Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Rusia Serbu Ukraina

Sejarah Kejayaan Rusia Membuat Putin Haus Kekuasaan

Sabtu, 5 Maret 2022 | 14:47 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com - Presiden Rusia Vladimir Putin terdiskoneksi dari peradaban zaman modern dan menginvasi Ukraina dengan pola pikir yang didasarkan pada situasi di abad 19 dan hasil dari Perang Dunia II yang berakhir 77 tahun silam.

Dia menyebutnya “operasi militer khusus” tetapi yang sebenarnya terjadi adalah invasi militer dalam skala penuh ke sebuah negara merdeka dan berdaulat.

Dalam deklarasi perang yang disampaikan 24 Februari lalu, Putin mengklaim bahwa secara historis Ukraina adalah bagian dari Rusia -- yang kemudian menjadi dasar utama invasi. Pada 32 tahun silam, wilayah Uni Soviet masih meliputi banyak negara dan mencakup seperenam dari wilayah daratan di muka bumi.

“Saya ingin tekankan kembali bahwa Ukraina bukan hanya negara tetangga bagi kami. Dia adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah, budaya, dan wilayah spiritual kami. Mereka adalah para kamerad, orang yang paling dekat dengan kami – tidak sekedar rekan, teman atau orang yang pernah berjuang bersama – dan juga kerabat, orang yang terikat oleh hubungan darah dan keluarga,” kata Putin dalam versi resmi pidato yang dirilis Kremlin.

Kerajaan Rusia dulu membentang luas hingga ke Ukraina sebelum Uni Soviet didirikan dan kemudian runtuh menjadi republik-republik yang merdeka.

Wilayah Rusia selama dan sesudah perang dingin. (Wikimedia)

“Jadi saya akan mulai dengan fakta bahwa Ukraina modern itu sepenuhnya dikreasi oleh Rusia, atau lebih tepatnya oleh fraksi Bolshevik, Komunis Rusia,” kata Putin.

Bolshevik, embrio Partai Komunis Rusia, didirikan Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin – pendiri dan pemimpin pertama pemerintahan Rusia modern – sebagai fraksi sempalan Partai Buruh Sosialis Demokrat Rusia dan kemudian melakukan revolusi untuk merebut kekuasaan pada November 1917.

Putin secara tersirat menyalahkan Lenin sebagai penyebab terpecahnya bangsa Rusia.

“Proses ini dimulai praktis setelah revolusi 1917 dan Lenin bersama para kroninya melakukannya dengan cara yang sangat memberatkan Rusia – dengan memisahkan dan memecah wilayah yang secara historis merupakan tanah milik Rusia. Ketika itu tidak ada yang bertanya kepada jutaan warga yang hidup di sana apa pendapat mereka,” kata Putin.

Pemimpin berikutnya, Joseph Stalin, meneruskan proses tersebut.

Stalin menyerahkan sebagian wilayah yang sebelumnya milik Polandia, Rumania, dan Hungaria ke Ukraina. Sebagai kompensasi, Lenin memberi Polandia sebagian wilayah Jerman.

Pemimpin Uni Soviet berikutnya, Nikita Khrushchev, menyerahkan Crimea dari Rusia ke Ukraina pada 1954 tanpa alasan, kata Putin.

“Beginilah bagaimana wilayah modern Ukraina terbentuk,” simpulnya.

Kita tahu bahwa pada 2014 Putin menginvasi Crimea dan merebutnya kembali dari Ukraina.

Kisah sejarah ini sudah beberapa kali diulangi Putin pada pekan-pekan ketika Rusia mengerahkan pasukan dan senjata secara besar-besaran di dekat perbatasan Ukraina.

Pendek kata, Putin ingin menulis ulang sejarah dan menggambar ulang peta Eropa Timur untuk kembali ke era kejayaan Kerajaan Rusia -- menolak garis perbatasan yang dibuat oleh para pemimpin pendahulunya.

Pelajaran Logika
Ambisi Putin itu dibantah dengan logika cerdas yang bukan datang dari para pemimpin atau cendekiawan Barat, tetapi seorang diplomat asal Kenya.

Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani mendapat pujian dari berbagai penjuru dunia saat mendapat giliran bicara dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dua hari sebelum rudal-rudal Rusia ditembakkan ke Ukraina.

Kimani mengatakan, perjalanan sejarah Rusia dan Ukraina sangat absurd untuk dijadikan pembenaran bagi invasi militer, dan menambahkan bahwa garis batas Kenya juga tidak dibuat oleh rakyat Kenya sendiri.

