Penetrasi Smartphone di Indonesia Masih Rendah

Penetrasi Smartphone di Indonesia Masih Rendah
Ilustrasi Smartphone LG G3 Mendapat Update Android Lollipop ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 7 Februari 2019 | 21:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hanya empat dari 10 orang penduduk di Indonesia yang menggunakan ponsel cerdas atau smartphone. Hal itu berdasarkan laporan survei yang dilakukan lembaga Pew Research Center, Kamis (7/2). Kondisi ini menandai tingkat kepemilikan smartphone yang masih rendah, di antara negara-negara berkembang lainnya.

Korea Selatan (Korsel) disebutkan menduduki peringkat pertama untuk kategori negara maju terhadap kepemilikan smartphone di dunia. Sebanyak 95 persen dari populasi penduduk di Korsel disebutkan menggunakan perangkat smartphone, atau menjadi yang tertinggi di antara 27 negara yang disurvei.

Israel berada di posisi kedua dengan kepemilikan smartphone sebesar 88 persen, diikuti oleh Belanda 87 persen, dan Swedia diperingkat ketiga dengan 86 persen.

Sementara, untuk negara-negara berkembang, tingkat kepemilikan ponsel cerdas disebutkan sangat bervariasi secara substansial. Afrika Selatan (Afsel) dan Brasil disebutkan memiliki tingkat penetrasi smartphone tertinggi dengan 60 persen, diikuti oleh Filipina di peringkat ketiga dengan 55 persen.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-6 dengan 42 persen dari populasi penduduk memiliki perangkat smartphone, 28 persen memiliki ponsel namun bukan smartphone, dan 29 persen lainnya tidak memiliki keduanya.

India disebutkan memiliki tingkat kepemilikan ponsel cerdas terendah di antara negara-negara berkembang yang disurvei, dimana hanya 24 persen penduduk yang memiliki smartphone.

Dominasi Generasi Muda

Laporan yang dirilis Pew Research Center juga menyatakan, salah satu kesamaan dari kepemilikan smartphone di negara maju dan negara berkembang adalah, peran generasi muda yang semakin dominan dalam mendorong penetrasi.

Orang-orang muda yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dan memiliki tingkat pendapatan lebih tinggi, dinilai lebih cenderung terhubung secara digital.

Kalangan usia muda di setiap negara yang disurvei, jauh lebih mungkin memiliki perangkat smartphone, mengakses internet, dan menggunakan media sosial (Medsos).

Pihak Pew Research Center sendiri mengatakan, survei yang dilakukan pihaknya mengelompokkan negara menjadi dua kelompok, maju dan berkembang, berdasarkan berbagai sumber, termasuk klasifikasi nilai pendapatan dari Bank Dunia dan ukuran ekonomi negara yang diukur dengan produk domestik bruto (PDB).



Sumber: BeritaSatu.com