Kaderisasi, Merdi Sihombing Bukukan Sedekade Berkarya dengan Tenun

Kaderisasi, Merdi Sihombing Bukukan Sedekade Berkarya dengan Tenun
Nadia Felicia Jumat, 15 Agustus 2014 | 14:20 WIB

Jakarta – Menandai sepuluh tahun berkarya di bidang fashion sembari mendukung pembuat kain di daerah, desainer busana Merdi Sihombing memutuskan meluncurkan sebuah buku. Mengabadikan karyanya dalam sebuah buku bukan sekadar mencari keuntungan atau mencari nama, namun bermisi sebagai kaderisasi.

“Buku ini menandai 10 tahun saya berkarya. Mumpung masih kuat, saya mau buku ini sebagai bagian dari kaderisasi. Harapannya, buku ini bisa menjadi pijakan untuk generasi masa mendatang mengenal kekayaan Indonesia,” kata Merdi Sihombing saat peluncuran bukunya di Jakarta, Selasa (12/8).

Dalam buku bertajuk Perjalanan Tenun itu, Merdi menorehkan perjalanan dan pengetahuannya seputar tenun di tempat-tempat ia pernah berkarya. Di daerah Sumatera Utara untuk kain ulos, di Banten untuk kain tenun songket Baduy, Mentawai dengan pakaian dari bahan daun pisang, Jambi dengan tenun songket Bungo, pewarnaan alam dari teripang di Alor, dan sebagainya.

Buku ini selain menceritakan perjalanan karya Merdi, juga menjadi catatan visual perkembangan desain busananya. Di dalamnya banyak foto-foto para model yang mengenakan kreasinya. Pemotretan pun dilakukan di daerah-daerah tempat pengembangan kain. Dalam desainnya, Merdi memadukan kain-kain kreasi anak bangsa dengan desain busana yang kekinian. Karya-karyanya ini diapresiasi banyak pihak, termasuk dari pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Saya percaya, garda terdepan untuk menjaga budaya Indonesia adalah dengan ekonomi kreatif. Karena dari sanalah akan muncul nilai tambah, demikian juga pendapatan para perajin yang kemudian menjadi berkelanjutan. Orang-orang kreatif seperti Merdi Sihombing, yang meriset, mendesain, dan pengetahuan budaya dalam aspek fashion-nya bisa mengangkat kearifan lokal. Dari sana, budaya bisa hidup seribu tahun lagi. Akan menjadi berkelanjutan, karena pakai bahan natural, karena mengembangkan budaya, karena mendukung tatanan sosial, dan ekonomi sebab mereka bisa hidup dari karyanya,” kata Menparekraf Mari Elka Pangestu, di saat bersamaan.

Ditambahkan Merdi, budaya tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga dikembangkan, itu adalah tanggung jawab generasi muda. Karena itu, lewat buku ini, ia ingin berbagi edukasi kepada para penyuka maupun pengguna kain-kain tradisional. “Kain tenun harus diperlakukan harus sebagaimana mestinya. Tidak boleh menggunting kain tenun yang sudah jadi. Kalau mau dibuat busana kekinian, buat pola dan desain pembuatan kain tenunannya dari awal. Ini yang belum disadari banyak orang. Euforia harus dibarengi edukasi,” ucapnya.

Di buku ini, Merdi menekankan, selain untuk sustainable for the future, fair trade, harus dikenal pula mengenai ethical fashion, yakni penghargaan terhadap kainnya. Sebab, buku ini didedikasikan Merdi untuk para penenun dan pekerja seni di bidang fashion yang dibinanya. Di buku ini Merdi juga bercerita tentang proses pewarnaan alam pada kain-kain yang ia gunakan pada desainnya. "Mimpi saya, produk tenunan dengan pewarnaan alam dapat dihidupkan kembali, melalui para penenun yang telah terdidik dan sejahtera," kata Merdi.

Mengenai buku ini, dirangkum oleh Menparekraf, “Mudah-mudahan buku ini bisa menambah pengetahuan kita tentang tenun, pewarnaan alam, dan bagaimana kita bisa menggunakan fashion untuk kebaikan budaya. So we will be proud being Indonesian and 100% love Indonesia.

Buku ini diterbitkan oleh R&W Publishing. Dipasarkan dengan harga Rp 550.000, buku ini bisa ditemukan di toko-toko buku terkemuka, juga Alun-alun Grand Indonesia. Tahun depan, buku ini akan dibuat dalam versi Bahasa Inggris dan diikutkan dalam beberapa festival internasional.