Government Shutdown Terlama dalam Sejarah AS


Heru Andriyanto / HA
Senin, 14 Januari 2019 | 05:59 WIB

Washington - Kebuntuan anggaran atau kerap disebut government shutdown di Amerika Serikat memecahkan rekor sebagai yang terlama dalam sejarah setelah memasuki hari ke-22 pada Sabtu (12/1) lalu.

Rekor sebelumnya terjadi selama 21 hari pada 1995-96 di era Presiden Bill Clinton.

Kebuntuan ini terjadi karena Presiden Donald Trump tidak mau menandatangani anggaran belanja pemerintah kecuali kalau dimasukkan dana pembangunan dinding perbatasan dengan Meksiko sebesar US$ 5,7 miliar, sementara Partai Demokrat yang menguasai DPR menolak mentah-mentah pos biaya ini.

Dampaknya, sekitar 800.000 pegawai federal bekerja tanpa digaji. Pada Jumat (11/1) lalu, mereka kehilangan gaji pertama mereka pada 2019 ini, termasuk petugas lembaga pemasyarakatan, staf bandara, dan agen-agen FBI.

Sementara itu, sekitar 350.000 pegawai federal lainnya dikenakan PHK sementara atau furlough karena tidak ada anggaran untuk menggaji mereka.

Kerja badan pengawas obat dan makanan dihentikan, juga pendaftaran perusahaan baru ditunda karena tidak ada yang melayani.

Di abad informasi sekarang, kondisi seperti ini -- di negara semaju Amerika Serikat -- telah membuat media sosial penuh dengan kisah-kisah memprihatinkan para pegawai yang terdampak.

Di Twitter, sebagian pegawai yang terdampak mengunggah foto slip gaji yang bertuliskan $0. Salah satunya adalah Oscar Murillo, insinyur di Badan Antariksa Nasional atau NASA.

Situs advetorial Craigslist dibanjiri iklan para pegawai yang menjual harta benda mereka dan dikategorikan dalam kelompok "government shutdown specials". Barang-barang yang dijual seperti dipan hingga mainan anak-anak.

"Harga $93,88 di Walmart. Dijual hanya $10," bunyi salah satu iklan yang menjual kursi goyang di kategori itu. "Kami butuh uang untuk membayar tagihan."

Sampai Jumat kemarin, kerugian akibat government shutdown mencapai US$ 3,6 miliar, menurut estimasi S&P Global. Kalau berlanjut dua pekan lagi, kerugian itu akan lebih besar daripada biaya membangun dinding perbatasan yang dipaksakan oleh Trump, menurut perusahaan konsultan itu.

Salah Trump
Menurut jajak pendapat yang dilakukan CNN-SSRS, sebagian besar warga Amerika lebih menyalahkan Trump daripada Partai Demokrat di Kongres dalam government shutdown ini. Selain itu, tingkat ketidaksukaan publik terhadap Trump naik 5 poin.

Proposal pembangunan tembok perbatasan atau pun dinding baja juga tidak disetujui mayoritas warga, dengan hasil 56% menentang dan 39% mendukung, menurut survei tersebut.

Sementara itu, 45% repsonden mengatakan terjadi krisis di perbatasan, tetapi 52% berpendapat tidak ada krisis.

Di kubu Demokrat, sembilan dari 10 orang menentang pembangunan dinding perbatasan, sementara di kelompok pemilih Partai Republik delapan dari 10 mendukung.

Secara keseluruhan, kesukaan publik kepada Trump hanya 37%, sementara tingkat ketidaksukaan naik lima poin menjadi 57% dibandingkan survei yang sama Desember lalu.

Masyarakat juga cenderung menyalahkan Trump atas terjadinya government shutdown, 55% mengatakan dia lebih bersalah dibandingkan Partai Demokrat di Kongres, sementara hanya 32% yang menyalahkan Demokrat. Lalu, 9% menyalahkan dua-duanya.


Bye-bye
Sikap Presiden Trump sangat sulit diprediksi dalam masalah ini. Dia mengatakan kalau perlu kondisi seperti ini bisa berlangsung bertahun-tahun sampai tuntutannya dipenuhi. Namun, setelah itu dia mengundang para petinggi Kongres dan partai politik ke Gedung Putih untuk berunding dan mengakhiri kebuntuan, Kamis (10/1) lalu.

Sebagai tuan rumah, Trump ternyata tak hendak berlama-lama melakukan perundingan dan langsung pergi begitu permintaannya ditolak.

Hadir dalam pertemuan tertutup itu antara lain dua petinggi Demokrat Nancy Pelosi (ketua DPR) dan Chuck Schumer (ketua fraksi Demokrat di Senat).

Trump lalu membocorkan isi pertemuan di Twitter, dengan menulis bahwa dia langsung mengajukan pertanyaan ke Pelosi apakah dana pembangunan tembok perbatasan disetujui. Setelah kembali ditolak, dia mengucap “bye-bye” dan pergi, menurut pernyataannya di Twitter.

Dia juga menyebut pertemuan itu -- yang berlangsung cuma 14 menit -- hanya membuang waktunya saja.

Schumer membenarkan cerita Trump.

“Dia (Trump) bertanya ke Ibu Ketua Pelosi, 'Apakah Anda sepakat dengan tembok saya?’ Dia menjawab tidak. (Trump) berdiri dan mengatakan ‘kalau begitu tidak ada yang perlu dibahas’, lalu pergi begitu saja,” kata Schumer.

"Lagi-lagi, kita menyaksikan aksi ngambek (temper tantrum) karena dia tidak mendapatkan yang dia mau.”

Schumer juga mengatakan kalau Trump sempat menggebrak meja dalam pertemuan itu -- yang dibantah dengan sengit oleh presiden.

Janji Kampanye
Pembangunan dinding perbatasan dengan Meksiko merupakan salah satu janji kampanye Trump yang paling besar. Menurut Gedung Putih, tembok itu sangat penting untuk mencegah masuknya imigran gelap dan penyelundupan narkoba.

Perbatasan dimaksud membentang 3.145 km dan baru sekitar 1.040 km yang telah dipagari di California, Arizona, New Mexico, dan Texas.

Menurut dokumen yang didapat CNN pada awal 2018, pihak eksekutif menyampaikan ke Kongres bahwa rencana Trump meliputi pembangunan tembok baru sepanjang 864 mil dan penggantian tembok 1.163 mil dengan total biaya US$ 33 miliar.

Pada Januari 2018, Trump mengajukan RUU anggaran ke Kongres sebesar US$ 18 miliar sampai satu dekade ke depan untuk tahap awal konstruksi tembok perbatasan, tetapi RUU itu akhirnya ditolak.

Dua bulan berikutnya, Trump mendapatkan anggaran US$ 1,6 miliar dari Kongres untuk proyek-proyek terkait perbatasan. Menurut Badan Bea dan Perlindungan Perbatasan AS (Customs and Border Protection/CBP), anggaran ini hanya cukup untuk membangun “sistem tembok perbatasan” sejauh 100 mil (160 km ) saja.

Beberapa bulan berikutnya, CBP mengatakan telah mengganti pembatas besi dengan “dinding tonggak” sejauh 14 mil di San Diego, lalu “tembok primer” sejauh 2 mil di California, dan “tembok perbatasan baru” sepanjang 20 mil di Santa Teresa, New Mexico.

Kemudian pada Desember 2018, CBP menghubungi Korps Insinyur Angkatan Darat untuk membangun “tembok sekunder” sejauh 14 mil di San Diego, Yuma, dan El Centro.

Penghalang baja berbentuk X di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko di Columbus, New Mexico, AS. (AFP)

RUU yang disetujui Kongres menyebutkan anggaran boleh dipakai untuk “pagar” primer dan sekunder, perencanaan dan rancangan penghalang, dan teknologi keamanan perbatasan. Pembuatan atau penggantian penghalang boleh didanai berdasarkan RUU anggaran yang disetujui sebelumnya.

Artinya, anggaran itu tidak boleh dipakai untuk mengembangkan purwarupa tembok baru seperti yang diusulkan presiden.

Sengketa sekarang antara presiden dan Kongres terkait paket anggaran US$ 5,7 miliar untuk pembangunan tembok perbatasan. Kubu Demokrat di DPR tegas menolak, dan balik menawarkan anggaran US$ 1,3 miliar untuk peningkatan pengawasan dan “pagar”, bukan tembok.

Karena kebuntuan yang terjadi, maka sejak 22 Desember 2018 terjadilah government shutdown.

Meksiko yang Bayar?
Trump sering mengubah narasinya tentang siapa yang membayar biaya pembangunan tembok itu, juga tentang apakah itu tembok beton atau dinding baja.

Ketika berkampanye dulu dan di masa awal kepresidenannya, Trump berkali-kali menegaskan bahwa Meksiko akan membayar pembangunan tembok perbatasan.

"Saya akan membangun tembok besar, tak seorang pun bisa membangun tembok lebih baik dari saya, percayalah, dan saya akan membangunnya tanpa biaya mahal. Saya akan membangun tembok besar di perbatasan selatan dan memaksa Meksiko membayarnya,” kata Trump ketika itu.

Menjelang akhir 2018, dia mengatakan tembok itu akan membiayai dirinya sendiri.

Dia menulis di Twitter: "Tolong ada yang menjelaskan ke Demokrat (kami butuh suara mereka) bahwa negara kita kehilangan US$ 250 miliar per tahun karena imigrasi ilegal, tidak termasuk aliran narkoba yang mengerikan. Biaya maksimal keamanan perbatasan, termasuk temboknya, hanya US$ 25 miliar. Akan lunas sendiri dalam dua bulan.”

Sekarang, dia mengindikasikan bahwa Meksiko akan “secara tidak langsung” membayar biaya pembangunan tembok melalui perjanjian dagang AS-Meksiko-Kanada.

Tidak jelas bagaimana mekanisme perdagangan itu bisa membiayai pembangunan temboknya. Namun yang jelas, perjanjian dagang tiga negara itu belum berlaku karena belum diratifikasi oleh Kongres.

Kalau di waktu kampanye Trump sesumbar akan membangun tembok beton sepenuhnya di sepanjang perbatasan dengan Meksiko, sekarang dia mulai bicara tentang dinding baja, kemungkinan untuk melunakkan sikap Demokrat di Kongres yang menganggap tembok usulan dia adalah pemborosan anggaran yang sia-sia.

Belum lama ini dia juga mengunjungi pembuatan purwarupa dinding perbatasan di California, dari yang berbentuk pagar, tiang beton, sampai dinding baja yang memiliki celah untuk pengawasan.

Dengan berbagai versinya itu, termasuk klaim awal bahwa Meksiko yang akan membayar semuanya, wajar kalau Demokrat menolak menyetujui penggunaan anggaran negara.



Sumber: BBC, CNN

Yang Perlu Anda Tahu tentang Government Shutdown di AS


Heru Andriyanto / HA
Kamis, 3 Januari 2019 | 04:16 WIB

Washington - Pemerintah Amerika Serikat saat ini mengalami government shutdown, sebuah situasi di mana pemerintah dan parlemen tidak mencapai kata sepakat soal anggaran sehingga berdampak pada terhentinya pendanaan untuk berbagai kantor dinas.

Pemicu government shutdown sekarang adalah permintaan anggaran sebesar US$ 5 miliar oleh Presiden Donald Trump untuk membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko, yang tidak diluluskan parlemen.

Ini bukan pertama kalinya terjadi government shutdown, dan juga bukan -- atau belum -- yang paling lama.

Menurut stasiun televisi CNN, dalam kurun waktu 42 tahun terakhir telah terjadi 21 kali government shutdown. Sejak 1997, baru terjadi empat kali termasuk di era Trump sekarang.

Berikut daftar lima government shutdown paling lama dalam sejarah AS:

21 haris: Di era Presiden Bill Clinton, dimulai 16 Desember 1995 dan berakhir 5 Januari 1996.
17 hari: Dimulai 1 Oktober 1978 dan berakhir 17 Oktober 1978 selama pemerintahan Jimmy Carter.
16 hari: Dimulai 1 Oktober 2013 dan berakhir 16 Oktober 2013 pada kepemimpinan Barack Obama.
12 haru: Juga di era Carter pada tahun 1977.
11 hari: Government shutdown ketiga di era Carter tahun 1979.

Pada Kamis (3/1) ini, government shutdown memasuki hari ke-13 sehingga menempati posisi empat paling lama dalam sejarah AS.



Sumber: CNN