Intip Keseruan Budaya Lampung di HBH Muakhian Kalianda 2019

Intip Keseruan Budaya Lampung di HBH Muakhian Kalianda 2019
Komunitas Muakhian Kalianda Lampung Selatan menggelar Halal Bihalal (HBH) Muakhaian Kalianda 2019 di Anjungan Lampung, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (28/7/2019) ( Foto: ist / Ist )
Mardiana Makmun / MAR Minggu, 28 Juli 2019 | 16:39 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com -- Lampung memiliki kekayaan seni budaya yang belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Menguatkan persaudaraan sekaligus mempromosikan seni budaya dan pariwisata Lampung, khususnya Kalianda dan sekitarnya di Kabupaten Lampung selatan, komunitas Muakhian Kalianda (MK)menggelar ajang silaturahmi Halal Bihalal (HBH) Muakhian Kalianda 2019 di Anjungan Lampung, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Minggu(28/7/2019).

HBH Muakhian Kalianda 2019 menyajikan pentas seni budaya dan kuliner khas Lampung Kalianda. Sebagian seni budaya ini sudah jarang dipentaskan dan kini mulai kembali dibangkitkan.

Acara dibuka dengan pementasan gambus tunggal khas Lampung. Petikan syahdu gambus mengiringi lagu berjudul Banjekh (Banjir/Tsunami). Lagu ini mengingatkan tragedi tsunami dari Gunung Krakatau di Kalianda dan sekitarnya pada 22 Desember 2018 lalu.

Berikutnya giliran seni bela diri pencak silat khas Lampung yang dipentaskan. Dikemas dalam bentuk tarian berjudul Takhi Piccak Elang Bekekhang (Tari Pencak Elang Berjemur), pesilat dari Sanggar Sai Buay, dari desa Palembapang, Kalianda, Lampung Selatan, menyajikan gerakan-gerakan silat yang diadaptasi dari gerakan burung elang.

Ketua Panitia HBH Muakhian Kalianda 2019 Rihudin mengatakan, acara HBH ke-6 Muakhian Kalianda ini digelar sebagai ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan sesama orang Lampung di perantauan.

“Harapan kami ke depan, perkumpulan ini lebih solid lagi dan lebih bermanfaat bagi sesama anggota khususnya, dan masyarakat Lampung Selatan perantauan, sekaligus juga mempromosikan seni  budaya Lampung,” kata Rihudin kepada Beritasatu.com.

Ketua Muakhian Kalianda, Minak Kunang menjelaskan, Muakhian Kalianda adalah bagian kecil masyarakat Kalianda di rantau, khususnya di Jabotabek. “Muakhian Kalianda dibentuk pada 2011 untuk menjadi wadah silaturahmi para perantau Lampung Kalianda dan sekitarnya, yang umumnya masih terikat tali keluargaan antar satu sama lain,” kata Kunang.

“Ke depan, kami ingin ikut berperan untuk berkontribusi dalam derap pembangunan kampung halaman kami di Kalianda, Lampung Selatan,” tegas Kunang.

HBH Muakhian Kalianda 2019 juga dimeriahkan oleh tari Muli Bukipas (Gadis Berkipas), persembahan dari Dinas Pariwisata Lampung Selatan.

Tak ketinggalan sajian kuliner khas Kalianda. Diantaranya Gegado, Lambang Layok (Nagasari kukus), Buak Balak (Lapis Legit), Engkak (lapis ketan), dan lain-lain.

Yang paling diburu tamu undangan adalah Gegado. Kuliner yang terbuat dari campuran sayur toge, bihun, kacang tanah goreng, kerupuk merah, lalu disiram kuah asam bening itu memang segar dimakan siang hari.



Sumber: BeritaSatu.com