“Kenya dan nyaris semua negara lain di Afrika terlahir karena runtuhnya sebuah kerajaan. Perbatasan kami bukan kami yang menggambar. Perbatasan digambar oleh kelompok kolonial metropolis di London, Paris, dan Lisabon tanpa sedikit pun mempertimbangkan bangsa-bangsa kuno yang telah mereka pecah belah,” kata Kimani.

Negara-negara di Afrika akhirnya terpecah oleh perbatasan baru walaupun masyarakatnya masih dipersatukan oleh ikatan sejarah, budaya, dan bahasa yang sama.

“Saat menyatakan kemerdekaan, kalau kami memilih untuk menjadi negara yang berdasarkan kesamaan etnis, ras, atau agama, maka kami masih akan terus menjalani perang berdarah sampai berpuluh-puluh tahun kemudian,” paparnya.

“Kami justru sepakat untuk menerima garis perbatasan yang kami warisi, tetapi kami masih mengejar integrasi politik, ekonomi, dan sistem hukum benua. Alih-alih membentuk negara-negara yang mundur ke sejarah dengan nostalgia yang berbahaya, kami memilih untuk melihat ke depan, mengejar kejayaan yang belum pernah dialami banyak negara dan rakyat di tempat kami,” kata Kimani.

“Kami memilih untuk mematuhi aturan dari Organisasi Persatuan Afrika dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan karena perbatasan itu memuaskan kami, tetapi karena kami ingin meraih yang lebih besar – bersatu dalam perdamaian,” tegasnya.

Di sini Kimani jelas menunjukkan bahwa perbatasan negara bukan penghalang bagi bangsa-bangsa yang terikat persamaan sejarah dan rumpun ras untuk tetap bersatu dan memperjuangkan kepentingan bersama secara regional.

Contoh paling nyata, meskipun tidak dia sebutkan, adalah pembentukan Uni Eropa dan ASEAN.

“Kami percaya bahwa negara-negara yang terbentuk dari pecahnya sebuah kerajaan atau telah ditinggalkan oleh banyak orang di dalamya punya keinginan untuk berintegrasi dengan rakyat di negara-negara tetangga. Itu normal saja dan bisa dimengerti,” imbuhnya.

“Namun, Kenya menolak jika keinginan itu timbul karena dipaksa oleh kekuatan [militer]. Kami harus menuntaskan proses pemulihan dari kerajaan yang sudah mati lewat cara yang tidak kembali menjerumuskan kami ke bentuk baru dominasi dan penindasan. Kami telah menolak ide pencaplokan wilayah dan ekspansi atas dasar apa pun, termasuk faktor-faktor ras, etnis, agama, atau budaya. Kami kembali menolaknya hari ini,” pungkasnya.

Sejarah Singkat
Ringkasan kronologi sejarah ini bisa membantu kita memahami alur berpikir Putin hingga dia akhirnya memutuskan invasi ke Ukraina.

