Sumba, Lumbung Pangan NTT
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Home > Fokus > Sumba, Lumbung Pangan NTT

Sumba Menuju Lumbung Pangan NTT

Minggu, 25 April 2021 | 16:18 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / Anselmus Bata

Sumba, Beritasatu.com - Menyebut Sumba, generasi baby boomers Indonesia teringat kuda dan pasola, atraksi melempar tombak oleh pria-pria perkasa dari atas punggung kuda yang tengah berlari kencang. Menyebut Sumba, yang terbayang adalah sapi ongole, yang pada masa jayanya menjadi salah satu sumber ternak terbesar bagi DKI Jakarta. Tidak ada riwayat Sumba sebagai sentra produksi beras dan jagung.

Pasola.

Sumba kini tidak lagi seperti dahulu. Di padang sabana yang sama, tanah Sumba mampu menghasilkan beras dan jagung, bahkan juga gula. Jika di lahan yang sama bisa tumbuh padi, jagung, dan tebu, berbagai tanaman palawija dan hortikultura juga bisa hidup di lahan yang hanya disinggahi hujan paling lama empat bulan setahun. Sumba saat ini bukan lagi Sumba yang dahulu.

“Sumba tidak hanya luas, tetapi juga subur,” ungkap Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel dalam diskusi dengan Beritasatu.com dalam perjalanan menyusuri Sumba, NTT, Minggu (4/4/2021) hingga Selasa (6/4/2021). Legislator yang juga pengusaha Jakarta asal Provinsi Gorontalo itu tak tak habis-habisnya mengagumi bumi Sumba yang indah dan tampak hijau di musim penghujan. Selama tiga hari chairman Panasonic Gobel Indonesia itu berada di Sumba, hujan dan badai datang setiap hari.

Turun dari pesawat Wings di Bandara Waingapu, Minggu (4/4/2021) siang, Rachmat dan rombongan--Beritasatu.com ikut dalam rombongan--menjelajah empat kabupaten di Sumba. Dimulai dari Sumba Timur, kemudian rombongan bergerak ke Sumba Tengah, Sumba Barat daya, dan Sumba Barat. Hujan lebat yang dibawa oleh badai siklon tropis Seroja menimbulkan banjir di berbagai wilayah. Bendung Kobaniru di Sumba Timur jebol. Banyak jembatan putus, termasuk jembatan yang sempat dilewati rombongan.

Rachmat menghadiri panen padi yang menggunakan pupuk nonsubsidi di Sumba Barat Daya. Di lahan uji coba yang baru 3 hektare (ha) itu, petani memperoleh 9,4 ton per ha, naik dua kali lipat dibanding produktivitas lahan tanpa pupuk nonsubsidi. Harga pupuk nonsubsidi lebih mahal 10% dari pupuk subsidi, tetapi produktivitas 100% lebih tinggi. Lahan sawah di Sumba Barat Daya (SBD) mencapai 7.720 ha. Kelompok tani di satu hamparan seluas 200 ha itu meminta dukungan Rachmat Gobel dan Pupuk Kaltim agar pengelolaan sawah menggunakan pupuk nonsubsidi.

Kunjungan kerja anggota DPR Fraksi Nasdem ke Sumba. (Foto: Primus Dorimulu)

Satu setengah bulan sebelumnya, Selasa (23/2/2021), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri panen raya di kawasan food estate di Sumba Tengah. Banyak orang terperangah mendengar kabar Sumba memiliki kawasan food estate dan bertanya-tanya, mengapa bukan di Flores atau Timor, melainkan Sumba.

"Kenapa harus ada kawasan food estate di Kabupaten Sumba Tengah? Karena di kabupaten ini banyak penduduk miskin. Saya harus omong apa adanya,” ujar Presiden Jokowi.

Penduduk miskin di Sumba Tengah pada 2019 mencapai 25.120 jiwa atau 34% dari total penduduknya. Dari persentase, angka kemiskinan di Sumba Tengah tertinggi di NTT, sedangkan NTT adalah provinsi termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. Peringkat kedua dan seterusnya sebagai kabupaten termiskin di NTT adalah Sabu Raijua, Sumba Timur, dan Sumba Barat. Sumba Barat Daya juga tegolong kabupaten termiskin di NTT. Penduduk miskin di NTT pada September 2019 mencapai 1,129 juta atau 20,6% dari total penduduk.

Sejak dilantik menjadi gubernur NTT, 5 September 2018, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memberikan perhatian pada Sumba. Ia ingin agar Sumba tidak hanya sentra produksi ternak--terutama sapi dan kuda--, juga lumbung pangan dan menjadi objek wisata yang menarik. Pertanian dan peternakan dikelola secara terintegrasi dalam satu kawasan. Pangan dan limbah pangan menjadi pakan ternak. Kotoran ternak menjadi pupuk organik dan energi listrik.

Paradoks Sumba perlu segera diakhiri. Di satu pihak, Sumba dengan sabana, ternak, dan atraksi budayanya meruakkan objek wisata menawan, tetapi di lain pihak, rakyat yang menghuni Sumba hidup miskin dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM). Sumba menarik, tetapi termiskin. Sumba indah, tetapi tertinggal.

"Ini tantangan kita. Saya tidak mau Sumba seperti ini terus. Sebagai gubernur, saya tidak mau Sumba miskin dan tertinggal seperti ini terus," ungkap VBL saat memberikan sambutan pada acara Pencanangan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) di Desa Umbu Pabal Kecamatan Umbu Ratu Nggai, Sumba Tengah, Senin (7/9/2020).

Dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM), penduduk empat kabupaten Sumba tertinggal dibanding rata-rata NTT. Pada tahun 2020, IPM NTT 65,15, sedangkan Indonesia 71,94. IPM Sumba Barat 63,53, Sumba Timur 65,52, Sumba Tengah 61,53, dan Sumba Barat Daya (SBD) 62,28. IPM mencakup usia harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran riil per kapita.

Faktor utama yang membuat IPM Sumba di bawah rata-rata provinsi adalah kesehatan, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran riil. Rata-rata lama sekolah di sumba Tengah, misalnya, hanya 6,2 tahun. Bandingkan dengan Nagekeo 7,9 tahun dan NTT 7,3 tahun.

Kemiskinan di Sumba dan NTT pada umumnya juga disebabkan oleh mahalnya harga produk pabrikan dan semua produk yang tidak dihasilkan penduduk setempat di satu pihak dan rendahnya harga produk pertanian penduduk setempat di lain pihak. Pada Februari 2021, nilai tukar petani (NTP) NTT 95,75, sedangkan NTP nasional pada periode yang sama 103,10. NTP Sumba di bawah rata-rata NTT.

Tingkat kesejahteraan petani diukur oleh NTP, yakni rasio harga yang diterima petani (HT) terhadap harga yang dibayar petani (HB). NTP di bawah 100 artinya harga yang diterima petani di bawah harga yang harus dibayar petani. Untuk menaikkan kesejahteraan petani, harga barang pabrikan dan semua barang dan jasa yang tidak mereka hasilkan harus lebih rendah dari harga produk pertanian yang mereka hasilkan.

Tidak Hanya Kuda
Orang Flores generasi baby boomers, yang lahir sebelum tahun 1965, mungkin tidak percaya Sumba bakal menjadi lumbung pangan, khususnya beras dan jagung. Mereka masih membayangkan Sumba sebagai pulau yang hanya punya padang sabana dan di musim kemarau, tanah kehilangan rumput.

Kuda Sumba.

Mereka yang tidak pernah ke Sumba, mungkin, hanya membayangkan kuda yang berlari-lari di padang sabana seperti dilukiskan dengan indah oleh penyair kawakan Taufik Ismail dalam puisi “Beri Daku Sumba”. Berikut dua dari enam bait sajaknya yang ditulis untuk sahabatnya, Umbu Landu Paranggi.

“Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.”

