Kementerian Desa Kembangkan Pariwisata Berbasis Digital di NTB

Kementerian Desa Kembangkan Pariwisata Berbasis Digital di NTB
Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal tengah mengupayakan pengembangan pariwisata di NTB, diantaranya dengan meluncurkan 100 Desa Wisata dan E-Ticketing bekerjasama dengan GOERS. Kegiatan Launching 100 Desa Wisata dan E-Ticketing ini menjadi salah satu langkah awal dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata berbasis digital di Nusa Tenggara Barat. ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Selasa, 30 Juli 2019 | 15:32 WIB

Mataram, Beritasatu.com - Potensi pariwisata di daerah tertinggal masih memerlukan perhatian khusus. Dari 122 daerah tertinggal di Indonesia, salah satu provinsi yang masih memiliki daerah tertinggal adalah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kementerian Desa) tengah mengupayakan pengembangan pariwisata di NTB, diantaranya dengan meluncurkan 100 Desa Wisata dan E-Ticketing bekerja sama dengan Goers.

Kegiatan Launching 100 Desa Wisata dan e-ticketing ini menjadi salah satu langkah awal dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata berbasis digital di NTB. Saat ini, ada dua desa yang telah terdaftar di aplikasi Goers sebagai proyek percontohan, yakni Desa Sesaot di Lombok Barat dan Dusun Sasak Ende di Lombok Tengah.

"Kami mencoba mencari pendekatan baru dalam pembangunan pariwisata ini seperti apa. Dan akhirnya berpikir bahwa pengembangan pariwisata harus dilakukan secara digital," ujar Dirjen PDT Kementerian Desa, Samsul Widodo, dalam keterangan persnya, Selasa (30/7/2019).

Direktur Operasional Goers, Niki Tsuraya Yaumi menambahkan, salah satu upaya digitalisasi pariwisata di daerah tertinggal adalah dengan memperkenalkan model sistem elektronik atau e-Ticketing pada objek-objek wisata maupun desa wisata.

"Kami menawarkan solusi praktis untuk membangun pariwisata secara digital. Ini artinya, untuk mengunjungi desa wisata di NTB, siapapun bisa melihat informasi paket wisata dan memesan tiketnya melalui website atau aplikasi Goers. Peran kami dalam digitalisasi pariwisata terhadap desa wisata ini meliputi sistem e-ticketing yang dapat digunakan untuk pencatatan pengunjung baik di lokasi maupun secara online, serta pelatihan dan pendampingan kepada pengelola desa wisata untuk penerapan teknologi yang berkelanjutan," papar Niki.

Dengan sistem e -ticketing, lanjut Niki, akan memberikan manfaat seperti kemudahan pengunjung untuk booking dan membeli tiket dari mana saja dan kapan saja, pencatatan data yang lebih akurat dan terarsip melalui sistem, hingga bantuan program pemasaran yang sustainable, terutama untuk destinasi pariwisata tertinggal yang mungkin belum banyak dieksplorasi dan dipromosikan sebelumnya.

"Pengunjung akan diberikan kemudahan untuk mengetahui dan mengenal segala informasi dan keunikan desa wisata sebelum datang langsung ke desa tujuan," tambah Niki.

Sementara itu, Niki menyebutkan bagi pemerintah, semua laporan dari kegiatan dan transaksi desa wisata yang ada di aplikasi bisa diakses secara real time oleh pemerintah pusat. Data yang tersimpan dalam sistem tersebut bisa menjadi laporan komprehensif bagi kepala desa, pemerintah daerah, maupun pusat di kementerian.

"Kami berharap melalui agenda ini, dapat dilakukan percepatan dalam pembangunan Lombok, terutama untuk wilayah daerah tertinggal di NTB. Dengan pemanfaatan akses dan sistem digital, diharapkan jumlah kunjungan wisatawan di destinasi wilayah ini dapat naik sehingga dapat berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," pungkas Niki.



Sumber: Investor Daily