Quick Chicken Pecahkan Rekor Muri Pembukaan 50 Gerai Secara Serentak

Quick Chicken Pecahkan Rekor Muri Pembukaan 50 Gerai Secara Serentak
Pendiri PT Quick Chicken Indonesia, Bedi Zubaedi menerima Piagam Penghargaan MURI untuk Pembukaan 50 Gerai Secara Serentak dan Terbanyak dalam Satu Hari, di Jakarta, Jumat, (3/11). ( Foto: Istimewa / Mashud Toarik )
Mashud Toarik / MT Jumat, 3 November 2017 | 16:10 WIB

Jakarta – Perusahaan makanan cepat saji, PT Quick Chicken Indonesia berhasil memecahkan rekor dunia untuk pembukaan 50 gerai secara serentak dan terbanyak dalam satu hari. Rekor ini tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Pembukaan 50 gerai Quick Chicken tersebut berlangsung pada tanggal 26 Oktober 2017 di sejumlah daerah di Indonesia, yakni Serang, Tangerang, Jakarta, Depok, Karawang, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang dan Luwuk Sulawesi Selatan.

Piagam penghargaan rekor diserahkan oleh Senior Manager MURI Triyono yang mewakili Pendiri MURI Jaya Suprana kepada Founder & CEO Quick Chicken Indonesia Bedi Zubaedi di Hotel Fairmont Jakarta, Jumat, (3/11). "Rekor ini bukan nasional, tetapi rekor dunia," kata Triyono saat menyerahkan Piagam Penghargaan Rekor MURI tersebut.

Dengan beroperasinya 50 gerai baru tadi, saat ini Quick Chicken yang dikenal sebagai pionir brand fried chicken lokal Indonesia tersebut telah mengoperasikan sebanyak 230 gerai. Sekitar 80 gerai diantaranya berstatus franchise. Gerai-gerai tadi berbentuk restoran maupun kontainer.

Dalam kesempatan tersebut Founder & CEO Quick Chicken Indonesia, Bedi Zubaedi menyatakan komitmennya untuk terus melakukan pengembangan bisnis dengan tujuan menyajikan makanan bergizi, bercita rasa tinggi dengan harga yang terjangkau. “Kami memahami banyak masyarakat kita yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, karena itu dengan harga yang terjangkau dan bergizi Quick Chicken dapat menjadi solusi dan bisa dinikmati semua masyarakat Indonesia,” paparnya.

Untuk itu menurutnya hingga akhir 2017 pihaknya menargetkan memiliki sedikitnya 300 gerai dari saat ini sebanyak 230 gerai. Sementara sepanjang tahun 2018 Quick Chicken memasang target membuka 700 gerai. “Sehingga di penghujung 2018 kami sudah memiliki lebih dari 1.000 gerai,” ujar Bedi dengan semangat.

Bedi yakin target tersebut akan tercapai lantaran pihaknya telah menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak diantaranya Alfamidi, Pertamina, serta stasiun commuter line. “Kerjasama itu memugkinkan kami untuk membuka gerai Quick Chicken di lokasi milik perusahaan tersebut,” ujarnya.

Pendanaan Ekspansi

Ambisi Quick Chicken memperluas pasar tentu saja diiringi dengan kebutuhan dana yang tidak sedikit. Hingga akhir tahun 2018 perusahaan cepat saji yang diolah dari bahan baku lokal dan rempah-rempah lokal tersebut membutuhkan dana sedikitnya Rp 3 triliun.

Direktur Utama PT Quick Chicken Indonesia Anny Janti Gorat mengatakan, anggarakan belanja modal tersebut tidak hanya dialokasikan untuk pembukaan gerai baru tapi juga pembangunan training centre, pusat logistik serta pembangunan pabrik bumbu dan ayam olahan. “Fasilitas tadi dibutuhkan seiring rencana kami untuk menambah 1.000 gerai di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2018,” ujarnya.

Adapun sumber dananya menurut Anny pihaknya telah mendapat tawaran fasilitas kredit dari sejumlah bank. “Dimungkinkan juga kami membuka diri masuknya investor yang akan mengucurkan dana investasi tersebut,” ujarnya.

Ketertarikan bank dan investor untuk membantu mengembangkan bisnis Quick Chicken kata Anny tidak lain lantaran potensi bisnis serta keunggulan cita rasa produk Quick Chicken. Ini terlihat dari omzet tiap gerai yang bisa mencapai 90% dari target yang ditetapkan.

Menurutnya setiap gerai rata-rata mampu menghasilkan omzet sebesar Rp 80 juta hingga Rp 150 juta per bulan dengan jumlah pengunjung sebanyak 250 – 300 orang di hari biasa dan mencapai sekitar 500 orang per hari di akhir pekan.

Perkembangan bisnis yang pesat dari perusahaan yang dirintisnya 17 tahun lalu tersebut membuat Bedi bangga dan bersyukur. Sebab selain berkontribusi pada kebutuhan pangan masyarakat Indonesia Quick Chicken juga telah membuka lapangan kerja. “Selama 17 tahun, saya jatuh bangun membangun bisnis ini, sampai akhirnya bisa seperti sekarang,” ujarnya.

Bedi wajar bangga, sebab kala mendirikan Quick Chicken pada tahun 2000 silam merupakan pertaruhan besar. “Kala itu saya memutuskan berhenti bekerja sebagai managing director di perusahaan cepat saji internasional untuk mendirikan Quick Chicken. Padahal gaji saya kala itu lebih dari cukup memenuhi kebutahan keluarga,” ujarnya.

Dengan modal sebesar Rp 110 juta, Bedi membeli alat-alat dapur bekas, lalu nekad membuka gerai pertama Quick Chicken di Yogyakarta. Usahanya lalu berkembang menjadi tiga gerai di Kota Gudeg tersebut, hingga akhirnya berkembang seperti saat ini. “Awalnya saya harus keliling mengantar bumbu ke gerai-gerai. Pembuatan bumbu dibantu istri dan ibu saya sampai akhirnya mendapatkan resep yang pas dengan selera konsumen,” ujarnya.

Terkait dipilihnya Yogyakarta sebagai lokasi merintis usaha dilatari karena kota tersebut merupakan pusat kuliner murah nusantara. “Di benak saya kala itu, kalau sukses di Yogyakarta, maka akan mudah merambah daerah lain,” ujarnya.
Dikatakan Bedi, kondisinya berbeda kalau mulai di Jakarta dimana persaingan begitu ketat.

“Kalau saya buka tiga gerai di Jakarta tidak akan berarti banyak, berbeda kalau buka tiga gerai di daerah, orang akan cepat kenal karena wilayahnya kecil,” ujarnya. Meski begitu Bedi mengakui kue bisnis di Jakarta memang lebih besar, karena itu pada saatnya Dia berambisi untuk “menyerang” Ibu Kota.



Sumber: Majalah Investor