  • Ukraina adalah bagian dari Kerajaan Rusia pada abad ke-18 dan ke-19 setelah pasukan Rusia menang dalam perang di Poltava pada 1709.
  • Pada 1917 terjadi revolusi di Rusia yang menjerumuskan kerajaan itu dalam perang saudara. Ukraina sempat menyatakan kemerdekaan dan menjadi negara terpisah pada 1917-1921.
  • Saat Uni Soviet didirikan, Ukraina menjadi salah satu republik pertama yang bergabung,
  • Dalam beberapa dekade kemudian, Rusia memperluas wilayahnya lewat perang. Hingga akhir Perang Dunia II, terbentuk garis semu perbatasan Eropa Barat dan Eropa Timur yang kemudian mengawali era Perang Dingin (bukan perang sebetulnya, tetapi dua kubu saling menggertak lewat perlombaan senjata, khususnya nuklir).
  • Uni Soviet mengadopsi perekonomian dan sistem pemerintahan komunis yang memudahkan kendali terhadap negara-negara anggota, sementara Eropa Barat mengadopsi ekonomi kapitalis dan demokrasi. Perbedaan ideologi yang demikian tajam menimbulkan sifat saling curiga dan tidak percaya, lalu berkembang menjadi aliansi militer di kedua kubu.
  • Pada 1949 Eropa Barat dengan didukung Amerika Serikat dan Kanada membentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan berjanji akan melindungi satu sama lain dari invasi. Pada 1955 Eropa Timur membentuk organisasi tandingan dengan nama Pakta Warsawa.
  • Eropa terbelah dua selama beberapa dekade, sampai akhirnya Uni Soviet mulai runtuh di akhir dekade 1980-an.
  • Ukraina menyatakan kemerdekaan dari Uni Soviet pada September 1991. Uni Soviet akhirnya pecah menjadi 15 republik yang merdeka -- termasuk Rusia -- dan makin banyak negara di Eropa Timur yang kemudian menggulingkan pemerintahan komunis masing-masing.
  • Meskipun Perang Dingin berakhir, NATO bukan hanya tetap eksis, tetapi juga makin kuat dan bahkan memperluas cakupannya. Pada 1999, Polandia, Hungaria, dan Republik Cheska bergabung dengan NATO. Pada 2004, tujuh negara Eropa Timur lainnya ikut bergabung. NATO makin dalam masuk ke bekas wilayah Uni Soviet.
  • Tinggal tersisa tiga negara yang terjebak dalam jepitan NATO dan Rusia, yaitu Belarusia, Ukraina, dan Georgia. Belarusia sudah merapat ke Rusia, tetapi Ukraina dan Georgia sejak lama menyampaikan keinginan untuk bergabung dengan NATO. Itulah yang membuat mereka menjadi target utama Rusia.
  • Pada 2008, Rusia menginvasi Georgia dan kemudian mengakui kemerdekaan dua wilayah pecahan yaitu Abkhazia dan Ossetia Selatan, serta menempatkan pasukan di sana. Saat ini, sekitar 20% wilayah Georgia sudah dikuasai Rusia.
  • Ukraina sudah menjadi mitra NATO sejak 1994, tinggal selangkah lagi menjadi anggota.
  • Pada 2013, Ukraina dipimpin oleh Presiden Viktor Yanukovich yang sangat pro-Rusia dan dia justru memilih memperkuat hubungan dengan Moskwa. Dia juga menghentikan rencana kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa (UE) dan menghalangi keinginan Ukraina bergabung dengan UE.
  • Pada Februari 2014, Presiden Yanukovich diberhentikan parlemen, yang membuatnya kabur dari Kiev. Ini merupakan titik tolak penting dalam konteks yang terjadi sekarang, ketika Putin akhirnya kehilangan pengaruh atas Ukraina.
  • Karena itulah Putin beralih ke jalan kekerasan. Rusia menginvasi dan mencaplok Crimea di selatan Ukraina pada tahun yang sama. Tidak lama setelah itu, para pemberontak yang didukung Rusia merebut wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina dan menyatakan kemerdekaan.
  • Maka sejak 2014 Ukraina terjebak dalam konflik dengan Rusia yang menewaskan lebih dari 14.000 orang. Ukraina selalu dalam ancaman nyata invasi oleh militer Rusia. Selama itu pula Putin terus mendestabilisasi Ukraina dan mencegahnya mendekat ke Barat.
  • November 2021, Putin memutuskan sudah waktunya bertindak lebih jauh dan mulai mengerahkan pasukan ke perbatasan. Pada Januari 2022, lebih dari 100.000 pasukan Rusia sudah ditempatkan di dekat Ukraina.
  • Putin berulang kali membantah rencana invasi tetapi pada awal Februari dia melontarkan tuntutan ke negara-negar Barat: pertama, NATO harus berhenti melakukan ekspansi; kedua, NATO mengembalikan perbatasan militer ke posisi 1997 yang menjauh dari Rusia.
  • Negara-negara Barat menolak tuntutan itu dan justru menyiagakan pasukan di Eropa Timur.
  • Rusia makin agresif dan menempatkan pasukan di Belarusia serta melakukan latihan perang di sana. Ukraina sudah terkepung dari selatan dan timur
  • Pada 21 Februari, Putin resmi mengakui kemedekaan Donetsk dan Luhansk di timur Ukraina. Ini modus operandi yang sama seperti yang terjadi di Georgia.
  • Dengan dasar tersebut, invasi ke Ukraina dimulai pada 24 Februari dengan dalih mengirim “pasukan penjaga perdamaian” untuk menjaga dua negara yang baru merdeka menurut versi Rusia tersebut.


Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Ini Kronologi Konflik Ukraina-Rusia Sejak Uni Soviet Bubar

Kamis, 24 Februari 2022 | 16:58 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com – Sejak merdeka, Ukraina hampir selalu berkonflik dengan Rusia yang mengklaim bahwa secara historis dua negara itu adalah satu bangsa.

Pada Kamis (24/2/2022) pagi, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan invasi ke Ukraina dan segera diikuti oleh tembakan rudal ke berbagai kota Ukraina dari wilayah perbatasan.

Ukraina dulunya adalah bagian dari Uni Soviet, tetapi federasi itu pecah berkeping-keping dan hanya menyisakan Rusia, wilayah terbesar yang menjadi pusat pemerintahan Uni Soviet.

Berikut kronologi sejarah politik Ukraina sejak lepas dari Moskwa pada 1991.

1991: Leonid Kravchuk, pemimpin Ukraina, menyatakan kemerdekaan dari Uni Soviet yang kemudian disahkan lewat referendum. Kravchuk kemudian terpilih sebagai presiden.

1994: Leonid Kuchma mengalahkan Kravchuk dalam pemilihan presiden yang dinilai terbuka dan adil.

1999: Kuchma terpilih lagi, tetapi pemilihan presiden ketika itu diwarnai banyak laporan kecurangan.

2004: Kandidat presiden Viktor Yanukovich yang sangat pro-Rusia terpilih sebagai presiden tetapi dia dituduh melakukan kecurangan dan memicu aksi demonstrasi massal yang disebut Revolusi Oranye. Revolusi itu berhasil mendorong dilakukannya pemilihan ulang dan muncul sebagai pemenang adalah Viktor Yushchenko.

2005: Yushchenko dilantik sebagai presiden dengan janji membawa Ukraina lepas dari bayang-bayang Kremlin dan mendekat ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) serta Uni Eropa. Dia menunjuk taipan perusahaan energi Yulia Tymoshenko sebagai perdana menteri, tetapi kemudian dipecat karena konflik internal.

2008: NATO berjanji suatu hari nanti Ukraina akan menjadi anggotanya.

2010: Yanukovich yang pro-Rusia mengalahkan Tymoshenko dalam pemilihan presiden. Rusia dan Ukraina menyepakati kerja sama pasokan dan harga gas alam dan sebagai balasannya keberadaan Angkatan Laut Rusia di pelabuhan Laut Hitam, Ukraina, diperpanjang.

2013: Pemerintahan Yanukovich menghentikan perundingan dagang dengan Uni Eropa pada November lalu memilih menghidupkan kembali kerja sama ekonomi dengan Moskwa. Tindakan itu kembali memicu aksi unjuk rasa meluas di Kiev.

2014: Unjuk rasa yang berkepanjangan di Kiev berakhir ricuh, lusinan demonstran tewas.

Februari 2014: Parlemen melakukan pemungutan suara dan memberhentikan Yanukovich, yang kemudian melarikan diri. Beberapa hari kemudian, sekelompok orang bersenjata menyerbu kantor parlemen di Semenajung Crimea, Ukraina, dan mengibarkan bendera Rusia.

15 Maret 2014: Moskwa menganeksasi Crimea lewat referendum di mana mayoritas warga setempat memilih bergabung dengan Federasi Rusia.

April 2014: Kelompok separatis pro-Rusia menyatakan kemerdekaan di Donbass, wilayah timur Ukraina. Pertempuran meletus secara sporadis di sana sampai sekarang.

Mei 2014: Pengusaha Petro Poroshenko terpilih sebagai presiden Ukraina dengan agenda pro-Barat.

Juli 2014: Sebuah rudal menjatuhkan pesawat sipil MH17 milik Malaysia yang sedang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur, menewaskan 298 orang di dalamnya. Penyidikan menemukan bukti bahwa rudal itu buatan Rusia, yang membantah keterlibatan.

2017: Ukraina dan UE menyetujui pasar bebas barang dan jasa, dan fasilitas bebas visa bagi warga Ukraina yang masuk ke negara-negara UE.

2019: Rusia marah setelah sebuah aliran gereja Ortodoks Ukraina mendapat pengakuan resmi dari pemerintah.

April 2019: Mantan aktor Volodymyr Zelenskiy mengalahkan Poroshenko dalam pemilihan presiden dengan janji memberantas korupsi dan mengakhiri perang di wilayah timur Ukraina. Partai Pelayan Rakyat yang dia pimpin juga menang dalam pemilihan parlemen.

Juli 2019: Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Zelenskiy untuk menyelidiki Joe Biden, rivalnya dalam pemilihan presiden AS, dan putra Biden, Hunter, atas dugaan kesepakatan bisnis di Ukraina. Pembicaraan ini membuat DPR AS berupaya memakzulkan Trump.

