Tambang Batu Bara Ombilin Menambah Deretan Warisan Budaya

Tambang Batu Bara Ombilin Menambah Deretan Warisan Budaya
Kemko PMK menggelar pertemuan dengan kementerian lain dan pemda Sumatera Barat terkait pengelolaan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) setelah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Senin (29/7/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe )
Dina Manafe / FER Senin, 29 Juli 2019 | 16:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Satu lagi kekayaan budaya Indonesia menambah deretan warisan dunia. Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK), Nyoman Shuida, mengatakan, pada tahun 2015, WTBOS telah masuk dalam daftar sementara sebagai bagian dari proses nominasi warisan dunia. WTBOS bersaing dengan 35 nominasi warisan budaya lainnya.

"Dan dengan ditetapkannya WTBOS sebagai warisan dunia untuk kategori warisan budaya, artinya Indonesia sudah memiliki sembilan warisan dunia," kata Nyoman saat membuka rapat terkait pengelolaan WTBOS yang dihadiri kementerian terkait dan pemda Sumatera Barat di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Menurut Nyoman, WTBOS dinilai pantas menyandang status warisan budaya dunia karena konsep Tiga Serangkai yang dicetuskan pemerintah Belanda saat itu. Tiga Serangkai dimaksud meliputi Kota Tambang di Sawahlunto, infrastruktur perkeretaapian, dan Pelabuhan di Teluk Bayur. Hubungan sistemik industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan ini berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia.

WTBOS, lanjut Nyoman, dapat menjadi representasi dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia timur dan barat yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi. WTBOS juga menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi eropa terkait dengan eksploitasi batubara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 di dunia, termasuk di Asia Tenggara.

"Di samping itu, WTBOS juga memiliki keunikan luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia, kata Nyoman.

Nyoman menambahkan, ada lima warisan dunia yang dimiliki Indonesia pada kategori warisan budaya, yaitu Kompleks Candi Borobudur (1991), Kompleks Candi Prambanan (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1996), Lanskap Budaya Provinsi Bali; Sistem Subak sebagai Manifestasi dari Filosofi Tri Hita Karana (2012), dan WTBOS tahun 2019. Sedangkan untuk kategori warisan alam, Indonesia memiliki empat warisan yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (1991), Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (2004).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid, menambahkan, pasca WTBOS ditetapkan sebagai warisan dunia, pemerintah mencanangkan tiga agenda prioritas.

Pertama, penerapan struktur koordinasi dan mekanisme pelaksanaannya meliputi penyelenggaraan Board of Directors, penyusunan kesepakatan dan turunannya, partisipasi masyarakat, serta mekanisme insentif.

Kedua, pelaksanaan rencana aksi manajemen plan mencakup penyusunan usulan kegiatan dan penyelenggaraan anggaran kementerian/lembaga, pemda, dan BUMN.

Ketiga, penyusunan tindak lanjut rekomendasi tambahan WTBOS, yaitu menyusun rencana aksi dan penyelenggaraan serta pelaporan keadaan pelestarian WTBOS 2021.



Sumber: Suara Pembaruan