Sajak Taufik tahun 1970 itu ditulis hanya berdasarkan penuturan Umbu Landu Paranggi, penyair asal Sumba Timur yang dikenal sebagai presiden Malioboro. Penyair nyentrik itu meninggal, Selasa, 6 April 2021 di Bali. Taufik baru berkesempatan menjejakkan kakinya di Sumba pada 1990.

Populasi kuda dan sapi ongole terus menurun dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2019, kuda di Sumba 54.000 ekor, 49% dari populasi kuda di NTT. Sedang sapi ongole 68.700 ekor atau 6% dari populasi sapi di NTT. Di Timor dan Flores, petani umumnya memelihara sapi bali dan sedikit sapi madura.

Sapi ongole.

Salah satu faktor utama menurunnya populasi ternak di Sumba adalah minimnya pakan ternak dan air. Ternak kuda, sapi, dan kerbau, membutuhkan air. Di Sumba terdapat 14 sungai dan tujuh danau dengan air terjun. Namun, sungai dan danau ini tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi ternak yang menyebar di berbagai wilayah.

Luas daratan Sumba 10.710 km persegi atau 1,07 juta ha, sekitar 79% dari luas Pulau Flores atau 23% dari luas NTT. Namun, tidak seperti Flores yang bergunung-gunung curam dengan kaki gunung yang langsung bertemu laut, Sumba adalah wilayah perbukitan. Tidak banyak kemiringan yang curam, sehingga Sumba cocok untuk pertanian.

Tidak banyak gunung, tetapi terdapat tujuh gunung berapi di Sumba Barat, sedangkan gunung tertinggi adalah Wanggameti di Sumba Timur dengan ketinggian 1.225 meter dari permukaan laut. Di Flores terdapat sejumlah gunung dengan ketinggian di atas 2.000 meter, yakni Inerie (2.245 m) di Ngada dan Pocomandasawu (2.370 m) di Manggarai. Gunung tertinggi di NTT adalah Mutis (2.427 m) di Timor Tengah Selatan.

Dari Gunung Wanggameti mengalir sejumlah sungai, terbesar adalah Sungai Kambaniru. Pada 8 September 1992, bendungan terbesar di Sumba ini mulai mengairi 1.440 ha. Bendung ini jebol 4 April 2021 akibat curah hujan yang jauh di atas normal. Siklon tropis seroja mengharu biru NTT. Ratusan warga NTT meninggal dunia dan ribuan kehilangan tempat tinggal.

Melewati empat kabupaten dengan mobil, rombongan bisa melihat sebagian lereng bukit yang agak landai dan landai dengan kemiringan 3-15 derajat. Kawasan perbukitan ini bisa diolah menjadi lahan pertanan subur. Sumba Tengah, demikian Bupati Paulus Limu, akan memperluas lahan padi dan jagung hingga 10.000 ha. Kawasan food estate yang sudah diresmikan Presiden Jokowi menjadi faktor yang membakar semangat pemda dan rakyat setempat.

Paulus SK Limu. (Foto: Primus Dorimulu)

Pada musim panen 2020, luas lahan panen padi di Sumba Tengah mencapai 6.521 ha. Dengan luas wilayah 1.865,7 km persegi atau 186.570 ha, potensi lahan padi sawah di kabupaten ini masih besar. Ada 64.700 ha lahan yang bisa diolah menjadi lahan pertanian.

Total lahan di empat kabupaten di Sumba--Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sumba Barat--yang bisa diolah menjadi lahan pertanian mencapai 358.600 ha atau 19% dari lahan pertanian di NTT. Dengan jumlah penduduk yang hanya 779.100 (Sensus Penduduk 2020) atau 15% dari penduduk NTT, Sumba memiliki lahan luas untuk pertanian.

Pada 2019, total panen padi di Sumba baru 162.700 ton atau 20% dari total produksi padi di NTT dan panen jagung 139.400 ton atau 20% dari total panen jagung di NTT. Dengan irigisi, panen padi bisa minimal dua kali setahun.

