Cinta Maria Terkubur dalam Kepingan Perang dan Pemberontakan

Cinta Maria Terkubur dalam Kepingan Perang dan Pemberontakan
Benteng peninggalan Belanda di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu. ( Foto: beritasatu,com / JG/Emily Gilbert )
Nurlis E Meuko / NEF Kamis, 15 Agustus 2019 | 08:00 WIB

TERLUKISLAH kisah Maria van de Velde, putri petinggi Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang lahir di Amsterdam, Belanda, pada 1693, yang diboyong orangtuanya ke Pulau Onrust di Teluk Jayakarta, Hindia Belanda. Maria, si dara jelita yang berusia remaja ini, sedang kasmaran. Dari pulau kecil nun jauh dari kampung halamannya, ia memupuk cinta sejatinya. Menunggu kedatangan kekasih menjemputnya dengan biduk asmara.

Namun, penantian yang dirasa sia-sia itu membuatnya putus asa. Di ujung kisah, pada 1721, Maria tutup usia membawa serta cintanya yang tak kesampaian. Penyebab kematiannya masih misterius.

Ada yang menyatakan, ia bunuh diri lantaran putus asa. Pusaranya yang berada dekat sebuah pohon tua di dalam kompleks pemakaman Belanda di Pulau Onrust, berhiaskan puisi dalam bahasa Belanda. Berikut terjemahannya:

“Maria van de Velde, mayatnya dikubur, walaupun ia pantas hidup bertahun-tahun lamanya, seandainya Tuhan berkenan demikian, namun rupanya, Jehova menghalangi itu dengan kematian, Maria hilang, Maria tiada lagi”.

“Bukan! Saya tarik lagi kata itu karena diucapkan tanpa pikir panjang, maka semoga kelancanganku langsung didenda, kini Maria baru sungguh-sungguh hidup sejak hidup dekat dengan Tuhannya”.

Setelah 74 tahun Indonesia merdeka dari cengkeraman penjajahan, termasuk dari VOC, yang jejaknya masih tersisa di Pulau Onrust, cerita tragedi cinta Maria tumbuh menjadi mitos tentang roh berjubah putih yang bergentayangan mencari kekasih.

Kini Pulau Onrust menjadi bagian dari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pulau seluas 6 hektare ini menjadi salah satu andalan pariwisata.

“Ramai pengunjung ke sini, terutama untuk melihat langsung jejak sejarah di sini,” kata Bupati Kepulauan Seribu, Husein Murad kepada Beritasatu.com.

Jangan berharap jernihnya lautan di sini. Berwarna keruh berhias sampah sebagai pertanda sangat dekat dengan Jakarta. Jika berkunjung ke sini dari Marina, Ancol, Jakarta Utara, hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan kapal cepat.

Begitu masuk ke Pulau Onrust langsung disambut kincir angin kecil yang dijadikan tempat swafoto bagi pengunjung. Tak perlu repot soal makanan, sebab banyak warung berjejer di pelabuhan.

Pemandu pun sigap melayani pengunjung yang ingin melintasi gerbang yang menyimpan banyak sejarah di dalamnya. Berada di dalamnya laksana menyusuri reruntuhan kejayaan masa lalu. Melintasi bekas-bekas benteng dan berbagai bangunan kuno.

Catatan James Cook
Konon, penamaan Pulau Onrust ini diambil dari penggalan nama bangsawan Belanda yang menghuni pulau ini, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck. Pendapat lain mengatakan berasal dari kata dalam bahasa Belanda onrust yang artinya “tidak pernah beristirahat”.

Pastinya, menurut catatan sejarah, kisah pulau ini berputar pada kesibukan kapal dan para meneer, serta cerita tanpa jejak Kerajaan Banten dan Kerajaan Jayakarta yang berseteru berebut pulau.

Bahkan, melalui “kebaikan” Pangeran Jayakarta pula, VOC bisa bercokol di sini pada 1610. Awalnya hanya diizinkan membangun dermaga dan galangan kapal, tetapi meluas menjadi kekuatan militer. Dimulai dari benteng pertahanan pada 1656, gudang mesiu pada 1659, bastion pada 1672, dan kincir angin untuk penggergajian kayu pada 1674.

Seorang astronom dan penjelajah dari Inggris, James Cook, berbagi pengalamannya di Pulau Onrust dalam laporannya yang berjudul Journal of the Proceedings of His Majesty’s Bark Endeavour, on a Voyage Round the World. Pada 1770, James Cook memperbaiki kapalnya yang rusak di sini dan memuji Pulau Onrust sebagai tempat terbaik yang pernah dilihatnya di masa itu. Tak lupa disebutkan tentang keberadaan benteng dan kincir angin.

Tiga puluh tahun kemudian, tepatnya pada 1800, empat armada Inggris menyerbu Batavia dan menghancurkan benteng pertahanan Pulau Onrust. Inggris berada di sini sampai 1816.

Belanda merebutnya kembali dan menjadikan kawasan militer. Dibangunlah sejumlah benteng pelindung Pulau Onrust, yaitu di Pulau Bidadari, Pulau Cipir, dan Pulau Kelor.

Saat ini, hanya benteng di Pulau Kelor yang kondisinya paling baik dibandingkan tempat lainnya, bahkan di Pulau Onrust sudah rata dengan tanah.

