Jokowi Diminta Bangkitkan Kembali Industri Properti

 Jokowi Diminta Bangkitkan Kembali Industri Properti
Imam Muzakir / FER Selasa, 16 September 2014 | 17:10 WIB

Jakarta - Pengembang berharap Pemerintahan Jokowi-JK membangkitkan kembali industri properti nasional. Kebangkitan tersebut sangat penting karena sepanjang 2014 properti mengalami perlambatan.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Eddy Hussy mengatakan, pasar properti sampai akhir tahun masih dibayangi perlambatan. Hal tersebut dipicu oleh berbagai regulasi yang menghambat pergerakan pasar properti. Situasi yang belum jelas juga turut mempengaruhi perlambatan tersebut.

"Banyak pengembang yang masih menunggu kebijakan baru dari pemerintahan Joko Widodo, terutama soal regulasi yang masih menghambat pasar properti,” kata Eddy kepada Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Eddy, perlambatan terjadi di hampir semua sektor, dimana dampaknya paling terasa di sektor hunian. Sektor ini terhambat oleh kebijakan pengetatan Loan to Value (LTV), KPR Inden, dan penghentian subsidi bagi rumah tapak. Pasca penerapan regulasi tersebut banyak pengembang yang menunda proyek barunya.

"Kami berharap pemerintahan Jokowi akan lebih baik lagi, sehingga sektor properti kembali bangkit dan menjadi salah satu sektor pertumbuhan ekonomi. Perlambatan sekarang ini bisa saja sampai 30 persen, karena memang kondisinya sangat berbeda pada dua tahun lalu," kata dia.

Kalangan pengamat dan juga praktisi properti menilai, terpilihnya Jokowi sebagai presiden baru memberikan harapan bagi sektor properti, setelah sepanjang 2014 melamban.

"Dua tahun lalu, Indonesia masih gagah, bahkan pertumbuhan bisnis properti pada tahun tersebut menjadi salah satu yang terbaik di dunia, baik dari sisi harga maupun jumlah unitnya. Sedangkan pada 2014 kembali melambat karena berbagai faktor," kata Direktur dan Member Broker Century 21 Pertiwi, Ali Hanafia Lijaya.

Ali Hanafia mengatakan, pertumbuhan bisnis properti dalam kurun 2012-2013 cukup drastis dan terbilang terbaik. Bahkan, kenaikan harga properti mencapai 200-300 persen.

"Harganya naik gila-gilaan, dan unit terjual juga sangat tinggi. Umumnya harga itu paralel dengan permintaan (demand)," kata dia.

Sumber: Investor Daily