Januari 2021: Zelenskiy meminta Presiden Biden untuk membantu Ukraina bergabung dengan NATO.

Februari 2021: Pemerintahan Zelenskiy menerapkan sanksi pada Viktor Medvedchuk, pemimpin oposisi pro-Rusia.

Musim semi 2021: Rusia mulai mengerahkan pasukan di perbatasan Ukraina dengan dalih latihan militer.

Oktober 2021: Ukraina menggunakan drone buatan Turki, Bayraktar TB2, di wilayah timur dan memicu kemarahan Rusia.

Musim gugur 2021: Rusia kembali mengerahkan pasukan dekat Ukraina.

7 Desember 2021: Biden memperingatkan Rusia akan dikenakan sanksi ekonomi jika menginvasi Ukraina.

17 Desember: Rusia mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk jaminan bahwa NATO akan menghentikan aktivitas militer di Eropa timur dan Ukraina.

14 Januari 2022: Situs-situs pemerintah Ukraina diretas dengan ancaman bahwa warga Ukraina bakal ketakutan dan menghadapi situasi terburuk.

17 Januari: Pasukan Rusia mulai berdatangan di Belarusia di wilayah utara Ukraina untuk latihan militer gabungan.

24 Januari: NATO meningkatkan kesiagaan dan mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur di wilayah timur Eropa.

26 Januari: Washington memberi jawaban tertulis pada tuntutan Rusia, dan menegaskan bahwa NATO tetap menerapkan kebijakan pintu terbuka dan menawarkan “diskusi yang pragmatis” dengan Moskwa.

28 Januari: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tuntutan utama Rusia masih belum dipenuhi.

2 Februari: Amerika mengatakan akan mengirim 3.000 pasukan tambahan ke Polandia dan Rumania untuk membantu membentengi para anggota NATO dari dampak lanjutan krisis ini.

4 Februari: Putin mendapat dukungan dari Tiongkok atas tuntutannya agar Ukraina tidak diizinkan bergabung dengan NATO.

7 Februari: Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan upaya diplomasi dengan menemui Putin di Kremlin. Macron lalu berkunjung ke Kiev.

9 Februari: Biden mengatakan situasi bisa dengan cepat menjadi liar dan Kementerian Luar Negeri AS memerintahkan warganya di Ukraina untuk segera pergi. Imbauan itu diikuti oleh negara-negara lain.

14 Februari: Zelenskiy mendesak rakyat Ukraina untuk mengibarkan bendera nasional dan menyanyikan lagu Kebangsaan pada 16 Februari, hari yang oleh berbagai media disebut sebagai hari-H invasi Rusia.

15 Februari: Rusia mengklaim sebagian pasukannya kembali ke barak setelah latihan di dekat Ukraina dan meledek pernyataan-pernyataan media Barat yang mengkhawatirkan invasi dalam waktu dekat. Parlemen Rusia meminta Putin untuk mengakui kemerdekaan dua wilayah di Ukraina timur yang pro-Moskwa.

18 Februari: Duta Besar AS untuk Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa Michael Carpenter mengatakan Rusia mungkin telah mengerahkan 169.000-190.000 pasukan dekat Ukraina.

19 Februari: Rusia melakukan latihan perang nuklir dengan dipimpin langsung oleh Putin.

21 Februari: Macron mengatakan Biden dan Putin telah setuju untuk bertemu membahas krisis di Ukraina.

Dalam pidato televisi, Putin mengatakan Ukraina adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah Rusia dan tidak punya sejarah sebagai negara mandiri. Ukraina dikelola oleh kekuatan asing dan rezim boneka, kata Putin. Dia juga meneken perjanjian untuk mengakui kemerdekaan dua wilayah yang melepaskan diri dari Ukraina dan memerintahkan pengiriman pasukan Rusia ke sana.

22 Februari: AS, Inggris dan para sekutu mereka mengesahkan sanksi terhadap para anggota parlemen Rusia, bank, dan aset-aset mereka. Jerman menghentikan perundingan proyek pasokan gas Nord Stream 2 dari Rusia yang masih dibahas.

Putin, dalam pidato televisi, menuntut Ukraina untuk melucuti militernya dan mengatakan Perjanjian Damai Minsk antar dua negara tidak berlaku lagi.

