Semua Ledekan Mourinho Berbalik Padanya


Heru Andriyanto / HA Rabu, 19 Desember 2018 | 16:07 WIB

Pria Protugal itu terkenal karena suka meledek dan menyindir para rivalnya, tetapi akhirnya harus meninggalkan Manchester United dengan statistik seperti yang menjadi bahan ejekannya dulu.

Kalimat-kalimat Jose Mourinho memang pedas dan sangat tidak fair, tetapi justru itu yang membuatnya selalu dikenang.

“Seorang spesialis dalam kegagalan," itu pendapat Mourinho tentang Arsene Wenger.

Ada banyak definisi tentang kegagalan, dan Mourinho merujuk pada puasa gelar pria asal Prancis itu. Namun, Wenger membawa Arsenal hanya sekali terlempar dari lima besar sepanjang 22 musim di Inggris. Sedangkan si mantan manajer Manchester United bisa dikatakan dua kali finis di enam besar dalam dua setengah musim sekarang.

Ketika Anda membuat penilaian dalam posisi superior, masalah akan datang ketika standar yang diciptakan sendiri tidak bisa dipenuhi.

“Berapa banyak trofi (Liga Inggris) yang sudah dimenangkan (Rafa) Benitez sejak dia bergabung dengan Liverpool?” tanya Mourinho pada 2008. Berapa kali Mourinho menjuarai Liga Inggris di Old Trafford?

“Posisi kedua? Itu hanyalah pecundang peringkat pertama,” komentarnya terhadap Manuel Pellegrini. Dengan standarnya sendiri itu, Mourinho berada di posisi ‘pecundang peringkat lima’ saat dia dipecat United.

“Saya tidak ingin menjuarai Liga Europa,” tegasnya ketika bersama Chelsea. Musim lalu, dia mendapatkan trofi Liga Europa bersama United.

“Finis keempat bukanlah sebuah tujuan,” janji Mourinho saat diperkenalkan di Old Trafford. Menjelang pemecatannya, finis keempat itu adalah tujuan yang menurutnya bahkan hampir muskil diraih.

Dia menyebut Claudio Ranieri “terlalu tua” dan “hampir 70 tahun” pada 2008, ketika pelatih asal italia itu masih berusia 56 tahun. Kebetulan, Mourinho berusia 56 tahun pada Januari.

“Ada banyak pujangga dalam sepakbola, tetapi pujangga tidak bisa memenangi titel,” sergahnya pada 2017. Pep Guardiola mendapat dua trofi musim lalu. Jika dia tidak bisa mempertahankan gelar Premier League musim ini, itu mungkin karena Jurgen Klopp yang merebutnya. Dua orang itu dikenal sebagai para pujangga dalam sepakbola.

Mourinho, yang kinerjanya dinilai semata berdasarkan kemenangan, dan gagal menang saat ini, telah menjadi tipe manajer yang biasa dia ejek.

Hidup mungkin membuat kita semua menjadi munafik cepat atau lambat, kadar tinggi atau rendah. Mourinho yang bermulut tajam dan gemar menyerang para rivalnya telah menjadi contoh yang ekstrem soal ini.

Mourinho sekarang mungkin telah menjelma menjadi anti-Mourinho; sosok berlawanan dari dirinya sendiri dulu. Saat di Anfield akhir pekan lalu, ketika United kalah 1-3 dari Liverpool, dia membandingkan timnya dengan tiga klub yang pernah dia asuh. United tidak memiliki intensitas seperti Porto, serangan balik ganas seperti Real Madrid, dan pertahanan yang kokoh seperti Inter Milan.

Dia dikenal pandai meramu pertahanan, dan pernah mengatakan tidak menikmati kemenangan 6-3 United di Goodison Park karena para bek membuat kesalahan. Pada 2004/05, dia membawa Chelsea sebagai tim yang paling sedikit kebobolan dalam sejarah Liga Inggris. Sekarang ini, United bersama Fulham adalah tim yang paling sering kemasukan gol.

Chelsea dibangun di atas fondasi yang sangat kokoh, pernah hanya tertinggal selama 173 menit sepanjang satu musim. Saat dipecat United, timnya sudah tertinggal 452 menit. Selalu bermain mengejar ketinggalan bukanlah cara Mourinho.

Dia pernah dianggap sebagai manajer spesialis pertandingan besar, yang rancangannya begitu sering membawa hasil sehingga muncul istilah “Mourinho masterclass”. Itu tidak berlaku musim ini, ketika United hanya mendapat dua dari kemungkinan 15 poin saat melawan tim-tim di lima besar Liga Inggris. Pada dekade 2000an, tim-tim yang diasuh Mourinho diperkuat para pemain patuh yang mengikutinya ke mana pun dia pergi, lalu pada dekade 2010an muncul kesan mereka tidak menyukainya.

Itu juga cerminan dari retorika dia. Mourinho pernah mendekati Frank Lampard di ruang ganti dan mengatakan dia berpotensi menjadi pemain terbaik di dunia. Pujian Mourinho nyaris terbukti, karena pemain tengah itu menjadi runner-up Ballon d’Or 2005. Kalau kita majukan cepat waktunya, Mourinho sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk merendahkan para pemainnya daripada menyemangati mereka.

Tidak banyak pemain Mourinho yang bermain sepenuh potensi mereka sekarang. Lampard bermain lebih bagus di bawah Mourinho dibandingkan saat bersama manajer-manajer yang lain. Sekarang, Paul Pogba bermain lebih bagus ketika dilatih Didier Deschamps, Massimiliano Allegri, dan Antonio Conte. Mourinho versi 2014/15 mendapat lebih banyak dari Nemanja Matic dibandingkan Mourinho varian 2018/19. Keputusan transfer dia bersama Porto, Chelsea dan Inter telah mendatangkan para pemain yang kemudian naik ke level baru dan meningkatkan kinerja timnya, tetapi hal berlawanan terjadi di Old Trafford: kekuasaannya justru digoyang oleh Pogba, Fred, dan Alexis Sanchez.

Mourinho pernah menjadi manajer paling konsisten, timnya menang 76 persen dari pertandingan liga dalam rentang 2002-2006. Di United, angka itu anjlok menjadi 41 persen. Tim-tim yang diasuh Mourinho sekarang memiliki semua sifat yang dulu tak pernah ada: tidak menentu, tidak konsisten, sering salah, dan banyak celah.

Seorang pemenang -- seringkali terlalu banyak menang -- menjadi orang yang jarang menang. Seorang modernis menjadi anakronisme, karena gaya mode sepakbola telah meninggalkan Mourinho. Dia dulu ibarat DVD player yang menghentikan era VHS, tetapi sekarang dia tidak sesuai lagi dengan era online streaming.



Sumber: FourFourTwo

MU Resmi Angkat Solskjaer Gantikan Mourinho


Jaja Suteja / JAS Rabu, 19 Desember 2018 | 14:57 WIB

Manchester - Ole Gunnar Solskjaer akhirnya resmi ditunjuk menjadi pengganti Jose Mourinho untuk menangani Manchester United (MU), Rabu (19/12). Pelatih yang juga mantan striker MU itu akan melatih “Setan Merah” hingga musim ini selesai.

Pertandingan pertama MU di bawah komando Solskjaer akan terjadi saat melawan Cardiff City, Sabtu mendatang. Laga ini seperti sebuah kebetulan yang unik karena Solskjaer pernah menangani klub Wales itu selama delapan bulan sebelum didepak pada September 2014.

MU memutuskan memecat Mourinho pada Selasa (18/12), setelah dua hari sebelumnya menyerah 1-3 di kandang Liverpool. Raihan poin MU di bawah Jose Mourinho musim ini setelah 17 pertandingan merupakan yang terburuk di era Premier League. Mereka tertinggal 19 poin oleh pemimpin klasemen, Liverpool.

Usai mendepak Mourinho, MU pun segera mencari manajer sementara yang akan melatih hingga akhir musim. Nama Solskjaer memang paling difavoritkan. Sebelum ditunjuk menangani MU, pelatih kelahiran Kristiansund masih menangani klub Norwegia, Molde. Liga Norwegia sendiri saat ini masih libur.

MU dalam situs resminya sempat mengunggah video pria yang kini berusia 45 tahun itu dengan teks, ”Solskjaer menjadi pelatih sementara kami, 20 tahun setelah memastikan kami meraih tiga gelar dengan “gol itu” di Camp Nou...”

Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg juga dengan cepat bereaksi mendengar kabar yang sebenarnya belum pasti ini. Lewat media sosial Twitter, dia menulis, “Hari yang luar biasa bagi sepakbola Norwegia. Semoga beruntung dalam mengendalikan Red Devils, olegs26-ole". Namun tak lama video dan unggahan sang perdana menteri dihapus.

Solskjaer pernah 11 tahun membela MU sebagai pemain. Hal paling dikenang dari Solskjaer adalah ketika mencetak gol kemenangan MU di menit-menit terakhir di final Liga Champions melawan Bayern Muenchen untuk memastikan tiga gelar pada 1999.

Dia juga sempat menjadi pelatih tim cadangan (reserve) MU, dan menangani pemain seperti Paul Pogba. Sosok yang pernah membela 67 kali membela Timnas Norwegia ini kemudian memutuskan untuk melatih Molde antara 2011-2014. Dalam periode pertamanya ini, dia sukses membawa Molde meraih gelar juara Liga Norwegia dua musim beruntun serta merebut trofi Piala Norwegia.

Pada 2 Januari 2015, dia ditunjuk Malky Mackay menangani Cardiff namun tak mampu mencegah klub Wales itu terdegradasi dari Premier League. Dia akhirnya dipecat pada 18 September 2014 setelah Cardiff meraih hasil tak memuaskan di pekan-pekan awal kompetisi Championship. Dia pun kembali menangani Molde mulai 21 Oktober 2015. Di sana, Solskjaer dikontrak 3,5 tahun.

Mantan asisten Alex Ferguson Mike Phelan dikabarkan bakal menjadi salah satu asisten Solskjaer. Latihan untuk sementara sempat kini ditangani mantan asisten Mourinho, Michael Carrick.

Carrick, Kieran McKenna, pelatih kiper Emilio Alvarez tetap dipertahankan. Sementara beberapa pembantu Mourinho yang berasal Portugal dikabarkan ikut keluar bersama Mourinho.



Sumber: BBC

Percuma Mourinho Pergi, Kalau Bus Tetap Diparkir


Heru Andriyanto / HA Rabu, 19 Desember 2018 | 14:36 WIB

Keputusan Manchester United untuk memecat manajer Jose Mourinho Selasa (18/12) kemarin mungkin tidak merugikan potensi mereka sebagai klub impian secara bisnis, tetapi kinerja yang terus merosot di lapangan bisa merusak aura komersial mereka yang saat ini seperti tidak bisa digoyahkan.

United memuncaki daftar klub paling berharga Forbes Juni lalu dengan nilai US$ 4,12 miliar (Rp 59 triliun), namun para pakar industri sepakbola mengatakan bukan berarti mereka kebal dari risiko kehilangan penggemar atau dipaksa mengorbankan nilai pasar mereka sebagai sebuah brand global.

Para pakar mengingatkan bisa jadi United terjebak dalam situasi seperti itu suatu hari nanti, jika mereka terus menerapkan gaya sepakbola membosankan dengan fokus pada pertahanan, yang membuat mereka mencatat kinerja awal musim terburuk dalam kurun waktu hampir 30 tahun.

Mentalitas permainan bertahan ala Mourinho ini kerap dijuluki sebagai taktik “parkir bus” oleh penggemar sepakbola, pemain lawan, dan juga media.

Bahkan dengan gaya seperti itu, dari 17 laga Premier League yang telah dilakoni United musim ini, mereka telah kebobolan 29 gol, sama dengan jumlah gol yang mereka cetak.

Pola permainan United itu sangat kontras dengan aliran bola cepat dan brilian yang diterapkan rival sekota Manchester City.

“Sulit untuk diterima bahwa masalah-masalah seperti ini tidak akan berdampak buruk pada brand dan kemampuan marketing klub tersebut,” kata Spencer Harris, pengajar manajemen olahraga di University of Colorado, Amerika Serikat.

“Dampaknya mungkin tidak terjadi secara instan, tetapi dengan asumsi situasinya masih sama seperti ini, saya duga akan ada perubahan pada ekuitas dan marketability klub ini, khususnya dalam level global, bukan domestik.”

Pada 2012, General Motors menandatangani kesepakatan sponsor senilai US$ 559 juta (Rp 8,6 triliun) untuk jangka waktu tujuh tahun dengan brand Chevrolet di jersey. Belum jelas apakah kontrak ini akan diperpanjang lagi.

United mengumumkan pendapatan kuartal kedua tahun ini anjlok 16% menjadi 147,6 juta pound (Rp 2,7 triliun) karena gagal lolos ke 16 besar Liga Champions, setelah tahun sebelumnya menjadi juara Liga Europa.

Mereka bisa kehilangan pendapatan lagi tahun depan karena kemungkinan besar United gagal lolos ke Liga Champions dengan kinerja sekarang yang hanya menempati posisi enam, 19 poin di bawah pemimpin klasemen dan rival bebuyutan Liverpool.

Jaraknya dengan Chelsea di posisi empat klasemen juga mencapai 11 poin.

Dalam kondisi sekarang, plus hengkangnya pelatih, mantan pemain tengah United Darren Fletcher memprediksi klub itu bisa melempem selama dua musim.

“Manchester United seharusnya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini,” kata Fletcher di BBC Radio 5.

“Mereka sudah hampir melupakan musim ini dan juga musim depan karena kalau manajer baru ditunjuk pada musim panas, dia tidak akan punya banyak waktu untuk mencari pemain-pemain baru.”

Citra Global
Harris, yang pernah memberikan kursus manajemen ‘Managing Soccer: Global & Local Perspectives’, mengatakan United lebih besar daripada setiap orang per orang di dalamnya. Pemecatan Mourinho akan kembali menanamkan filosofi seperti itu di benak para pemain, penggemar, dan lawan mereka.

Harris menilai pemecatan Mourinho, yang bermulut tajam dan dianggap sebagai figur dominan, bisa menyatukan kembali dukungan terhadap United.

“Masalah di sini bukan hanya soal hasil, tapi juga hubungan pelatih-pemain, gaya permainan, dan citra serta identitas global Manchester United,” kata Harris.

“Hasil tentu saja masalah penting, dan saya bisa katakan kalau misalnya hasilnya lebih bagus, Man U di puncak klasemen, dewan direksi mungkin akan mengambil sikap berbeda."

Ketika pria Protugal itu mengambil alih jabatan manajer di Old Trafford pada 2016, publik menyebutnya sebagai perkawinan dua nama besar -- Mourinho, manajer yang mengoleksi trofi ke mana pun dia pergi, dan United, klub Inggris paling sukses dan telah menjelma menjadi raksasa sepakbola global.

Saat itu, United menyebut Mourinho sebagai manajer terbaik dalam olahraga ini, tetapi tugasnya terlalu berat dan selama menjabat dia sering bertikai dengan para pemain kunci, terutama pemain tengah asal Prancis Paul Pogba yang dibeli seharga 90 juta pound (Rp 1,6 triliun).

Namun, para pakar berpendapat pemain adalah bintang yang sesungguhnya, bukan si manajer, dan ketika itulah klub seperti United bisa kesulitan karena tekanan untuk melakukan perubahan akan datang dari para fans, pemegang saham, dan bahkan para pemain.

“Mungkin ada sedikit ketidaksabaran pada tim-tim yang punya banyak uang untuk dibelanjakan dan sejarah panjang yang penuh kesuksesan," kata Bob Dorfman, pakar marketing olahraga di Baker Street Advertising, San Francisco.

“Terlalu banyak orang yang berharap terlalu besar dari Man United, sehingga kalau mereka kalah itu akan merugikan marketability mereka.”

 



Sumber: Reuters, BBC, Metro

Dipecat MU, Mourinho Akan Kantongi Rp 275 Miliar


Iman Rahman Cahyadi / CAH Selasa, 18 Desember 2018 | 22:20 WIB

Manchester - Keputusan Manchester United memecat Jose Mourinho membuat klub yang bermarkas di Old Trafford itu harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Pemecatan itu membuat MU harus mengeluarkan uang kompensasi sebesar 15 juta pound sterling atau sekitar Rp 275 miliar. 

Jumlah tersebut jauh lebih besar dari yang diterima Mou ketika dipecat sebagai pelatih Chelsea tiga tahun lalu. Ketika itu, Mou yang dipecat Chelsea  pada 17 Desember 2015 mendapatkan uang kompensasi sebesar 8 juta poundsterling atau sekira Rp 146,6 miliar.

Angka itu hanya sepertiga dari jumlah yang diterima Mourinho sebagai buntut pemecatan pertamanya dari kursi pelatih Chelsea pada 2007 silam, yakni sebesar 20 juta poundsterling atau sekira Rp 367 miliar.

Sebelumnya, ketika hijrah dari Inter Milan untuk melatih Real Madrid pada 2010, Madrid membayarkan uang kompensasi sebesar 8 juta euro atau sekira Rp131,7 miliar kepada Inter sebagai mahar mendapatkan Mourinho.

Mourinho memecat pelatih asal Portugal itu setelah menangani Setan Merah selama dua setengah tahun. Pelatih berusia 55 tahun itu berhasil memenangkan Piala Liga dan Europa League selama menangani MU.

Buruknya performa MU di musim kompetisi Premier League 2018/19 memasuki pekan ke-17 - berada di peringkat ke-6 klasemen sementara - tertinggal 19 angka dari Liverpool yang sukses mengalahkan MU pada laga, Minggu (16/12).



Sumber: The Guardian

Pasang Surut Karier Mourinho di MU


Iman Rahman Cahyadi / CAH Selasa, 18 Desember 2018 | 20:13 WIB

Manchester - Masa 2,5 tahun Jose Mourinho menangani Manchester United diwarnai suka duka, termasuk trofi dan perekrutan besar. Pelatih asal Portugal itu harus mengakhiri karier kepelatihannya di Old Trafford, Selasa (18/12).

Pelatih berusia 55 tahun itu berhasil memenangkan Piala Liga dan Europa League selama menangani MU.

Berikut peristiwa-peristiwa penting Mourinho di MU

27 Mei 2016: Jose Mourinho resmi menjadi pelatih MU menggantikan Louis van Gaal.

7 Agustus 2016: Memenangkan gelar juara pertamanya yakni Community Shield usai mengalahkan juara Premier League Leicester City 2-1 di Wembley. Rekrutan baru Zlatan Ibrahimovic menjadi penentu kemenangan tersebut berkat golnya.

Selebrasi pemain Manchester United merayakan gelar juara Community Shield 2016.

11 September 2016: Mourinho harus menelan kekalahan dari rivalnya, Pep Guardiola dalam derby pertama Manchester yang berkesudahan 2-1 untuk kemenangan City di Old Trafford.

8 Agustus 2017: Kalah 1-2 dari mantan klub yang pernah dilatihnya Real Madrid dalam Piala Super Eropa. Dalam laga tersebut, rekrutan baru Mourinho, Romelu Lukaku mencetak gol.

21 Oktober 2017: Catatan tidak terkalahkan dalam 13 pertandingan disemua kompetisi berakhir setelah dikalahkan tim promosi Huddersfield 2-1.

Gelandang Huddersfield Aaron Mooy (kedua dari kiri) merayakan gol yang dicetaknya ke gawang MU bersama rekan-rekannya.

20 Desember 2018: Kalah 1-2 dari tim championship Bristol City di perempat final Piala Liga mengubur ambisi MU mempertahankan gelar tersebut.

26 Januari 2018: Meneken kontrak baru di MU sampai tahun 2020, dengan opsi tambahan satu tahun lagi.

13 Maret 2018: Sevilla mendepak MU dari Liga Champions di babak 16 besar berkat kemenangan 2-1 di Old Trafford setelah leg pertama berakhir tanpa gol.

7 April 2018: Paul Pogba mengemas dua gol dan Chris Smalling menjadi penentu kemenangan 3-2 berkat golnya setelah sempat tertinggal dua gol terlebih dulu melawan Manchester City di Etihad.

12 Mei 2018: Rui Faria mengumumkan berhenti sebagai asisten Mou di akhir musim. Keduanya sebelumnya sudah bekerja bersama di berbagai klub sejak tahun 2002.

19 Mei 2018: Kalah di final Piala FA melawan Chelsea setelah Eden Hazard mencetak gol dari titik penalti untuk mengamankan kemenangan 1-0.

Ekspresi Jose Mourinho saat final Piala FA melawan Chelsea, Sabtu, 19 Mei 2018.

27 Agustus 2018: Kalah dari Brighton di laga kedua musim menyusul kekalahan 0-3 dari Tottenham di Old Trafford dan menjadi kekalahan kandang terburuk dalam karier Mourinho.

29 September 2018: Catatan lima laga belum terkalahkan disemua kompetisi berakhir setelah dikalahkan West Ham 1-3 di Stadium London.

11 November 2018: Tiga kemenangan beruntun, termasuk mengalahkan Juventus 2-1 di Turin sempat dinilai sebagai kebangkitan MU. Sayang, setelah itu MU dibekuk Manchester City 1-3 dan membuat Mou kembali mendapat tekanan.

Selebrasi gelandang Manchester City David Silva usai membobol gawang Manchester United di Etihad.

16 Desember 2018: Kemenangan 1-0 atas Young Boys membuat MU lolos ke fase gugur Liga Champions mengendurkan tekanan kepada Mou. Sial, kekalahan dari Valencia diikuti kekalahan 1-3 dari Liverpool di Anfield membuat tekanan kepada Mou semakin menguat.

18 Desember 2018: Dua hari setelah menelan kekalahan pertama dalam sembilan laga liga, MU mengumumkan pemecatan pelatih asal Portugal itu.



Sumber: The Guardian

Jose Mourinho, Pelatih Paling Boros Tarik Pemain


Yudo Dahono / YUD Selasa, 18 Desember 2018 | 19:48 WIB

Manchester - Karier kepelatihan Jose Mourinho di Manchester United harus berakhir, Selasa (18/12). Sepanjang catatannya melatih klub, Mourinho yang dulu bermain sebagai gelandang itu adalah pelatih dengan pembelanjaan pemain termahal sepanjang sejarah.

Berdasarkan data yang dikutip dari Transfermarkt, pelatih berusia 55 tahun itu telah menarik 133 pemain dengan nilai transfer sebesar £ 1,398 miliar poundsterling. Nilai transfer setara Rp 25,651 triliun itu terhitung sejak tahun 2000 saat dia menangani SL Benfica.

Pemain termahal yang pernah ditarik Mourinho saat menjadi pelatih adalah Paul Pogba. Gelandang Timnas Prancis itu ditarik senilai £89,3 juta dari Juventus ke Manchester United pada 2016 silam - nilai yang memecahkan rekor transfer saat itu.

Menariknya kendati menjadi pelatih yang paling banyak menghabiskan biaya transfer pemain termahal dunia saat ini justru dipegang oleh Unai Emery saat memboyong Neymar dari Barcelona ke Paris Saint-Germain dengan nilai transfer £ 199,8 juta.

Selama dua setengah tahun menangani MU, Mourinho kerap mengeluh tidak mendapatkan bujet yang cukup untuk menarik pemain bintang. Klaim yang tidak sepenuhnya benar karena dia menghabiskan dana £ 419,49 juta untuk menarik pemain seperti Pogba, Lukaku, Fred, Nemanja Matic serta Henrikh Mkhitaryan.

Sayangnya kendati telah mengeluarkan dana yang cukup besar menarik pemain bintang, MU hanya mendapatkan trofi Piala Liga dan Europa League. Sementara dari segi permainan, United kerap dicemooh dengan pola parkir bus serta kerap dipermalukan kendati tampil di Stadion Old Trafford. Kondisi ini diyakini menjadi penyebab pemecatan Mourinho dari kursi pelatih United.



Sumber: Transfermarkt

CLOSE