Gelembung Properti Diperkirakan Belum Terjadi di 2014

Gelembung Properti Diperkirakan Belum Terjadi di 2014
Ilustrasi perkembangan properti. ( Foto: Antara )
Mahesa Bismo Senin, 10 Maret 2014 | 20:34 WIB

Jakarta - Kian meningkatnya harga properti di Indonesia dikhawatirkan banyak pihak bisa memicu terjadinya fenomena gelembung properti. Namun, diprediksi Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land, fenomena tersebut belum akan terjadi di tahun ini.

"Untuk menuju keadaan gelembung properti harus ada beberapa kejadian yang harus dialami oleh dunia properti," jelas Ishak kepada wartawan pada Senin (10/3).

Gelembung properti ditandai dengan melesatnya harga perumahan akibat peningkatan permintaan dan spekulasi. Kenaikan harga ini diibaratkan gelembung udara yang terus membesar. Pada titik tertentu, permintaan akan tersendat atau terjadi kelebihan pasokan rumah sehingga harga mulai menurun. Inilah yang kemudian diartikan gelembung mulai menyusut. Situasi ini bisa terjadi dalam skala lokal maupun global, dan pecahnya gelembung properti ini mampu menimbulkan resesi ekonomi.

Untuk mencapai peristiwa semacam ini, Ishak menilai, industri properti perlu mengalami enam hal terlebih dahulu. Pertama, muncul lebih banyaknya investor yang memulai bisnis properti dengan dana pinjaman daripada yang tidak. Keadaan ini akan menyebabkan akan terciptanya investor-investor yang tidak memiliki pondasi yang kokoh ketika memulai bisnis ini.

Kedua, tidak tercapainya target pengembalian modal yang ingin dicapai oleh investor dalam jangka waktu yang telah ia tentukan sehingga terjadi kepanikan untuk menghasilkan uang. Ketiga, fundamental yang dimiliki investor tersebut tidak kuat sehingga mudah goyah menghadapi situasi-situasi yang tidak terduga.

Keempat, adanya pemaksaan dalam penjualan aset-aset properti secara tidak wajar dikarenakan target investasi yang tidak tercapai. Kelima, nilai NPL yang tinggi. Keenam adalah fundamental ekonomi buruk yang dimiliki oleh suatu negara.

"Jika melihat pada semua faktor tersebut, maka Indonesia bukan merupakan negara yang dapat terancam oleh fenomena gelembung properti," tutur Ishak kepada wartawan.

Ishak menjelaskan, sesungguhnya Indonesia memiliki mayoritas investor yang sebelumnya sudah memiliki fundamental yang kuat, sehingga kemungkinan gelembung properti sulit terjadi. Selain itu, saat ini Indonesia juga sudah memiliki fundamental ekonomi yang jelas. Hal itu terbukti dari keberanian para pelaku bisnis properti di Indonesia untuk terus melakukan pengembangan bisnis properti yang gencar hingga saat ini.