Terletak di ujung Pulau Kelor, benteng itu terlihat sangat menonjol. Terlihat seperti lukisan, berwarna merah bata di antara tiga pohon dan pantai yang berpasir putih. Bangunannya mirip benteng bundar di Martello Point di Pulau Corsica, Prancis, yang gagal direbut Inggris pada Revolusi Prancis pada awal abad 17.

Itulah sebabnya, benteng di Pulau Kelor ini dinamakan Benteng Martello. Dari papan informasi disebutkan Belanda membangun benteng ini pada 1850. Berbentuk bundar, berdiameter 14 meter dengan tingginya mencapai 14 meter. Terbuat dari bata merah, ketebalan dinding hingga 2,5 meter.

Terlihat ada ada empat jendela menghadap utara dan barat yang dibawahnya dilengkapi lubang setengah lingkaran menghadap ke Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut, Pulau Onrust, Pulau Cipir, serta ke arah Teluk Jakarta.

Di bagian tengah ada tiang fondasi yang di sebelah timurnya masih tersisa tangga dengan gang melingkar yang tak lengkap. Dinding-dinding benteng ada yang sudah roboh dan teronggok di tepi pantai.

Di benteng inilah para wisatawan sering berfoto. Wisatawan memadati tempat ini di setiap akhir pekan yang datang pagi pulang petang, sebab pulau kecil ini tak menyediakan penginapan. Di sini, selain benteng dan bangunan untuk penjaga kelestariannya, hanya ada cerita tentang Kerkhof Eiland yang artinya Pulau Pemakaman.

Kerkhof Eiland ini berkaitan dengan peristiwa peristiwa pemberontakan dalam "Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi" (HNLMS Zeven Provincien), kapal milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninlijke Marine) terjadi di lepas pantai Sumatra pada 5 Februari 1933.

Militer Belanda mengalahkan pemberontakan ini pada 10 Februari 1933. Pemberontak berkebangsaan Belanda ditahan di Pulau Onrust. Sebagian besar pemberontak meninggal dan dikubur di Pulau Kelor.

Letusan Krakatau dan Kartosoewirjo
Dari peta dokumentasi Arsip Nasional tahun 1803, terpampang denah Pulau Onrust yang di dalamnya terdapat markas serdadu VOC berikut barak-baraknya, penjara, dapur, bengkel, rumah sakit, tempat peluncuran kapal dan dermaga apung.

Selain itu, ada pula pos penjagaan, bangunan perkantoran, tempat kediaman, rumah budak, rumah tukang, bahkan toko juga ada. Jika melihat peta ini, Pulau Onrust benar-benar sebuah pulau kecil yang hidup, ramai, dan sibuk. Namun, semuanya telah hancur. Selain akibat peperangan, disebutkan kehancuran itu juga terjadi setelah akibat gelombang tidal--pasang surut--yang berasal dari letusan katalismik Gunung Krakatau pada 1883. Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Era setelah itu, Pulau Onruts tetap berbenah. Belanda menjadikannnya sanatorium penyakit menular di awal abad ke-20 dan karantina haji pada 1911-1933, kemudian dijadikan tempat tawanan pemberontak dalam "Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi" (HNLMS Zeven Provincien) pada 1933.

Pada 1940, Pulau Onrust menjadi tempat tawanan berkebangsaan Jerman yang datang ke Batavia untuk membangun hubungan diplomatik dengan Hindia Belanda. Namun, saat mereka berada di Batavia, tentara Jerman malah menggempur Kerajaan Belanda. Itulah sebabnya, orang-orang Jerman di Batavia ditawan dan dibuang ke Pulau Onrust.

Fungsi yang menyeramkan itu berlanjut ketika Jepang menguasai Batavia pada 1942, Pulau Onruts dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, pulau ini dimanfaatkan menjadi tempat penderita penyakit menular dan gelandangan pada 1960-1965. Kemudian berubah menjadi tempat tahanan politik, bahkan di sini ada kuburan tokoh pemberontakan DI/TII, Sukarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang dieksekusi di Pulau Ubi pada 5 September 1962.

Makam Kartosoewirjo berada dalam kompleks makam pribumi. Berdekatan dengan makam keramat tak bernama yang diberi kain merah-putih. Lokasinya juga sangat dekat dengan pusara cinta Maria.

Wisata yang Berkarakter
Beragam cerita yang berada di antara puing-puing peninggalan VOC itu kini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Mereka yang datang ke sini, bukan semata-mata hanya menikmati alamnya, juga menyelami cerita yang terkubur di dalamnya.

Pengakuan seperti itu datang dari seorang wisatawan yang khusus berkunjung untuk menelusuri jejak-jejak sejarah di sini. Misalnya, seorang pangacara, J Kamal Farza menyatakan, "saya ke sini disebabkan karakter khas yang menjadi penguat pulau ini."

Bahkan, menurut Kamal, ia akan kembali lagi untuk mendapat cerita yang lebih utuh dengan menyibak keping-keping sejarah yang berserak di Pulau Onrust. “Tak cukup sehari menyelami cinta Maria dan kisah perang serta pemberontakan di pulau ini. Ada seribu cerita belum tergali dengan utuh,” ujarnya. 



Sumber: BeritaSatu.com