23 Februari: Para pemimpin separatis Ukraina minta bantuan Rusia untuk melawan “agresi” dari pasukan Ukraina.

24 Februari: Putin mengesahkan “operasi militer khusus” di wilayah timur Ukraina dan meminta Angkatan Bersenjata Ukraina untuk tidak melawan. Militer Rusia mulai menembakkan rudal dan serangan artileri ke pos-pos militer dan pangkalan udara Ukraina di sejumlah kota besar.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Ini Perbandingan Kekuatan Militer Rusia dan Ukraina

Sabtu, 19 Februari 2022 | 13:23 WIB
Oleh : Surya Lesmana / Surya Lesmana

Moskow, Beritasatu.com – Ancaman invasi Rusia ke Ukraina telah menyebabkan ketegangan di Eropa. Jika skenario terburuk terjadi, akan pecah perang antara kedua negara bekas pecahan Uni Soviet ini.

Bagaimana membandingkan kekuatan militer masing-masing negara?

Rusia memiliki sekitar empat kali lipat lebih banyak tentara daripada Ukraina, dua kali lipat lebih banyak tank, dan lebih dari enam kali lebih banyak pesawat tempur. Ketidakseimbangan kekuatan yang besar mencerminkan anggaran pertahanan kedua negara. Rusia menghabiskan sekitar US$ 78 miliar untuk angkatan bersenjatanya setiap tahun, Ukraina US$ 1,6 miliar.

Namun demikian, hanya sebagian dari pasukan Rusia yang tersedia untuk dikerahkan melawan Ukraina. Moskow tidak mampu menarik pasukan dari wilayah Kaukasus Utara, dari perbatasannya dengan Tiongkok, atau dari Pasifik.

Mark Galeotti, pakar regional yang berbasis di Moskow dari Pusat Urusan Global di Universitas New York memperkirakan, Rusia mungkin dapat mengerahkan kekuatan dua kali dari ukuran Ukraina untuk perang apa pun.

Perbandingan Kekuatan Militer Rusia dan Ukraina

Rangking Kekuatan Militer di Dunia: Rusia nomor 2, Ukraina nomor 21.

Jumlah personel militer aktif: Rusia: 845.000, cadangan 2.000.000, Ukraina: 129.950, cadangan 1.000.000.

Tank: Rusia 2.750 unit, Ukraina 1.150 unit.

Pesawat Tempur: Rusia 1.571 unit, Ukraina 231 unit.

Helikopter Tempur: Rusia 392 unit, Ukraina 139 unit.

Kapal Perang: Rusia 82 unit, Ukraina 10 unit.

Senjata Artileri: Rusia 8.959 unit, Ukraina 1.952 unit.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Melihat Pelawak Versus Agen Rahasia dalam Perang Ukraina Lawan Rusia

Sabtu, 26 Februari 2022 | 14:53 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / Unggul Wirawan

Kiev, Beritasatu.com- Nama Volodymyr Zelensky sudah membuat kontroversi saat memenangi kursi presiden Ukraina pada tahun 2019. Dalam perang pelawak melawan agen rahasia, Zelensky kembali menjadi sorotan saat menghadapi invasi bar-bar militer Rusia yang diperintah Presiden Vladimir Putin.

Sebagai bintang komedi, Zelensky harus benar-benar serius menghadapi kekacauan dan kehancuran Ukraina akibat invasi Rusia. Pada Sabtu (26/2/2022), dia cukup berani tetap bertahan di Gedung Kepresidenan Bankova, Kiev dan menolak tawaran evakuasi pemerintah Amerika Serikat agar tidak ditangkap atau dibunuh pasukan Rusia.

Pejabat AS menilai Rusia ingin mengakhiri perang secepatnya dengan membunuh Zelensky atau menangkapnya. Kelak Putin ingin menempatkan pemimpin baru Ukraina yang patuh kepada Rusia untuk menggantikan Zelensky.

Tetapi siapakah Zelensky yang diibaratkan pelawak melawan agen intelijen? Ketika Volodymyr Zelensky pertama kali muncul di layar TV sebagai presiden Ukraina, dia melakukannya sebagai aktor dalam serial komedi populer.

Bak dalam mimpi, kisah rekaan di televisi sungguh terjadi pada April 2019 dan dia menjadi presiden dalam kenyataan. Sekarang Zelensky memimpin negara berpenduduk 44 juta orang dan menghadapi ancaman militer Rusia di perbatasannya.

Dalam peran di TV dalam Servant of the People, Zelensky memerankan seorang guru sejarah yang rendah hati yang menjadi presiden secara kebetulan setelah video kata-kata kasarnya terhadap korupsi menjadi viral secara daring. Serial itu adalah kisah dongeng yang menangkap imajinasi orang Ukraina yang kecewa dengan politik.

Hamba Rakyat menjadi nama partainya, ketika Volodymyr Zelensky berkampanye dengan pesan pembersihan politik dan berjanji untuk membawa perdamaian ke timur.

Sekarang penumpukan pasukan Rusia di sekitar perbatasan Ukraina telah menempatkan pemimpin nasional yang tidak mungkin di jantung krisis internasional yang mengingatkan kembali pada krisis terdalam Perang Dingin Barat dengan Rusia.

Presiden berusia 44 tahun itu harus melangkah dengan baik, menggalang dukungan untuk perjuangan Ukraina sambil meminta Barat untuk tidak menyebarkan kepanikan dan melakukan yang terbaik untuk tidak membuat khawatir penduduk.

Lahir di pusat kota Kryvyi Rih dari orang tua Yahudi, Volodymyr Zelensky lulus dari Universitas Ekonomi Nasional Kiev dengan gelar sarjana hukum. Namun, itu adalah komedi yang ternyata menjadi panggilannya.

Sebagai seorang pemuda, Zelensky secara teratur berpartisipasi dalam acara komedi tim kompetitif di TV Rusia. Pada tahun 2003, ia mendirikan satu perusahaan produksi TV yang sukses dinamai tim komedinya, Kvartal 95.

Perusahaan tersebut memproduksi acara untuk jaringan 1+1 Ukraina, yang pemilik miliarder kontroversialnya, Ihor Kolomoisky, kemudian akan mendukung pencalonan Zelensky sebagai presiden. Namun, hingga pertengahan 2010-an, karier di TV dan film seperti Love in the Big City (2009) dan Rzhevsky Versus Napoleon (2012) adalah fokus utama Zelensky.

Panggung untuk kebangkitan politik Zelensky yang tidak terduga ditetapkan oleh peristiwa yang bergejolak pada tahun 2014, ketika Presiden Ukraina pro-Rusia Viktor Yanukovych digulingkan setelah berbulan-bulan protes. Rusia kemudian merebut Krimea dan mendukung separatis di timur dalam perang dengan Ukraina yang berlanjut hingga hari ini.

Zelensky mengalahkan presiden petahana Petro Poroshenko, yang berusaha menggambarkan saingannya sebagai pemula politik meskipun pemilih melihatnya sebagai aset. Dia terpilih dan menang telak dengan 73,2% suara dan dilantik sebagai presiden keenam Ukraina pada 20 Mei 2019.

Agen Intelijen
Sebaliknya, Vladimir Putin adalah sosok agen intelijen yang menguasai negara kuat dan punya wewenang besar. Selama beberapa dekade, presiden Rusia telah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik dunia. Sementara kebanyakan orang merasa bahwa Putin adalah orang yang berpotensi berbahaya, mereka tidak pernah membayangkan bahwa dia akan melakukan hal ekstrem seperti sekarang ini, terutama di abad ke-21.

Orang-orang sekarang bertanya pada diri sendiri bagaimana satu orang bisa begitu kejam dan kejam. Namun banyak orang berusaha menebak kunci kepribadian Vladimir Vladimirovich Putin.

Lahir di Leningrad pada tahun 1952, karakter penyendiri pemimpin Kremlin terbentuk selama masa kecilnya, ketika ia harus tumbuh dalam keluarga pengganti yang telah dikirim oleh orang tua kandungnya.

Menurut ilmuwan politik Stanislav Belkowski, kondisi itu adalah saat yang sangat traumatis bagi Putin, dan membuatnya tidak mempercayai orang dan hanya merasa nyaman berada di dekat hewan. Faktanya, satu-satunya teman presiden Rusia adalah dua anjingnya, Koni dan Buffy.

Biasanya, luka seperti kurangnya kasih sayang atau kesepian ditutupi dengan wajah yang kuat dan wajah yang berani. Hal ini juga berlaku bagi Putin, yang selalu mencari perhatian dan menunjukkan dirinya sebagai laki-laki yang dominan kapan pun ia bisa atau jika ia tertarik untuk melakukannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Putin terlihat dalam pose kalender saat memancing dengan telanjang dada, mengacungkan senapan atau mengendarai Harley Davidson, semuanya untuk memberikan ilusi superioritas maskulin.

