Optimisme Industri Properti

Optimisme Industri Properti
Pembangunan properti ( Foto: Investor Daily / David Gitaroza )
/ FER Kamis, 4 Desember 2014 | 07:50 WIB

Jakarta - Industri properti nasional akan kembali menggeliat pada tahun depan. Setelah tahun ini mengalami pelambatan akibat situasi politik dan sejumlah faktor, industri properti nasional pada tahun depan diprediksi mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Prospek industri properti Indonesia akan lebih cerah tahun depan.

Pelemahan yang terjadi pada tahun ini disebabkan tahun politik sehingga para pengembang properti mengambil sikap wait and see. Pertimbangan politik juga menyebabkan investor menahan diri untuk merealisasikan investasinya di sektor properti tahun ini. Tapi, setelah tahun politik berlalu dan pemerintahan baru terbentuk, optimisme pelaku usaha properti pun makin mengembang.

Bisnis properti tahun depan akan terangkat seiring pembangunan proyek infrastruktur oleh oleh Pemerintahan Jokowi-JK. Pemerintahan Jokowi-Jk telah memasang rencana pembangunan jalan tol sepanjang 1.000 kilometer (km), jalan baru 2.650 km, dan pemeliharaan jalan 46.770 km. Tidak hanya itu, pemerintah berencana membangun 15 bandara baru, 24 pelabuhan baru, jalur kereta api (KA) sepanjang 3.258 km di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pemerintah juga akan membangun bus rapid transit (BRT) di 29 kota dan membangun angkutan massal cepat di kawasan perkotaan, yaitu di enam kota metropolitan dan 17 kota besar.

Pembangunan infrastruktur transportasi tersebut, termasuk pembangunan 47 bendungan, pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW), dan 15 kawasan industri (13 di luar Jawa dan 2 di Jawa), tentunya akan berdampak langsung terhadap bisnis properti. Seperti yang sudah terjadi, setiap pembangunan jalan tol baru akan diikuti menjamurnya kawasan permukiman dan pusat-pusat bisnis di sepanjang jalan tol tersebut.

Begitu pula kawasan industri. Pembangunan kawasan industri biasanya akan satu paket dengan kawasan permukiman untuk mendekatkan jarak tempuh karyawan dengan tempat kerjanya. Wilayah Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat pertumbuhan bisnis properti nasional juga akan mendapat berkah dari sejumlah proyek infrastruktur yang terus berkembang seperti pembangunan mass rapid transit (MRT), jalan tol, dan penambahan rute busway.

Semua itu tentunya akan memberikan efek positif bagi bisnis properti. Kemudahan akses akan mendorong minat pengembang untuk membangun kawasan permukiman di sisi ruas jalan tol. Ketersediaan akses juga akan memicu pembelian unit-unit properti sehingga akan mendongkrak harga properti.

Pada tahun depan, pengembang bakal menggenjot pembangunan dan penjualan unit-unit properti. Prospek cerah industri properti tahun depan akan tercermin dari kapitalisasi pasar yang diyakini masih bisa tumbuh sekitar 8 persen. Jika pada tahun 2014 nilai kapitalisasi pasar properti sekitar Rp 243 triliun, pada 2015 diprediksi naik menjadi sekitar Rp 260 triliun.

Investasi di sektor properti pun masih diminati oleh para investor Indonesia. Saat ini, sekitar 20,4% investor menempatkan investasinya di sektor properti. Daerah-daerah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Bali akan tetap menjadi incaran para investor untuk meningkatkan investasinya di sektor properti. Tidak hanya investor lokal,investasi properti tahun depan juga bakal diramaikan oleh investor asing,terutama yang berasal dari Singapura, Hong Kong, dan Jepang.

Pertumbuhan industri properti tahun depan juga akan dipicu oleh sejumlah langkah prioritas pemerintah di bidang perizinan. Pemerintah akan memangkas jalur birokrasi agar bisa mempercepat proses perizinan di sektor properti. Selama ini, terdapat empat titik perizinan, yakni Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di wilayah pemerintah pusat, kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB), kawasan ekonomi khusus, dan pemerintah daerah. Ke depan, masing-masing titik itu akan diringkas menjadi satu pintu, yakni hanya melalui BKPM. Pemangkasan ini akan memberi konsekuensi masingmasing titik perizinan akan menempatkan wakilnya di BKPM.

Meski ada optimisme prospek yang cerah, kita mengingatkan para pengembang agar siap menghadapi situasi apa pun yang akan terjadi pada tahun depan. Sebab, industri properti kerap kali memunculkan situasi seperti dua sisi mata uang, dan situasi tersebut diprediksi terjadi pada 2015. Di satu sisi akan terjadi kejenuhan, namun di sisi lain justru terjadi situasi sebaliknya. Contohnya di Jakarta, kejenuhan terjadi untuk sektor pusat perdagangan (trade center) dan apartemen mewah. Sedangkan potensi akan muncul di sektor apartemen menengah dan perkantoran di luar kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD).

Industri properti juga akan dihadapkan pada persaingan yang makin sengit tahun depan. Persaingan itu dimulai ketika pengembang mencari lahan untuk pembangunan properti, baik permukiman dan perkantoran. Terbatasnya lahan di kota-kota besar menjadi faktor penyebab melonjaknya harga tanah. Persaingan juga akan makin gencar ketika para pengembang memasarkan produk propertinya. Kita mengingatkan para pengembang agar siap menyiasati persaingan yang ada tanpa mengorbankan industri properti.

Sumber: Investor Daily