Selain padi dan jagung, Sumba juga menghasilkan gula. Saat ini, PT Muria Sumba Manis (MSM), perusahaan milik Djarum membangun kebun tebu di Sumba Timur di lahan seluas 50.000 ha. Lahan hak guna pakai selama 50 tahun itu mendukung pabrik gula berkapasitas 12.000 cane per day (TCD).

Lumbung Pangan
Untuk mewujudkan kedaulatan pangan, pemerintah mendorong pembentukan food estate. Saat ini terdapat enam kawasan food estate di Indonesia, yakni Marauke, Papua seluas 1,2 juta ha, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah 180.000 ha, Kalimatan Barat 120.000 ha, Kalimantan Timur 10.000 ha, Maluku 190.000 ha, dan Sumba, dimulai dari Sumba Tengah 5.000 ha.

Dengan wilayah daratan seluas 186.918 ha, Sumba Tengah masih memiliki cukup lahan untuk pertanian. “Kami segera menambah 5.000 ha lagi untuk Kawasan food estate, sehingga total lahan mencapai 10.000 ha,” ungkap Bupati Sumba Tengah Paulus SK Limu kepada Beritasatu.com, Senin (5/4/2021).

Presiden meminta agar dalam setahun kawasan food estate di Sumba Tengah bisa kali ditanam dua kali. Lahan di kawasan food estate yang sedang diolah seluas 5.000 ha, terdiri atas 3.000 ha padi dan 2.000 ha jagung. Panen di Sumba Tengah masih setahun sekali, baik padi maupun jagung. Dengan bantuan embung dan sumur bor, setahun bisa dua kali panen.

Banyak dataran tinggi di Sumba Tengah yang bisa dibuatkan embung atau waduk kecil untuk menampung air hujan. Kehadiran waduk memperbanyak air tanah. Saat ini, kehadiran sumur bor mempermudah perolehan air untuk keperluan irigasi, minuman ternak, dan air bersih untuk penduduk.

Sumba Tengah dilewati delapan sungai, di antaranya Sungai Labariri, Bewi, dan Pamalar. Bupati Sumba Tengah Paulus Limu mengungkapkan kegembiraan dengan kehadiran Kawasan food estate di kabupatennya.

Ketika Rachmat Gobel menyinggahi rumah kediamannya di Kota Waibakul, Senin (5/4/2021), Paulus mengajaknya ke Bukit Jokowi untuk melihat hamparan padi di kawasan food estate yang sedang mekar.

Dengan menetapkan kawasan food estate di Sumba Tengah, pemerintah menunjukkan keseriusan untuk menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung pangan, di samping tiga kabupaten lainnya, yakni Sumba Barat Daya, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Dari lahan pertanian seluas 64.700 ha, Sumba Timur memiliki lahan pertanian irigasi 10.663 ha dan sawah tadah hujan 12.000 ha.

Dalam satu dekade terakhir, sebagian padang sabana Sumba berubah menjadi lahan pertanian yang subur. Dengan penggunaan teknologi, pupuk yang tepat, dan pengelolaan yang benar, produksi pangan Sumba akan berlimpah.

"Setelah saya melihat tanahnya yang luas, saya yakin Sumba mampu menjadi lumbung pangan bagi NTT," ujar Rachmat Gobel.

Dari luas wilayah daratan 144.500 ha, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) memiliki lahan pertanian 74.300 ha, di antaranya lahan sawah padi 15.753 ha. Meski ada sekitar empat sungai yang membelah wilayah ini, sawah irigasi masih minim. SBD membutuhkan bendungan untuk mengubah lahan sawah tadah hujan menjadi irigasi. Saat ini baru ada Bendungan Kodi yang mampu mengairi 3.000 ha sawah irigasi.

Sebagai wilayah terbesar di Sumba dengan luas 700.000 ha, Kabupaten Sumba Timur memiliki 183.300 ha lahan pertanian dan pada tahun 2019 sekitar 18.824 ha ditanami padi sekali panen. Lahan sawah irigasi baru 4.000 ha. Bendung Kambaniru yang jebol akibat bencana hujan badai 4 April 2021 diharapkan segera diperbaiki.

