Dua Lopis Raksasa Meriahkan Tradisi Syawalan di Pekalongan

Dua Lopis Raksasa Meriahkan Tradisi Syawalan di Pekalongan
Lopis dengan berat 1,6 ton siap memeriahkan tradisi Syawalan di Kelurahan Krapayak Lor dan Krapyak Kidul Kota Pekalongan, Rabu 12 Juni 2019. ( Foto: Antara Foto )
/ YUD Selasa, 11 Juni 2019 | 15:36 WIB

Pekalongan, Beritasatu.com - Dua lopis raksasa dengan berat 1,6 ton siap memeriahkan tradisi Syawalan yang akan dilaksanakan di Kelurahan Krapyak Kidul dan Krpayak Lor, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, 12 Juni 2019.

Koordinator Panitia Syawalan Krapyak Kidul Muhammad Fahrudin di Pekalongan, Selasa (11/6/2019) mengatakan bahwa lopis raksasa pada tradisi Syawalan 2019 berukuran lebih besar dibanding perayaan tahun sebelumnya.

"Tradisi Syawalan dengan membuat lopis raksasa sudah dilaksanakan sejak nenek moyang. Kami berharap para pengunjung akan lebih berpeluang mendapat makanan itu secara gratis karena ukuran maupun berat lopis tersebut sudah ditambah," katanya.

Menurut dia, pada tradisi Syawalan tahun sebelumnya, berat lopis yang terbuat dari beras ketan ini hanya 3,7 kwintal, namun pada 2019 ditambah bahan bakunya menjadi 5 kuintal, tinggi 200 sentimeter, serta berdiamter 250 cm.

Pembuatan lopis raksasa di Kelurahan Krapyak Kidul, kata dia, menghabiskan waktu selama tiga hari tiga malam, yaitu dimulai pada Jumat (7/6) hingga selesai Minggu (9/6).

"Proses pembuatan dimulai dari penanakan beras ketan, kemudian dilanjutkan merangkai daun pisang dan bambu, menumbuk beras ketan yang setengah matang. Setelah itu, dimasukkan ke wadah secara bertahap. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 jam," katanya.

Ia mengatakan pembuatan lopis raksasa ini menyerap anggaran sekitar Rp30 juta yang berasal dari bantuan Pemerintah Kota Pekalongan sebesar Rp24 juta dan sisanya merupakan swadaya masyarakat.

"Proses memasak lopis raksasa ini yang paling sulit adalah mengontrol api agar tetap stabil. Api tidak boleh terlalu besar maupun terlalu kecil karena jika tidak seperti itu maka uap air yang dihasilkan akan surut sehingga proses penguapan maupun ukurannya tidak akan sesuai yang diharapkan," katanya.

Koordinator Panitia Syawalan Krapyak Lor Ahmad Timbul menjelaskan untuk memeriahkan tradisi Syawalan, pihaknya telah mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman rob yang sering terjadi di wilayah setempat.

"Kami telah menyediakan pompa air agar pada Rabu (12/6) agar perayaaan tradisi Syawalan berlangsung lancar. Lokasi pemotongan lopis, saat ini memang madih dikelilingi rob namun akan kami sedot dengan pompa agar kering saat saat perayaan," katanya.



Sumber: ANTARA