Kebanyakan Suntik Filler Sebabkan Pipi Chipmunk

Kebanyakan Suntik Filler Sebabkan Pipi Chipmunk
Media gathering Jakarta Aesthetic Clinic (JAC) mengangkat tema 'Waspada Kebanyakan Suntik Filler, Menyebabkan Facial Overfilled Syndrome (FOS) atau Pipi Chipmunk' di Jakarta, Jumat (12/7/2019). Dengan menghadirkan dr Olivia Ong, aesthetic & anti-aging doctor sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic (JAC), dan Novriaty H. Sibuea (56th), Direktur Utama sebuah perusahaan sawit, seorang pasien yang sedang dalam perawatan terhadap gejala FOS pada wajahnya ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Jumat, 12 Juli 2019 | 18:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Suntik filler merupakan salah satu jenis perawatan estetika yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia, terutama kaum hawa. Namun, banyak yang malah ketagihan akan perawatan ini mengingat hasilnya yang cepat, instan, dan tanpa pembedahan. Hal itu malah membuat wajah kebanyakan filler dan menyebabkan Facial Overfilled Syndrome (FOS) atau terlihat seperti pipi chipmunk atau tupai.

Baca Juga: Kebanyakan Wanita Tidak Sadar Terkena Pipi Chipmunk

Pendiri Jakarta Aesthetic Clinic (JAC), dr Olivia Ong, mengatakan, hasil penyuntikan filler yang instan memang memberikan impak yang |uar biasa bagi kehidupan seseorang, hal itu dapat menimbulkan efek ketagihan yang akan membawa mereka ingin memenuhi standar kecantikan tertentu, lepas dari keunikannya masing-masing.

"Bahkan kebablasan dalam mencari kesempurnaan sampai wajahnya mulai terlihat kepenuhan atau aneh, yang dikenal dengan sebutan Facial Overfilled Syndrome (FOS)," ungkap dia di sela media gathering JAC di Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Menurut Olivia, filler memang mampu meremajakan tampilan wajah dengan seketika seperti menghilangkan cekungan bawah mata dan memudarkan garis senyum, juga dapat memperindah bagian-bagian wajah Iainnya, seperti pipi, bibir, hidung, dagu sampai rahang yang memang kurang definisinya pada wajah-wajah Asia. Sehingga tak ayal tren filler di Amerika, yang kini menempati posisi kedua perawatan terfavorit sesudah botulinum toksin atau biasa disebut botox, mulai menyebar dengan cepat ke Asia termasuk Indonesia.

Namun, lanjut dia, penggunaan dosis filler antara orang Asia dengan Kaukasia sangatlah berbeda. Sebab, bentuk khas tulang tengkorak Asia yang lebih pendek, Iebar dan rata dibanding orang Kaukasia. Sedangkan Kaukasia lebih cenderung dalam dan panjang. Bukan hanya dosis yang nyata berbeda bagi permasalahan yang berbeda, penempatan filler yang terkonsentrasi di tengah wajah pada orang Asia, seperti bawah mata, pipi dan garis senyum, akan saling mempengaruhi satu sama lain.

"Saat pasien mengeluarkan ekspresi senyum atau tertawa terlihatlah tampilan pipi chipmunk, istilah bagi pasien FOS dengan pipi yang mencuat maju, kesamping dan keatas, sampai mendesak tampilan mata menjadi lebih kecil, disebut sunset eyes,” kata Olivia.

Sayangnya, banyak pasien yang tidak menyadari perubahan ini pada wajah mereka karena FOS biasanya berlangsung perlahan-lahan sampai tahunan. Fenomena FOS terjadi karena pasien umumnya memiliki pandangan dua dimensi mengenai wajahnya sendiri seperti yang dilihatnya dalam cermin atau foto. Padahal kenyataannya wajah adalah struktur empat dimensi dengan banyak lapisan. Dengan pandangan dua dimensi ini pasien berkeliling klinik estetika memenuhi keinginan mereka sendiri, mencari dokter yang mampu menghilangkan garis dan cekungan yang ada dengan filler.

"Mereka terus saja merasa kurang, tidak disadarinya bahwa wajah mulai melebar dan pipinya telah meninggi dengan tidak wajar. Pasien yang lebih senior umumnya berpikir wajah FOS mereka yang tampak penuh dan turun adalah bagian dari tanda-tanda penuaan wajah yang normal," kata Olivia.



Sumber: Investor Daily