Paling Cepat Vaksin Covid-19 Diproduksi Maret 2021


Heru Andriyanto / HA
Minggu, 17 Mei 2020 | 03:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Banyak negara di seluruh dunia saat ini berlomba-lomba menciptakan vaksin untuk Covid-19, bukan bersaing keunggulan di antara mereka tetapi berpacu melawan waktu karena setiap hari ribuan orang tewas dan lebih banyak lagi jumlah kasus penularan baru di seluruh dunia.

Semakin lama vaksin ini ditemukan, semakin banyak korban yang jatuh. Pandemik Covid-19 juga melumpuhkan perekonomian dunia karena nyaris seluruh sektor usaha terdampak, bahkan usaha kecil menengah.

Kapan vaksin ini tersedia berdasarkan prediksi yang paling kredibel?

Menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Soemantri Brodjonegoro, pertanyaan itu tidak gampang dijawab, tetapi untuk Indonesia paling cepat vaksin ini baru bisa mulai diproduksi -- bukan didistribusi -- pada Maret tahun depan.

“Memang kalau sudah bicara mengenai vaksin, ini yang paling sulit di dalam penanganan penyakit menular,” kata Bambang dalam program Special Interview with Claudius Boekan, Beritasatu TV, tayang Jumat (15/5/2020) malam.

“Bahkan kalau kita melihat sejarah penyakit menular lain yang pernah ada di muka bumi ini, ada beberapa yang sampai hari ini belum ada vaksinnya, contohnya HIV,” imbuhnya.

Namun, kalau HIV sudah mulai ditemukan obat yang diklaim cukup ampuh, maka untuk Covid-19 obatnya juga belum ada. Inilah yang membuat tekanan pada para ahli mikrobiologi dan virology menjadi makin berat.

Tidak seperti HIV atau penyakit infeksi lainnya di era modern ini, Covid-19 memiliki daya transmisi yang sangat dahsyat, karena sejak mulai mewabah di Tiongkok pada akhir Desember 2019, sekarang sudah menginfeksi lebih dari 4 juta orang dan menewaskan lebih dari 300.000 orang di seluruh dunia. Tidak mengenal umur, jenis kelamin, ras, dan kondisi fisik.

Covid-19 menular tanpa aktivitas yang dinilai berisiko menurut protokol kesehatan yang lama. Orang bisa tertular oleh penderita yang batuk di dekatnya, atau menyentuh gagang pintu atau saklar lampu yang terkontaminasi, atau bersalaman dengan penderita.

Semua orang bisa tertular tanpa menyadarinya, karena si pembawa virus kadang-kadang tidak memiliki gejala dan dia sendiri tidak menyadari telah terjangkit.

Kenapa Maret?
Prediksi Bambang bahwa purwarupa vaksin baru bisa ada paling cepat Maret 2021 didasarkan pada penelitian yang dilakukan Lembaga Eijkman, yang sudah meneliti virus corona sejak pertama kali terdeteksi di Indonesia.

“Khusus di Indonesia, bulan Maret ketika pertama kali Covid-19 merebak, dan kami mulai membentuk konsorsium riset dan inovasi untuk Covid-19, saya bicara langsung dengan Kepala [Lembaga Biologi Molekuler] Eijkman Profesor Amin Subandrio yang sudah bisa melakukan penelitian di bidang vaksin,” kata Bambang.

“Beliau mengatakan sebenarnya kalau mengikuti protokol standarnya itu akan memakan waktu bertahun-tahun. Tapi kebetulan di lembaga Eijkman ini mereka sudah punya pengalaman melakukan penelitian terkait virus corona,” imbuhnya.

Sebelum wabah Covid-19, Lembaga Eijkman sudah meneliti virus corona jenis lain yang ditemukan pada penyakit-penyakit sebelumnya.

“Jadi dengan basis pengalaman di penelitian corona yang lain ditambah dengan pengetahuan mengenai Covid-19, waktu itu kepala Eijkman mengatakan paling cepat satu tahun,” kata Bambang.

Jangka waktu itu pun sudah mengesampingkan protokol standar yang butuh waktu lebih lama lagi.

Ada beberapa penyakit infeksi yang sampai hari ini belum ada vaksinnya, contohnya HIV.

Saat ini sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat sudah menguji coba vaksin Covid-19 kepada manusia, tetapi Bambang tidak melihatnya sebagai sinyal bahwa vaksin yang ampuh bisa tersedia tahun ini.

“Uji klinis ini bukan hal yang gampang yang bisa selesai dalam waktu satu-dua hari atau satu minggu. Ini bisa makan waktu panjang sekali,” jelasnya.

“Kalau mengikuti apa yang disampaikan Profesor Subandrio, satu tahun. Waktu itu kita bicara bulan Maret, berarti Maret tahun depan paling cepat,” kata Bambang yang memimpin semua aspek riset dan pengembangan untuk vaksin, obat dan juga produksi alat kesehatan terkait Covid-19.

Bambang mengatakan proyeksi Maret itu adalah menyiapkan purwarupa vaksin, bukan produksi massal.

“Tugas berat berikutnya adalah memproduksi vaksin tersebut. Dan jangan lupa negara kita negara besar sehingga kalau pun nanti ada vaksin ditemukan, apakah di Indonesia atau atau di luar, mau tidak mau PT Biofarma harus punya kemampuan untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar supaya bisa segara didistribusikan kepada masyarakat,” kata Bambang.

Vaksin Varian Indonesia
Bambang juga memberi sinyal bahwa ada kemungkinan vaksin Covid-19 di Indonesia punya perbedaan dengan vaksin serupa di negara lain karena karakter virus yang berbeda.

“Untuk bisa menentukan karakter dari virus Covid-19 dilakukan proses namanya whole genome sequencing. Di whole genome sequencing ini kebetulan yang dari Indonesia pertama kali di-submit oleh Lembaga Eijkman -- dengan tiga genome sequencing -- tiga-tiganya kebetulan berasal dari pasien yang berada di wilayah Jabodetabek yang mempunyai viral load (konsentrasi kasus infeksi virus) yang tinggi,” kata Bambang.

Sampel itu lantas dikirim ke GISAID atau Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data -- lembaga global yang awalnya dibentuk untuk saling membagi data penyakit flu burung yang kebetulan juga diakibatkan oleh virus corona tipe lain. GISAID sekarang menjadi wadah untuk berbagi data tentang berbagai virus jenis baru di seluruh dunia.

“Ternyata strain yang disampaikan oleh Eijkman, tiga yang pertama itu, tidak masuk tiga kategori utama yang sudah terdefinisi yaitu kategori S, kategori G, dan kategori V,” kata Bambang.

“Satu lagi ada kategori O, sebetulnya [artinya] others, atau lain-lain. Nah kebetulan tiga yang dari Indonesia itu masuknya ke yang lain-lain,” kata Bambang.

Dijelaskan lebih jauh bahwa dari strain kategori itu analisis awalnya terkait dengan virus yang ada di Asia Selatan dan Asia Timur.

“Nah kalau Asia Timur kan terkait juga dengan China. Jadi itu karakter sementara. Tapi tiga genome sequencing tentunya tidak cukup, karenanya Eijkman menargetkan 100 nantinya, sambil berjalan,” kata Bambang.

Selain Eijkman, Universitas Airlangga di Surabaya juga sudah mengirim genome sequencing yang sebagian masuk kategori O juga.

Sampai dengan 15 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menerima delapan kandidat vaksin Covid-19 yang saat ini telah memasuki tahap uji klinis. Sedikitnya empat kandidat vaksin tersebut dikembangan oleh Tiongkok, dan satu dari Universitas Oxford, Inggris. 

Sedangkan untuk vaksin yang masih dalam tahap pra-uji klinis, jumlah yang didaftarkan ke WHO sudah mencapai 100 lebih.

