Anyaman Purun Tampil di Festival Indonesia 2019 di Oslo

Anyaman Purun Tampil di Festival Indonesia 2019 di Oslo
Produk kerajinan tangan ramah lingkungan khas ekosistem gambut, tampil di Festival Indonesia di Oslo, Norwegia. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 8 Juli 2019 | 10:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Restorasi Gambut (BRG) mengajak Arbaini, perajin anyaman purun, hadir dan berpartisipasi di acara Festival Indonesia 2019 yang digelar oleh Kedutaan Besar RI di Oslo, Norwegia, 29-30 Juni 2019.

Arbaini (41), warga Desa Jarenang, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), mencari purun di sekitar tempat tinggalnya untuk dijadikan tikar anyaman, bakul maupun tas ataupun langsung dijual mentah.

Sebagai perwakilan dari para pengrajin purun yang telah menjadi tradisi di hampir seluruh Kabupaten di Kalsel, Arbaini melakukan demo cara menganyam purun menjadi sebuah kerajinan tangan yang berkualitas di stand BRG.

Produk Kerajinan Tangan Ramah Lingkungan Khas Ekosistem Gambut di Festival Indonesia Oslo 29-30 Juni 2019.

Festival Indonesia 2019, yang menjadi acara yang baru pertama kalinya digelar ini adalah merupakan pameran kebudayaan, perdagangan dan pariwisata, yang utamanya menekankan pada produk alami olahan ekosistem gambut dan hutan Indonesia.

Berbagai hal sehubungan dengan gambut dipamerkan oleh BRG di Oslo, tentu dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi ekosistem gambut kepada dunia, khususnya kepada warga Norwegia.

Selain produk kerajinan anyaman yang ramah lingkungan, di pamerkan pula produk makanan sehat yang diolah pemuda dari Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) serta kain Sasirangan dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, dengan proses pewarnaan alami.

Kalsel merupakan provinsi yang memiliki lahan gambut seluas 103.556 hektar (Ha). Sebanyak 56.468 Ha diantaranya telah mengalami kerusakan. Provinsi ini tersohor dengan pengembangan produk kerajinan anyam lokal yang terbuat dari tanaman Purun.

Purun sendiri merupakan jenis tumbuhan rumput yang hidup liar dan endemik di ekosistem gambut. Sejak tahun 2017, BRG telah mendampingi dan melatih masyarakat desa yang berada di area target restorasi gambut, untuk mengembangkan anyaman Purun tradisional menjadi produk fashion.

Pengembangan kerajinan purun membantu pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan pengrajin purun di daerah tersebut. Sebelum mendapatkan pelatihan dari BRG, para pengrajin dan penganyam purun, yang semuanya memang memiliki kemampuan untuk menganyam tikar ini, tidak mampu mencapai hasil maksimal. Dalam satu hari, mereka hanya menghasilkan lima buah tikar yang kalau dijual hanya mendapatkan Rp 20.000 per anyaman.

"Kami dari kelompok pengrajin ingin pula kerajinan dari Purun ini bisa jadi sumber penghasilan tetap. Kami ingin supaya hasil purun bisa dijual ke luar negeri," kata Arbaini.

Agar dapat selalu terus memberdayakan kelompok perempuan dan pengrajin purun dari ekosistem gambut ini, BRG menjalin kerja sama dengan desainer Merdi Sihombing dari Eco-fesyen. Para pengrajin diundang untuk mengikuti lokakarya pengembangan kerajinan anyaman dan kain sasirangan alami, yang menggunakan tanaman dan buah-buahan yang berada disekitar lahan gambut.

"Dengan adanya pelatihan dari Pak Merdi, kerajinan ini berkembang. Sebelumnya, kami hanya bikin tikar, tas dan dompet biasa, tapi sekarang sudah bisa buat tas dan dompet yang lebih bagus lagi. Harapan kita supaya pengrajin semakin maju dan ekonomi rumah tangga lebih baik," pungkas Arbaini.



Sumber: BeritaSatu.com