Tragedi Nanggala, Duka Bangsa
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Home > Fokus > Tragedi Nanggala, Duka Bangsa

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

Minggu, 2 Mei 2021 | 23:13 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / Asnie Ovier

Jakarta, Beritasatu.com - Rabu (21/4/2021) dini hari yang gelap dan tenang menjadi waktu pelaksanaan misi terakhir KRI Nanggala-402. Kapal selam milik TNI Angkatan Laut yang telah berusia lebih dari 40 tahun itu harus menerima takdir: menjalankan misi terakhir di dalam kesunyian yang abadi.

Seusai menerima perintah untuk menjalankan misi latihan tempur, kapal selam itu menyelam ke dalam laut yang dingin tak jauh dari Desa Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali. Kapal yang dibeli Indonesia dari Jerman pada 1981 itu seharusnya segera melakukan penembakan torpeda saat berada pada kedalaman 13 meter.

Sekitar satu jam setelah KRI Nanggala-402 mendapatkan perintah penembakan torpedo, komando latihan yang berada di Dermaga Ujung, Markas Komando (Mako) Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, tidak mendengar kabar lagi. KRI Nanggala-402 hilang kontak.

Saat latihan itu KRI Nanggala-402 berperan utama sebagai kepala perang dan akan menembakan torpedo surface and underwater target (SUT) di perairan Bali. Dua kapal perang TNI AL, yakni KRI Hiu-634 dan KRI Layang-635 ikut menemani KRI Nanggala-402 dengan menembakan rudal C-802 di Laut Bali.

Latihan itu digelar sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme prajurit TNI AL sehingga selaras dengan kemajuan dan perkembangan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) yang semakin berkembang. Namun, apa daya, takdir berbicara lain. KRI Nanggala-402 tenggelam dan 53 kru yang mengawakinya telah dinyatakan gugur dalam tugas.

KRI Nanggala-402 merupakan satu dari lima kapal selam yang dimiliki Indonesia. Sejak dioperasikan TNI AL pada 1981, kapal selam tersebut aktif mengikuti sejumlah misi dan latihan rutin untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Satu dari sekian banyak tugas yang pernah dijalankan adalah misi intelijen di Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melacak pergerakan pasukan International Force for East Timor (Interfet) pada Agustus-Oktober 1999. KRI Nanggala-402 juga pernah dikirim ke perbatasan Filipina untuk melacak jaringan penyelundupan senjata dalam konflik di Ambon dan Poso pada periode 1998-2000.

Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Yudo Margono menjelaskan, sesuai rencana kapal selam itu memang hendak melakukan latihan tembak torpedo. Sesuai prosedur, pukul 02.30 Wita sudah dilakukan isyarat terbit yakni dimulainya latihan.

Kemudian, diceritakan Kasal, pada pukul 03.00 Wita, KRI Nanggala-402 meminta izin untuk menyelam pada kedalaman 13 meter untuk persiapan menembak torpedo. Masih sesuai prosedur, dalam penembakan tersebut kapal selam juga didampingi Sea Rider (kapal taktis berkecepatan tinggi) berisi tim penjejak yang di dalamnya telah siap sejumlah Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Di dalam teknis latihan, ketika torpedo meluncur, maka Sea Rider akan mengikuti. Saat itu, dari atas perairan, tim penjejak masih bisa melihat geladak haluan dan conning tower (menara atas) kapal selam dari jarak sekitar 50 meter.

Sekitar pukul 03.30 Wita, semua masih berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan, KRI lain yang terlibat latihan juga memeriksa torpedo warning, yang artinya semua sudah dalam persiapan peluncuran torpedo. Baru sekitar pukul 03.45 Wita, Sea Rider yang memonitor dari atas perairan melihat periskop dan lampu pengenal dari KRI Nanggala-402 secara perlahan terus menyelam dan lama kelamaan tidak terlihat.

Sampai dengan tahap ini, dijelaskan Kasal, semua masih tampak berjalan normal. Sebab, untuk meluncurkan torpedo berbobot hampir dua ton itu, kapal selam KRI Nanggala-402 memang harus menyelam.

Kejanggalan mulai terjadi selepas pukul 03.45 Wita. Ketika peluncuran torpedo sudah siap dilakukan, tidak ada permintaan izin untuk melakukan peluncuran dari kapal selam. Semua berlangsung hingga pukul 04.46 Wita atau sekitar satu jam setelah kapal selam sudah berada di kedalaman 13 meter.

Pada saat ingin melakukan penembakan atau peluncuran torpedo, seharusnya KRI Nanggala-402 meminta izin atau otorisasi untuk penembakan. Namun, hingga waktu seharusnya itu, permintaan tersebut tidak juga disampaikan. Sejak pukul 03.46 Wita hingga 04.46 Wita atau saat jadwal penembakan, pemanggilan terus dilakukan kepada KRI Nanggala, namun tetap tidak ada respon.

"Seharusnya, saat tenggelam (di kedalaman 13 meter) tadi, masih ada periskop. Pasti kelihatan. Ini tidak ada periskop dan komunikasi saat itu tidak terjalin," ujar Kasal. Sekitar pukul 04.17 Wita sudah diterbangkan helikopter dari KRI I Gusti Ngurah Rai untuk mengecek visual keberadaan kapal selam.

Hasilnya nihil. Helikopter tetap tidak melihat bayang-bayang KRI Nanggala-402 di dalam laut.

Sesuai jadwal, KRl Nanggala-402 seharusnya kembali timbul ke permukaan pada pukul 05.15 Wita. Karena hingga batas waktu tersebut kapal selam itu tidak juga ke permukaan, maka segera dilakukan prosedur sublook. Artinya, kapal selam tidak terpantau secara visual, baik itu dari atas permukaan air laut maupun dari ketinggian udara.

Setelah tiga jam pencarian, prosedur kemudian dinaikkan menjadi submiss, yakni status kapal selam hilang kontak. Atas status tersebut, diputuskan penundaan latihan secara keseluruhan. Kemudian, komando memerintahkan seluruh unsur yang terlibat dalam latihan, termasuk unsur pengamanan, untuk melaksanakan pencarian keberadaan kapal selam berikut anak buah kapal (ABK) yang mengawakinya.

Hampir selama empat hari kemudian tim gabungan melakukan penyisiran dan pencarian di lokasi sekitar hilangnya KRI Nanggala-402. Pencarian bahkan dipersempit di sekitar lokasi ditemukannya tumpahan minyak dan adanya tanda kemagnetan cukup besar di utara Desa Celukan Bawang, Buleleng.

Di lokasi tersebut petugas malah menemukan sejumlah benda yang mulai mengapung. Benda-benda tersebut merupakan kompartemen dari kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak. Barang-barang yang ditemukan, antara lain pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, dan pelumas periskop yang berada di dalam botol. Selain itu juga ditemukan alat yang dipakai kru KRI Nanggala-402 untuk shalat serta spons untuk menahan panas pada press room.

Benda-benda itu pun menjadi bukti otentik untuk menyatakan KRI Nanggala-402 tenggelam atau subsunk. Kapal dinyatakan tenggelam setelah pencarian memasuki hari keempat sejak dinyatakan hilang atau pada Sabtu (25/4/2021) sore.

Beberapa saat setelahnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun menyatakan bahwa seluruh awak kapal selam KRI Nanggala-402 telah gugur dalam tugas. Kepastian tersebut disampaikan setelah diperoleh citra yang telah dikonfirmasi sebagai bagian KRI Nanggala-402 yang meliputi kemudi vertikal belakang, jangkar, bagian luar badan tekan, kemudi selam timbul, serta bagian kapal yang lain, termasuk baju keselamatan awak kapal NK-11.

Panglima TNI menegaskan, berdasarkan bukti-bukti otentik tersebut dapat dinyatakan bahwa KRI Nanggala-402 telah tenggelam dan seluruh awaknya gugur dalam tugas. "Semoga kami dapat meneruskan perjuangan paripurna saudara-saudara sebagai prajurit tentara terbaik Indonesia," kata Panglima TNI.

Evakuasi
Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal, Laksamana Muda (Laksda) Muhammad Ali memastikan, pihaknya masih terus mengupayakan evakuasi kapal selam KRI Nanggala 402 yang karam di perairan Bali. "Pelaksanaan evakuasi di laut Bali tetap dilaksanakan. Jadi, sampai sekarang masih ada KRI kita, masih banyak di sana (perairan Bali)," kata Muhammad Ali.

Selain KRI, di lokasi tenggelamnya KRI Nanggala-402 juga masih ada sejumlah tim penyelamat bantuan dari negara lain. Semuanya bekerja keras untuk terus melakukan evakuasi. "Kemudian, save rescue dari Singapura juga masih membantu untuk pengangkatan," ungkapnya.

Dijelaskan, tim evakuasi juga sudah berhasil mengangkat dan menemukan sejumlah bagian dari kapal selam, termasuk salah satu torpedo yang dibawa kapal selam tersebut dalam latihan. "Kita sudah menemukan dan mengangkat menggunakan ROV, hidrophone dari kapal selam KRI Nanggala-402," ucapnya.