Rachmat mengimbau petani Sumba membentuk koperasi pada setiap kelompok tani untuk memudahkan penyaluran pupuk, alat pertanian, bantuan teknis mengelola lahan pertanian, dan penjualan produk. Pemda setempat membantu koperasi bekerja sama dengan BUMN yang menjadi produsen pupuk--seperti PT Pupuk Kaltim--, Badan Urusan Logistik (Bulog), perbankan, dan asuransi. Meski pupuk subsidi lebih murah, produktivitas padi dengan pupuk nonsubsidi dua kali lipat.

Koperasi juga membantu pembelian barang kebutuhan pokok, termasuk yang berasal dari pabrikan, seperti sabun, minyak goreng, pakaian, dan perabot rumah tangga. Koperasi disarankan mengelola minimarket yang menyediakan semua kebutuhan petani.

Soal Hati
Tidak ada yang tidak bisa selama manusia berikhtiar. NTT bukan Timur Tengah yang penuh hamparan pasir dan nyaris tanpa hujan. Hamparan rumput dan pepohonan memenuhi bumi Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor).

"Bumi NTT kaya. Provinsi ini tak perlu miskin. Jika ada hati untuk membangun, NTT akan maju dan sejahtera," kata Rachmat Gobel kepada Beritasatu.com.

Sebagai orang yang lebih dari empat dekade berinteraksi penuh dengan Jepang, ia memiliki referensi yang lengkap tentang kunci kemajuan Jepang. Orang Jepang maju pesat karena nilai warisan leluhur yang dipegang teguh.

"Orang Jepang selalu berusaha bekerja dengan kokoro," kata putra pendiri PT National Gobel Thayeb Mohammad Gobel. Kokoro artinya hati nurani. Cukup banyak orang Indonesia mengenal lagu Kokoro Notomo, yang artinya kekasih hati.

Jika manusia bekerja dengan hati, tanah yang tidak subur pun akan berubah menjadi subur dan yang subur akan kian subur. Selama ada tanah, matahari, dan hujan, bumi NTT pasti bisa menghasilkan produk pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Rachmat menaruh harapan besar pada Gubernur NTT VBL. "Saya yakin, NTT akan maju di bawah Pak Viktor, gubernur yang punya visi dan hati untuk membangun rakyat dan wilayahnya," ungkap alumnus Universitas Chuo, Jepang itu.

NTT juga memiliki lahan luas dan subur. Jika pemerintah--pusat dan darah bekerja dengan hati dan terkoordinasi--, ada inovasi dan penggunaan teknologi tepat guna, NTT akan menjadi lumbung padi. Salah satu kontributor adalah Sumba yang luas dan subur.

Indonesia punya sejumlah kementerian, lembaga, dan BUMN, untuk memajukan pertanian dan menyejahterakan petani. Ada Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan, dan Kementerian Agraria.

"Jika ada sinergi antarkementerian, desa pasti maju dan petani sejahtera," tegas Rachmat.

Selain pertanian, Sumba kaya akan objek wisata menawan. Selain wisata alam, ada atraksi pasola yang diadakan setiap Februari atau Maret sebagai bagian dari ritual agama asli setempat, marapu. Pada masa lalu, permainan perang-perangan dengan tombak yang dilemparkan penunggang dari punggung kuda yang berlari kencang meminta korban jiwa. Ada yang tertusuk lembing dan mati. Sesuai keyakinan marapu, darah yang ditumpahkan korban menyuburkan tanah.

Di kawasan sabana yang berbukit-bukit, Sumba memiliki sejumlah objek wisata alam, mulai dari air terjun, danau, hingga pantai. Air terjun bukan hanya satu. Sebutlah Air Terjun Matayangu di Sumba Tengah, Air Terjun Tunggedu, dan Air Terjun Koalat di Sumba Timur. Budaya penduduk setempat juga menarik, di antaranya rumah kuno, makam megalitikum, dan tenun ikat.

Panorama yang indah menarik minat Ferrari untuk membuat iklan promosi di Sumba. Wisman umumnya tertarik mengunjungi Sumba karena alam dan budayanya. Hotel Nihiwatu di Sumba Barat, tahun 2016, meraih penghargaan nomor satu di ajang "World's Best Travel Awards 2016".

Sumba, begitu juga NTT, tidak perlu miskin. Sumba, begitu pula NTT, bisa menjadi lumbung pangan, paling tidak bagi dirinya. Jika rakyat dan pemerintah bekerja dengan benar, menggunakan teknologi, ada koordinasi pusat dan daerah, dan bekerja dengan hati nurani, cepat atau lambat, rakyat Sumba, begitu pula rakyat NTT, akan sejahtera.

Tidak ada daerah di NTT yang miskin. Yang miskin adalah manusianya.



Rachmat Gobel Panen Padi Nonsubsidi di Sumba

Senin, 5 April 2021 | 23:43 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / Dwi Argo Santosa

Sumba Barat Daya, Beritasatu.com - Produktivitas padi sawah dengan pupuk nonsubsidi mencapai 9-10 ton per ha. Meski harga pupuk nonsubsidi 10% lebih tinggi dari pupuk subsidi, produktivias padi sawah dengan pupuk nonsubsidi dua kali lipat dari pada sawah dengan pupuk subsidi.

"Ini pilot project kedua untuk sawah dengan pupuk nonsubsidi. Pertama di Gorontalo dan kedua di Sumba Barat Daya. Ternyata, hasilnya sama bagusnya," kata Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel saat bertemu petani Sumba Barat Daya, Senin (5/4/2021).

Pada kesempatan yang sama, Rachmat melakukan panen padi dengan pupuk nonsubsidi. Lahan yang dioleh dengan pupuk nonsubsidi baru 3 ha.

Ketua Kelompok Tani Dari Tanah, Andreas Umbu Wosa mengatakan, produktivitas satu haktare mencapai 9,4 ton. "Produktivitas padi sawah kami biasanya maksimal 4,5 hingga 5 per ha," katanya membandingkan.

Pilot project sawah nonsubsidi, kata Rahmat, bisa terlaksana berkat kerja sama dengan PT Pupuk Kaltim dan Badan Urusan Logistik (Bulog).

Pupuk Kaltim tidak saja memberikan pupuk, melainkan juga insektisida guna  mencegah hama serta sejumlah solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Hadir pada panen padi nonsubsidi di Sumba Barat Daya ini anggota DPR dari Partai Nasdem Ratu Wulla Talu, Julie Sutrisno Laiskodat, dan Yakobus Jacki Uly.

Hadir pula Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim, Qomaruzzaman dan Direktur Human Capital Bulog, Purnomo Sinar Hadi.

Gobel menyatakan, setiap berdialog dengan petani ia selalu menerima keluhan yang sama.

"Saat musim tanam petani kesulitan pupuk subsidi dan bibit. Jika ada, harganya sudah mahal," katanya.

Karena itu, Gobel mencoba mencari solusi dengan menggandeng Pupuk Kaltim melalui pertanian tanpa pupuk subsidi. "Dengan hasil yang hampir dua kali lipat maka ini menguntungkan petani," katanya.

Keluhan lainnya, kata Gobel, di saat musim panen harga gabah jatuh. "Karena itu saya mengajak Bulog untuk bisa menyerap gabah petani agar harga terjaga," katanya.

Namun untuk menaikkan posisi petani dan memudahkan pengadaan pupuk dan bibit serta penjualan gabah, Gobel meminta petani untuk membentuk koperasi. "Saya bantu modal awal Rp 100 juta," katanya, yang disambut petani dengan tepuk tangan.

Acara panen berlangsung dalam suasana gerimis dan berlangsung di tengah sawah. Lokasi persawahan harus melalui jalan naik-turun bukit serta jalan berbatu.

Kunjungan kerja Gobel ke Sumba ini terus diguyur hujan, antara hujan lebat dan gerimis kecil. Hal ini berlangsung terus menerus.

Sebelum acara panen terjadi hujan lebat, namun saat acara hujan gerimis kecil. Begitu rombongan bubar, hujan lebat kembali mengguyur.

Kondisi serupa juga terjadi saat kedatangan ke Sumba pada Minggu (4/4/2021). Saat pesawat mendarat hujan reda, namun setelah rombongan meninggalkan bandara hujan lebat dan bandara tergenang sehingga ditutup.

Bahkan jalan yang sudah dilewati kemudian digenangi banjir sehingga tak bisa dilewati lagi. Nusa Tenggara Timur sedang dilanda hujan terus menerus sehingga di sejumlah wilayah terjadi banjir bandang dan longsor yang menelan korban jiwa.



Rachmat Gobel: Koperasi Berperan Penting dalam Kesejahteraan Petani

Senin, 3 Mei 2021 | 11:18 WIB
Oleh : Asni Ovier / Asnie Ovier

Gorontalo, Beritasatu.com - Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel menyarankan agar para petani di Provinsi Gorontalo bisa bergabung dalam wadah koperasi petani. Kehadiran koperasi dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Gobel, para petani yang sesungguhnya dapat mengangkat harkat derajat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Hal ini disampaikan Gobel seusai menyerahkan bantuan benih jagung hibrida secara simbolis untuk 22.000 hektare lahan kepada para petani di Bongomeme, Gorontalo, Minggu (2/5/2021).

"Koperasi ini (saya dirikan) sebagai bentuk perhatian dan pengabdian saya untuk membantu bapak ibu karena telah memberikan amanah kepada saya,” ucap Gobel. Koperasi tersebut didirikan Gobel guna membantu para petani, seperti untuk pengadaan pupuk dan bibit dan kemudian koperasi juga yang akan mengambil hasilnya.

“Dengan menjadi anggota koperasi, maka koperasi juga akan menjamin pendapatan para anggotanya dan kalau ada untungya pasti hasilnya akan dibagi-bagi ke para petani," kata Gobel.

Politisi Partai NasDem ini menambahkan, keberadaan koperasi dapat mengatur keuangan para petani. Koperasi juga bisa mengatur ketika ada petani membutuhkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi terkendala dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK).

"Jadi saya berharap bapak dan ibu bisa menjadi bagian dari koperasi, supaya secara sistem saya bisa mengatur dan membantu para petani. Ini program baru awal. Ke depan saya ingin meningkatkan hasil pertanian, baik itu untuk lahan basah maupun kering. Supaya hasil panen bisa meningkat dua kali lipat dari yang ada sekarang, sehingga pendapatan para petani juga bisa meningkat dua kali lipat," kata Gobel.

Legislator dari daerah pemilihan Gorontalo ini mengungkapkan, untuk jangka menengah, pihaknya bersama Kementerian Pertanian sedang membahas pengolahan jagung dan beras. "Nanti akan ada mesin pengolahan yang sudah dipersiapkan dari Kementerian Pertanian yang akan segera dikirim ke Gorontalo. Prinsipnya, hasil pertanian maksimal 5 jam harus segera dikeringkan. Kalau tidak, kualitas dan harganya jatuh. Karena itu, hasil beras kita kualitasnya selalu medium, tidak pernah naik ke premium," imbuhnya.

Di sisi lain, pimpinan DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) itu meminta agar ke depan para petani harus mulai membiasakan untuk menggunakan pupuk nonsubsidi, karena dapat meningkatkan hasil pertanian.

Gobel telah melakukan uji coba pertanian nonsubsidi di Gorontalo, Sumba, dan juga Jember. Hasilnya meningkat hingga dua kali lipat. "Mari kita mulai membiasakan menggunakan pupuk nonsubsidi, karena dalam jangka panjang kita akan bangun industrinya," tutup Gobel.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS