Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Waspada, Covid-19 Masih Mengancam

Subvarian Baru Omicron Bisa Sebabkan Gelombang Baru

Selasa, 14 Juni 2022 | 14:19 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Mudik Lebaran 2022 yang melibatkan puluhan juta orang tidak memberi dampak melonjaknya kasus baru Covid-19 di Indonesia.

Kabar menggembirakan ini menepis kekhawatiran ledakan Covid-19, mengingat pengalaman bahwa meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur panjang selalu berbanding lurus dengan peningkatan kasus baru Covid-19.

Seperti diberitakan, guna mencegah penularan Covid-19 maupun lonjakan kasus, selama 2020 hingga 2022 pemerintah membatasi kegiatan masyarakat, termasuk mudik hari raya keagamaan.

Baru pada Lebaran 2022 ini pemerintah memutuskan masyarakat boleh melakukan mudik di tengah pandemi Covid-19.

Selain memperbolehkan masyarakat mudik, pemerintah juga mengubah aturan tes Covid-19 untuk pelaku perjalanan.

Warga yang sudah mendapatkan vaksinasi tiga kali atau vaksinasi booster dibebaskan untuk tidak perlu melakukan tes PCR atau antigen. Warga yang baru vaksinasi dosis lengkap diwajibkan untuk tes antigen.

Sedangkan bagi mereka yang baru sekali vaksin, diwajibkan untuk swab PCR.

Pelonggaran mudik lebaran ini berdampak signifikan terhadap peningkatan mobilitas masyarakat, namun hal tersebut tidak berdampak pada lonjakan kenaikan kasus Covid-19.

Namun mengapa selama tiga minggu terakhir terjadi kenaikan jumlah kasus baru?

"Ini disebabkan oleh Covid-19 Omicron subvarian baru BA.4 dan BA.5," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Senin (13/6/2022).

Budi menegaskan bahwa berkaca dari Natal dan Tahun Baru 2022 dan Lebaran tahun 2021, kenaikan kasus Covid-19 biasanya terjadi antara hari ke-27 sampai ke-34. Namun, Lebaran 2022 ini kenaikan kasus terjadi sekitar hari ke-40.

Lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar negara-negara lain bukan disebabkan oleh hari raya keagamaan besar tetapi lebih disebabkan oleh adanya subvarian baru yaitu BA.4 dan BA.5.

“Jadi kita konfirmasi bahwa kenaikan kasus Covid-19 ini memang dipicu oleh adanya varian baru dan ini juga yang terjadi sama di negara-negara di luar Indonesia yang mungkin hari raya keagamaannya berbeda-beda dengan kita. Setiap kali ada varian baru, kasus naik,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, grafik penambahan kasus baru Covid-19 Indonesia sudah melandai. Rata-rata penambahan per hari hanya 200-300 kasus saja. Angka ini jelas jauh lebih kecil ketimbang saat varian Delta membahana di mana rata-rata kasus baru harian  bisa mencapai lebih dari 10.000. Bahkan sampai 60.000-an.

Angka 200-300 kasus harian itu berangsur mengalami kenaikan. Per Senin (13/6/2022) kemarin, misalnya, terdapat 591 kasus baru dan sembilan kasus meninggal. Beberapa hari sebelumnya bahkan pernah tembus 600 kasus.

Pihak Kemenkes terus memonitor. Menurut Budi, kasus Covid-19 di Indonesia relatif baik karena seluruh indikator transmisi masih di bawah standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"WHO kasih standar untuk konfirmasi kasus level 1 adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100.000 penduduk. Kondisi Indonesia sekarang masih di satu. Jadi walaupun ada kenaikan tetapi itu masih level 1," paparnya.

Sementara itu, positivity rate Indonesia 1,36% masih sesuai standar WHO yang menyebut angka di bawah 5% berarti pandemi terkendali. 

Sedangkan reproduksi efektif standar WHO di atas 1 relatif perlu dimonitor, namun Indonesia di angka 1. "Sehingga dari tiga  indikator transmisi tersebut maka kondisi Indonesia masih baik," ucapnya.

Meski begitu, Budi menuturkan Presiden Joko Widodo memberi arahan untuk waspada dan berhati- hati.

"Karena kewaspadaan kita, konservatif kita, dan kehati-hatian kita sudah memberikan hasil kondisi penanganan pandemi di Indonesia termasuk yang relatif baik dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia," ucapnya.

Secara terpisah, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan  kenaikan kasus Covid-19 ini seharusnya memberi kesadaran bersama bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Kita harus sadar Covid-19 belumlah hilang atau berakhir dari Indonesia,” kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (11/6/2022).

Bila Menkes Budi Gunadi menyebut penyebab kenaikan adalah subvarian baru yaitu BA.4 dan BA.5, Hermawan menyebut soal kebijakan pelonggaran protokol kesehatan (prokes) oleh pemerintah. 

"Pelonggaran harus mempertimbangkan kondisi saat ini. Pasalnya, pelonggaran berdampak pada penurunan prokes. Kesadaran masyarakat untuk disiplin sudah mulai menurun. Hal tersebut berpengaruh terhadap kenaikan kasus Covid-19," katanya.

Selain itu, menurut Hermawan, kenaikan kasus Covid-19 juga dipicu oleh laju vaksinasi yang menurun. Vaksinasi booster masih di bawah 50% dari cakupan vaksinasi dosis kedua.

Berdasarkan data Kemenkes per Sabtu (11/6/2022) pukul 12.00 WIB, cakupan vaksinasi dosis pertama mencapai 96,42% atau 200,818.541, cakupan dosis dua mencapai 80,68% atau 168.030.935.

Sementara dosis ketiga atau booster mencapai 47.535.860 atau 22,82%. Adapun sasaran vaksinasi sebanyak 208.265.720 atau 70% dari populasi penduduk Indonesia.

Menurutnya, laju vaksinasi booster pertama yang masih rendah ini menunjukkan Indonesia memiliki persoalan untuk menjaga keberlanjutan upaya pencegahan pengendalian Covid-19.

“Jika suatu waktu WHO mencabut status pandemi, kita seharusnya bisa transisi dengan baik menuju endemi tetapi kita tidak siap dari infrastruktur vaksinasi, testing kit dan kesadaran masyarakat. Ini bisa menjadi sesuatu mengancam kita bukan saja menjadi endemi tetapi kembali menjadi epidemi bahwa kasus akan kembali naik,” tegasnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar setiap kebijakan pencegahan dan penanganan Covid-19 perlu kehati-hatian dan bertahap karena situasi saat ini masih pandemi.

Selain itu, ada penyakit menular lain yang sedang mengancam seperti hepatitis akut, virus hendra, hingga tuberkulosis yang saat ini masih menjadi paling kasusnya dari penyakit lain.

Hermawan menuturkan, perlu penegakan dan kesadaran protokol kesehatan (prokes) bahwa mencuci tangan dan memakai masker merupakan upaya baik untuk pengendalian penyakit menular. Pasalnya, pencegahan penyakit menular lainnya mirip dengan upaya pengendalian Covid-19.

Secara terpisah menurut epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, salah satu pemicu kenaikan kasus Covid-19 karena fenomena penurunan imunitas setelah empat bulan divaksinasi dosis kedua atau setelah terinfeksi.

Kondisi itu  berpotensi  terinfeksi kembali ketika muncul Covid-19 subvarian baru.

Dicky juga menyebut, peningkatan kasus terjadi karena mobilitas tinggi di tengah kebijakan pelonggaran kegiatan masyarakat.

“Itulah mengapa saya sering mengingatkan PPKM masih penting, meski sudah jauh lebih baik situasi pandemi,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (11/6/2022).

Ia menyebutkan, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjaga kapasitas serta kebiasaan baik masyarakat untuk tetap memakai masker.

Oleh karena itu, perlu strategi komunikasi risiko agar terbangun kewaspadaan masyarakat. Sayangnya yang terjadi saat ini, masyarakat sudah mulai mengabaikan memakai masker.

Dikatakan Dicky, Jepang merupakan salah satu negara yang berhasil membangun strategi komunikasi risiko.

Di negara tersebut tidak mewajibkan masyarakat memakai masker. Namun di sana sudah terbangun literasi risiko sehingga masyarakat secara sukarela memakai masker tanpa diwajibkan.

“Itu harus kita bangun karena bermanfaat memakai masker untuk dirinya, orang lain dan keluarganya,” ucapnya.

Subvarian Covid-19 Omicron menjadi ancaman terbaru di Indonesia yang terdeteksi di Tanah Air sejak 6 Juni 2022.

Pada Senin (13/6/2022), di Indonesia telah ditemukan delapan kasus subvarian baru tersebut. Perinciannya, tiga kasus impor dari kedatangan WNA dari Mauritius, Amerika Serikat dan Brasil yang datang pada saat acara Forum Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022. Acara itu diselenggarakan di Bali. 

Sedangkan lima kasus lainnya adalah transmisi lokal.

"Empat kasus terdeteksi di Jakarta dan satu terdeteksi di Bali, tetapi yang bersangkutan adalah tenaga media juga yang datang dari Jakarta. Jadi memang transmisi lokal ini sudah terjadi di Jakarta," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Berdasarkan hasil pengamatan Kemenkes, kasus konfirmasi BA.4 dan BA.5 terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Bali.

Secara terpisah, Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengatakan, transmisi subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibanding Omicron sebelumnya yaitu BA.1 BA.2.

"Tingkat penularannya memang lebih tinggi dari varian Omicron BA.1 dan BA.2, hanya tidak sporadis. Tetapi untuk tingkat keparahannya sakit lebih rendah. Jadi nanti kalau kasusnya banyak berarti penyebarannya cepat, tetapi tidak ganas dan tidak menyebabkan sakit berat, bahkan tidak menimbulkan kematian," ungkapnya kepada Beritasatu.com, Minggu (12/6/2022).

Varian Omicron lebih ringan dari varian Delta. Mengenai tingkat keparahannya, tidak ada indikasi yang menyebabkan kesakitan yang lebih parah dibanding varian Omicron lainnya.

Bila dilihat dari kasus yang terjadi, pasien BA.4 dan BA.5 banyak yang tidak bergejala atau hanya ringan seperti sakit tenggorokan dan badan pegal.

"Maka kita tidak perlu panik, tetapi tetap diwaspadai akan kenaikan kasus karena virus Covid-19 ada di sekitar kita. Saat ini varian Delta di Indonesia sudah tidak ada lagi, sementara varian Omicron masih ada," jelasnya.

Namun yang harus diwaspadai bahwa varian baru ini memiliki kemampuan untuk menghindar dari imun yang disebut immune escape.

Kemampuan ini membuat virus dapat menghindar imun yang sudah terbentuk pada diri seseorang baik melalui vaksinasi atau melalui kekebalan alam yang didapat.

Menurutnya, varian virus Covid-19 yang masuk Indonesia adalah varian Alpha, varian Delta dan varian Omicron beserta subvariannya masing-masing.

Menurut Mohammad Syahril, dengan demikian varian Covid-19 yang pernah ada di Indonesia adalah Varian A (Alpha) atau B.1.1.7. Sifatnyalebih menular dan lebih berpeluang menyebabkan gejala parah.

Varian Delta (B.1.617.2) bersifat lebih menular bahkan bagi orang yang telah tervaksin serta meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit.

Terakhir varian Omicron lebih cepat penularannya tetapi, tingkat kesakitannya rendah.

Sementara untuk pengetesan dengan metode whole genome sequencing (WGS), lanjut dr Syahril, Kemenkes dan dinas kesehatan berbagai daerah tengah menggalakkan, terutama di Jakarta dan Bali.

Jadi ketika ditemukan kasus positif bakal langsung dilakukan WGS untuk menentukan apakah benar subvarian BA.4 dan BA.5 atau subvarian lainnya. Jadi saat ini masih terus dalam proses.

Hal ini sama seperti waktu menentukan varian Omicron yang memang tidak mudah dan harus melalui tahap pemeriksaan beberapa kali dari berbagai daerah. Setelah itu dan dipastikan 90% sampelnya dilakukan WGS adalah varian Omicron, maka diputuskan bahwa varian yang ada di Indonesia adalah Omicron.

"Saat ini subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah sudah terdeteksi di Bali dan Jakarta. Ke depan dilakukan WGS untuk melihat apakah dominan yang lama atau baru," pungkas dr Syahril.

Berikut sejumlah tanda-tanda Omicron BA.4 dan BA.5 yang paling umum: demam, batuk, kelelahan, hilangnya rasa atau bau. Sementara tanda-tanda Omicron BA.4 dan BA.5 yang kurang umum seperti sakit tenggorokan,sakit kepala, sakit dan nyeri, diare, ruam pada kulit, atau perubahan warna jari tangan atau kaki dan mata merah atau iritasi.

Dengan fakta seperti itu, menurut Dicky Budiman, subvarian BA.4 dan BA.5 berpeluang memicu gelombang baru kasus Covid-19 sebab kemampuannya menginfeksi manusia dengan sangat mudah.

"Kalau tidak ada upaya yang memadai, misalnya PPKM dicabut, vaksinasi buruk, perilaku masyarakat memakai masker juga buruk, itu dalam dua pekan bisa dominan dan bisa menyebabkan gelombang baru," kata Dicky.

BA.4 dan BA.5 merupakan turunan dari varian of concern (VoC) Omicron yang kini sudah menyebar di 40 lebih negara di dunia.

Sebagaimana turunan VoC lain seperti mutasi L.452 Delta, kata Dicky, mutasi itu membuat BA.4 dan BA.5 mudah sekali menginfeksi manusia, tidak hanya yang belum divaksinasi, tapi juga mereka yang telah menerima dosis lengkap bahkan yang sudah pernah terinfeksi BA.1, BA.2, dan BA.

Kemampuan reinfeksi itu disebabkan oleh turunan dari mutasi Delta L.452 yang dengan mudah mengikat reseptor angiotensin converting enzyme (Ace 2) yang ada di banyak sel tubuh organ manusia, khususnya sel paru-paru.

"Dengan adanya kemampuan BA.4 dan BA.5 bisa menyiasati deteksi dari antibodi, baik dari terinfeksi maupun antibodi dari vaksinasi, maka pertumbuhan perkembangan kasusnya di kisaran 12 sampai 13 persen," katanya, Senin (13/6/2022).

Proyeksi pertumbuhan kasus itu, kata Dicky, berpotensi memicu gelombang dalam hitungan pekan atau bulan, meskipun tidak ada peningkatan keparahan terhadap pasien yang tertular.

Secara terpisah, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mendorong otoritas terkait segera melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) menyusul ditemukannya delapan kasus BA.4 dan BA.5 di Bali dan Jakarta.

"Sehubungan peningkatan kasus dalam beberapa hari terakhir ini, maka disebut-sebut tentang kemungkinan peran subvarian BA.4 dan BA.5," katanya.

Secara umum di dunia, kata Tjandra, subvarian BA.2 tetap dominan walaupun terjadi penurunan dari 44 persen menjadi 19 persen berdasarkan laporan mingguan WHO.

"Yang saat ini meningkat adalah subvarian BA.2.12.1, BA.5, dan BA.4. Dari ke tiga ini, data terakhir menunjukkan subvarian BA.2.12.1 paling banyak ditemui, sudah terdeteksi di 53 negara dan diduga jadi penyebab penting kenaikan kasus. Artinya perlu pula dicek mendalam ada tidaknya di Indonesia," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Indonesia Belum Capai Target Vaksinasi Endemi Covid-19

Selasa, 14 Juni 2022 | 14:38 WIB
Oleh : Yudo Dahono / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Ancaman Covid-19 di Tanah Air hingga saat ini belum mereda. Hal itu terjadi karena kembali terjadi kenaikan kasus selama tiga pekan terakhir yang disebabkan oleh Covid-19 Omicron subvarian baru BA.4 dan BA.5.

Subvarian baru ini dianggap tidak mematikan meski cenderung lebih cepat dalam penyabarannya. Berbagai pihak memperingatkan agar masyarakat waspada. Selain Presiden Jokowi dan Menkes Budi Gunadi Sadikin, sejumlah epidemiolog dan praktisi kesehatan melontarkan peringatan yang sama.

Berbagai pelonggaran yang dilakukan pemerintah Indonesia menjadi sorotan dari Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra.

“Kita harus sadar Covid-19 belumlah hilang atau berakhir dari Indonesia,” kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (11/6/2022).

Hermawan juga menggarisbawahi soal vaksinasi. Ketika grafik pandemi sudah mulai melandai, orang lupa akan pentingnya vaksinasi Covid-19.

Menurut Hermawan laju vaksinasi menurun. Vaksinasi booster masih di bawah 50% dari cakupan vaksinasi dosis kedua.

Sedangkan menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Siti Nadia Tarmidzi, angka vaksinasi booster yang belum mencapai 50% tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia belum mencapai standar vaksinasi Covid-19 yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk status endemi.

Standar endemi dari WHO adalah cakupan vaksinasi Covid-19 sebanyak 70 persen dari seluruh populasi penduduk.

"Sampai saat kurang lebih baru 168 juta masyarakat yang mendapatkan vaksinasi secara lengkap. Jadi kalau kita bandingkan, ini kurang lebih adalah 62 persen dari total populasi," ujar Nadia dalam gelar wicara "Tangkal Virus Yang Bermutasi dengan Vaksin Booster,"  Senin (13/6/2022).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa dosis kedua belum tercapai. Pertama,  banyak penduduk yang belum bisa mendapatkan suntikan dosis kedua lantaran telah positif Covid-19. Walaupun gejalanya ringan, namun masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan penyuntikan.

Kedua,  situasi yang terus membaik membuat masyarakat merasa tidak perlu mendapatkan perlindungan dengan melengkapi vaksinasi Covid-19 sampai dengan dosis kedua.

"Artinya edukasi harus terus kita ingatkan bahwa situasi pandemi Covid-19 ini belum selesai," ujar Nadia.

Ketiga, adanya beberapa penduduk yang masih terhambat dengan permasalahan geografis. Petugas kesehatan membutuhkan waktu untuk  mencapai daerah-daerah tertentu.

"Jumlah secara provinsi yang belum mendapat atau belum mencapai 70 persen itu hanya antara 6- 7 provinsi lagi. Tapi kalau kita berbicara kabupaten, kota memang masih cukup banyak tersebar ya. Bahkan di provinsi yang sudah secara total mencapai angka 70 persen, ternyata masih ada juga kabupaten kotanya yang belum mencapai 70 persen," ujar Nadia.

Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan percepatan dengan membuka sentra vaksinasi lebih banyak, kembali mengajak para tokoh masyarakat menyosialisasikan pentingnya upaya vaksinasi, serta menjelaskan bahwa pandemi belum selesai.

Keempat,  penting memerangi hoax yang menyebabkan masyarakat menjadi ragu-ragu untuk menerima vaksin dosis kedua.

Menkes Budi mengatakan akan meningkatkan vaksinasi booster atau vaksinasi dosis ketiga Covid-19 sebagai langkah pencegahan peningkatan kasus Covid-19.

Budi menyebutkan pada bulan Juni dan Juli ini semua negara bersiap-siap pada gelombang Covid-19 berikutnya.

"Pengamatan kami gelombang BA.4 dan BA.5 biasanya puncaknya tercapai 1 bulan sesudah penemuan kasus pertama. Seharusnya Minggu kedua dan ketiga Juli 2022 ini akan melihat puncak kasus dari penularan BA.4 dan BA.5 ini," kata Budi saat memberikan keterangan pers secara daring, Senin (13/6/2022).

Dikatakannya, jika laju vaksinasi booster di masyarakat berjalan baik, maka ada kemungkinan kasus tidak akan tinggi. Pasalnya, masyarakat yang sudah divaksin dosis ketiga memiliki daya tahan imunitas enam bulan.

Menurutnya, jika hal tersebut bisa dijaga, maka Indonesia akan menjadi satu negara yang pertama-tama dalam 12 bulan tidak mengalami lonjakan kasus Covid-19.

"Karena biasanya setelah 6 bulan lonjakan kasus itu terjadi," ucapnya.

Untuk itu, Budi mengimbau masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster sehingga bisa meningkatkan kekebalan atau imunitas tubuh masyarakat untuk melindungi sampai enam ke depan.

"Mudah-mudahan Iduladha dan 17 Agustusan 2022 kita pun bisa merayakan hari raya dan hari kemerdekaan itu dengan baik," ujarnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Indonesia Menunggu Peralihan Pandemi ke Endemi Covid-19

Selasa, 14 Juni 2022 | 23:59 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / Dwi Argo Santosa

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah sempat melandai pascameredanya varian Omicron memasuki Maret 2022, grafik Covid-19 kembali naik dalam tiga pekan terakhir. Kasus terkonfirmasi positif harian di Indonesia meningkat konsisten di atas 500 kasus sejak 7-13 Juni 2022.

Jika kondisi ini tak dapat dikendalikan, dikhawatirkan bisa mengancam posisi Indonesia yang seyogianya segera memasuki masa endemi Covid-19.

Meski ada kenaikan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meyakinkan bahwa kasus Covid-19 masih terpantau baik.

Hal ini lantaran positivity rate nasional kita 1,15%. Tertinggi adalah DKI Jakarta yang tercatat 3%. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan angka di bawah 5% sebagai tolok ukur terkendalinya kasus di masyarakat.

Ia menegaskan bahwa pandemi Covid-19 merupakan pandemi global yang tidak hanya terjadi di Indonesia, sehingga keputusan untuk melakukan transisi dari pandemi menjadi endemi tidak dapat diputuskan oleh suatu negara dan harus dikoordinasikan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Ini pandemi global, Indonesia tidak bisa mengambil keputusan sendiri mengenai ini sudah menjadi endemi," kata Menkes di Jakarta, Senin (13/6/2022).

Menkes menjelaskan bahwa terdapat beberapa pertimbangan dalam memutuskan transisi pandemi menuju endemi, salah satunya adalah kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Ia menyebut, pemerintah secara bertahap akan memindahkan tanggung jawab menjaga kesehatan ke masing-masing individu.

"Kalau itu sudah berhasil, masyarakat sudah paham, sudah teredukasi dengan baik, sudah memahami bagaimana protokol kesehatan yanng seharusnya, sudah memiliki judgement kapan mesti melakukan apa, itu adalah ciri-ciri penyakit yang sudah menjadi endemi," tuturnya.

Selain itu, kata Menkes, ada tiga faktor transmisi komunitas yang harus dipenuhi sebelum memutuskan transisi pandemi menuju endemi.

Rekomendasi kategori level 1 Covid-19 menurut World Health Organization (WHO) adalah pertama bila jumlah kasus positif kurang dari 20 orang per 100.000 penduduk per minggu. Kedua, rawat inap di di rumah sakit kurang dari 5 orang per 100.000 penduduk per minggu. Ketiga, angka kematian kurang dari 1 orang per 100.000 penduduk di daerah tersebut.

Budi menyebut, hal tersebut harus dipenuhi selama tiga bulan berturut-turut.

Bukan hanya itu. Transisi dari pandemi menuju endemi terjadi apabila capaian vaksinasi dosis kedua sudah mencapai 70% dan angka laju penularan atau angka reproduksi efektif Covid-19 (Rt) harus di bawah 1.

"Jadi kalau bisa sudah level 1, tiga bulan berturut-turut, reproduction rate-nya di bawah 1, tiga bulan berturut-turut, dan vaksinasinya di atas 70%, minimal 70% dosis kedua. Itu menjadi pertimbangan kami dari sektor kesehatan merasa cukup yakin bahwa sudah bisa dibuat keputusan transisi dari pandemi menjadi endemi," kata Menkes.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia terkini? 

Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Mohammad Syahril transmisi komunitas Indonesia berada pada level 1.

Kasus konfirmasi positif 0,68/100.000 penduduk, rawat inap rumah sakit 0,1/100.000 penduduk, dan angka kematian 0,02/100.000 penduduk.

"Bila dilihat dari data di atas dimungkinkan Rt dibawah 1. Hal itu berdasarkan data Our World in Data, Reproduction Rate Number Indonesia per 19 Mei 2022 sebesar 0,78," kata Syahril.

Angka menggembirakan itu tidak dibarengi oleh indikator berikutnya, yakni vaksinasi.

Menurut Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, standar endemi dari WHO adalah cakupan vaksinasi Covid-19 sebanyak 70% dari seluruh populasi penduduk.

"Sampai saat ini kurang lebih baru 168 juta masyarakat yang mendapatkan secara lengkap atau sekitar 62% dari total populasi," ujar Nadia, Senin (13/6/2022).

Meski demikian, Nadia yakin akhir Juni 2022 target 70% populasi terpenuhi. 

Angka-angka indikator tersebut memberikan keoptimisan bahwa Indonesia segera keluar dari pandemi. Syaratnya adalah, tentu saja, tidak ada lagi lonjakan kasus Covid-19. Nah, saat ini sedang berkembang subvarian

Menkes Budi Gunadi meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir adanya subvarian baru Omicron karena kenaikan masih relatif normal yakni dari 200 kasus menjadi 500 kasus.

Bahkan dijelaskan subvarian baru Omicron atau BA.4 dan BA.5 bila mencapai puncak hanya sepertiga dari puncak varian Delta dan Omicron awal.

Hospitalisasi atau tingkat pasien yang dirawat juga sepertiga dibanding Delta dan Omicron. Sedangkan kasus kematiannya diperkirakan hanya sepersepuluh  dari Delta dan Omicron.

Namun pada kesempatan yang sama Budi Gunadi juga menyebut subvarian baru Omicron ini akan mencapai puncak sebulan setelah temuan pertama kasusnya. "Jadi seharusnya pada minggu kedua atau ketiga Juli kita akan lihat puncak dari BA.4 dan BA.5 ini," kata Budi Gunadi.

Puncak subvarian baru ini tidak akan tinggi apabila kita sudah siap terutama dalam hal vaksinasi masyarakat yang sudah divaksinasi bahkan sampai pada vaksinasi booster.

Indonesia punya peluangn sebagai negara pertama yang selama 12 bulan berturut-turut tidak mengalami lonjakan kasus Covid-19 apabila puncak BA.4 dan BA.5 tidak sampai menimbulkan lonjakan berarti. Dengan demikian proses transisi menuju endemi mulus. 



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN
Share to WhatsApp


TAG POPULER

# Pertalite


# Kepala RS Tewas Ditikam


# Timnas U-19


# Presidential Threshold


# Covid-19 di Jepang


B1 Livestream

TERKINI
Pak RT Ungkap Detik-detik Napoleon Bonaparte Lumuri M Kace

Pak RT Ungkap Detik-detik Napoleon Bonaparte Lumuri M Kace

NEWS | 2 jam yang lalu









BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings