Cantiknya Wastra Nusantara dalam Gaya Kekinian

Cantiknya Wastra Nusantara dalam Gaya Kekinian
Nila Baharuddin ( Foto: istimewa / istimewa )
Dina Fitri Anisa / IDS Sabtu, 23 Maret 2019 | 09:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dengan balutan wastra khas Indonesia, puluhan koleksi busana terbaru lima desainer Indonesia, yaitu Tenun Gaya by Wignyo, Batik Chic by Novita Yunus, Roemah Kebaya by Vielga x Miss Mysa, Jarit x D.R.U, dan juga Nila Baharudin, mewarnai pameran dan peragaan busana Adiwastra Nusantara, di JCC, Senayan, Kamis (21/3/2019).

Lima desainer ini berusaha untuk mengekplorasi berbagai macam kain Indonesia, mulai dari batik, songket, dan juga tenun. Di atas panggung yang sama, mereka memiliki misi yang sejalan yaitu, kembali memasyarakatkan wastra melalui busana yang dirancang dengan model kekinian. Ini bertujuan untuk menggairahkan pasar kain dan mensejahterahkan pengrajinnya.

Acara dimulai dengan tangan dingin pemilik brand Tenun Gaya by Wignyo, yang melihat potensi kain tenun dan songket di dunia mode. Mengusung tema “Modern Society”, ia berhasil memodifikasi songket Palembang ke dalam 10 rancangan busana bernapas urban elegan.

“Masih dengan napas Tenun Gaya, kali ini saya mengembangkan kain songket ke dalam koleksi yang lebih modern dan disesuaikan dengan gaya hidup kalangan urban. Kain diolah lebih lembut dan warnanya lebih cerah,” ucap pria bernama lengkap Wignyo Rahardi ini.

Kombinasi songket Palembang tersebut lantas ia tuangkan ke dalam potongan busana kontemporer dengan siluet ringan hingga berkonstruksi kuat. Di antaranya, padanan celana dengan cape, celana kulot dengan outer, tunik dan kain, blus hingga gaun panjang.

“Walaupun saya gunakan potongan yang modern, tapi saya masih menonjolkan sisi Tenun Gaya dengan unsur sarung atau selendang yang dikombinasikan dengan songket,” lanjutnya.

Permainan draperi atau efek tumpuk dan potongan asimetris ditampilkan untuk menciptakan kesan perempuan kekinian yang elegan dan menawan. Hal ini terlihat dari penggunaan corak berupa limas dan ruffles yang menjadi identitas kain songket Indonesia. Semuanya tersaji anggun dalam pemilihan warna terang seperti merah, biru dan hijau.

Uniknya, bahan songket tersebut juga dipadukan dengan kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dalam pemilihan warna sintetis yang senada dan kontras. Misalnya, songket hijau dipadankan dengan tenun warna kuning, atau songket warna hijau diselaraskan dengan tenun warna oranye.

“Ornamen yang ditonjolkan pada koleksi ini terbut dari bagian tumpal kain songket serta tali rumbai yang dinamis. Perpaduan corak, warna dan tekstur menjadi daya tarik koleksi ini,” jelasnya.

Tidak hanya Wignyo, Nila Baharudin juga merancang busana berbahan dasar songket Palembang. Lebih dari 10 busana bertemakan “Jewel of Sriwijaya Kingdom” telah melenggang di ajang mode paling bergengsi, London Fashion Week 2019.
Ia menuangkan songket Palembang ke dalam gaun-gaun yang diadaptasi dari bentuk kimono Jepang dan juga hanbok Korea. Sedangkan songket Palembang yang digunakan Nila untuk gaun couture rancangannya kali ini dikerjakan secara tradisional oleh para perajin.

Selain itu, Nila juga menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dalam pewarnaan seperti gambir, mangga, juga kayu secang. Penggunaan bahan alami tersebut diakui Nila menjadikan warna kainnya lebih lembut.

Pengerjaan yang manual membuat gaun rancangan Nila jadi istimewa. Untuk setiap motif, hanya 2-3 lembar kain yang akan dihasilkan. Dengan ini pula, ia berharap kain kebanggaan Indonesia ini lebih banyak dikenal di mancanegara seperti batik.



Sumber: Suara Pembaruan