Laksda Ali belum bisa memastikan penyebab KRI Nanggala-402 bisa berada di kedalaman lebih dari 800 meter dan terbelah tiga. Meski demikian, dia tidak menampik kemungkinan faktor alam yang menyebabkan peristiwa duka seluruh rakyat Indonesia itu. Faktor alam yang dimaksud adalah internal solitary wave atau arus bawah laut yang cukup kuat dan bisa menarik kapal secara vertikal.

"Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave, yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat, yang bisa menarik secara vertikal. Jadi, bisa saja ini penyebab jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai," kata dia.

Sebagai mantan kru KRI Nanggala-402, Ali menceritakan bahwa dirinya kerap mengalami situasi seperti itu. Saat ada arus bawah laut yang deras, kapal biasanya terasa lebih berat. Tetapi, ujar Ali, hal tersebut seharusnya dapat diatasi salah satunya dengan pendorongan atau mengembuskan tangki tahan tekan dengan emergency blow.

Apa pun penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402, semua pihak harus menjadikan peristiwa ini sebagai sebuah pelajaran. Kita mendoakan 53 kru yang gugur saat menjalankan tugas mulia itu diterima di sisi-Nya.

Tabah sampai akhir.
Wira Ananta Rudhiro.



Modernisasi Alutsista, Antara Kebutuhan dan Tantangan

Minggu, 2 Mei 2021 | 14:47 WIB
Oleh : Fana F Suparman / Asnie Ovier

Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi kapal selam KRI Nanggala-402 meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia, terutama bagi keluarga 53 prajurit yang turut menjadi korban. Di sisi lain, tragedi itu juga patut dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI agar kecelakaan serupa tidak terulang kembali.

Karamnya KRI Nanggala-402 menambah panjang daftar alutsista yang mengalami kecelakaan. Pada 2020 saja terdapat tiga alutsista TNI yang mengalami kecelakaan, yakni KRI Teluk Jakarta-541 yang tenggelam di perairan Masalembu, Jawa Timur pada 14 Juli 2020; pesawat tempur Hawk 209 TNI AU yang jatuh di dekat Kampar, Riau, pada 16 Juni 2020; dan helikopter MI-17 HA5141 TNI AD yang jatuh saat latihan di Kendal, Jawa Tengah, 6 Juni 2020.

Usia yang uzur menjadi salah satu faktor penyebab rentetan kecelakaan yang dialami alutsista TNI tersebut. Padahal, untuk menjaga kedaulatan negara, dibutuhkan kondisi prima di sektor pertahanan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan, seharusnya memiliki alutsista yang andal agar visi Poros Maritim Dunia yang digaungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa terwujud.

KRI Nanggala merupakan satu dari sekian banyak alutsista TNI yang berusia tua. Kapal selam itu dibeli Indonesia pada 1981. Kapal selam berbobot 1.200 ton ini dipesan pada 1977 dan selesai dibangun oleh perusahaan pembuat kapal Howaldtswerke-Deutsche Werft dari Kiel, Jerman pada 6 Juli 1981. Dengan demikian, KRI Nanggala telah berusia lebih dari 40 tahun.

KRI Teluk Jakarta yang tenggelam pertengahan tahun lalu dibangun oleh VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur, pada 1979 untuk Angkatan Laut Jerman Timur dengan nomor lambung 615. Kapal berjenis Frosch-I/Type 108 ini kemudian dibeli pemerintah untuk TNI AL dan masuk armada pada 1994. Dengan kata lain, kapal tersebut berusia 41 tahun saat tenggelam. Sedangkan, pesawat tempur Hawk 209 yang diproduksi British Aerospace atau sekarang BAE Systems didatangkan secara bergelombang sejak 1996 hingga 1999 atau setidaknya telah berusia 21 tahun.

Ketua DPR, Puan Maharani selain menyampaikan duka mendalam bagi awak KRI Nanggala yang gugur, juga meminta TNI menganalisis detail mengenai sebab hilangnya kontak kapal selam tersebut. Puan berharap peristiwa karamnya kapal selam seperti yang dialami KRI Nanggala tak terulang kembali.

“Diidentifikasi penyebabnya, apakah faktor usia kapal atau sebab lainnya? Jika karena usia kapal selam yang sudah tua, maka alutsista TNI AL harus dimodernisasi,” kata Puan di Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel. Dikatakan, peristiwa KRI Nanggala seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh alutsista, terutama milik TNI AL. Sebagai negara maritim, Rachmat Gobel mengatakan, Indonesia membutuhkan kekuatan TNI AL yang prima. Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang sejati karena memiliki lebih dari 13.000 pulau.

