Sejak Dini, Orangtua Menanamkan Jiwa Meneliti Pada Anak

Sejak Dini, Orangtua Menanamkan Jiwa Meneliti Pada Anak
Dosen program studi Fisika Institut Teknologi Bandung, Yudi Darma. ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 16 Mei 2019 | 13:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Memperkenalkan sains pada anak, berarti membantu anak untuk melakukan percobaan sederhana sehingga dapat menghubungkan sebab dan akibat suatu perlakuan. Percobaan tersebut juga akan membantu anak untuk mulai berpikir logis, kritis, dan sistematis.

Untuk itulah, seorang dosen program studi Fisika Institut Teknologi Bandung, Yudi Darma, mengimbau kepada para orang tua dan pengajar di sekolah untuk menanamkan jiwa peneliti sejak kecil. Karena pada umumnya, seorang anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar. Jika tidak diwadahi dengan baik, maka rasa ingin tahu tersebut akan terpendam, sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang pasif, takut mencoba, dan tidak percaya diri.

"Kesadaran ini harus dibangun oleh orang tua, lingkungan sekitar, dan institusi pendidikan. Institusi kita semisal sekolah, menyebabkan kebebasan berpikir anak jadi diarahkan. Kurikulum sekolah masih memaksa anak untuk menghafal. Sehingga rasa senang belajar sains dianggap kurang menyenangkan. Alhasil, kenakalan berpikir anak jadi terbatas, padahal anak memiliki rasa ingin tahu, dan ingin mencoba dalam segala hal,” terangnya kepada Beritasatu.com, di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2019).

Yudi menjelaskan, menanamkan jiwa sains kepada anak tujuannya bukanlah mencetak mimpi anak untuk menjadi ilmuwan. Namun, mempersiapkan diri anak untuk mencari jalannya sendiri dalam mencapai mimpinya. Entah menjadi seorang pemimpin, wirausaha, atau peneliti yang kreatif dan inovatif.

"Anak yang telah tertanamkan jiwa peneliti sejak kecil akan memiliki pemikiran yang visioner. Coba bayangkan, kalau anak tidak memiliki mimpi? Rutinitas sekolah akan menjadi sesuatu yang memaksa. Mereka tidak bisa merasakan apa arti pentingnya sekolah. Yang mereka pikirkan hanyalah menjalani rutinitas untuk menyenangkan orang tua, menjadi pengikut arus yang membawanya,” jelasnya.

Dikatakan, tidak sulit sebenarnya menanamkan jiwa peneliti kepada anak. Orang tua atau pengajar hanya perlu melakukan pembelajaran dengan anak mulai dari mengamati, bertanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan.

"Anak diajak terjun langsung untuk meneliti topik bahasan, sehingga pembelajaran akan menyenangkan bagi anak,” ungkap doktor lulusan Hiroshima University dalam bidang Quantum Matter and Integrated Devices ini.



Sumber: Suara Pembaruan