawal rekapitulasi KPU yang dilakukan secara berjenjang.

"Harus mengikuti kawal proses rekap suara yang dilakukan KPU. Kita harap seluruh parpol capres-cawapres bisa tempatkan saksi di kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional," imbuh Pramono Ubaid Tanthowi.

Menurut Pramono Ubaid Tanthowi, penempatan saksi peserta pemilu sangat penting untuk memastikan suara rakyat benar-benar dijaga kemurniannya. Hal ini juga untuk mencegah adanya kecurangan dan memastikan petugas KPU bekerja profesional dan transparan.

"Suara pemilih yang diberikan di TPS betul-betul kita jaga kemurniannya melalui sistem rekap KPU. Pada akhirnya, KPU tetapkan hasil pemilu bisa diterima semua peserta pemilu," pungkas Pramono Ubaid Tanthowi.



Sumber: BeritaSatu.com

Prabowo Minta Pendukungnya Tidak Terprovokasi


Fana Suparman / FMB
Jumat, 19 April 2019 | 19:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para relawan dan masyarakat yang telah mendukungnya pada Pemilu 2019 ini dengan berbondong-bondong hadir ke Syukuran Kemenangan di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (19/4/2019). 

"Terima kasih mak-mak relawan semuanya kalian berkorban ke sini. Alhamdulillah kemenangan secara resmi sudah di depan mata. Walaupun menghadapi berbagai cobaan dan mengahadapi segala macam bentuk ancaman dan intimidasi dan praktik-praktik yang menyimpang dari kaidah demokrasi, tetapi kehendak rakyat Indonesia tidak bisa ditekan-tekan lagi," kata Prabowo di hadapan para pendukung yang memadati sekitar kawasan Rumah Kertanegara.

Dalam kesempatan ini, Prabowo kembali meminta dan mengimbau seluruh relawan dan pendukungnya untuk tetap menjaga hasil perolehan suara yang tertuang dan terdata dalam formulir C1 dan C1 Plano. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kecurangan dengan mengubah hasil perolehan suara.

"Saya minta saudara-saudara melakukan menjaga formulir C1 dan C1 plano yang ada di dalam kotak suara yang ada di TPS atau PPK-PPK harus dijaga, karena ada yang berusaha ingin menghilangkan kotak suara. Pastikan jangan sampai ada angka yang diubah, pastikan angka yang di-input sesuai dengan yang tercantum di formulir C1. Jangan sampai suara rakyat kita dicurangi terus," tegas Prabowo.

Tak hanya itu, Prabowo juga meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar perjuangan yang selama ini dilakukan Prabowo-Sandi serta rakyat Indonesia yang mendukungnya selalu dijaga dan diberikan kehendak untuk memimpin bangsa dan rakyat Indonesia demi menciptakan kehidupan yang adil dan makmur.

"Agar seluruh ikhtiar kita membuahkan hasil dan mendapatkan berkah Allah SWT, maka saya mengajak seluruh elemen pendukung Prabowo-Sandi dan seluruh pendukung untuk terus mengetuk pintu langit dan berdoa kepada Allah SWT supaya Allah SWT mengijabah ikhtiar kita," ungkapnya.

Lebih jauh Prabowo juga menegaskan bahwa dirinya dan Sandiaga Uno bersama seluruh pendukungnya adalah warga negara Indonesia yang selalu memegang teguh Pancasila dan UUD 1945 serta selalu mengedepankan kedamaian. Untuk itu, Prabowo meminta kepada seluruh pendukungnya untuk tidak terpancing provokasi dari pihak yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

"Saya, kita pendukung Prabowo-Sandi adalah warga negara yang cinta tanah air, cinta UUD 1945, warga negara yang selalu mengutamakan perdamaian dan kedamaian, jangan mau kita diprovokasi. Mereka ingin menggambarkan bahwa kita punya niat-niat yang aneh-aneh. Tidak ada yang aneh-aneh, kita mau menegakkan keadilan, kita ingin kejujuran, kita hormati kejujuran dan keadilan," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mendapat kenang-kenangan berupa kaos berwarna merah bertuliskan angka 02 oleh relawan yang hadir dalam acara tersebut. Kaos tersebut merupakan bentuk penyemangat Prabowo bahwa rakyat Indonesia masih mendukungnya dan siap berjuang bersamanya.

Syukuran Kemenangan ini turut dihadiri para habaib dan ulama serta para petinggi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi serta pimpinan partai koalisi Indonesia Adil Makmur.



Sumber: Suara Pembaruan

Belum Deklarasi, Jokowi: Tunggu Hasil KPU


/ YUD
Kamis, 18 April 2019 | 19:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo menyatakan akan tetap menunggu hasil perhitungan real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) kendati sejumlah perhitungan cepat beberapa lembaga survei menyatakan unggul, Kamis (18/4/2019).

Jokowi menyampaikan pernyataannya dalam jumpa pers didampingi calon wakil presidennya, Ma'ruf Amin, seusai makan bersama dengan para petinggi partai politik pendukungnya di Restoran Plataran, Jakarta, Kamis.

Jokowi mengatakan, hasil quick count pada Kamis (18/4) sudah hampir 100 persen dan 12 lembaga survei menyatakan Jokowi-Ma'ruf mendapatkan persentase 54,5 persen dan Prabowo-Sandi mendapatkan prosentase 45,5 persen.

Menurut Jokowi, hasil survei dengan metode quick count tersebut menggunakan metode ilmiah, dan berdasarkan pengalaman 2014 memiliki akurasi 99 persen.

"Namun demikian sekali lagi kita harus tetap bersabar. Sabar menunggu hasil perhitungan resmi KPU," jelas mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Sehari sebelumnya, Jokowi juga menyampaikan untuk tetap bersabar menunggu hasil resmi dari KPU yaitu penghitungan secara manual surat suara.



Sumber: ANTARA