1.300 Produsen dan Pemilik Bisnis Kuliner Ramaikan FHI 2019

1.300 Produsen dan Pemilik Bisnis Kuliner Ramaikan FHI 2019
Kiri ke kanan: Chef Stefu - Chairman ACP Indonesia, Astied Julias - Event Director Food & Hotel Indonesia, Wiwiek Roberto - Sales Director Food & Hotel Indonesia, Ben Wong - Managing Director PT Pamerindo Indonesia, Anna Nadia - General Manager PT Duta Abadi Primantara, Syafrudin - Chairman SCAI, Ronald Goenawan - Vice Chairman AISTEA, usai Konferensi pers Food & Hotel Indonesia (FHI) ke-15 di Jakarta, Rabu (10/7/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Indah Handayani / FER Rabu, 10 Juli 2019 | 16:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pameran kuliner dan hotel terbesar di Indonesia, Food & Hotel Indonesia (FHI), kembali digelar ke-15 pada pada 24-27 Juli 2019 di JlExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Pameran ini bertujuan untuk mendukung Indonesia menjadi barometer tren di sektor kuliner dan perhotelan.

Sales Director Pamerindo, selaku penyelenggara FHI, Wiwiek Roberto mengatakan pameran ini menghubungkan lebih dari 1.300 produsen dan pemilik bisnis dengan lebih dari 41 negara dengan para end user. Merek-merek terkemuka dalam dunia kuliner dan perhotelan pun berpartisipasi. Diantaranya Diamond, Twinings, Mulwarra Export, Amroon, Nuova Simonelli, illy Coffee, Supresso Coffee, Dilmah, Riedel, Hatten Wines, Bahana Genta Viktory, David Roy lndonesia, Lady Americana, Nestle Indonesia, King Koil, Cooking Systems, Restomart Cipta Usaha, Saint James, lndoguna.

"Kami membuka peluang partner bisnis lewat negosiasi langsung selama pameran. Kami berkomitmen mendukung percepatan bisnis yang berkelanjutan, sekaligus membawa sektor-sektor andalan agar bersinar di kancah global," ungkap Wiwiek di sela konferensi pers FHI 2019 di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Wiwiek menambahkan, pameran ini mendapatkan respon luar biasa dari para peserta yang akan berkunjung. Hal itu berdasarkan pre-register pengunjung yang telah mendaftar secara online. Tercatat 16 hari sebelum pameran, sudah tercatat sebanyak 13.765 orang perserta. Jika dibandingkan dengan tahun lalu dengan waktu yang sama hanya mencapai 6.000 orang saja.

"Untuk pameran ini Kami menargetkan dikunjungi 30.000 orang pengunjung. Hingga saat ini, angka pre-register sudah setengahnya dan kami optimistis target itu akan tercapai," papar Wiwiek.

Chairman of Association of Culinary Professional (ACP), Stefu Santoso, mengatakan, perkembangan kuliner dan perhotelan di Indonesia sangat jauh berkembang belakangan ini. Namun, kuliner Indonesia jauh lebih berkembang ketimbang perhotelan. Mengingat banyak orang yang lebih banyak mencari info mengenai kuliner lokal dan unik. Terlebih pada kuliner daerah yang belum banyak terekspos.

"Meski demikian, pertumbuhan kuliner sangat bersimbisiosis dengan perhotelan. Sebab, saat para wisatawan datang ke daerah mereka pun tentunya mencari penginapan," jelasnya.

Pada 2018, sektor makanan dan minuman di Indonesia telah tumbuh sebesar 7,91 persen, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar di sektor ini. Kopi spesial lndonesia telah meningkatkan posisinya di dunia, hingga kini lndonesia diakui sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI), A Syafrudin, menambahkan, kopi Arabika merupakan kopi dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia, berkat dukungan penuh dari teknologi baru.

"Kami hadirkan terobosan mesin kopi dengan tujuan untuk mengoptimalkan standar kopi spesial di Indonesia. Terobosan ini termasuk mesin roasting kopi, espresso, hingga peralatan manual brewing. Mengingat standar konsumen Indonesia yang tinggi terhadap kualitas kopi special, teknologi ini akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di Indonesia secara signifikan," ujar Syafrudin.



Sumber: BeritaSatu.com