Berikut daftar delapan kandidat vaksin yang sudah di tahap uji klinis dan masih memakai terminologi teknis dari WHO:

delapan kandidar vaksin Covid-19

(Sumber: WHO)



Sumber: BeritaSatu.com

Kabar Baik! Uji Vaksin Buatan Moderna Mampu Netralkan Virus Corona


Heru Andriyanto / HA
Selasa, 19 Mei 2020 | 02:04 WIB

Beritasatu.com – Uji coba vaksin Covid-19 buatan perusahaan bioteknologi Moderna, Amerika Serikat, menunjukkan hasil awal yang positif, di mana partisipan memproduksi antibodi terhadap virus tersebut.

Moderna bermitra dengan Institut Kesehatan Nasional AS (National Institutes of Health/NIH) dalam pengembangan virus tersebut.

Jika penelitian lebih lanjut berjalan lancar, vaksin ini bisa didistribusikan ke masyarakat paling cepat Januari 2021, kata Dr Tal Zaks, kepala bidang medis Moderna.

"Ini betul-betul kabar baik, kabar yang menurut kami sudah ditunggu banyak orang sekarang ini," kata Zaks seperti dikutip stasiun televisi CNN, Senin (18/5/2020) waktu setempat.

Data ini muncul dari pengujian klinis tahap pertama yang melibatkan jumlah orang lebih sedikit dan fokus pada keamanan penggunaan pada manusia dan kemampuan merespons sistem kekebalan tubuh.

Hasilnya belum dipublikasikan ke jurnal medis.

Baca juga: Vaksin Corona Buatan Oxford Dites, Begini Cara Kerjanya

Moderna, yang bermarkas di Cambridge, Massachusetts, adalah satu dari delapan pengembang vaksin virus corona di dunia yang saat ini telah memasuki tahap uji klinis, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dua lainnya, Pfizer dan Inovio, adalah juga dari Amerika Serikat, satu dari University of Oxford di Inggris, dan empat pengembang vaksin Tiongkok.

Moderna telah menyuntik belasan partisipan dan mengukur kadar antibodi dari delapan di antaranya. Delapan orang itu mampu mengembangkan antibodi yang bisa menetralkan virus dalam level yang menyamai atau bahkan melebihi para pasien yang telah sembuh secara alami dari Covid-19, menurut pernyataan perusahaan itu.

Antibodi itu menempel pada virusnya, sehingga mencegah serangan pada jaringan sel manusia.

"Kami telah menunjukkan bahwa antibodi – respon sistem kekebalan – ini bisa benar-benar memblokir virus tersebut," kata Zaks.

"Saya kira ini langkah pertama yang sangat penting dalam perjalanan kita untuk memiliki vaksin [Covid-19]," imbuhnya.

Seorang pakar vaksin yang tidak terlibat dalam proyek Moderna menyebut hasil seperti ini "hebat", kalau memang demikian adanya.

"Ini bukan hanya menunjukkan bahwa antibodi tersebut mampu menempel pada virus, tetapi juga mencegahnya menginfeksi sel lebih lanjut," kata Dr Paul Offit, salah satu anggota panel NIH yang merancang kerangka kerja penelitian vaksin di AS.

Uji Tahap 2
Meskipun vaksin ini memberi hasil menjanjikan di laboratorium, belum diketahui apakah juga bakal efektif di dunia nyata.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS sudah memberi izin bagi Moderna untuk melanjutkan ke tahap 2, yang biasanya melibatkan ratusan orang. Moderna bahkan sudah membuat rencana untuk memulai tahap 3 pada Juli nanti, dengan partisipan hingga puluhan ribu orang.

Offit mengatakan sebelum terjadinya pandemik Covid-19, para pembuat vaksin harus mengujinya pada ribuan orang sebelum masuk takap 3. Namun, tidak akan mungkin bagi Moderna untuk mengetes ribuan orang sampai bulan Juli nanti, karena sejauh ini baru belasan partisipan yang dilibatkan.

Baca juga: Paling Cepat Vaksin Covid-19 Diproduksi Maret 2021

Dia menambahkan cukup masuk akal jika Moderna bergegas ke tahap 3 tanpa mengetes ribuan orang karena Covid-19 sudah dan terus membunuh ribuan orang di seluruh dunia setiap harinya.

“Ini era yang berbeda," kata Offit.

