Tenun Rang-rang Jadi Inovasi Fashion Lebaran

Tenun Rang-rang Jadi Inovasi Fashion Lebaran
Perpaduan kain tenun Rang-rang dan Taffeta Kutubaru saat ini banyak diminati pengunjung Tanah Abang Blok B. ( Foto: Beritasatu.com/Chiquita Olivia Riama Hutauruk )
Chiquita Olivia Riama Hutauruk Selasa, 30 Juni 2015 | 15:01 WIB

Jakarta - Kain-kain tradisional Indonesia kini sudah diminati di jajaran mode masyarakat, khususnya bagi kaum hawa. Hal ini dinyatakan beberapa penjual baju lebaran di Pusat Grosir Tanah Abang, Selasa (30/6). Kini, kain tradisional seperti tenun rang-rang, banyak dijadikan rok untuk perpaduan baju lebaran.

"Sebenarnya saya belum bisa memastikan apakah saat ini trennya kain tenun rang-rang. Tapi memang banyak juga toko yang menjual kain rang-rang selama Ramadan ini," jelas salah satu pemilik toko baju lebaran di Blok B Tanah Abang, Nur (33).

Menurut keterangannya, baju lebaran saat ini semakin unik dan beragam. Masyarakat bisa memilih jenis baju apa pun, asal sopan dan tertutup. "Untuk lebaran sekarang-sekarang ini, penjualan baju lebaran biasa dan gamis untuk perempuan ya setara. Sebagian ada yang masih suka gamis, tapi sebagian sudah terikut zaman," jelas Nur.

Penjual lain, Sari (42), menyatakan bahwa momen lebaran ini bisa dijadikan pula sebagai ajang pelestarian kain tradisional Indonesia. "Tenun Rang-rang itu kan dari Bali. Selain bisa dipakai untuk lebaran, kalau pakai kain asli Indonesia rasanya akan lebih bangga dan mewah. Setelah lebaran pun kita bisa menggunakan lain tenun Rang-rang ini untuk ke acara undangan, tidak hanya lebaran sekali saja," tuturnya.

Jelang lebaran kali ini, menurut penjelasan Nur, pasangan rok tenun Rang-rang yang paling banyak diminati adalah jenis taffeta kutubaru. "Taffeta itu netral. Kita bisa pakai kain apapun untuk bawahannya. Selain motif tenun Rang-rang, kita juga bisa pakai kain khas Jakarta, misalnya," kata Nur.

Menurutnya, jenis Taffeta Kutubaru ini sudah mengalahkan model Kaftan yang paling banyak dikenal masyarakat.

Untuk atasan Taffeta Kutubaru dikenakan harga grosir sebesar Rp 110.000. Sedangkan, rok kain tenun Rang-rang Bali dijual seharga Rp 150.000. "Biasanya,kalau sudah tengah Ramadan seperti ini, pembeli lebih banyak buat sendiri, bukan buat jual lagi. Biasanya Tanah Abang ramai itu seminggu sebelum puasa dan seminggu setelah puasa saja," jelas Nur.

Menurut Hasanah (35), salah satu peminat kain tenun rang-rang, saat ini baju lebaran memang beragam dan mengikuti perkembangan trend. "Saya ke sini beli kain Rang-rang Bali karena memang lagi tren. Jadi, baju lebaran bisa lebih beragam. Tapi saya tetap beli gamis juga yang lebih syar'i," katanya.

Sementara itu, menurut keterangan Nur dan Sari, Tanah Abang di bulan Ramadhan kali ini tergolong sepi dibanding tahun lalu. "Sepertinya karena dibarengi juga dengan bayar uang masuk sekolah. Jadi yang beli jauh turun dibanding tahun lalu. Tapi semoga baju lebaran yang unik seperti ini bisa tetap banyak yang cari," jelas Sari. 

Sumber: Suara Pembaruan