Kelebihan Pasokan Kamar Hotel Ancam Pariwisata Bali

Kelebihan Pasokan Kamar Hotel Ancam Pariwisata Bali
Ilustrasi kamar hotel. ( Foto: Antara )
I Nyoman Mardika / FER Rabu, 7 Agustus 2019 | 15:26 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Kelebihan pasokan (over supply) kamar hotel dinilai menjadi ancaman terbesar untuk sektor pariwisata Bali.

Berdasarkan analisis akademisi pariwisata Universitas Udayana (Unud), saat ini jumlah kamar di Bali sebanyak 146.000, sedangkan kebutuhan hanya 90.000 kamar.

Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Pariwisata Synergy and Harmony In One Island One Management One Voice, yang dilaksanakan Bank Indonesia KPw Bali, Selasa (6/8/2019).

Pasokan kamar hotel di Bali terus mengalami penambahan. Berdasarkan survei Bank Indonesia KPw Bali, pasokan perhotelan di Bali pada triwulan II 2019 meningkat 3,44 persen (qtq) atau 6,54 persen (yoy). Penambahan pasokan ini dikontribusikan oleh pembangunan hotel di daerah Sanur dan Seminyak. Pasokan kamar hotel didominasi oleh hotel bintang 4 (44,71 persen), bintang 5 (38,78 persen), dan bintang 3 (16,52 persen).

Akademisi Pariwisata Unud, Agung Suryawan mengatakan, ancaman terbesar pariwisata Bali adalah over supply kamar hotel. Adapun langkah yang harus dilakukan adalah menyelesaikan masalah kelebihan pasokan tersebut. Jika tidak, pariwisata berkelanjutan tidak akan terjadi apalagi pariwisata berkualitas.

"Sampai 10 tahun ke depan pun Bali tidak perlu penambahan kamar, walaupun pertumbuhan kunjungan wisatawan 20 persen. Jadi, setop pembangunan hotel," tukas Agung.

Tokoh pariwisata Bali yang juga pemilik Bagus Agro Pelaga, Bagus Sudibya, menyatakan, masalah over supply merupakan tugas regulator untuk membatasinya dengan regulasi. Tentunya, pasokan harus dijaga, maka dari itu diperlukan komitmen yang kuat dari regulator.

"Kalau occupancy rate-nya belum 70 persen, jangan diberikan izin membangun lagi. Dengan demikian, maka akan tercipta pariwisata yang berkualitas," jelas Bagus Sudibya.

Bagus menyampaikan, dukungan pihak imigrasi untuk keberlanjutan pariwisata Bali adalah dari sisi keamanan. Pihaknya telah melakukan pengamanan 24 jam di Bandara Ngurah Rai sejak tahun 2016.

"Penurunan kunjungan wisatawan karena kuantitas. Wisatawan yang datang ke Bali karena traveling lalu pindah-pindah tempat. Untuk menarik kunjungan wisman, imigrasi memberikan promo kunjungan kerja sambil liburan," tambah Bagus.

Eksekutif Direktur BPPD Badung, Mangku Made Sulasa Jaya, menyatakan, permasalahan pariwisata berkelanjutan sudah selesai dibicarakan. Yang perlu dilakukan adalah pemahaman budaya dan reidentifikasi budaya karena basis pariwisata Bali adalah budaya.

"Selain itu, pembangunan dengan konsep manajemen satu pulau harus dimulai dari sektor promosi. Ada empat pilar pariwisata Bali yaitu destinasi, pemasaran, kelembagaan atau tata kelola, dan industri. Semuanya harus dikelola bersama dengan konsep tersebut," kata Mangku Made Sulasa Jaya.



Sumber: Suara Pembaruan