Selain itu, kata Gobel, Indonesia juga negara perlintasan dengan titik lintas yang banyak. Banyak kapal niaga dan kapal perang dari berbagai negara yang melintasi Indonesia. Sejumlah di antaranya berupa laut dalam. Bahkan, beberapa lokasi merupakan hot spot karena berdekatan dengan wilayah sengketa maupun wilayah perompak dan kejahatan lainnya. “Karena itu, Indonesia butuh armada laut yang prima dalam berbagai jenisnya,” kata Gobel.

Anggaran Besar
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengakui peremajaan alutsista membutuhkan anggaran yang besar. Dalam pengalokasian anggaran, pemerintah kerap menghadapi dilema untuk memilih antara alokasi untuk pembangunan kesejahteraan masyarakat atau membangun sistem pertahanan. Namun, dengan peristiwa KRI Nanggala, Prabowo menyatakan, peremajaan alutsista menjadi hal yang mendesak.

"Memang perlu meremajakan. Banyak alutsista kita memang karena keterpaksaan, dan karena kita mengutamakan pembangunan kesejahteraan, kita belum modernisasi. Tetapi, sekarang ini mendesak, kita harus modernisasi alutsista lebih cepat lagi. Saya yakin dalam waktu dekat alutsista bisa dimodernisasi, tiga matra," kata Prabowo dalam konferensi pers, Kamis (22/4/2021).

Dikatakan, Presiden Jokowi telah memerintahkan dirinya bersama pimpinan TNI untuk menyusun rencana induk pembangunan sistem pertahanan 25 tahun ke depan. Prabowo menargetkan rencana induk mengenai kemampuan total pertahanan Indonesia itu akan rampung dalam dua atau tiga pekan mendatang dan segera disampaikan ke Presiden Jokowi.

"Insyaallah, dalam dua tiga minggu ini saya bersama Panglima TNI dan para kepala staf akan merampungkan dan menyampaikan kepada Presiden. Intinya, memang kita akan investasi lebih besar tanpa memengaruhi usaha pembangunan kesejahteraan. Kami sedang merumuskan pengelolaan pengadaan alutsista untuk lebih tertib dan efisien," katanya.

Dengan rencana induk ini, Prabowo mengatakan, modernisasi alutsista untuk tiga matra dapat dilakukan secara komprehensif dan efisien. Prabowo menekankan pentingnya alutsista yang tangguh dan personel TNI yang andal dalam menjaga kedaulatan negara.

"Dalam rangka melaksanakan modernisasi alutsista untuk tiga angkatan akan dilakukan dengan suatu upaya komprehensif dan upaya yang sangat efisien, tetapi di sisi lain kita ingin punya TNI yang andal," katanya.

Sebagai bagian dari peremajaan alutsista, Indonesia saat ini telah kedatangan tiga unit kapal selam hasil kerja sama dengan Korea Selatan. Tiga kapal selam tersebut sedang dalam tahap uji coba. Sambil proses peremajaan itu berjalan, kata Prabowo, TNI akan memanfaatkan dan merawat alutsista yang ada untuk dipergunakan seefektif dan seefisien mungkin.

"Kita memang rencananya akan modernisasi dan mengadakan armada yang baru, yang mutakhir, dan ini sedang dilakukan. Tetapi, sementara itu, alutsista yang ada harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Memang dari dulu kita selalu mendahulukan kepentingan rakyat, kepentingan umum, sehingga TNI selalu siap untuk menghadapi keadaan dengan alat yang ada. Dirawat sebaik-baiknya dan digunakan dengan seefisien mungkin," katanya.

Pernyataan tersebut tampaknya ditindaklanjuti dengan digelarnya rapat terbatas secara tertutup antara Menhan Prabowo dan Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu (28/4/2021). Rapat itu dikabarkan membahas mengenai peta jalan modernisasi alutsista. "Salah satunya tentang roadmap modernisasi alutsista," kata Juru Bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat dikonfirmasi Kamis (29/4/2021).

Meski menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan negara dan sekaligus menjaga keselamatan prajurit, pemerintah diminta berhati-hati dalam proses modernisasi alutsista. Hal ini mengingat anggaran besar yang perlu disiapkan untuk modernisasi alutsista. Jangan sampai proses modernisasi alutsista menjadi celah terjadinya korupsi.

Peringatan itu salah satunya disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Transparency International Indonesia (TII) periode 2018-2020, Dadang Trisasongko. Menurut Dadang, dari data yang dikeluarkan Transparency Internasional, korupsi di sektor pertahanan Indonesia berada di peringkat dua dari bawah.
Transparency Internasional juga mengeluarkan indeks antikorupsi sektor pertahanan.

"Di situ Indonesia berada di level D, dua dari bawah rankingnya," kata Dadang Trisasongko dalam diskusi LP3ES Seri Negara Hukum bertema "Jokowi dan Menakar Komitmen Politik Pemberantasan Korupsi" di Jakarta, Selasa (27/4/2021).

Dari hasil penelitian Transparency Internasional terungkap, masalah utama korupsi di sektor pertahanan terletak pada tata kelola pengadaan alutsista dan pengelolaan keuangan. "Dua itu yang penting. Alutsista, menurut saya, sampai sekarang masih mempunyai masalah besar. Dulu, waktu saya bertemu Juwono Sudarsono ketika menjadi Menhan juga mengeluh. Banyak senior yang ikut bermain sebagai calo alat-alat perang," ujar Dadang.

Dadang meyakini, permasalahan yang sama masih terjadi di sektor pertahanan Indonesia saat ini. Namun, lantaran jarang ada aparat penegak hukum yang bisa “masuk”, maka kondisi tersebut tidak bisa terkuak. "Dugaan saya sekarang juga masih banyak (korupsi di sektor pertahanan). Artinya, militer juga masih mempunyai masalah internal," kata Dadang.

Kekuatan Militer
Dari sisi kekuatan dan jumlah, militer Indonesia sebenarnya cukup mumpuni. Sebuah situs militer berbasis statistik, Global Firepower pada awal tahun ini merilis daftar kekuatan militer sejumlah negara bertajuk “2021 Military Strength Ranking”. Berdasarkan data itu, kekuatan militer Indonesia berada pada peringkat ke-16 dunia dengan Power Index sebesar 0,2697.
Di Asia, Indonesia hanya berada di bawah Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, dan Iran. Sementara, di Asia Tenggara, Indonesia berada pada posisi puncak disusul Vietnam (peringkat 24 dunia), Thailand (26), Myanmar (38), Singapura (40), Malaysia (44), Filipina (48), Kamboja (94), dan Laos (118).

Namun, dari sisi modernisasi alutsista, Indonesia tidak mampu berbicara banyak dengan negara lain, bahkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Hal ini tidak terlepas dari masih minimnya anggaran pertahanan Indonesia dibandingkan negara-negara tersebut.

Jika dibandingkan dengan negara lain, terutama negara tetangga, anggaran pertahanan Indonesia memanng masih kecil. Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pada 2017 anggaran pertahaan Indonesia sebesar 0,81% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara, Singapura 3,32%, Brunei Darussalam sebesar 2,88%, Myanmar 2,48%, Vietnam 2,29%, Kamboja 2,09%, Thailand 1,42%, Filipina 1,39%, dan Malaysia 1,13% dari PDB. Bahkan, anggaran pertahanan Timor Leste lebih besar dari Indonesia, yakni 0,91% dari PDB mereka.

Memang di tengah pandemi ini tidak mudah bagi pemerintah untuk meningkatkan anggaran pertahanan agar bisa menyamai negara-negara tetangga yang luas wilayah dan jumlah penduduknya jauh di bawah Indonesia. Pemerintah saat ini tengah fokus berjibaku menghadapi dampak dari pandemi Covid-19 yang juga dirasakan seluruh dunia dan tidak mudah untuk diatasi.

Meski demikian, ketika pandemi selesai dan perekonomia mulai membaik, persoalan modernisasi alutsisa ini harus tetap menjadi perhatian pemerintah mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang besar. Ancaman pertahanan dan keamanan Indonesia juga tidak sedikit, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri, saat ini dan pada masa mendatang.

Di dalam Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 19 tahun 2012 tentang Kebijakan Penyelarasan Minimum Essential Force Komponen Utama disebutkan adanya ancaman aktual dan potensial yang membayangi Indonesia. Ancaman aktual yang dimaksud adalah terorisme, separatisme, pelanggaran di wilayah perbatasan dan pulau terluar, bencana alam, beragam kegiatan ilegal, konflik horizontal, kejahatan siber, dan kelangkaan energi. Sementara, ancaman potensial, antara lain pemanasan global, beragam kegiatan ilegal di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), pencemaran lingkungan, pandemi, krisis finansial, agresi militer, serta kelangkaan air bersih dan pangan.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS