Dana Minim, Prestasi Tak Mungkin Melangit


Hendro D Situmorang / Alexander Madji / AMA
Senin, 18 November 2019 | 21:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dunia olahraga Indonesia adalah sebuah ironi. Semua cabang olahraga (cabor) dituntut berprestasi pada semua event, termasuk pada ajang SEA Games 2019. Sementara biaya dari pemerintah sangat minim. Dan, masalah ini bukanlah cerita baru. Ia semacam ulangan sebuah lagu yang selalu didendangkan tanpa akhir.

Cerita tentang itu terulang kembali menjelang SEA Games 2019 di Filipina yang berlangsung, 30 November hingga 11 Desember mendatang. Bahkan ada dana pemerintah untuk sejumlah cabor yang belum cair 100%. Padahal, event itu sudah di depan mata. Meski demikian, cabor-cabor itu terus berlatih tanpa kenal lelah agar bisa melahirkan prestasi dan meraih medali. Sebab, prestasi para atlet senantiasa dinanti rakyat Indonesia.

Pemerintah sendiri terus dituntut agar olahraga Indonesia berprestasi. Namun, hal itu mustahil tercipta karena anggarannya minim sekali. Jauh dari kebutuhan untuk pembinaan atlet mencapai taraf prestasi yang diharapkan. Bayangkan, anggaran olahraga terbilang sangat kecil. Di bawah 1% dari APBN. Itu pun masih dikorupsi pula. Yang tersisa pun penyalurannya cenderung tidak tepat sasaran.

Salah satu contoh penyaluran dana yang tidak tepat itu adalah hibah dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang berujung pada penetapan tersangka pada Imam Nahrawi, Menpora 2014-2019. Sebelum itu, sejumlah pejabat di KONI sudah dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Bukan hanya itu. Masalah lainnya adalah karena kecilnya peran negara. Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta belum lama ini menilai, prestasi olahraga Indonesia tidak mungkin akan lebih baik dari saat ini karena Undang Undang tentang Sistem Keolahrgaan Nasional tidak menempatkan peran pemerintah secara jelas dan tegas dalam membangun prestasi olahraga bangsa ini. Padahal, menurutnya, prestasi bisa di-create sejak dari peraturannya.

Kalaupun ada cabor yang berprestasi, seperti cabang olahraga bulutangkis, itu sebuah perkecualian. Ada sistem berbeda yang “berlaku” di cabor tersebut, dan hendak ditiru oleh cabor-cabor lain. Hal paling mencolok di dunia bulutangkis adalah besarnya peran pihak swasta. Keterlibatan pihak swasta ini terbukti bisa mengatasi salah satu persoalan yang sudah diutarakan di atas tadi, yaitu minimnya dana pemerintah.

Pola di bulutangkis itulah yang coba ditiru oleh sejumlah cabor seperti panahan, Angkat besi, tenis, dan atletik. Dua cabor pertama termasuk yang diandalkan untuk menyumbang medali pada setiap event, termasuk pada SEA Games 2019. Namun, mereka juga tidak menjadi prioritas pemerintah untuk menggelontorkan dana. Mereka tetap saja berkekurangan. Alhasil, mereka harus mencari bapak asuh untuk memenuhi kebutuhannya.

Bayangkan, untuk panahan, idealnya mereka membutuhkan Rp 20 miliar guna memenuhi target yang diberikan pemerintah pada SEA Games 2019, yaitu mencapai hasil yang lebih baik dari SEA Games sebelumnya saat merebut empat emas, satu perak, dan satu perunggu. Namun, Kempora hanya mengabulkan Rp 8,7 miliar. Lalu dari mana sisanya? Ya bapak asuh. Untunglah, mereka sudah mendapatkan beberapa perusahaan swasta sebagai bapak asuh.

Begitu juga angkat besi. Cabor andalan baik di SEA Games, Asian Games, maupun Olimpiade itu, malah mendapat anggaran sangat kecil dari pemerintah yaitu hanya Rp 1 miliar. Padahal, kebutuhan mereka sepanjang satu tahun antara Rp 15-20 miliar. Meski demikian, cabor angkat besi memanfaatkan secara optimal dana yang terbatas itu sambil mencari dana pihak swasta. Inilah yang membantu para atlet cabor terus berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang. Cerita yang sama dialami cabor tenis. Mereka bukan hanya menerima tidak sesuai yang diminta, yang disetujui itu pun baru diterima 70%. Mereka mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 9 miliar. Itu pun belum cari semua.

Namun cerita-cerita pilu itu tidak membuat mereka menyerah begitu saja. Hidup harus jalan terus. Seluruh program latihan dan keterseidaan alat latih tetap dieksekusi. Tekad meraih prestasi tetap dijaga di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. Kondisi sulit tersebut memaksa para pengurusnya berpikir dan bertindak kreatif mencari solusi terbaik.



Sumber: Suara Pembaruan

Janji Manis Pemerintah


Hendro D Situmorang / AMA
Senin, 18 November 2019 | 22:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menanggapi keluhan para cabor, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali hanya bisa berjanji. Sayang, janji bukan untuk menyediakan anggaran pembinaan prestasi olahraga bangsa ini yang lebih besar, tetapi hanya sebatas untuk transparan dalam penyusunan anggaran serta menjamin tidak akan ada lagi potongan dana kepada setiap cabang olahraga.

“Kita harus hati-hati karena BPK tiap tahun memeriksa kita. Yakinlah kami di Kempora sudah membuat tekad tidak ada satu rupiah pun apalagi potongan ke cabor. Kita akan berikan sesuai dengan yang diajukan,” ujar Amali saat berkunjung ke Pelatnas Angkat Besi di Mess Kwini, Pasar Senen, Jakarta belum lama ini.

Amali menegaskan bahwa keterlambatan dana untuk cabor-cabor tidak dimaksudkan untuk menahan-nahan anggaran, tetapi kemungkinan karena ketidaksesuaian administrasi. Sebab dana APBN ini harus dialokasikan dengan hati-hati supaya tidak menyimpang. Untuk mencegah keterlambatan itu, Amali menyatakan akan bertemu dengan setiap cabang olahraga untuk membicarakan soal anggaran.

“Kita akan undang setiap cabor untuk mengatur bujet dan kita akan bicara transparan karena kementerian tanpa cabor bukan apa-apa,” kata dia.

Meski begitu, Amali mengharapkan setiap cabang olahraga bisa tetap jalan sendiri walaupun tidak ada bantuan dari pemerintah. Ia pun mengapresiasi inisiatif para pengurus cabor yang mau menggelontorkan dana pribadi untuk melakukan pembinaa, try out maupun ikuti kejuaraan lain.

Menteri asal Gorontalo itu berjanji bahwa pemerintah akan mengusahakan sebaik-baiknya agar kesiapan atlet berjalan lancar dan memasang target merebut 50 emas dan berada di lima besar klasemen akhir SEA Games 2019 Filipina.

Ada pun soal bapak asuh, politisi Partai Golkar itu berjanji akan mendorong Kementerian BUMN untuk menciptakan bapak asuh. Untuk itu, ia mengaku sudah berkonsolidasi dengan beberapa kementerian, khususnya Kementerian BUMN untuk dicarikan bapak asuh bagi cabor-cabor berprestasi.

”Pertama, masalah Perpani dan cabor lainnya ini akan kami selesaikan di Kempora secara bertahap. Kedua, jika kita berbicara pengeluaran budget pembelian peralatan, jangan sampai ada kesalahan prosedur karena ini menyangkut APBN dan kami harus benar-benar berhati-hati betul agar jangan sampai terjadi kesalahan dan tidak ada penyimpangan. Selama ini, kami mungkin sering mendengar masalah atau kekurangan yang ada di pelatnas. Sekarang, kami ingin mengeceknya secara langsung, mengetahui secara detail langsung dari sumbernya agar dapat informasi secara valid,” kata Zainudin.

Dari semua masalah yang didengar dari berbagai cabang, Zainudin menambahkan, apa yang bisa diselesaikan di tingkat Kempora akan segera diatasi. Anggaran untuk membeli peralatan latihan dan lomba di pelatnas panahan misalnya. Hal itu bisa diatasi dengan anggaran Pelatnas 30% yang akan segera dicairkan dalam waktu dekat. Namun, untuk yang tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat Kempora, Zainudin akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait lainnya.

Sementara itu, terkait postur anggaran pembinaan olahraga yang disiapkan pemerintah, harus diakui jumlahnya jauh dari memadai. Tahun 2016, misalnya, dari total Rp 2,1 triliun anggaran Kempora, hanya Rp 1,2 triliun yang diperuntukkan bagi prestasi olahraga. Tahun berikutnya, dari Rp 3,14 triliun total anggaran Kempora, hanya Rp 1,3 triliun untuk prestasi olahraga. Pada 2018, dari Rp 5,03 triliun, hanya Rp 735 miliar untuk prestasi olahraga, karena sebagian tersedot untuk persialan Asian Games. Untuk 2019, dari Rp 1,95 triliun anggaran Kempora, hanya Rp 986 miliar yang dialokasikan untuk prestasi olahraga. Adapun dalam RAPBN 2020, pagu anggaran untuk Kempora mengecil menjadi Rp 1,7 triliun, sehingga bisa dipastikan anggaran untuk prestasi olahraga kembali menurun.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot Dewa Broto mengakui anggaran APBN untuk pembinaan prestasi olahraga memang masih sangat minim dan kurang dari 1%. Hal iltu tidak terlepas dari kondisi keuangan negara. Apalagi, olahraga tidak masuk dalam prioritas pemerintahan saat ini.

“Hal ini membuka mata kita semua dan menjadi momentum yang bagus untuk menyiapkan semua pihak bahwa pembinaan olahraga itu membutuhkan dana yang sangat besar, apalagi banyak cabang olahraga (cabor) yang harus dibiayai. Kami akui dan jujur, Kempora memang kurang dana padahal atlet Indonesia punya keunggulan di usia dini. Contohnya saja pada Asean School Games kita bisa selalu menjadi juara umum atau runner up, baik di kandang sendiri maupun tanding di luar negeri,” ungkap Gatot.

Kempora, kata dia, ikut memfasilitasi kejuaraan yang diikuti cabor. Namun yang melakukan pembinaan adalah pihak federasi. “Maka kami akan persiapan dan memberi justifikasi yang kuat agar bisa membantu pengembangan olahraga, khususnya fokus pada sumber daya manusia (SDM) yakni para atlet. Kedepan akan ada persiapan bidding tuan rumah Olimpiade dan sepakbola dan Piala Dunia Basket,” ujar Gatot lagi.

Gatot mengakui, minimnya anggaran jelas sangat berdampak terhadap penyiapan atlet-atlet. Namun, ia meminta agar atlet hanya memikirkan berlatih dan berlatih an tidak perlu ikut berpikr tentang uang saku, lauk pauk, nutrisi, try out atau berlatih dan tanding keluar negeri dan peralatan yang lengkap. “Kalau hal itu masih menjadi beban pikiran atlet, maka hasilnya tidak akan maksimal pembinaan yang dilakukan,” jelasnya.

Pada bagian lain, Gatot menekankan para pengurus cabor untuk kreatif mencari dana sendiri guna menunjang prestasi para atletnya. “Maka kami menghimbau kepada cabor, apapun resikonya kalau menjadi pimpinan cabor itu harus bisa mencari sumber keuangan yang lain, termasuk bila mengalami kekurangan dana dan jangan hanya bergantung pada pemerintah saja,” tutup Gatot.



Sumber: Suara Pembaruan

Bapak-bapak Asuh yang Murah Hati


Hendro D Situmorang / AMA
Senin, 18 November 2019 | 21:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keterbatasan dana pemerintah dalam menciptakan prestasi olahraga membuat para pengurus besar atau pengurus pusat cabor berpikir kreatif, cerdas, dan bekerja keras mencari dana tambahan pihak ketiga. Pola yang dijalankan adalah mencari bapak asuh. Sejumlah cabor berhasil mendapatkan para bapak asuh yang baik hati. Namun, sebagian cabor yang tidak terlalu diminati, harus gigit jari. Mereka menerima kenyataan pahit yakni menjalankan program hanya berdasarkan dana yang dikasih pemerintah.

Salah satu cabor yang sukses mendapat bapak asuh adalah panahan. Sekjen PP Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Rizal Barnadi mengatakan, mereka hanya menerima 8,7 miliar dari pemerintah untuk pelatnas SEA Games 2019, dari Rp 20 miliar yang diajukan.

“Akhirnya, kami coba maksimalkan dana yang kami terima meskipun kurang dan terpaksa harus ada yang dikorbankan atau dikurangi. Misalnya, mengurangi jumlah try out ke luar negeri dan peralatan seperti jumlah anak panah. Seharusnya beli tiga lusin, kami beli hanya dua lusin karena harganya cukup lumayan tinggi,” katanya kepada Beritasatu.com di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta , 28 Oktober silam.

Namun pihaknya tetap membidik juara umum pada SEA Games 2019 Filipina dengan target lebih dari empat medali emas. Sebab, pada SEA Games 2017, dua tahun silam, tim panahan Indonesia meraih enam medali; empat emas, satu perak, dan satu perunggu. Tahun ini diharapkan ada peningkatan, meski dana terbilang minim.

Untuk menyiasati dana minim, PP Perpani berjuang sendiri. Mereka mencari sponsor untuk membantu roda organisasi dan peningkatan prestasi atlet. Mereka pun akhirnya mendapatkan “bapak asuh” yakni Yayasan Bakti Barito dari Barito Pacific Group, Indika Energy, dan Gemarang Terapanindo Argayasa (GTA) Group dengan perjanjian jangka waktu selama satu tahun. Sementara Pertamina hanya membantu per event.

“Apalagi dana pelatnas SEA Games saat ini baru cair 70 persen dan itu sudah habis terpakai untuk operasional dan persiapan latihan atlet, sementara yang 30% belum kunjung turun. Padahal ajang multievent Asia Tenggara dimulai sebentar lagi. Jangan sampai gara-gara sisa dana 30% dari pemerintah ini belum turun juga, persiapan pelatnas jadi terganggu,” ungkap Rizal.

Tenis juga termasuk cabor beruntung. Mereka mendapatkan bapak asuh dari beberapa perusahaan tambang. Itu sebabnya, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti), Sutikno Muliadi menegaskan, bukan saat untuk mengeluh tentang minimnya dana yang diterima dari pemerintah. Sebab itu bukan cerita baru. Tenis sendiri masuk cluster dua dengan total dana pelatnas sekitar Rp 9 miliar.

“Cukup tak cukup, kami harus pintar mengunakannya dan yang penting atlet kami bisa mendapat gaji, akomodasi tercover, dan yang sulit adalah pembiayaan untuk try out. Biaya ini tak terserap dengan baik. Maka jalan satu-satunya dengan mencari terus sponsor bagi pengemar olahraga tenis,” ungkapnya.

Tahun ini, PP Pelti pun bisa menggandeng beberapa perusahaan seperti Amman Mineral, Medco Energi, Moya, Combiphar, dan BNI. Para sponsor ini sangat membantu bagi atlet tenis untuk kelanjutan bisa melakukan berbagai turnamen, pemusatan latihan, klinik latihan, dan pengiriman atlet ke berbagai kejuaraan internasional.

“Kami tak bisa hanya mengeluh dengan keadaaan ini saja. Mengaet sponsor pun tak mudah karena mereka melihat sejauh mana banyaknya antusias jumlah penonton baik di lapangan maupun televisi dan apa keuntungan yang didapat,” jelas Sutikno yang juga Ketua Bidang Pembinaan PP Pelti.

Keberuntungan serupa juga didapatkan cabor angkat besi. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Besi Indonesia (PB PABBSI), Alamsyah Wijaya mengaku, setiap cabor harus bisa menyiasati minimnya anggaran pemerintah guna terus melahirkan prestasi membanggakan bangsa. Mereka juga mencari bapak asuh.

“Salah satunya untuk pembinaan, kami bekerja sama masuk ke program Kempora seperti pencarian bakat dan bibit atlet, pendampingan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), penataran pelatih, wasit, pembentukan fisik atlet dan lainnya. Kami menawarkan program proposal, ajukan, presentasi, dan bila disetujui akan difasilitasi pemerintah. Semua itu kami lakukan setiap tahunnya,” ucap Alamsyah.

PB PABBSI, kata dia, berupaya tertib administrasi dan manajemen agar semua dimudahkan. Tentunya dalam mengajukan permintaan bantuan dana mencantumkan angka yang sesuai kenyataan, bahkan untuk cabang olahraga angkat besi terbilang kecil.

“Untuk mengirim tim angkat besi dan berat, paling tinggi ada di angka Rp 1 miliar. Ini berbeda jauh bila dibandingkan cabor sepakbola yang bisa mencapai Rp15 miliar untuk sekali berangkat. Padahal kita selalu bisa berprestasi dalam berbagai kejuaraan. Setiap tahun program kita mencapai Rp 15-20 miliar. Kami pun selalu berusaha menyesuaikan dan memaksimalkan berapa pun yang disetujui dan dicairkan pihak pemerintah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, “Kalau masih ada kekurangan, biasanya kami akan ajukan kembali. Tetapi, kalau dinyatakan sudah tak ada dana lagi, maka kami manfaatkan seadanya. Namun berbeda kalau multievent, di mana akan ada dana untuk pelatnas seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.”

Hanya saja, PB PABBSI mengaku belum memiliki bapak asuh. Namun, pihaknya bekerja sama dengan pihak swasta yakni Herbalife sebagai nutrisi untuk para atlet dan dengan perusahaan daging asal Australia sebagai asupan makanan. Bantuan-bantuan yang diberikan secara rutin ini sudah sangat membantu. Meskipun yang diberikan adalah berupa produk, karena kalau dinilai uang, jumlahnya cukup besar untuk pengembangan atlet.

Atletik

Lain lagi cerita tentang cabor atletik. Seperti cabor-cabor lainnya, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB Pasi) juga mendapat aliran dana yang kecil dari pemerintah. Namun, situasi itu tidak menghalangi atlet-atlet mereka, seperti Lalu Muhammad Zohri, berprestasi. Sebab mereka cukup beruntung ketua umumnya seorang pengusaha besar bernama Bob Hasan.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung mengaku, semua dana untuk pembinaan atlet PB PASI dari hulu berasal dari kantong pribadi Bob Hasan. “Tapi kebutuhan atlet kita harus terus berkelanjutan kan, tidak hanya pelatnas saja, tapi terus menerus. Begitu juga roda organisasi. Pencarian bibit atlet di daerah, adanya kompetisi di daerah dan pusat, harus tetap berjalan dan proses regenerasi. Itu semua butuh biaya besar. Apalagi saat ini, atletik belum mendapat bapak asuh atau pihak swasta yang membantu. Dulu kita sempat bekerja sama dengan Bank Mandiri, namun hanya sebentar saja untuk event dan angkanya pun minim,” terangnya.

Menurutnya, biaya untuk pembinaan prestasi atlet selama setahun bisa lebih dari Rp 30 miliar. Sesungguhnya, angka ini masih terbilang minim. Oleh karena itu, PB PASI pun tak mau berharap terlalu tinggi, karena belum ada keinginan dari pemerintah majukan olahraga dan peran masyarakat ataupun korporasi tak bisa diharapkan karena terbentur oleh peraturan yang ketat.

Namun nasib malang dialami cabang senam. Mereka betul-betul mengandalkan dana dari pemerintah untuk berprestasi, termasuk pada SEA Games 2019 ini, karena tidak berhasil mendapatkan bapak asuh. Wakil Ketua Umum 2 Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Prestasi Persatuan Senam Indonesia (PB Persani), Dian Arifin mengatakan, senam sebagai ibu dari seluruh olahraga kesulitan mendapatkan bapak asuh. Perusahan-perusahaan milik negara tidak tertarik mendanai cabor ini.

Menurutnya, BUMN atau pihak swasta lain sulit membantu cabor senam. Padahal, menjelang SEA Games 2011, Persani sempat mendapat bantuan dari Jamsostek walaupun sedikit, tapi cukup membantu. Kini kami ingin sekali bisa bertatap muka dan menjelaskan program-program andalan. Semua itu tinggal cara pengemasan saja untuk mengajukan sebagai sponsor atau bantuan.

Namun, situasi ini tidak membuat PB Persani putus asa. “Untuk pembinaan prestasi cabang olahraga senam tahun ini kami hanya mengandalkan dana pemerintah, yakni dana pelatnas SEA Games 2019. Sebelumnya, pada 2017 bantuan pemerintah cukup minim karena untuk melakukan try out tak ada bantuan sama sekali. Akhirnya dana keluar dari kantong pribadi wakil ketua untuk menutupinya. Pada 2018, kami mendapat dana pemerintah program untuk Asian Games 2018 yang sesuai dikasih pagu,” ungkapnya.

Dian mengaku, bila mengharapkan dana pemerintah yang minim, akan sulit atletnya berprestasi. Namun Persani tetap berusaha fokus dan memaksimalkan dana yang tersedia. Sebab sudah tidak bisa tawar menawar lagi, termasuk program pemusatan latihan menuju pra Olimpiade yang diberikan kepada satu atlet saja yaitu Rifda Irfanaluthfi di nomor senam artistik. Atlet ini meraih medali perak di Asian Games 2018 dan emas di SEA Games 2017.

Untuk pelatnas SEA Games 2019, mereka mengajukan anggaran sebesar Rp 24 miliar, tetapi yang disetujui Kempora hanya sekitar Rp 7 miliar. Itu sudah termasuk untuk pembinaan pelatnas dan berbagai ajang dan uji coba. “Kalau dibilang kurang, ya sangat kurang, tapi ya harus dimaksimalkan untuk semua kebutuhan. Yang paling mahal itu adalah sewa tempat karena PB Persani hingga saat ini belum memiliki tempat untuk latih tanding. Seandainya ada tempat akan sangat terbantu dan bisa meminimalisir anggaran,” jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan