Dapur Gladies, Si Brownies "Waiting List"

Dapur Gladies, Si Brownies
Firda Puri Agustine Senin, 1 September 2014 | 15:57 WIB

Jakarta - Sepotong kue brownies tersaji di atas meja kayu jati. Di sampingnya, kopi hitam pahit jadi teman paling asyik.

Ria (24) menggigit perlahan lapisan cokelat yang tampak begitu padat. Mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri itu memang pecinta jenis kue ini.

"Khusus brownies ini beda banget. Dapetin-nya susah, mesti ikutan waiting list (daftar tunggu) dulu," katanya kepada Beritasatu.com, Sabtu (30/8).

Beli brownies saja harus ikut waiting list? Ah, yang benar saja. Tapi, faktanya demikian. Ria bahkan rela menunggu hingga enam bulan hanya untuk satu kotak kue brownies.

"Rasanya itu enak banget, makanya di-belain menunggu. Enggak cuma aku kok, banyak juga yang pada nungguin," ujarnya.

Sekilas, brownies ini tampak sama dengan yang lain. Tapi, ketika dicoba, Anda bisa menemukan potongan wafer Kitkat berpadu selai Nutella cokelat. Pada varian lain, ada pula biskuit merek Oreo.

Bahkan, yang terbaru diberi nama Havermout Series, brownies dicampur oatmeal (sereal). Cukup menarik, bukan?.

Adalah Poetry Gladies Karina Dewi (26) yang kreatif mengolah bahan-bahan tersebut. Tak heran jika dalam sepuluh bulan, Dapur Gladies, toko brownies online miliknya, kebanjiran pesanan.

"Sehari bisa masuk 1.300 e-mail," kata wanita yang akrab disapa Gladies ini.

Lantaran yang membantunya hanya dua orang, maka Gladies hanya sanggup melayani 20-25 pembeli dalam sehari. Satu pembeli dibatasi maksimal tiga kotak, sehingga total brownies yang dibuat mencapai 75 kotak. Praktis, yang mau beli harus rela masuk daftar tunggu.

"Kalau enggak dibatasi begitu, daftar waiting list-nya bisa lebih panjang," ujarnya.

Walaupun masuk daftar tunggu, pembeli diharuskan melunasi pembayaran di muka. Bukan bayar setengah, atau istilahnya down payment (DP). Hal ini untuk memudahkan dalam mengelola pesanan.

"Pasti kami kasih tahu dulu sebelumnya, bahwa ini waiting list kira-kira sampai sekian waktu. Terserah yang belinya, mau menunggu atau enggak. Kalau mau, sistem pembayarannya full di muka," katanya.

Cerita waiting list ini bermula saat Gladies gencar mengirimkan satu kotak brownies secara gratis ke satu artis sebagai endorsement (dukungan promosi). Testimoni si artis kemudian diunggah ke Twitter milik si artis tersebut untuk menarik jumlah pelanggan.

Tak disangka, cara ini sangat efektif. Tadinya, pesanan hanya delapan kotak seminggu. Lama-lama, bertambah hingga lebih dari 1.000 kotak dalam sebulan.

"Selain kirim ke artis, aku juga sering bawa tester brownies tiap kali ketemu sama teman. Alhamdulillah, banyak yang suka," ujarnya.

Kebanjiran pesanan membuat Gladies senang sekaligus sedih. Senang karena omset-nya terus bertambah. Tapi, di sisi lain, ia harus ekstra sabar menghadapi pelanggan yang cerewet.

"Kadang ada sedihnya juga kalau yang pesan itu enggak sabaran, selalu tanya kapan pesanannya datang. Aku-nya mau marah atau kesel juga enggak bisa. Jadi, mesti banyak sabar," katanya.

Untuk mengantisipasi daftar tunggu yang panjang, kini ia membuat strategi baru. Pesanan tidak lagi dibuka setiap saat, atau sebulan penuh, melainkan hanya satu jam. Itu pun untuk produksi sekitar satu bulan.

Sistemnya begini. Calon pembeli wajib follow Twitter dan memantau timeline @DapurGladies. Di situ, Gladies akan memberikan informasi terbaru mengenai menu dan jadwal open order (buka pesanan). Kalau sudah dibuka, silahkan pesan melalui e-mail atau akses sosial media (Line, Whatsapp, atau Blackberry Messenger) yang sudah ditentukan, dan tunggu konfirmasi selanjutnya.

"Minggu lalu baru open order lagi, tapi dibatasi satu jam. Lewat dari itu email-nya enggak akan kami proses," ujarnya.

Selain berjualan secara online, brownies Gladies bisa dibeli langsung di rumahnya yang terletak di Bandung, Jawa Barat. Tapi, tidak setiap saat. Lagi-lagi, dia akan memberi informasinya di Twitter kapan akan 'buka garasi'.

"Insya Allah, ke depan ingin sekali punya toko. Tapi, sekarang masih belum siap. Doakan bisa segera (buka toko) ya," katanya.

Satu lagi yang membuat brownies ini laris manis, yakni harganya yang terjangkau. Brownies termurah dijual seharga Rp 55.000 (original), sedangkan yang termahal Rp 100.000 (Kinder Bueno Nutella) per kotak. Tertarik mencoba? Siap-siap masuk waiting list.