Pantai Lubang Buaya, Pesona Tersembunyi Ambon Manise

Pantai Lubang Buaya, Pesona Tersembunyi Ambon Manise
Pesona pantai Lubang Buaya, Morela, Maluku Tengah. ( Foto: Danik Eka Rahmaningtiyas )
Nurlis E Meuko / NEF Kamis, 4 Januari 2018 | 15:24 WIB

Langit terlihat terang, hanya ditingkahi awan yang memperindah Pantai Lubang Buaya, Morela, Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Cahaya petang menghujam ke laut jernih memantul ke rimbunnya pepohonan tepi pantai yang mempertajam keindahan alam yang permai di sini.

Kendati terik sungguh menyengat, tak menyurutkan langkah Danik Eka Rahmaningtiyas untuk mengayuh perahu mengarungi punggung laut yang jernih. Aktivis perempuan ini menghabiskan liburan tahun barunya di Pantai Lubang Buaya.

“Bagiku pantai dan keindahan alam di sini keren banget. Sempurna. Hanya perlu pengelolaan serta promosi yang lebih baik lagi,” kata Danik kepada BeritaSatu.com, Rabu (3/1) sore. Tak lupa ia mengirimkan sejumlah foto dan vlognya di Youtube melalui saluran WhatsApp.

Menuju ke lokasi pantai, Danik harus menempuh dua jam perjalanan darat dari Ambon. Di sepanjang jalan, ia melihat kondisi yang mesti ditingkatkan lagi untuk mengundang wisatawan lebih banyak.

Bahkan di satu titik, ia menemukan sebuah jembatan yang sudah tak terurus. “Infrastruktur ke lokasi kurang memadai, padahal jalan utama antardaerah. Kita akan melewati jembatan yang telah telantar belasan tahun. Jembatan kayu yang membahayakan kita,” kata Danik.

Begitu tiba di lokasi, Danik pun paham bahwa tempat wisata ini muncul karena kreativitas masyarakat setempat.

“Semuanya serbamurah. Tarif parkir mobil hanya lima ribu rupiah, setiap orang masuk dikenai biaya cuma dua ribu rupiah,” katanya.

Danik terpesona keindahan alam dan keramahan warga. Terlupakan penatnya melewati “rintangan” ketika menuju ke Pantai Lubang Buaya. Ia pun langsung tergoda untuk mengarungi laut jernih serta melihat ikan dan karang.

“Cukup menyewa perahu berdiesel seharga Rp 100.000. Air lautnya bersih dan tidak lengket di kulit,” katanya.

Puas bermain di laut, Danik menepi. Di tepi pantai dengan mudah ditemukan jajanan dan makanan. Ada beragam seafood masih segar yang langsung dimasak di gazebo-gazebo di atas laut.

“Camilan khas sini adalah sukun goreng dilumuri gula aren,” katanya.

Tentulah Danik memotret berbagai lokasi yang indah. Tak lupa ia juga selfie. Namun, masalahnya ketika mau meng-update media sosial (medsos), ia menemukan kendala. “Sinyal 4G dan 3G mendadak raib dari seluler,” katanya. Jadi ia mesti bersabar. Untuk meng-update status di medsos, dia harus balik ke kota.

Kendati memiliki nama Pantai Lubang Buaya, tak ada yang perlu ditakuti. Sebab itu hanya sebuah nama dari sahibul hikayat cerita dari mulut ke mulut di pantai itu. Konon, ada sebuah lubang tempat bermukim seekor buaya putih di sini. Lalu masyarakat menamakan tempat ini Pantai Lubang Buaya.

Pantai yang eksotik ini berada di kampung Moreno yang juga tak kalah eksotiknya. Masyarakat adat di sini memiliki tradisi pukul sapu. Dilaksanakan selama tujuh hari setelah Idul Fitri.

Jadi Danik tak bisa menikmati tradisi pukul sapu oleh para pria yang saling memukul sapu di ke tubuh lawan tariannya. Selain itu, ia juga tak bisa menemukan tempat penginapan. Jadi ia pun kembali ke Ambon melalui jalanan yang telah dilaluinya dengan melelahkan itu.

Namun Danik tetap senang telah menginjakkan kaki di Pantai Lubang Buaya, salah satu pesona tersembunyi Ambon Manise yang memang dikelilingi wisata pantai.



Sumber: BeritaSatu.com