Pelaku Pariwisata Jateng: Borobudur Belum Digarap Maksimal

Pelaku Pariwisata Jateng: Borobudur Belum Digarap Maksimal
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri Asalha Maha Puja 2563 di pelataran Candi Borobudur, Selasa, 16 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / FMB Senin, 22 Juli 2019 | 14:30 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Rencana pengembangan Kawasan Wisata Borobudur menjadi satu dari 10 destinasi Bali Baru, disambut antusias banyak kalangan, khususnya pelaku pariwisata.

Menurut pengamat yang juga pelaku pariwisata senior Jateng, Benk Mintosih, Borobudur kurang digarap secara maksimal, sehingga tak mampu menyedot arus wisatawan asing mengunjungi situs bersejarah yang pernah menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia tersebut.

"Selama ini, event yang digelar banyak di hotel-hotel. Harusnya event-eventnya digarap langsung di Borobudur. Digarap secara heboh, secara kolosal, jadi bisa membuka mata dunia bahwa kita punya candi terbesar dunia yang wajib dikunjungi," tegas pria eksentrik yang lebih dari 30 tahun malang melintang di dunia perhotelan ini.

General Manager Star Hotel Semarang ini menegaskan, di era sosial media ini perlu digencarkan digital marketing untuk menjual Borobudur. Berbagai event atau atraksi lokal maupun internasional perlu digarap sungguh-sungguh agar mampu menarik wisatawan asing.

"Selama ini, Jateng selalu kalah dengan Yogyakarta. Berbagai paket wisata digarap serius oleh pelaku wisata Yogya termasuk paket wisata Borobudur. Para turis asing datang ke Borobudur, tetapi menginapnya di Yogyakarta, bukan di Jateng," tegas pria kelahiran Surakarta 4 Maret 1964 ini.

Pria yang pernah menempuh pendidikan di Tourism & Hotel School di Amerika ini mengatakan, selama ini pihak travel agent dan pelaku wisata di Jateng kurang dilibatkan dalam pengembangan Borobudur. "Pernah dilibatkan, tapi hanya temporer. Belum secara intens dan terpadu menjadi bagian penting strategi marketing untuk menjual Borobobudur ke mancanegara," tegasnya.

Pria yang pernah mendapat julukan GM (General Manager) Gila karena ide-idenya yang gila menegaskan, jika Borobudur ingin dikembangkan menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata Bali Baru, sudah saatnya untuk membuat banyak event gila dan kolosal sehingga menarik lebih banyak wisatawan asing.

"Selama ini, banyak turis asing menjadi seperti alien, terasing, disitu karena Borobudur tak bisa mengikat mereka bertahan tinggal lebih lama. Banyak homestay yang tidak diurus profesional, sehingga banyak turis asing lebih memilih tinggal di hotel, daripada merasakan bagaimana sensasi bermalam di alam pedesaan," tegas penulis buku Narsis ini.



Sumber: Suara Pembaruan