Dalam kasus Putin, penulis Jerman Erich Schmidt-Eenboom mengklaim bahwa mantan agen intelijen KGB itu secara fisik melecehkan mantan istrinya Ludmila pada 1980-an. Hingga hari ini, dia tidak memiliki hubungan dengannya (mereka bercerai), atau dengan kedua putrinya dari pernikahan, Mariya, 37 tahun, dan Ekaterina, 36 tahun.

Selain itu, penulis yang sama mengungkapkan fakta aneh tentang Putin: "Seks dan kehidupan seks benar-benar asing baginya". Jika Putin adalah ancaman utama Barat saat ini, pada pertengahan abad ke-20 ada pemimpin lain yang juga menjadi ancaman bagi seluruh dunia: Adolf Hitler.

Seorang pria yang memiliki beberapa kesamaan dengan presiden Rusia, seperti trauma masa kecil, kurangnya kasih sayang dan pencarian kekuasaan tidak hanya secara ekonomi dan sosial, tetapi secara teritorial.

Meskipun benar bahwa Vladimir Putin belum nyaris meluncurkan holocaust anti-Semit dalam beberapa dekade terakhir, menurut banyak orang, ia menunjukkan tanda-tanda fanatisme ekspansionis dan obsesi untuk mencapai dominasi total Rusia.

Narasi ini berakar pada nostalgia, karena bagi banyak ilmuwan politik, Putin tidak lebih dari satu produk, produk dari penghinaan USSR oleh AS pada akhir Perang Dingin.

Singkatnya, jelas bahwa satu-satunya obsesi nyata Vladimir Putin adalah kekuasaan, yang dicapai melalui rasa takut.

Putin adalah seorang pria yang menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang merindukan nostalgia mengembalikan Rusia ke relevansi politik dan teritorial pada masa Uni Soviet, tetapi pada kenyataannya, hanya ingin dikagumi dan dicintai. Begitulah potret psikologis salah satu pria paling berbahaya di dunia saat ini.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Biden: Putin Ingin Hidupkan Lagi Uni Soviet

Jumat, 25 Februari 2022 | 04:10 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Washington DC, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sudah hilang koneksi dengan seluruh komunitas dunia dan ingin mendirikan lagi Uni Soviet lewat invasi ke Ukraina, Kamis (24/2/2022).

"Dia [Putin] punya ambisi lebih besar dari sekedar Ukraina. Faktanya, dia ingin mendirikan Uni Soviet lagi, itulah sebetulnya yang terjadi. Dan menurut saya ambisi dia ini sama sekali bertentangan dengan situasi yang dihadapi dunia sekarang,” kata Biden dalam pidato di Gedung Putih Kamis sore waktu setempat atau Jumat dini hari WIB.

Uni Soviet adalah negara federasi yang beranggotakan 15 republik dan menjadi negara adidaya yang mengimbangi Amerika Serikat di era perang dingin. Pada 1991, federasi itu bubar setelah negara-negara anggotanya menyatakan kemerdekaan, termasuk Ukraina.

Menurut Biden, sanksi ekonomi dan politik yang diterapkan akan berdampak pada Rusia.

"Ini akan memperlemah negara tersebut. Dia harus membuat pilihan yang sangat-sangat sulit yaitu terus bersikap sebagai kekuatan kelas dua atau merespons,” kata Biden.

"Jika kita tidak bertindak sekarang dengan sanksi-sanksi tersebut, dia akan menjadi jemawa," imbuhnya.

Biden juga menegaskan dia tidak punya rencana untuk bertemu Putin setelah Rusia akhirnya menginvasi Ukraina.

"Putin akan menjadi orang terkucil di jagat internasional. Pilihan Putin untuk melakukan perang yang sama sekali tidak bisa dibenarkan di Ukraina akan membuat Rusia makin lemah, dan dunia makin kuat," tambahnya.

"Putin adalah seorang agressor. Putin memilih perang ini. Dan sekarang dia dan negaranya akan menanggung semua konsekuensi," tegas Biden.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN
Share to WhatsApp


TAG POPULER

# Anggota TNI Tewas


# Medina Zein


# Vaksinasi Covid-19


# Piala Thomas


# Timnas Indonesia


B1 Livestream

TERKINI
SEA Games: Perjuangan Cabang Bulutangkis dan Basket Dimulai

SEA Games: Perjuangan Cabang Bulutangkis dan Basket Dimulai

OLAHRAGA | 5 jam yang lalu









BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings