Logo BeritaSatu

Anak yang Diajarkan Bahasa Ibu Lebih Cepat Paham Konsep

Rabu, 24 September 2014 | 18:47 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / B1

Jakarta - Anak yang sejak kecil diajarkan bahasa ibu akan lebih cepat memahami hal-hal konseptual dibandingkan anak yang sejak kecil dilatih berbicara bahasa asing. Di dalam bahasa ibu, khususnya bahasa daerah, juga terkandung pembelajaran tentang norma-norma, nilai, dan budi pekerti.

Hal itu terungkap dalam konferensi pers saat seminar internasional bertema Penggunaan Bahasa Daerah/Ibu untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Sekolah Dasar di Jakarta, Rabu (24/9). Seminar itu diadakan oleh Southeast Asian Minister of Education Organization Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (SEAMEO QITEP) dan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP).

Advertisement

"Anak yang diajarkan beberapa bahasa, kecenderungan untuk dapat berbicaranya melambat. Sebab, saat berbicara, dia harus tahu hubungan konsep dengan kata itu. Misal, ketika bicara kursi, konsepnya tempat duduk. Jadi, penanaman konsep akan lambat karena anak bingung dengan banyak bahasa," kata Direktur SEAMEO QITEP in Language, Felicia Nuradi Utorodewo.

Felicia mengatakan, pembelajaran bahasa harus didukung oleh lingkungan. Oleh karena itu, belajar dengan bahasa ibu adalah yang terbaik, karena bahasa ibu dipakai di dalam lingkungan anak. Menurutnya, dalam konteks kota besar, bahasa ibu adalah bahasa Indonesia. Sedangkan di daerah atau kawasan terpencil, bahasa ibu adalah bahasa daerah.

Dia menambahkan pada dasarnya seorang anak di usia dini (batita dan balita) bisa mempelajari sampai 16 bahasa. Namun, saat berusia 5-6 tahun, anak akan memilih bahasa yang penting, sedangkan bahasa lainnya "dikubur".

"Kalau saat kelas I SD, mereka (anak) banyak tidak mengerti apa yang diajarkan guru maka mereka tidak akan bisa berhitung, membaca atau sains. Tetapi kalau memakai bahasa sehari-hari pasti mereka berhasil," kata Felicia.

Felicia mengatakan SEAMEO QITEP memiliki program Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (Mother Tongue Based Multilingual Education) di beberapa Filipina, Thailand, dan Kamboja. Di ketiga negara itu, bahasa ibu dipakai sebagai bahasa pengantar di tingkat dasar yaitu untuk siswa kelas I-III SD, kemudian siswa kelas IV-VI belajar memakai bahasa nasional.

"Ada kebutuhan yang sangat perlu dipertimbangkan pemerintah Indonesia, yaitu pengembangan program pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu bagi siswa SD terutama di pelosok Indonesia," ujarnya.

Felicia menambahkan seiring bertambahnya pengetahuan anak maka mereka akan merasakan kebutuhan yang lebih untuk belajar hal lain termasuk bahasa asing. Menurutnya, untuk anak di kota besar, bahasa Indonesia sebaiknya dipakai sampai kelas III SD. Lalu, anak bisa diajarkan bahasa asing mulai kelas IV SD.

Sedangkan, anak di daerah atau pelosok sebaiknya belajar dengan memakai bahasa daerah sampai kelas III SD, lalu sejak kelas IV-VI SD mereka bisa diperkenalkan dengan bahasa Indonesia. Kemudian, pengenalan kepada bahasa asing bisa dilakukan saat mulai duduk di bangku SMP.

"Saat anak sudah siap. Mereka akan merasakan kebutuhan lebih akan pengetahuan. Mereka eager untuk tahu bahasa Indonesia sehingga belajar Bahasa Indonesia bukan lagi paksaan sama seperti belajar bahasa Inggris," kata Felicia.

Sementara itu, pakar pendidikan dan perkembangan anak Dr. Sheldon Shaeffer mengatakan sangat penting memahami fase belajar sesuai perkembangan anak dalam berbahasa. Saat ini, ujarnya, masih banyak ditemui anak-anak di pelosok Nusantara yang menghadapi berbagai kendala dalam memahami pelajaran karena masalah bahasa. Akibatnya, prestasi mereka di sekolah tidak optimal.

"Jika secara umum mereka terpapar bahasa ibu, maka bahasa tersebut hendaknya digunakan pula dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada mereka," kata Sheldon yang juga mantan Direktur UNESCO Bangkok, Thailand.

Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Manajer Program ACDP, Bambang Indriyanto, mengatakan, dalam konteks berbahasa, anak jangan sampai termakan ambisi orangtua, namun biarkan anak tetap menjadi anak. Menurutnya, pembelajaran bahasa asing sejak usia dini lebih berdasarkan argumentasi ekonomis atau persaingan. Sedangkan, pembelajaran bahasa ibu lebih berdasarkan argumentasi ideologis dan sosiologis. Belajar bahasa asing dan bahasa ibu harus seimbang, tambah Bambang.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Brigadir RR


# Bharada E


# Jokowi


# Brigadir J


# MU


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Maskapai Rusia Mulai Alami Kesulitan Suku Cadang Pesawat

Maskapai Rusia Mulai Alami Kesulitan Suku Cadang Pesawat

NEWS | 2 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings