Vaksinasi Covid-19 Dimulai
INDEX

BISNIS-27 536.336 (-9.74)   |   COMPOSITE 6258.57 (-118.4)   |   DBX 1209.79 (-7.56)   |   I-GRADE 185.201 (-3.15)   |   IDX30 531.719 (-11.49)   |   IDX80 142.034 (-2.79)   |   IDXBUMN20 420.424 (-11.55)   |   IDXESGL 146.593 (-2.74)   |   IDXG30 145.132 (-2.95)   |   IDXHIDIV20 467.118 (-8.07)   |   IDXQ30 151.699 (-2.74)   |   IDXSMC-COM 284.118 (-6.96)   |   IDXSMC-LIQ 356.602 (-8.98)   |   IDXV30 142.342 (-4.12)   |   INFOBANK15 1078.54 (-23.31)   |   Investor33 455.425 (-8.95)   |   ISSI 183.228 (-3.1)   |   JII 646.305 (-9.76)   |   JII70 225.666 (-3.53)   |   KOMPAS100 1262.11 (-23.67)   |   LQ45 987.949 (-21.07)   |   MBX 1725.55 (-36.04)   |   MNC36 336.055 (-6.76)   |   PEFINDO25 332.023 (-6.72)   |   SMInfra18 316.891 (-5.9)   |   SRI-KEHATI 389.555 (-8.04)   |  

Home > Fokus > Vaksinasi Covid-19 Dimulai

Indonesia Siap Laksanakan Vaksinasi Covid-19

Selasa, 12 Januari 2021 | 19:47 WIB
Oleh : Dina Manafe / Irawati Diah Astuti

Jakarta, Beritasatu.com - Tahun 2021 akan diawali dengan kabar baik. Pasalnya, vaksin yang diyakini sebagai game changer atau sesuatu yang dapat mengubah keadaan saat ini siap dilaksanakan pada bulan Januari. Vaksin akan menjadi harapan baru dalam upaya mengakhiri pandemi Covid-19.

Sebanyak 3 juta dosis vaksin sudah disiapkan pemerintah untuk vaksinasi tahap awal. Vaksin ini sudah tiba di Indonesia sejak 6 Desember 2020 sebanyak 1,2 juta dosis, lalu menyusul 1,8 juta dosis lagi pada 31 Desember 2020. Ini adalah vaksin dalam bentuk jadi atau siap pakai produksi Sinovac dengan platform inaktivasi (inactivated) atau virus yang dilemahkan.

Vaksin-vaksin lain pun akan tiba di Indonesia tahun ini sesuai dengan rencana pengadaan vaksin oleh pemerintah. Sebagian dalam bentuk produk jadi, dan sebagian lagi bahan baku yang akan diproduksi oleh Bio Farma.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia membutuhkan 426 juta dosis vaksin dengan sasaran penerima vaksin sebanyak 181,5 juta orang berusia di atas 18 tahun. Setiap orang mendapatkan dua dosis atau dua kali suntik ditambah dengan vaksin cadangan (wastage rate) sebesar 15% dari total sasaran.

Tiga juta dosis vaksin pertama diprioritaskan untuk 1,3 juta tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran pada fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di 34 provinsi.

Dilanjutkan kepada petugas pelayanan publik, yaitu TNI, Polri, aparat hukum, petugas di bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jumlah kelompok ini sebanyak 17,4 juta orang. Kemudian lanjut usia 60 tahun ke atas berjumlah 21,5 juta orang.

Periode kedua akan dilaksanakan pada April 2021 sampai Maret 2022. Selama 11 bulan ini, vaksinasi akan diberikan masyarakat rentan dari aspek geospasial (daerah dengan risiko penularan tinggi), sosial, dan ekonomi. Jumlah sasarannya sebanyak 63,9 juta orang. Yang terakhir diberikan kepada masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya dengan pendekatan klaster sesuai dengan ketersediaan vaksin. Jumlah mereka sebanyak 77,4 juta orang.

“Kita laksanakan vaksinasi secara bertahap. Secara total kita butuh 15 bulan untuk pelaksanaan di 34 provinsi. Vaksinasi akan sampai bulan Maret 2022, artinya akan menjangkau jumlah masyarakat sisa dari periode pertama,” kata Siti Nadia Tarmizi,
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemkes).

Sebanyak 13.000 puskesmas, 2500 rumah sakit, dan 449 kantor kesehatan pelabuhan sudah disiapkan untuk memberikan layananan vaksinasi. Sebanyak 30.000 vaksinator juga telah disiapkan untuk memberikan vaksin kepada seluruh sasaran.

Menkes mengatakan, pelaksanaan vaksinasi digelar mulai besok, Rabu (13/1/2021). Target sasaran yang pertama menerima vaksin adalah 566.356 tenaga kesehatan (nakes).

Setelah 566.356 nakes tersebut selesai divaksin, proses vaksinasi akan dilanjutkan dengan 902.408 pada Februari. Dengan demikian total nakes yang akan mendapatkan vaksin Covid-19 adalah 1.468.764 orang.

Jumlah ini lebih besar dibanding target awalnya hanya 1,3 juta orang. Nakes ini akan diberikan vaksin dari 3 juta dosis vaksin Sinovac yang saat ini ada di Indonesia dan telah mendapatkan EUA BPOM.

Menkes mengatakan, pelaksanaan vaksinasi untuk nakes dilakukan dalam dua tahap karena distribusi vaksin ke daerah juga dilakukan dua tahap. Sebanyak 1,2 juta dosis sudah didistribusi lebih dulu, selanjutnya 1,8 juta dosis ke seluruh provinsi.

Seluruh nakes sasaran ditargetkan selesai divaksin pada Februari 2021. Tahap berikutnya kepada 17,4 juta petugas publik, dan dilanjutkan untuk 21,5 juta lanjut usia (lansia). Kedua kelompok ini akan divaksinasi pada bulan Maret dan April.



Siap-siap Divaksin Besok, Begini Alur dan Syaratnya

Selasa, 12 Januari 2021 | 19:55 WIB
Oleh : Dina Manafe / Irawati Diah Astuti

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksanaan vaksinasi diawali dengan Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengirimkan short message service (SMS) blast secara serentak kepada penerima vaksin Covid-19 mulai 31 Desember 2020 kepada seluruh penerima vaksin Covid-19 yang telah terdaftar pada tahap pertama, yaitu tenaga kesehatan. SMS ini terintegrasi dengan aplikasi Pedulilindungi.id.

Penerima vaksin akan mendapatkan notifikasi melalui SMS Blast dengan ID pengirim PeduliCovid. Di mana penerima vaksin akan melakukan verifikasi, yaitu registrasi ulang untuk status kesehatan sekaligus memilih tempat serta jadwal vaksinasi.

Untuk daerah dengan kendala jaringan internet, proses verifikasi dan registrasi akan dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 di kecamatan.

“Registrasi ini sangat penting karena sebagai upaya verifikasi dan menjawab pertanyaan yang akan dilakukan oleh sistem untuk mengonfirmasi domisili, dan skrining sederhana terhadap penyakit penyerta yang diderita,” kata Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmizi.

Bagi peserta yang tidak melakukan registrasi ulang akan dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19. Registrasi ulang calon penerima akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang. Kemenkes akan mengumumkan kemudian untuk alur yang lebih detail.

Saat hari pelaksanaan vaksinasi, penerima SMS akan mendatangi fasyankes yang sudah ditentukan. Di fasyankes ini penerima vaksin akan melalui empat alur atau meja layanan, yakni:

1. Meja petugas pendaftaran dan verifikasi.
Di sini petugas memastikan sasaran menunjukkan nomor e-ticket atau KTP untuk dilakukan verifikasi sesuai dengan tanggal pelayanan vaksinasi yang telah ditentukan.

2. Meja petugas kesehatan.
Petugas kesehatan melakukan anamnesa atau pemeriksaan untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid) serta melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Pemeriksaan meliputi suhu tubuh dan tekanan darah.

Vaksinasi Covid-19 tidak diberikan pada sasaran yang memiliki riwayat konfirmasi Covid-19, wanita hamil, menyusui, usia di bawah 18 tahun dan beberapa kondisi komorbid.

3. Meja vaksinator.
Petugas memberikan vaksinasi secara intra muskular sesuai prinsip penyuntikan aman. Selesai penyuntikan, petugas meminta dan mengarahkan sasaran ke meja 4 dan menunggu selama 30 menit.

4. Meja petugas pencatatan.
Petugas menerima memo yang diberikan oleh petugas meja 3. Petugas memasukkan hasil vaksinasi yaitu jenis vaksin dan nomor batch vaksin yang diterima masing-masing sasaran ke dalam aplikasi Pcare Vaksinasi. Petugas memberikan kartu vaksinasi baik manual atau elektronik, serta penanda kepada sasaran yang telah mendapat vaksinasi. Kartu tersebut ditandatangani dan diberi stempel lalu diberikan kepada sasaran sebagai bukti bahwa sasaran telah diberikan vaksinasi.

Petugas mempersilakan penerima vaksinasi untuk menunggu selama 30 menit di ruang observasi dan diberikan penyuluhan tentang pencegahan Covid-19 melalui 3M dan vaksinasi.

Diketahui, terdapat sekitar 16 kondisi kesehatan yang ditanyakan sebelum menjalani proses vaksinasi, di antaranya:

  • Riwayat gagal jantung atau penyakit jantung koroner.
  • Penyakit autoimun sistemik, seperti systemic lupus erythematosus (SLE) atau lupus, sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya.
  • Penyakit ginjal khususnya penyakit ginjal kronis dan sedang menjalani hemodialisis, dialisis peritoneal, transplantasi ginjal, sindroma nefrotik dengan kortikosteroid.
  • Penderita reumatik autoimun atau rhematoid arthritis
  • Penyakit saluran pencernaan kronis
  • Hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.
  • Penderita kanker
  • Kelainan darah
  • Imunokompromais atau defisiensi imun
  • Penerima produk darah atau transfusi.
  • Penderita diabetes melitus
  • Pengidap HIV
  • Penderita penyakit paru khususnya asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan tuberkulosis (TBC).

Jika sasaran layak divaksinasi maka ia akan menuntaskan prosesnya. Sebaliknya jika tidak layak maka vaksinasi ditunda atau bahkan tidak diberikan sama sekali.

Jika vaksinasi harus ditunda hari itu, maka sasaran akan mendapat notifikasi ulang melalui sms blast atau melalui aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan registrasi ulang dan menentukan jadwal pengganti pelaksanaan vaksinasi.

Ketika pada saat screening dideteksi ada penyakit tidak menular atau dicurigai adanya infeksi Covid-19 maka pasien dirujuk ke Poli Umum untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Jadi, belum tentu sasaran yang datang ke fasyankes mendapatkan vaksinasi saat itu.

Jika sasaran yang dinyatakan sehat, maka petugas memberikan penjelasan singkat tentang vaksin yang akan diberikan, manfaat dan reaksi simpang atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang mungkin akan
terjadi dan upaya penanganannya.

Distribusi
Untuk pelaksanaan vaksinasi, 3 juta dosis vaksin Sinovac sudah mulai didistribusikan oleh Bio Farma secara perdana pada Minggu (3/1/2021), ke 14 provinsi dan seterusnya ke 34 provinsi. Distribusi dilakukan lebih cepat dengan harapan vaksinasi bisa dilaksanakan serentak di 34 provinsi. Program vaksinasi sendiri menurut rencana pemerintah dilaksanakan pada pekan kedua atau ketiga Januari 2021.

Menkes mengatakan vaksinasi mulai tanggal 13 Januari di mana Presiden Jokowi adalah orang pertama yang disuntik vaksin.

Apalagi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan dalam kondisi darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Sinovac pada Senin (11/1/2021). Izin ini sangat penting karena memastikan keamanan, mutu dan khasiat atau efikasi vaksin sebelum digunakan.

Secara keamanan dan mutu BPOM sudah mendapatkan data-data dari uji praklinis, uji klinis fase 1 dan fase 2 dari negara asal vaksin.

Berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang dikeluarkan Kemkes pada 2 Januari 2021, vaksinasi dilaksanakan dua periode. Periode pertama dimulai Januari-April 2021, dan periode kedua pada April 2021 sampai Maret 2022 atau selama 15 bulan.



Menkes: 666 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Bisa Didapatkan Indonesia

Selasa, 12 Januari 2021 | 19:06 WIB
Oleh : Dina Manafe / Whisnu Bagus Prasetyo

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia berpotensi mendapatkan 666 juta dosis vaksin Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jumlah ini bisa diperoleh dari dua opsi, yaitu vaksin gratis maupun vaksin berbayar.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia saat ini rebutan vaksin Covid-19 dengan negara besar di dunia. Negara-negara maju sudah berhasil mengamankan vaksin untuk kebutuhan 4 hingga 5 kali dari populasinya. Sedangkan Indonesia sekarang ini memiliki kontrak yang pasti baru sekitar 270 juta dosis dari kebutuhan 426 juta dosis. “Kita sedang lakukan finalisasi dengan Pfizer agar bisa melengkapi kontrak yang pastinya 329 juta dosis, dan kita mempunyai opsi,” kata Menkes pada rapat kerja dengan Komisi IX DPR membahas mengenai ketersediaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi Covid-19, Selasa (12/1/2021).

Namun Indonesia punya opsi untuk mendapatkan vaksin gratis dari Govax/Gavi WHO. Saat ini Indonesia sudah mendapatkan komitmen untuk 54 juta dosis vaksin gratis, dan jumlah ini akan meningkat menjadi 108 juta dosis. “Sampai 2 hari lalu kita masih bicara dengan mereka (Govax/Gavi) dan ada kemungkinan mereka bisa menaikkan 54 juta jadi 108 juta dosis,” kata Menkes.

Menurut Menkes, kalau Indonesia mendapatkan vaksin gratis dari Govax/Gavi, maka dapat mengurangi kontrak dengan vaksin berbayar. Tetapi bila Indonesia tidak mendapatkan vaksin gratis, maka tetap mengambil vaksin berbayar.

Selain opsi vaksin gratis tersebut, Indonesia juga sudah melakukan kontrak dengan sejumlah produsen vaksin di berbagai negara, seperti Sinovac, Pfizer, AstraZeneca dan Novavax. Jika ditotalkan jumlah vaksin kontrak dan opsi yang sudah ada komitmennya untuk tersedia di Indonesia adalah 666 juta dosis. “Sehingga total yang kontrak dan opsi yang sudah ada di meja sekarang adalah 666 juta dosis. Ini sudah sedikit lebih dari yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia 426 juta dosis,” kata Menkes.

Menkes mengatakan, jadwal pelaksanaan vaksinasi dinamis karena sangat bergantung ketersediaan. Pemerintah terus bernegosiasi dengan produsen vaksin dunia untuk memenuhi kebutuhan sasaran 181,5 juta penduduk Indonesia yang harus divaksinasi. Masalahnya saat ini sejumlah negara produsen melarang ekspor vaksin ke negara lain. India misalnya, salah satu produsen vaksin terbesar dunia, melarang ekspor vaksin Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca dan Universitas Oxford selama beberapa bulan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dulu. Ini menyulitkan pasokan vaksin ke negara lain.

Ketersediaan vaksin inilah, menurut Menkes, yang menyebabkan pelaksanaan vaksinasi di Indonesia ditetapkan berlangsung selama 15 bulan atau dari Januari 2021 hingga Maret 2022. “Dibutuhkan 15 bulan untuk menyelesaikan vaksinasi 426 juta dosis karena memang critical path dari produksi vaksinnya, bukan dari kemampuan memvaksinasi. Kita ada 10.000 lebih puskesmas, hampir 3000 rumah sakit dan klinik yang sebenarnya membantu untuk vaksinasi,” kata Menkes.

Menkes mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia menargetkan 70% dari 7,8 miliar penduduk dunia atau sekitar 5,5 miliar orang harus divaksinasi. Jika satu orang membutuhkan dua dosis vaksin maka dibutuhkan 11 miliar dosis vaksin.

Padahal produksi vaksin Covid-19 saat ini hanya bisa 6,2 milyar dosis. Itu pun harus memproduksi vaksin yang ada. Jadi ketersediaan vaksin ini masih kurang dari kebutuhan. Saat ini pabrik-pabrik besar dunia menambah kapasitas produksi agar bisa memenuhi kebutuhan 11 miliar dosis tersebut.

Pada diskusi awal dengan WHO, perhitungan vaksinasi untuk seluruh sasaran membutuhkan waktu hingga 3,5 tahun. Oleh karena itu ketersediaan vaksin perlu dipercepat, mengingat jumlah kasus positif dan angka kematian akibat Covid-19 makin meningkat. Setiap hari hampir 10.000 orang meninggal di dunia karena Covid-19. Bisa dibayangkan harus menunggu hingga 3,5 tahun, berapa banyak orang meninggal sebelum divaksinasi.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS