Merawat NKRI Lewat Tradisi Umbul Donga Larung Sukerto

Merawat NKRI Lewat Tradisi Umbul Donga Larung Sukerto
Masyarakat Pati menggelar kegiatan Umbul Donga Larung Sukerto, di TPI Banyutowo, Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 12 Maret 2019 | 15:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Akankah kita biarkan Indonesia pusaka ini sirna? Para pendahulu bangsa, dengan bersusah payah berdamai dengan segala perbedaan dan menjaga keberagaman ini agar selanjutnya dapat hidup berdampingan nan harmonis.

Penyelenggara Kenduri Nusantara 2019-Umbul Donga Larung Sukerto, Ipong Ismunarto, mengatakan, kegiatan ini dibuat oleh warga Pati karena terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh warga Solo melalui 'Doa Anak Negeri' minggu lalu.

"Kami memiliki kegelisahan yang sama dengan saudara-saudara kami yang ada di Solo Raya," ujar Ipong Ismunarto, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Selasa (12/3/2019).

Tumpeng merah putih menjadi simbol semangat dan kecintaan pada NKRI.

Menurut Ipong, 'Doa Anak Negeri' di Solo telah membangunkan kesadaran mereka untuk memiliki tanggungjawab yang sama untuk menyelamatkan bangsa. "Maka kini, kami berkumpul dan bersatu, menyatakan tekad kami untuk terus Merawat NKRI dan Menjaga Indonesia. Memanjatkan doa memohon keselamatan negeri," tegas Ipong.

Ipong menambahkan, kegiatan Umbul Donga Larung Sukerto berlangsung pada hari Sabtu (9/3/2019), dengan mengambil lokasi di TPI Banyutowo, Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Pada dasarnya, ritual ini sudah berlangsung turun temurun,  dengan harapan warga Pati yang sebagiannya adalah nelayan menghaturkan syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan melalui hasil lautnya dan menjaganya hingga akhir hayat.

"Ini tak hanya sekedar tradisi, tapi sebagai perwujudan tekad kami sebagai masyarakat Pati yang tak ingin melihat Ibu Pertiwi ini bersusah hati," ujar Ipong.

Ipong menambahkan, Larung Sukerto adalah simbol untuk melarung atau membuang hal negatif atau tindak tanduk yang mengancam bangsa Indonesia. Tumpeng merah putih menjadi simbol semangat dan kecintaan pada NKRI.

"Kami berharap ini tak hanya berhenti di Solo dan Pati saja. Inilah saatnya kita menyatukan kembali kepingan-kepingan kerukunan. Merangkainya menjadi satu fragmen kehidupan yang menegaskan bahwa perbedaan itu adalah harmonisasi kehidupan. Demi masa depan anak cucu kita," tandas Ipong.

 



Sumber: BeritaSatu.com