Dalam pengujian pertama Moderna, tiga partisipan mengalami gejala flu ketika disuntikkan satu dosis setara 250 mikrogram. Moderna menetapkan dosis antara 25 hingga 100 mikrogram pada tahap 3 nanti.

Sejauh ini, subjek penelitian Moderna yang mendapat dosis 25- 100 mikrogram sudah mampu mengembangkan antibodi yang selevel atau melebihi kadar antibodi orang yang terinfeksi secara alami oleh Covid-19.

Namun, belum jelas apakah orang yang terinfeksi alami bisa menghasilkan kekebalan dan tidak bisa terinfeksi lagi, sama tidak jelasnya apakah imunisasi dengan vaksin ini juga menghasilkan imunitas.

"Itu pertanyaan yang bagus, dan jujur saja, kami belum tahu," kata Zaks.

Cara mengetahuinya adalah menyuntikkan vaksin ke sebanyak mungkin orang dan memantau dalam beberapa bulan berikutnya apakah ada dari mereka yang terinfeksi, ujarnya.



Sumber: CNN

Vaksin Corona Buatan Oxford Dites, Begini Cara Kerjanya


Heru Andriyanto / HA
Jumat, 24 April 2020 | 05:24 WIB

Beritasatu.com – Vaksin virus corona buatan para ilmuwan di Oxford University, Inggris, diuji coba ke manusia untuk pertama kalinya, Kamis (23/4/2020) waktu setempat.

Dua sukarelawan disuntik dengan vaksin tersebut, dan mereka adalah yang pertama dari 800 orang yang direkrut untuk penelitian ini. Setengah dari mereka akan diberi vaksin Covid-19, setengahnya lagi disuntik dengan vaksin meningitis, bukan virus corona.

Para sukarelawan tidak tahu vaksin jenis apa yang mereka terima, tetapi dokter peneliti diberi tahu.

Elisa Granato, salah satu sukarelawan yang telah disuntik, adalah juga seorang ilmuwan.

"Saya sendiri seorang ilmuwan, jadi saya ingin mendukung sebuah proses ilmiah kapan pun saya bisa,” kata Granato.

Vaksin ini dikembangkan dalam waktu kurang dari tiga bulan, dipimpin oleh Sarah Gilbert, profesor vaksinologi di Jenner Institute.

"Secara pribadi saya sangat yakin terhadap vaksin ini," kata Gilbert.

"Tentu kami harus mengujinya dulu untuk mendapat data dari dampaknya pada manusia. Kami harus membuktikan vaksin ini memang manjur dan bisa mencegah orang terinfeksi virus corona, sebelum digunakan di populasi yang lebih besar."

Sebelumnya Gilbert mengatakan dia "yakin 80%" vaksinnya akan manjur, tetapi sekarang dia tidak menyebut angka, hanya mengatakan “sangat optimistis” terhadap peluangnya.

Jadi, bagaimana cara kerja vaksin ini?

Vaksin tersebut dibuat dari virus flu biasa (adenovirus) yang sudah dilemahkan dan diambil dari simpanse, kemudian dimodifikasi agar tidak bisa berkembang dalam tubuh manusia.

Tim Oxford sudah lebih dulu mengembangkan vaksin penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS), tipe lain dari virus corona, dengan menggunakan cara yang sama dan sudah menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji klinis.

Bagaimana cara mengetahui kemajurannya?

Satu-satunya cara tim itu bisa mengetahui apakah vaksin Covid-19 ini manjur adalah dengan membandingkan jumlah orang yang terinfeksi virus corona di dua kelompok sukarelawan itu dalam beberapa bulan ke depan.

Akan jadi masalah kalau misalnya jumlah kasus di Inggris turun dengan drastis, karena datanya akan tidak memadai.

Profesor Andrew Pollard, direktur Oxford Vaccine Group yang memimpin uji coba, mengatakan: "Kami sedang berpacu dengan akhir dari gelombang epidemik yang sekarang ini. Jika kami gagal mengejarnya, kami tidak akan bisa mengatakan apakah vaksin ini manjur dalam beberapa bulan ke depan. Namun kami menduga masih akan ada kasus-kasus lagi nantinya karena virus ini belum lenyap."

Baca juga: Ilmuwan Oxford Janjikan Vaksin Virus Corona Siap September Nanti

Dalam uji coba ini, para peneliti vaksin memprioritaskan rekrutmen para petugas kesehatan karena mereka lebih mungkin terpapar virus tersebut dibandingkan kelompok masyarakat yang lain.

Nantinya, akan dilakukan uji coba skala besar dengan melibatkan sekitar 5.000 sukarelawan tanpa batasan usia.

Kelompok usia yang lebih tua cenderung memiliki respon kekebalan yang lebih lemah terhadap vaksin. Para peneliti sedang mengevaluasi apakah mereka mungkin butuh dua dosis suntikan.

Tim Oxford tersebut juga berencana menguji coba vaksin di Afrika, kemungkinan Kenya, di mana tingkat penularan makin meningkat dari jumlah yang semula kecil.

Jika jumlah kasus menjadi masalah, kenapa para sukarelawan itu tidak disuntikkan virus corona saja?

Itu memang akan menjadi cara yang cepat dan pasti untuk mengetahui efektivitas vaksin tersebut, tetapi bukan hal yang etis karena belum ada pengobatan yang terbukti ampuh untuk melawan Covid-19.

Di masa depan, metode seperti itu dimungkinkan.

"Kalau kita sudah sampai pada tahapan di mana penyakit ini sudah ada obatnya dan kita bisa menjamin keselamatan para sukarelawan, itu akan menjadi cara yang bagus untuk menguji sebuah vaksin,” kata Pollard.

Apakah uji coba ini aman?

Para sukarelawan akan dipantau ketat dalam beberapa bulan ke depan. Mereka sudah diberi tahu bahwa kemungkinan sebagian orang akan mengalami nyeri lengan, sakit kepala, atau demam dalam beberapa hari setelah vaksinasi.

Mereka juga diberi tahu bahwa secara teori ada risiko vaksin itu memicu reaksi tubuh yang serius terhadap virus corona, seperti yang terjadi di awal penelitian vaksin penyakit pernapasan severe acute respiratory syndrome (SARS) pada binatang.

Baca juga: Produsen Obat Malaria Dapat Izin Obati Pasien Covid-19

Namun, tim Oxford mengatakan berdasarkan data yang ada risiko vaksin ini menghasilkan penyakit lanjutan sangat minimal.

Para ilmuwan di sana berharap sampai September nanti sudah diproduksi 1 juta dosis vaksin ini, dan kemudian ditingkatkan secara dramatis kalau memang terbukti manjur.

Siapa yang pertama mendapat vaksin ini?

Profesor Gilbert mengatakan hal itu belum diputuskan.

"Bukan tugas kami untuk menentukan apa yang terjadi kemudian. Kami hanya berusaha membuat sebuah vaksin yang manjur dan dalam jumlah yang cukup, berikutnya biar orang lain yang memutuskan,” ujarnya.

Profesor Pollard menambahkan: "Kami harus memastikan bahwa dosisnya cukup untuk mereka yang paling membutuhkan, bukan hanya di Inggris, tetapi juga di negara-negara berkembang."

Tim lain di Imperial College London juga mengembangkan vaksin virus corona dan berharap bisa mengujinya pada manusia Juni nanti.

Tim peneliti Oxford dan Imperial telah menerima dana lebih dari £40 juta (Rp 760 miliar) dari pemerintah.

Menteri Kesehatan Matt Hancock memuji dua tim tersebut dan mengatakan Inggris akan "memberikan semua yang kami punya” untuk mengembangkan vaksin.



Sumber: BBC

Para Pakar AS Ragukan Target Vaksin Covid-19 dari Trump


Natasia Christy Wahyuni / YUD
Sabtu, 16 Mei 2020 | 16:24 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan klaimnya bahwa vaksin virus corona (Covid-19) akan tersedia pada akhir tahun 2020. Sebaliknya, para pakar di dalam negeri meragukan target waktu itu.

Trump mendesak penemuan vaksin secepatnya agar bisa kembali membuka negara untuk menghindari krisis ekonomi.

“Pilar penting lain dari strategi kami untuk menjaga Amerika tetap terbuka adalah pengembangan perawatan dan vaksin yang efektif secepat mungkin. Saya ingin melihat apakah kita bisa melakukannya dengan sangat cepat,” kata Trump dalam acara untuk menyorot upaya pemerintah mempercepat pengadaan vaksin yang disebut “Operation Warp Speed” (operasi kecepatan luar biasa), Jumat (15/5/2020).

Baca juga: Trump Pertimbangkan Putus Hubungan Diplomatik dengan Tiongkok

“Saat saya katakan secepatnya, kita ingin mendapatkannya pada akhir tahun jika kami bisa. Mungkin sebelumnya,” lanjut Trump.

Para pakar kesehatan di pemerintahannya sendiri dan para ilmuwan yang sedang mengembangkan vaksin tersebut menyampaikan keraguan atas tenggat waktu itu.

Trump telah menunjuk mantan eksekutif farmasi, Moncef Slaoui, untuk memimpin Operation Warp Speed, sekalipun Slaoui menyebut target itu tangguh.

Baca juga: Tiongkok Yakin Dijadikan Bulan-bulanan untuk Kampanye Trump

“Sejujurnya, 12-18 bulan sudah tenggat waktu yang sangat agresif,” kata Slaoui, yang merupakan mantan CEO perusahaan farmasi multinasional GlaxoSmithKline, dalam wawancara dengan The New York Times, Jumat (15/5/2020).

Slaoui masih menganggap produksi massal vaksin pada Januari 2021 sebagai “tujuan kredibel”. Dia menaytakan tidak akan setuju memimpin upaya Gedung Putih untuk penyediaan vaksin jika berpikir tujuan Trump tidak dapat dicapai. Tapi, Slaoui mengakui setuju dengan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Dr. Anthony Fauci, tentang tantangan target waktu itu.

Baca juga: Staf Gedung Putih Positif Covid-19, Trump Frustrasi

Sejak awal krisis Covid-19, Fauci sering menyebut jangka waktu 12-18 bulan. Dia menegaskan dalam sesi dengar pendapat di Senat bahwa mendapatkan vaksin pada awal tahun ajaran berikutnya tidak mungkin.

“Sekalipun dengan kecepatan tertinggi, kita tidak melihat vaksin memainkan kemampuan individu untuk mencapai saat kembali ke sekolah,” kata Fauci.

Saat Senator Mitt Romney memastikan pengembangan vaksin dalam 1-2 tahun, Fauci menyatakan tidak sama sekali.

Mantan kepala Otoritas Pengembangan dan Penelitian Biomedis Lanjutan, Dr. Rick Bright, Kamis (14/5), menekankan tenggat waktu semacam itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Secara normal membutuhkan lebih dari 10 tahun untuk membuat vaksin. Kita telah melakukanya lebih cepat dalam situasi darurat, ketika kita memiliki bahan awal di freezer untuk Ebola, tapi untuk virus novel (corona), ini belum dilakukan secepat itu,” kata Bright.

“Banyak optimisme berkisar pada kerangka waktu 12-18 bulan. Jika semuanya berjalan sempurna, kita tidak pernah melihat segala sesuatu berjalan sempurna,” tambah Bright. 



Sumber: ABC News

PM Inggris: Vaksin Covid-19 Mungkin Tak Akan Ditemukan


Jeany Aipassa / JAI
Kamis, 14 Mei 2020 | 14:46 WIB

London, Beritasatu.com - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan vaksin virus corona (Covid-19) mungkin 'tidak akan pernah ditemukan'. Meski demikian, Pemerintah Inggris berkomitmen untuk berada di garis depan dalam upaya internasional untuk pengembangan vaksin Covid-19.

Pernyataan itu, disampaikan Boris Johnson dalam pemaparan strategi baru Pemerintah Inggris untuk melonggarkan penguncian (lockdown) terkait pandemi Covid-19, di London, Inggris, Rabu (13/5/2020).

Menurut Boris Johnson, vaksin merupakan satu-satunya solusi jangka panjang yang layak untuk mengakhiri pandemi corona. Untuk itu, Pemerintah Inggris berupaya mendengar pemaparan para ahli mengenai pengembangan vaksin Covid-19, antara lain dari Universitas Oxford dan mendorong penelitian yang sedang dilakukan. 

"Ini sama sekali tidak menjamin bahwa penelitian (vaksin Covid-19, Red) akan berhasil. Saya percaya apa yang saya katakan benar karena bahkan setelah 18 tahun kita masih belum memiliki vaksin untuk Sars. Tapi yang bisa saya katakan adalah Pemerintah Inggris berada di garis depan dalam kegiatan internasional untuk uji coba pengembangan vaksin (Covid-19, Red)," ujar Boris Johnson.

Terkait dengan itu, Pemerintah Inggris menguncurkan dana yang cukup besar untuk penelitian dan upaya menemukan vaksin Covid-19, meskipun tak ada jaminan bahwa pada akhirnya vaksin Covid-19 dapat ditemukan.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan pemerintah akan mengucurkan dana sebesar 42,5 juta pounsterling atau sekitar Rp772,652 miliar untuk penelitian vaksin Covid-19.

Dana tersebut akan diberikan sebesar 20 juta poundsterling atau Rp 363,601 miliar untuk proyek vaksin di Universitas Oxford, dan 22,5 juta poundsterling atau Rp 409,051 miliar untuk uji klinis prototipe lain di Imperial College London.

"Kami ingin warga Inggris mendapat manfaat pertama dari vaksin apa pun yang mereka biayai melalui pajak mereka," kata Matt Hancock.



Sumber: BBC, Suara Pembaruan

September, Pfizer Perluas Uji Coba Vaksin Covid-19 pada Ribuan Manusia


Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Rabu, 13 Mei 2020 | 07:19 WIB

New York, Beritasatu.com - CEO dan Chairman Pfizer, Albert Bourla pada Selasa (12/5/2020) mengatakan bahwa perusahaan berencana memperluas uji coba vaksin virus corona (Covid-19) pada ribuan pasien di September mendatang.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Belum Ditemukan, Masyarakat Harus Adaptasi dengan New Normal

Raksasa farmasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS) ini bekerja bersama dengan produsen obat Jerman, BioNTech, menyuntikkan dosis potensial vaksin, BNT162, ke dalam tubuh manusia untuk pertama kalinya di AS pada minggu lalu. Perusahaan berharap akan menguji hingga 360 orang dalam uji klinis ini.

"Pfizer saat ini sedang menguji empat variasi vaksin yang berbeda," kata Bourla selama CNBC's Healthy Returns Virtual Summit.

"Kami mengumpulkan data secara real time, kami memantau keamanan dosis," kata Bourla.

Baca juga: Kabar Baik! Obat Covid-19 Remdesivir Akan Diproduksi untuk 127 Negara

Bourla mengatakan, Pfizer akan memiliki data valid untuk menentukan variasi vaksin yang bagus pada bulan Juni atau Juli. Jika satu atau dua variasi menunjukkan hasil bagus, perusahaan akan meningkatkan uji coba dan kemudian pada bulan September meluncurkan studi skala besar dengan ribuan peserta jika vaksin terbukti berhasil.

“Jika semuanya berjalan baik dimana produk tersebut aman dan manjur, serta FDA (Food and Drug Administration) dan EMA (European Medicines Agency) dan badan pengatur lainnya merasakan hal sama, kami dapat memberi jutaan dosis dalam periode waktu Oktober," kata Bourla.

Bourla juga mengungkapkan, Pfizer berencana memproduksi ratusan juta dosis pada tahun 2021.

Hingga kini belum ada vaksin yang disetujui FDA untuk menangkal Covid-19. Produsen obat di dunia berlomba menghasilkan vaksin, yang menurut pejabat kesehatan AS diperkirakan memakan waktu 12 hingga 18 bulan. Ada lebih 100 vaksin dalam pengembangan secara global pada 30 April, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).



Sumber: CNBC