Mengembalikan Kejayaan Jalur Rempah Indonesia

Mengembalikan Kejayaan Jalur Rempah Indonesia
Pengunjung menikmati ornamen-ornamen dalam pameran foto dan rempah "International Forum On Spice Route (IFSR) 2019", di Museum Nasional, Jakarta Selatan. Pameran berlangsung sejak 20-24 Maret 2019. ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 21 Maret 2019 | 12:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Yayasan Negeri Rempah bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyelenggarakan International Forum on Spice Route (IFSR), gratis untuk umum sejak 19-24 Maret 2019 di Museum Nasional Jakarta. Tema yang diangkat adalah Reviving the World’s Maritime Culture through the Common Heritage of Spice Route.

Tujuan dari pameran ini tak lain adalah menjadi sarana untuk mengingatkan dan mengembalikan kembali jalur rempah di Indonesia.

Staf Ahli Menteri Sosio-Antropologi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Tukul Rameyo Adi menjelaskan, kejayaan rempah-rempah Indonesia sudah tercatat di banyak manuskrip kuno sebagai bagian penting dalam pembentukan peradaban dunia.

Rempah-rempah yang dimiliki Indonesia juga menjadi salah satu komoditas penting dalam alur perdagangan. Apabila perjalanan rempah-rempah itu dipetakan, maka Indonesia akan menjadi pusat dari jalur rampah dunia.

"Dalam konteks yang lebih strategis, forum ini meletakkan Indonesia ke dalam percaturan perbincangan dunia, dimulai dari wilayah regional Asia Tenggara dengan perspektifnya yang unik dalam memaknai sejarah perdagangan maritim dari masa ke masa,” jelas Tukul dalam acara International Forum On Spice Route (IFSR) 2019 di Museum Nasional, Jakarta, baru-baru ini.

Lewat pameran ini Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman berusaha untuk membangkitkan kembali kejayaan rempah. Semisal, apabila negara Tiongkok memiliki jalur sutera, Indonesia juga memiliki jalur rempah. Rempah dibangkitkan sebagai komoditas, produk, jasa, dan pengalaman, termasuk juga dalam pariwisata.

"Jalur rempah pada akhirnya tak hanya menyentuh jalur komoditas, tetapi sebagai sarana silang pengetahuan dan budaya. Ini yang kita coba bangun, tak hanya jual beli, tapi juga berdialog dengan pasar-pasar non-mainstream, selaras dengan keinginan presiden” ungkapnya.

Pun demikian tidaklah mudah untuk membangun hal tersebut. Dirinya mengatakan perlu adanya inovasi dan koordinasi dari berbagai belah pihak, atau kerja budaya. Mengingat kini Indonesia bukanlah satu-satunya negara penghasil rempah-rempah.

Seperti Belanda, menurut Tukul, misalnya yang dulu berhasil mengambil bibit rempah dan berusaha menanam di mana-mana. Kemudian, Srilanka yang menghasilkan pala, Vietnam ataupun Malaysia yang menghasilkan lada.

"Rempah kita ini unik, rasanya berbeda. Keunikan ini yang harus kita angkat dan jadikan sebuah branding. Kalau hanya jual volume, kalah dengan Srilanka dan negara Asia lainnya. Harapannya, suatu saat Indonesia bisa memiliki kebijakan afirmatif perlindungan rempah,” pukasnya.

Secara umum, ekspor rempah-rempah Indonesia memang tidak bergairah. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pertumbuhan rata-rata tahunan untuk nilai ekspor rempah hanya 3,10% dari 2013-2017.

Pertumbuhan yang tidak seberapa ini bahkan kian mengkhawatirkan karena beberapa komoditas rempah utama Indonesia justru mengalami penurunan.



Sumber: Suara Pembaruan