Ayo Pakai Wastra Nusantara! Buktikan Indonesia Sudah Merdeka!

Ayo Pakai Wastra Nusantara! Buktikan Indonesia Sudah Merdeka!
Perancang Busana Wieke Dwi Harti (kanan) berbicara didampingi Pemerhati Batik Indonesia Notty J. Mahdi (kedua dari kiri) dan Penggiat Wastra Ulos Erfan Siboro (ketiga dari kiri) dalam diskusi bertema Wastra dan Kemerdekaan yang digelar PT Nojorono Tobacco International untuk menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 di Tanamera Coffee, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Unggul Wirawan )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 13 Agustus 2019 | 22:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Wastra atau kain tradisional Nusantara adalah peninggalan leluhur yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Sayang, banyak wastra yang punah karena kehilangan penerusnya dan orang memilih busana Barat. Kini saatnya, membuktikan Indonesia sudah merdeka dengan memakai wastra nusantara.

Keprihatinan dan kesadaran wastra yang mengandung nilai nilai filosofis yang agung dan luhur juga menjadi bahasan menarik antara pemerhati dan pegiat wastra nusantara bersama kalangan jurnalis dalam Diskusi Wastra dan Kemerdekaan menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 yang digelar PT Nojorono Tobacco International, di Tanamera Coffee, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (13/8).

“Bagi saya, kita mestinya merdeka dengan pakai produk sendiri. Kita sudah dijajah berbagai cara. Kalau kita ngomong merdeka, sebenarnya kita belum merdeka. Kalau beli kain wastra Rp 500 ribu masih bilang mahal, tapi justru pakai brand asing, itu artinya fixed, Anda masih dijajah!,” sindir Erfan Siboro, seorang pegiat wastra ulos.

Erfan juga menyinggung perilaku aneh orang Indonesia yang kerap berbangga dengan pakaian merek asing, tapi menawar harga saat membeli wastra. Ironisnya, produk lokal dianggap mahal, tapi pakaian merek asing di mal dianggap murah. Sementara di luar negeri, wastra nusantara justru dihargai banyak orang.

“Kalau mau murah, silakan beli merek Tiongkok yang printing, tapi itulah yang bunuh perajin kita. Soal mereka mempekerjakan pegawai lokal, saya juga punya pegawai. Kita sebenarnya punya banyak brand yang buat fesyen dari batik dan tenun. Tapi intinya secara produk, kita harus lebih merdeka lagi dengan wastra kita,” tambah pemilik merek Abit Kain ini.

Kembalikan Fungsi

Usaha fesyen tenun Ulos, Abit Kain, milik Erfan adalah produk yang dibuat berdasarkan pesanan, dan Abit Catalogue, koleksi fashion siap pakai yang diproduksi dalam jumlah tertentu, yang ia rintis sejak 2015.

"Yang menarik dari usaha yang saya jalani ini adalah, saya seperti membuka kembali sebuah tabir sejarah dan fakta. Yaitu mengembalikan fungsi tenun Ulos sebagai produk sandang, sebagaimana nenek moyang orang Batak dahulu gunakan. Banyak orang Batak sendiri menganggap Ulos sebagai satu benda keramat, ‘dihormati’ dan terkesan berhala, padahal dari dokumen sejarah bisa kita temukan foto-foto nenek moyang orang Batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian,” ungkap Erfan.

Sementara itu, Notty J. Mahdi, pemerhati batik Indonesia mengatakan, meski setiap pengguna kain-kain nusantara harus memahami makna kain yang digunakan, jangan sampai menjadikannya sangat jauh dari keseharian masyarakat. Dia menyarankan orang-orang mulai lebih sering memakai wastra nusantara. Agar lebih terbiasa, orang bisa memakai wastra mulai dari dua kali seminggu, hingga menjadi empat kali seminggu.

“Fenomena meluasnya penggunaan batik, tenun, dan beragam kain nusantara lainnya sebagai pakaian keseharian menjadikan kain wastra lebih merakyat dan masyarakat bangga mengenakannya. Jadi kita bisa ikut membantu perajin, dan bantu perekonomian. Nanti kalau banyak permintaan wastra, itu akan mengangkat perajin dan beragam produk akan berkembang. Coba saja dulu dari yang nyaman dan terjangkau,” imbau antropolog ini.

Tumbuhkan Semangat

Diskusi bersama kalangan media menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-74 dengan tema Wastra dan Kemerdekaan menjadi tonggak penting bagi PT Nojorono Tobacco International. Kegiatan ini diharapkan bisa menumbuhkan semangat untuk selalu mencintai warisan budaya nusantara yang kaya dari berbagai derah di Indonesia, seperti wastra atau kain tenun batik, lurik, dan ulos.

“Diskusi wastra ini merupakan salah satu kegiatan CSR dan menjadi bagian penting dari kepedulian dan tanggung jawab kami sebagai perusahaan nasional yang terus menerus memberikan kontribusi nyata di bidang pelestarian budaya serta pendidikan bagi masyarakat,” papar Debora Amelia Santoso, General Marketing Communication and Corporate Branding PT Nojorono Tobacco International.

Menurut Amelia, Erfan adalah salah satu dari pemenang program Semarak Djiwa Tangguh dari inkubator bisnis Nojorono. Dengan usaha fesyen tenun Ulos, Erfan dianggap sejalan dengan idealisme Nojorono untuk memajukan wastra nusantara. Alhasil perusahaan memberikan dukungan serius kepada usaha yang dirintis Erfan.

“Kami baru giatkan lagi kebudayaan dan UKM. Tapi selama ini, kami nggak sentuh soal penjualan. Nojorono hanya memberikan dukungan pembinaan, kampanye, edukasi, pameran atau lebih ke market place. Program Semarak Djiwa Tangguh berikutnya akan kami tingkatkan,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan